
#####
Aku bersyukur karena Mbak Husna masih terus setia menemaniku sebelum Reynand tiba di butik. Ia juga tidak bosan-bosannya menyuruhku untuk meminum teh yang ia buat, meski aku sendiri merasa sedikit bosan karena sedikit-sedikit disuruh minum, katanya biar agak sedikit tenang.
"Dikit aja, Mbak."
"Udah, Mbak, udah cukup."
"Ya udah, kalau begitu."
Kali ini Mbak Husna mau menyerah dan meletakkan cangkir tehku ke atas meja lagi. Tak lama setelahnya, Reynand muncul, ia terkejut saat mendapati ada Mbak Husna bersamaku.
"Loh, Mbak Husna?"
"Mas," sapa Mbak Husna lalu berdiri dari sofa, ia menatapku sambil mengusap pundakku sekali lagi. "saya tinggal, ya, Mbak."
Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
"Mari, Mas!"
"Eh, iya, iya, Mbak. Silahkan."
Reynand kemudian berlari kecil menghampiriku. "Ada apa sih? Kamu nggak papa kan?"
Aku mengangguk, lalu berkata, "Kamu tenang dulu, ya, jangan panik!"
"Gimana aku nggak panik, kalau kamu begini? Ada apa sih?"
"Aku barusan flek," cicitku takut-takut.
"Flek gimana? Serius aku nggak paham, sayang. Kamu ngomong yang jelas dong, jangan bikin aku takut begini."
"Semacam pendarahan tapi, ini sedikit banget."
"Astagfirullah! Terus kita harus gimana? Aku... aku harus ngapain?" Reynand semakin panik dan juga kebingungan.
"Mas, aku bilang kan kamu jangan panik," kataku memperingatkan.
Aku menghubunginya agar ada yang menenangkanku, bukan sebaliknya, aku yang menenangkan dia.
"Mbak Husna nyaranin aku mending ke dokter aja untuk memastikan kalau memang nggak ada yang salah sama aku atau bayinya."
"Ya udah, ayo berangkat sekarang!" Reynand langsung bangkit berdiri, namun tiba-tiba duduk kembali, membuat aku mengurungkan niatku untuk berdiri. "kita telfon Bunda dulu, ya, buat nemenin?"
Aku menggeleng tidak setuju. "Jangan dong, Mas, nanti Bunda ikutan panik. Mending kita berdua dulu aja," kataku menyarankan.
Reynand memandangku ragu. "Kamu yakin berani?"
"Kan sama kamu? Emang kamu nggak mau nemenin gitu?"
"Mau, cuma... ya udah, deh, mending langsung berangkat. Dari pada nanti, takutnya malah ada apa-apa. Kamu mau ganti dulu mungkin?"
Aku mengangguk lalu bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi, setelah tadi sempat ke kamar dulu untuk mengambil pakaian dan celana ganti.
"Udah?" tanya Reynand saat melihatku keluar dari kamar mandi, ia langsung bangkit berdiri dari sofa dan menghampiriku.
Aku mengangguk.
"Langsung berangkat sekarang?" tawar Reynand.
Lagi-lagi, aku hanya bisa mengangguk sebagai tanda jawaban. Lalu kami langsung berangkat ke rumah sakit setelahnya.
######
"Ini kita masuk ke UGD apa poli klinik?" tanya Reynand kebingungan.
Kebetulan kami sudah tiba di salah satu rumah sakit swasta yang ada di Jogjakarta, tapi Reynand bingung harus membawaku periksa ke bagian mana. Mungkin karena saking paniknya sih, sepertinya.
"Poli klinik spesialis kandungan langsung sih kayaknya, Mas," kataku sambil membuka seatbeltku.
"Enggak ke UGD dulu? Apa kita tanya petugas UGD dulu?"
"Terserah kamu, deh," kataku pada akhirnya.
Reynand langsung mengangguk setuju dan kami keluar dari mobil setelahnya. Berjalan beriringan menuju ruang UGD.
"Permisi, Mbak," sapa Reynand pada petugas medis yang ada di ruang UGD.
"Iya, Mas, ada yang bisa kami bantu?" tanya petugas perempuan itu dengan ramah.
"Saya mau meriksain istri saya, istri saya sedang hamil, tapi katanya dia ngalami flek atau apa gitu, saya nggak ngerti. Tapi saya bingung, Mbak, ini istri saya harus periksanya di sini atau ke poli spesialis kandungan, ya?"
