
Reynand:
Selamat pagi calon istri 🤗😍😘
Aku tersenyum geli saat mendapati pesan singkat yang Reynand kirimkan. Pandangan mataku kemudian beralih pada jari manisku, yang kini sudah tersemat cincin berlian pemberian Reynand semalam. Rasanya sedikit tak percaya, kalau Reynand sudah melamarku. Astaga, sebentar lagi aku jadi suami orang?
Aku kemudian terkikik geli, saat tanpa sadar membayangkannya pagiku ditemani Reynand. Ah, pasti seru. Kok aku jadi tiba-tiba nggak sabar begini, ya?
Reynand:
Kok cuma diread? 😒
Kini aku terbahak saat mendapati pesan yang Reynand kirimkan tak beberapa lama setelahnya. Lalu dengan gerakan agak buru-buru, aku kemudian mulai mengetik balasan untuknya.
Me:
😁 maaf, masih setengah ngantuk 😴😘
Tak berapa lama balasan Reynand langsung muncul.
Reynand:
Udah waktu sholat, ayo siap-siap! Bangun!!!!
Jangan tidur terus! 😒
Reynand:
Ibu dari anak-anakku nggak boleh males sholat, oke 😉
Aku langsung terbahak saat membaca balasan dari Reynand.
"Dasar! Bisa banget ngegombalnya," gerutuku sebelum mengetik balasan untuknya.
Me:
iya...
Reynand:
Kok singkat banget?
Me:
iyaaaaaaaaaaaaaaaaa
Reynand:
😒😒😒
Enggak gitu-gitu amat, Yang
Me:
Lupa kalau semalam aku sensitif ampun-ampunan?
Aku hanya geleng-geleng kepala, lalu meletakkan ponselku di atas meja, setelah mengetikkan balasan untuknya. Baru setelah itu aku pergi ke kamar mandi karena panggilan alam. Setelah menyelesaikan aktifitas di dalam kamar mandi, aku langsung melipir menuju dapur. Mengeluarkan beberapa bahan seperti sosis dan telur untuk membuat nasi goreng. Entah kenapa aku pagi ini, mendadak ingin makan nasi goreng, karena kebetulan aku masih punya sisa nasi semalam, jadi aku putuskan untuk memasak sebentar sebelum beraktifitas.
Selesai memasak, aku langsung membawa nasi gorengku ke ruang tengah, meletakkannya di atas meja lalu kembali ke kamar untuk mengambil ponselku. Aku cukup terkejut saat mendapati spam chat yang Reynand kirimkan, belum dengan beberapa riwayat panggilan yang ia tinggalkan. Ada sekitar 20 pesan yang yang berisi tulisan 'sayang', benar-benar berjumlah 20 karena aku sempat menghitungnya sebanyak dua kali. Lalu ada 5 pesan lain yang menanyakan hal berbeda. Dan untuk riwayat panggilan yang Reynand lakukan hanya sebanyak 10kali panggilan tak terjawab. Sedikit memang, tapi bagiku itu tetap banyak.
Sambil berdecak tak percaya, aku akhirnya memutuskan untuk menghubungi balik.
"Apa?!" sambut Reynand ketus, saat sambungan sudah terhubung.
"Ngambek?" tanyaku memastikan.
"Iya, lah."
"Tadi ke toilet dulu, kebelet. Terus abis itu masak--"
"Kamu masak sendiri? Tumben? Biasanya juga jajan. Kenapa? Dalam rangka latihan biar bisa jadi istri yang baik, ya? Iya, pasti, kan statusnya baru."
Aku mendengkus samar sambil geleng-geleng kepala. "Iya, biar kamu seneng."
"Mau aku makin seneng?"
Perasaanku nggak enak nih.
"Maksudnya?" tanyaku tak paham.
"Aku ke situ, ya? Kita sarapan berdua, itung-itung latihan sarapan bareng."
Mendengar jawaban ngawurnya, sontak membuatku langsung tertawa. "Apaan deh, sarapan bareng harus pake latihan. Modusnya nggak oke banget."
"Ini bukan modus, sayang. Tapi memanfaatkan peluang," balas Reynand.
"Iya, iya, terserah kamu lah."
"Jadi boleh?"
"Boleh apa?"
Dapat kudengar suara decakan pelan dari seberang, sebelum akhirnya Reynand menjawab, "Kan, mulai nyebelinnya. Mau-nya dipeka-in, tapi diri sendiri nggak mau peka."
Aku terkekeh geli sambil geleng-geleng kepala.
"Sayang!!"
