Telat Nikah?

Telat Nikah?
Lamaran(Masih Pov Reynand)


__ADS_3

"Kado buat aku mana?" todong Aqilla tiba-tiba, saat aku hendak mengantarkan dia menuju butik miliknya.


Aku memang sengaja belum memberinya kado, meski di bagasi mobilku sudah penuh dengan kado dari teman-teman dan juga karyawannya.


"Yang tadi itu kado buat kamu tahu."


"Yang tadi?" beo Aqilla terlihat tidak percaya. "Maksud kamu pesta ulang tahun tadi?"


Aku mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Cuma itu?"


"Kok cuma? Dana yang dibutuhin buat nyewa restonya aja lumayan loh, belum makannya juga. Dan kamu bilang itu cuma?" tanyaku pura-pura tidak terima.


Meski pada kenyataannya, agak-agak tidak terima beneran sih. Masa nyiapin ini itu segala macam, cuma dibilang cuma. Nggak enak banget kedengerannya. Mana uang yang harus kurogoh tidak sedikit lagi, bukan tidak ikhlas, aku hanya sedikit tersinggung aja kok. Lagian aku juga sudah menyiapkan kado lain dan lainnya, buat perempuanku yang amat aku cintai setelah Bunda dan kedua saudaraku ini. Haha, lebay juga ya gue. Maaf, lama tidak memadu kasih, jadi agak-agak norak begini deh.


"Ya, emang siapa yang nyuruh kamu nyewa itu resto? Kenapa nggak di toko Risha aja, lagian di sana juga ada mini cafe. Seenggaknya di sana kan gratis," gerutu Aqilla dengan ekspesi jelas sedang kesal.


Mati-matian aku menahan diri untuk tidak tertawa. Omelan begini nih yang bikin jiper, tapi anehnya selalu aku kangenin. Yah, wanita memang seajaib itu, ya, rumit dan susah dimengerti, tapi bisa begitu mudah untuk dicintai. Asekk.


"Ya, emang nggak ada yang nyuruh," balasku datar dan sedikit kesal. Aku bilang sedikit ya, kesalnya. Sedikit banget.


"Terus kenapa kamu lakuin juga?"


Aku mengangkat bahuku tanpa menoleh padanya. Lagi males lihat wajah judesnya, takut nggak bisa tidur nanti karena kebayang-bayang. Kan serem. "Karena sayang," jawabku santai tapi tulus dari hati.


"Ngegembel aja terosss," sindir Aqilla.


Kenapa sih perempuan kalau lagi judes, lebih serem dari preman, perasaan.


"Aku enggak lagi ngegombal kok. Aku jawab jujur," ucapku kemudian.


"Iya in deh, biar cepet."


Ngambekan banget sih calon istriku ya Tuhan! Gimana ini cara jinakinnya? Nggak ada yang mau kasih saran gitu, atau tutorial membuat jinak calon istri. Di youtube ada nggak sih? Pengen banget kutonton.


"Gitu aja ngambek."


"Siapa yang ngambek?"


"Risha," jawabku cepat dan spontan.


"Kenapa dia ngambek?" tanya Aqilla heran. Keningnya mengerut heran.


Lah, udah berubah lagi ekspresinya.


"Ditinggal suaminya dinas. Ohya, ambilin dong papper bag kecil di belakang," kataku meminta tolong.


Aqilla menggerutu tak suka, namun tetap menuruti permintaanku.


"Papper bag sekecil ini kenapa ditaruh di belakang sih, nggak balakang menuh-menuhin juga kalau ditaruh di depan," gerutu Aqilla sambil memberikan papper bag itu ke aku.


Aku tersenyum maklum dengan hobi Aqilla yang suka mengomel.


"Minta kado kan tadi? Nah, itu buat kamu. Itu kado dari aku, isinya parfum. Katanya parfum kamu habis?"


Dengan gerakan brutal Aqilla tiba-tiba memukul pundakku. Memberikan efek nyut-nyutan yang luar biasa, sekaligus kaget juga.