"Oh, kalau mau periksa kandungan, lebih baik langsung ke poli spesialis kandungan, Pak. Kebetulan sekarang sedang jam prakteknya dokter spesialis."
"Tuh, kan, apa aku bilang. Langsung ke poli spesialis kandungan, kan," bisikku pada Reynand, setelah petugas perempuan tadi selesai menjelaskan.
"Ya, nggak papa, apa salahnya sih tanya dulu, kan aku nggak ngerti apa-apa. Ingat, ada pepatah bilang, kalau malu bertanya sesat di jalan. Nah, dari pada tersesat dan tak tahu arah jalan pulang, mending tanya dulu," balas Reynand tanpa berbisik, sehingga Mbak-mbak petugas medisnya mendengar obrolan kami dengan cukup jelas.
"Ya, sudah, terima kasih untuk infonya, Mbak. Kami langsung ke bagian poli klinik spesialis kandungan."
__ADS_1
"Iya, sama-sama, Pak."
"Tahu, ya, kalau Mbak-mbak yang jaga UGD cantik makanya kamu minta tanya ke sana dulu?" ketusku saat kami berjalan meninggalkan ruang UGD.
"Heh? Apaan sih? Masa sama Mbak-Mbak petugas UGD juga cemburu, yang?"
Aku langsung menoleh ke arah Reynand, dengan kedua alis terangkat ke atas. "Dih, siapa juga yang cemburu, kayak situ ganteng aja."
"Loh, emang aku kurang ganteng?"
"Kurang."
"Coba aja kalau kita nggak lagi di tempat umum begini, udah pasti aku gigit kuping kamu. Kesel aku."
"Ya, kalau kesel tuh, istirahat, dong. Katanya jangan ngoyo!"
Reynand berdecak gemas. "Bukan kesel bahasa Jawa yang artinya capek, sayangku. Tapi kesel bete. Kamu jangan ngeselin begini dong."
Aku meringis lalu merangkul lengan Reynand. "Biar nggak tegang. Aku deg-degan banget lho, Mas."
"Tapi kalau kamu nyebelin begitu, akunya yang deg-degan, sayangku. Takutnya, aku salah gimana-gimana gitu lho."
"Iya, iya, maaf."
"Ya udah, nggak papa. Wajar kok kalau kamu deg-degan, soalnya aku juga deg-degan. Moga aja, dedeknya nggak kenapa-kenapa." Tangan Reynand kemudian terulur, dan mengusap perutku. "Makanya, kalau aku suruh istirahat nurut dong, yang."
"Iya, iya, besok nggak lagi."
"Janji, ya?"
Tanpa kuduga, Reynand menyodorkan jari kelingkingnya.
"Astagfirullah! Kayak anak kecil aja, pake janji jari kelingking segala."
Aku berdecak sambil geleng-geleng kepala. Namun, tetap menautkan jari kelingkingku dengan jari kelingking Reynand.
"Dasar kamu, mah!"
#####
Ternyata antrian untuk pemperiksaanku lumayan cukup lama. Aku dan Reynand sudah hampir satu setengah jam lebih duduk di ruang tunggu, namun namaku tidak kunjung dipanggil-panggil.
"Kamu laper nggak?"
Aku menggeleng lalu menyandarkan kepalaku pada pundak Reynand. "Lapernya sih enggak, tapi pegel sama ngantuk itu lho. Nggak tahan aku, ini masih lama banget, ya?"
Reynand kemudian merangkul pundakku lalu mengusapnya pelan. "Nggak tahu juga sih, kayaknya tinggal dua lagi deh." Ia sedikit menunduk menatapku. "Kamu kalau ngantuk tidur aja dulu, nggak papa. Nanti aku bangunin."
"Ya udah, sabar aja dulu. Moga-moga cepet giliran kita."
Aku hanya mampu mengangguk pasrah setelahnya. Mengeluh pun percuma. Karena rasa kantuk yang sepertinya sudah tak tertahan, akhirnya aku memutuskan untuk memejamkan kedua mataku yang kian memberat. Namun, belum genap mata ini tertutup, tiba-tiba Reynand mengajakku berdiri.
"Giliran kita," bisik Reynand sambil menepuk pundakku pelan.
"Kok cepet?" tanyaku heran.
"Kamu tidur sih, makanya nggak berasa."
"Yee, aku belum tidur, ya."