"Iya, iya, terserah. Apapun yang ingin kamu lakukan, lakukan aja!" kataku kemudian pada akhirnya. Daripada dibilang nggak peka.
__ADS_1
"Nah, gitu kan enak. Aku otewe, ya."
"Iya."
Aku mendesah pendek lalu mematikan sambungan telfon darinya. Dan kalian tahu, Reynand benar-benar datang ke butikku beberapa setelahnya. Ia masih mengenakan celana pendek dan juga kaos. Aku memandangnya dengan tatapan tak percaya.
"Kok kamu beneran ke sini?" protesku panik.
Sebentar lagi, aku yakin karyawanku pada masuk. Dan kalau mereka sampai menemukan Reynand pagi-pagi di sini, mereka pasti berpikir kalau Reynand tidak pulang dan bermalam di sini. Jika itu terjadi, aku yakin, aku akan digodain mereka seharian. Lalu Mbak Husna akan memberiku wejangan setelahnya. Astagfirullah! Itu tidak boleh terjadi.
"Aku ini pria sejati, sayang. Yang bertindak sesuai yang diomongin. Aku nggak suka jadi pria yang cuma omdo, alias, omong doang. Jangan sama-samakan!"
Apaan deh?
"Bukan masalah omdo atau apapun itu, tapi, masalah ini masih pagi dan kamu masih pake celana pendek dan kaos doang, Rey," ujarku gemas.
Reynand garuk-garuk kepalanya, karena bingung. "Emang kenapa kalau aku masih pake celana pendek sama kaos doang? Yang penting masih pake baju kan?"
"Anak-anak bentar lagi masuk, Rey," decakku gemas.
"Ya, terus?"
"Ah, masa kamu nggak ngerti sih?"
Dengan wajah polosnya, Reynand menggeleng. "Enggak. Aku nggak ngerti, tuh."
"Enggak usah pura-pura nggak ngerti deh!" judesku kesal.
Reynand garuk-garuk kepalanya bingung. "Serius. Aku itu nggak paham lho. Bisa dijelaskan? Yang, sebagai calon pasangan dalam rumah tangga, kita itu wajib terbuka satu sama lain. Kalau aku nggak ngerti, tapi kamu ngerti, ya, kamu punya kewajiban buat jelasin. Begitu pula sebaliknya. Lagian, aku ini pria biasa yang nggak ngerti kode-kode yang perempuan tebar."
Aku menghela nafas pendek, lalu melirik Reynand datar. "Oke, aku jelasin. Denger baik-baik!"
"Loh, Mas Rey kok pagi-pagi udah di sini aja? Nginep?"
Kan! Aku bahkan belum menjelaskan ada Reynand tapi, Sandra sudah keburu nongol, dengan wajah pura-pura polosnya. Ck. Aku tahu sekali kalau di dalam hatinya, ia sangat ingin segera menggodaku.
"See! Ini yang aku maksud tadi, Sandra dan otak jeniusnya pasti langsung mikir kalau kamu nginep semalam," ucapku langsung meninggalkan keduanya.
Bodo amat. Aku kesal sekali sekarang ini. Tak lama setelahnya, Reynand menyusul.
"Aku udah jelasin ke Sandra tadi. Jadi, bisa kita sarapan?"
Aku langsung melotot tajam ke arahnya. Bagaimana bisa dia mikirin perut di saat situasi begini. Emang wajahku sekarang, belum menggambarkan betapa marahnya aku. Oke, aku nggak marah, hanya kesal.
"Aku ke sini mau minta sarapan, bukan ngajak berantem loh."
"Tapi kamu bikin aku kesel," balasku kemudian.
"Terus aku harus gimana? Kita baru aja naik progress loh, yang. Masa sekarang udah mau berantem, nggak enak banget. Harusnya pagi ini tuh, aku dapat perhatian manis dari kamu, bukan dijudesin begini. Kamu serius nggak sih mau jadi istri aku? Apa jangan-jangan kamu nerima aku semalam, cuma karena Kenzo udah ke pelaminan dulu, terus kamu nggak mau kalah gitu?"
Emosiku semakin meradang. Apa tadi dia bilang?
"Ya, mana aku tahu kalau itu bener apa enggak."
"Apa?!" desisku makin tak percaya.
Reynand menatapku datar, lalu berbalik membelakangiku. "Aku pulang," ucapnya singkat, lalu menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
Aku melongo. Ingin mengejar, tapi gengsi. Jadi, kubiarkan Reynand pulang begitu saja. Aku mendesah frustrasi. Hormon PMS memang selalu menyebalkan.