__ADS_1


"Sakit, Aqilla. Kenapa aku dipukul gitu?" protesku tidak terima, kedua mataku ikut melotot sebagai tanda tidak terima.


"Salah kamu sendirikan? Ngapain pake diomongin apa isinya dan alasan kenapa kamu ngasih ini. Nggak romantis banget sih," keluhnya masih sambil terus menggerutu.


"Ya, aku emang nggak mau ngeromantisin kamu. Kan tadi udah, kesenengan kamu nanti kal--Akhh, sakit, Aqilla. Astagfirullah!" pekikku karena tadi malah mendapatkan jeweran dari Aqilla.


Astagfirullah, belum dilamar aja hobinya udah KDRT aja. Ini tanggal berapa sih?


Aku kemudian menoleh ke arahnya dengan pandangan horor. "Kamu belum selesai?" tanyaku spontan.


"Baru kemarin sore dapetnya, ya kali hari ini udah selesai."


Ooo, pantesan Aqilla ganas banget. Memang tidak setiap bulan sih Aqilla kehilangan kontrol untuk mengatur emosinya. Tapi selagi dia sedang sensi, sensinya itu ampun-ampunan. Kalau lagi enggak, ya, biasa aja, nggak kayak orang lagi datang bulan. Pernah tuh, aku lagi main ke butiknya terus kita lagi nonton tv gitu. Nah, kebetulan di meja ada keripik atau cemilan entah apa, aku lupa waktu itu, ya aku makan dong, toh, udah ditawarin juga. Eh, baru juga masuk mulut dan ngunyah dua kali, Aqilla sudah langsung marah-marah nggak jelas. Katanya suaraku mengunyah lebay, mengganggu indera pendengarannya. Padahal menurutku sih, biasa aja. Nggak lebay, namanya makan kripik kalau keluar suara wajar dong?


Nah, abis itu masih ada lagi, tuh. Jadi waktu itu dia lagi datang bulan tapi disertai nyeri, yang katanya sampai bikin dia malas buat gerak. Karena kata Arisha sih nyeri haid itu sakitnya luar biasa, ya aku putuskanlah buat main ke butiknya sekalian nengokin dia gitu. Waktu itu wajahnya sampai lumayan pucat dan matanya bengkak. Katanya sih gara-gara habis nangis seharian karena nggak kuat sama sakitnya. Aku sampai pengen bawa dia ke rumah sakit saking khawatirnya. Eh, malah kena sembur akunya. Abis itu bingung dong mau ngapain, mau ngomong takut salah, nggak ngomong makin salah.


Waktu agak tenang, aku akhirnya duduk agak deketan sama dia, dan alhamdulillah nggak disembur. Tapi, tiba-tiba hapeku bunyi, tanda email tuh, ya aku buka dong. Sambil nemenin dia aku nyambi ngecekin email. Eh, tanpa kuduga dia tiba-tiba nangis sambil sesegukan. Pas aku tanya, dia jawab karena dia kesel sama suara nada ketukan ponselku makanya nangis. Di detik berikutnya aku hanya bisa melongo saking speechlessnya


Aqilla memang suka nangis gitu kalau lagi kesel dan marah. Ya, seserem itu ternyata calon istri dan Ibu dari anak-anakku kalau sedang datang bulan.


"Maaf, aku nggak tahu," sesalku kemudian.


Tiba-tiba kurasakan hawa yang tidak mengenakkan. Kulirik Aqilla ragu dan benar saja, perempuan ini sedang menatapku tajam, seperti ingin memakanku hidup-hidup.


Aku menelan ludah dengan susah payah. "K.kita udah sampai," kataku mencoba mengalihkan.


Aqilla langsung melepas sabuk pengamannya. "Mau mampir enggak?" tawarnya kemudian.


Aku mengangguk lalu ikut melepas sabuk pengamanku dan menyusulnya.


"Udah malam juga, kenapa mampir?" gerutu Aqilla sambil mengeluarkan botol air mineral dari kulkas lalu menyerahkannya padaku.


Aqilla mendengkus, lalu menarik lenganku. "Duduk di sofa, yuk!" ajaknya kemudian.