"Iya, iya, udah, yuk, masuk! Nanti dokternya kelamaan nunggunya."
Aku mengangguk lalu ikut berdiri didampingi Reynand, saat masuk ke ruang pemeriksaan.
"Assalamualaikum! Selamat siang, permisi!" sapa kami saat masuk ke dalam ruangan.
"Wa'allaikumussalam. Mari, silahkan duduk!" Si dokter langsung menyambut kami dan menyuruhk kami untuk duduk di hadapan beliau. "ini mau pemeriksaan kehamilan, atau mau program?"
"Pemeriksaan, dok, kebetulan istri saya sudah hamil."
Dokter yang memiliki nametag Lutfi itu tersenyum sambil mangguk-mangguk. "Boleh dilihat buku KIA-nya?"
Aku mengangguk lalu mengeluarkan buku KIA-ku.
"Keluhan apa?" tanya Dokter Lutfi.
"Saya tadi mengalami flek, Dok, terus tulang panggul saya juga rasanya agak nyeri."
"Sebelumnya sempat jatuh atau semacamnya?"
Aku menggeleng. "Tidak sih, Dok, nggak jatuh atau yang lainnya."
"Kelelahan mungkin?"
Aku menggeleng. "Aktivitas saya sih, masih seperti biasa, Dok."
"Iya, biasa kayak sebelum hamil. Dia ini memang agak bandel, Dok, susah banget dikasih tahunya," sahut Reynand kemudian.
Dokter Lutfi terkekeh sambil mencatat sesuatu di buku KIA-ku. Lalu menyuruh petugas medis yang bertugas membantunya, untuk mengukurku.
__ADS_1
"Sus, Ibunya ditensi, sama diukur seperti biasa dulu."
"Baik, Dok."
"Mari, Mbak!"
Aku kemudian berdiri dan diukur Mbak petugas medisnya. Lalu ditensi dan disuruh menimbang berat badanku.
"Bagus, Dok, normal semua."
Dokter Lutfi mengangguk lalu tersenyum lalu mengajakku berbaring di atas brankar.
"Mari, Bu, di usg dulu."
Aku mengangguk lalu berjalan menghampiri brankar dan berbaring di sana.
"Kaosnya di angkat, Bu," kata petugas medisnya.
Aku menurut sambil menarik nafas untuk menghilangkan rasa gugupku.
"Nggak papa, Bu, nggak usah tegang. Semoga janinnya baik-baik saja."
Aku meringis lalu mengangguk. Sedang di sampingku Reynand tidak berhenti menggenggam tanganku dan memberikan remasan kecil untuk menenangkanku.
"Bissmilah aja, berdoa yang baik-baik," bisik Reynand sambil mengangguk.
Aku ikut mengangguk setelahnya. Lalu dokter Lutfi mulai menggerakkan alat usg-nya di atas perutku. Saat aku melirik ke arah monitor alat usg, aku tidak menemukan apa pun. Jantungku rasanya seperti ditikam. Apakah aku baru saja kehilangan bayiku.
"Dok, di mana janin saya? Kok nggak kelihatan?" tanyaku panik.
"Sebentar, nanti akan saya jelaskan." Dokter Lutfi langsung menoleh ke arah si perawat. "Sus, perut Ibunya dibersihkan dulu."
"Baik, Dok."
Setelah si perawat selesai membersihkan perutku yang terkena gel, aku dituntun menuju kursi kembali. Reynand tidak bersuara, hanya mengusap pundakku lalu *** telapak tanganku.
"Kalau boleh tahu, ini kehamilan pertama atau sebelumnya sempat pernah punya anak?"
"Ini kehamilan pertama, Dok."
Dokter Lutfi mengangguk sambil menautkan jari-jemarinya di atas meja. Menatapku dan Reynand secara bergantian, sebelum akhirnya kembali bertanya.
"Sebelumnya apakah Bapak dan juga Ibu pernah mendengar istilah Blighted ovum atau kehamilan kosong?"
Aku dan Reynand saling berpandangan, tak lama setelahnya kami menggeleng dengan kompak, karena aku belum pernah mendengar hal semacam itu.
"Baiklah, saya akan jelaskan sedikit, jadi begini Blighted ovum atau dalam istilah medis sering disebut dengan anembryonic gestation atau kehamilan anembrionik adalah kehamilan yang tidak mengandung embrio meskipun terjadi pembuahan di dalam rahim. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab umum terjadinya keguguran pada tiga bulan pertama kehamilan. Blighted ovum biasanya terjadi akibat adanya kelainan kromosom pada fetus yang sedang berkembang. Tubuh ibu akan menghentikan kehamilan ketika menyadari adanya kelainan tersebut. Kelainan kromosom sendiri dapat disebabkan oleh pembelahan sel yang tidak sempurna serta kualitas sel telur dan sperma yang buruk."
"Maksudnya, saya tidak benar-benar hamil begitu, Dok?" tanyaku masih tak paham.
"Seseorang yang mengalami blighted ovum pada tahap awal umumnya akan merasa bahwa dirinya sedang mengalami kehamilan normal. Hal ini dikarenakan blighted ovum memiliki tanda yang sama dengan kehamilan normal, seperti haid yang terlambat, hasil tes kehamilan yang positif, mual, muntah, dan payudara terasa nyeri. Dalam waktu tertentu, pasien akan mulai merasakan tanda-tanda keguguran, seperti flek atau perdarahan dari **, volume darah menstruasi yang lebih banyak dari biasanya, kram pada daerah perut. Terkadang, hasil tes kehamilan masih tetap positif dalam kondisi ini dikarenakan kadar hormon hCG masih tinggi."
Aku masih diam mematung. Tidak terlalu fokus dengan yang dijelaskan oleh Dokter Lutfi, separuh nyawaku rasanya seperti terbang entah ke mana.
"Lalu tindakan apa yang harus kita lakukan, Dok?" tanya Reynand.
"Ada tiga pilihan, membiarkan kehamilan ini luruh dengan sendiri, pemberian obat-obatan untuk membantu proses peluruhan, dan yang terakhir adalah kurete."
"Kurete, Dok?"
Dokter Lutfi mengangguk. "Saran saya, lebih baik memilih proses kurete, untuk membuka serviks kemudian mengangkat kantong kehamilan yang kosong dari dalam rahim."
"Apa kalau saya dikuret, saya bisa hamil lagi, Dok?"
Dokter Lutfi mengangguk yakin. "Tentu, tentu saja bisa. Pasien yang mengalami blighted ovum tetap dapat hamil dengan baik pada kehamilan selanjutnya. Tapi, disarankan si calon Ibu beristirahat selama enam bulan sebelum akhirnya siap untuk dibuahi kembali."
Reynand kemudian menoleh ke arahku. "Kamu mau pilih yang mana, sayang? Aku ikut kamu, kan kamu yang ngejalani?"
Aku menggeleng, sebagai jawaban tidak tahu.
Lalu Dokter Lutfi berkata, "Keputusan bisa dirundingkan dulu, tidak harus sekarang. Bisa meminta pendapat dengan pihak keluarga juga tidak apa-apa. Yang jelas semua aman, insha Allah sama-sama tidak beresiko. Cuma yang paling aman dan cepat prosesnya, ya itu tadi, kurete."
Aku mengangguk paham, lalu menoleh ke arah Reynand. Ia tersenyum lalu mengangguk, meyakinkanku kalau semua akan baik-baik saja. Namun, bukannya tenang, aku justru menangis.
"Ssst, nggak papa. Semua akan baik-baik saja, sayang."
Reynand mengelus pundakku, untuk menenangkanku.
"Iya, Bu, nggak papa, semua akan baik-baik saja. Blighted ovum tidak membahayakan, asal segera ditanggani. Ibu juga bisa kembali hamil nanti, cuma memang perlu sedikit bersabar."
Aku mengangguk paham, meski setengah hatiku tidak rela. Tapi, mau bagaimana lagi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima semua ini. Ya, Tuhan kumohon kuatkan aku!!!
**Tbc,
huaaaaaaa 😭😭😭😭😭
Mbak Qilla nggak jadi hamil, gimana ini? Aku sedihhhhh. doain, ya, semoga Mbak Qilla tabah menjalani cobaan ini. fufu.
A/N : mon maap, aye pan sukanya bikin komedi tuh, jadi klo disuruh bikin adegan sedih ya, begitu, hambar. kek sayur tanpa garam. gk bikin sedih, yg ada bikin males baca 😆😁✌mon maap, ya. jangan pada kabur dan ninggalin saya. cukup dicuekin jg gpp, asal gk pada kabur 😢 ya, ya, ya?
__ADS_1
tetep tungguin next part, ya 🤗😍😘😚😙😗**