Aku mengangguk lalu pasrah dibimbing menuju sofa. Kami duduk bersebelahan, Aqilla menyenderkan kepalanya di pundakku sambil memejamkan kedua matanya.


"Kenapa? Sakit?" tanyaku khawatir.


Aqilla menggeleng. "Biasa."


Aku mengerutkan dahi sesaat, mencoba menyari makna dari kata biasa itu. Karena kata biasa menurut Aqilla itu sangatlah banyak. Pandanganku lalu beralih pada tangannya yang kini sedang mengusap perutnya sambil bergerak gelisah.


"Nyeri?"


Aqilla mengangguk. "Sakit," lirihnya pelan.


Aku mengusap rambutnya untuk menenangkan.


"Aku harus gimana?"


"Pulang aja."


"Terus kamu gimana? Enggak papa sendiri?"


"Aku malu sama kamu, hari ini udah genap 28th, masa kelakuan masih kayak anak SMP pertama kali mens. Aku juga nggak tega kalau nanti malah bentak kamu."


Aku tertawa kecil lalu mengecup pucuk rambutnya.

__ADS_1


"Pulang aja!" ucap Aqilla, tapi masih anteng berada di pundakku, bahkan kedua tangannya sedang memelukku secara posesif.


Lalu bagaimana aku bisa pulang jika begini?


"Nginep aja."


Aqilla langsung mengangkat kepalanya, kedua matanya menatapku curiga.


"Kenapa? Tumben banget. Apa masih ada kado yang lainnya lagi buat aku?"


Aku tidak bisa untuk tidak tertawa. Dengan gerakan gemas aku mencubit hidungnya pelan.


"Ada. Tentu saja ada."


"Apa itu?" tanyanya penasaran.


"Udah nggak nyeri?" gurauku dengan bibir mencebik.


Dengan gerakan spontan, Aqilla menggeleng.


"Udah lupa sama nyerinya, sekarang tinggal penasaran."


Wow, ajaib sekalikan?


Baiklah kalau begitu. Karena aku sendiri pun juga rasanya sudah tidak sabar, akhirnya aku mengeluarkan kotak cincin dari kantongku.


"Udah siap jadi mantunya Pak Pramuji dan Ibu Linda Pangesti?"


Aqilla tertawa. "Anti mainstream, ya?" godanya jahil.


"Jawab dong, malah godain."


Sambil tersenyum Aqilla mengangguk. "Yes, i'm ready."


Aku ikut mengangguk. "Kalau jadi istri dari Reynand Pramuji dan menerima semua tingkah laku pria ini?"


"Absolutely yes."


"Siap aku jadikan buncit dan merasakan sakitnya melahirkan anak-anakku kelak?"


Kali ini Aqilla terbahak sebelum mengangguk dan bilang Yes, untuk yang ketiga kalinya. Karena tak bisa membendung kebahagian ini, aku langsung memeluknya dan menghunjaminya dengan kecupan di pucuk rambutnya. Tak lupa aku terus-terusan mengucapkan terima kasih.


"Udah dong nyiumnya. Nggak mau pasangin cincinnya?" goda Aqilla membuatku tertawa.


Aku bahagia. Melamar anak orang itu nggak mudah, apalagi Aqilla tipekal perempuan yang lumayan susah diajak menikah. Aku pikir akan terasa sulit, tapi ternyata tidak sesulit yang aku pikir. Dengan sedikit tidak rela aku melepaskan pelukanku dan meraih tangan kanannya. Lalu memasangkan cincin ini ke jari manisnya.


"Cantik. Aku suka. Makasih," ucap Aqilla terlihat senang.


Melihat pancaran bahagianya, membuatku bertambah senang.


"Sama-sama," balasku sambil mencium keningnya.


"Love you," bisik Aqilla tiba-tiba.


Kedua bola mataku melebar secara spontan, sebelum akhirnya aku tertawa dan membalasnya, "Love you more."


Lalu kami tertawa bersama. Akhirnya status kita naik. Haha

__ADS_1


****


__ADS_2