#####
Siang harinya, aku memutuskan ingin meminta maaf ke Reynand dengan cara mengunjungi tempat kerjanya. Namun, saat aku tiba di sana, aku justru tidak bisa memenuinya. Kata Arisha sih, Reynand lagi ke lapangan, ninjau lokasi atau apalah, ia sendiri juga kurang paham.
"Tunggu di atas aja, Mbak, dari pada gabut di sini," kata Arisha, yang kali ini sudah bergabung di mejaku. Aku memang sengaja pesan meja sekalian demi menunggu Reynand kembali. Lagian, aku juga butuh ngemil demi menghilangkan kegabutanku.
"Di sini aja sih, biar kamu temenin," gurauku sambil menyesap minumanku melalui sedotan.
"Ditelfon aja kalau enggak, Mbak, " sarannya, mengabaikan gurauanku. Sepertinya, Arisha sudah mulai curiga kalau kami sedang berantem.
Aku menggeleng sambil tersenyum kecut. "Takut. Dia tadi pagi ngambek. "
"Ngambek gimana maksudnya, Mbak?"
Aku kemudian menceritakan semuanya. Mulai dari kedatangan Reynand yang ingin minta sarapan, lalu Sandra yang datang setelahnya dan aku yang tiba-tiba sensi. Kemudian aku dan Reynand yang berantem dan Reynand pulang begitu saja. Setelah selesai bercerita, respon Arisha justru malah tertawa, membuatku sedikit tersinggung. Kok curhatanku malah diketawain sih?
"Sorry, sorry, Mbak, aku nggak maksud buat ngetawain Mbak Qilla. Cuma begini, Mas Rey itu kalau lagi laper emang suka agak sensitif gitu. Jadi, Mas Rey nggak bener-bener ngambek kok. Santai aja," kata Arisha kemudian.
Aku mengernyit heran. Hah? Sensitif cuma gara-gara laper? Emang masuk akal, ya?
"Serius, Mbak, Mas Rey itu emang begitu. Rese parah kalau perutnya lagi kosong, apalagi kalau nggak segera dikasih makan. Beuh, udah pasti ngajak berantem," jelas Arisha kemudian.
Aku terdiam ragu.
"Yah, enggak percaya. Nanti deh, Mbak Qilla buktiin sendiri. Pasti Mas Rey udah lupa sama kejadian tadi."
"Eh, masa gitu sih, Ris?" tanyaku masih tidak percaya. Setahuku yang laper kalau rese itu hanya ada di iklan saja, bukan di dunia nyata.
"Serius," ulang Arisha meyakinkanku. "Nah, itu dia orangnya. Buruan samperin, Mbak!" ia kemudian menunjuk ke arah pintu masuk.
Aku kemudian ikut menoleh ke arah pintu dan menemukan Reynand beserta timnya masuk. Saat menyadari keberadaanku, Reynand tersenyum dan berjalan menghampiriku. Aku mematung sesaat. Eh, Reynand beneran lupa sama kejadian tadi pagi?
"Kok ke sini nggak ngasih kabar?" tanya Reynand, ekspresinya biasa saja, tidak terlihat seperti sedang ngambek atau semacamnya.
Dengan ekspresi kebingungan, aku melirik ke arah Arisha yang kini justru malah sedang mengangguk meyakinkan.
"Kan, apa aku bilang, Mbak," ucap Arisha sambil memainkan kedua alisnya.
"Emang kamu abis bilang apaan?" selidik Reynand sambil menyesap minumanku tanpa permisi.
__ADS_1
"Kepo. Ini tuh urusan perempuan."
"Emang kamu perempuan?" ledek Reynand jahil.
Arisha melotot sambil memukul pundak Reynand. Sementara Reynand sendiri hanya tertawa setelahnya.
"Nyebelin banget sih. Auk, ah," rajuk Arisha langsung bangkit berdiri dan meninggalkan kami.
Reynand terkekeh puas sambil geleng-geleng kepala dan duduk di kursi tadi sempat Arisha duduki.
"Tumben ke sini nggak ngabari dulu?" ulang Reynand, karena pertanyaannya tadi belum sempat kujawab.
"Mau ngerayu kamu rencananya," akuku jujur sambil terkekeh geli. Jujur, aku merasa agak konyol sendiri sekarang ini.
"Hah?" Raut wajah Reynand berubah kebingungan. "Emang aku kenapa sampai mau kamu rayu segala?" tanyanya bingung.
"Yang tadi pagi."
"Yang tadi pagi?" beo Reynand dengan wajah bingungnya. "Emang yang tadi pagi kenapa?" imbuhnya kemudian.
"Kamu ngambek, Rey. Marah. Terus pulang gitu aja."
"Lebay," respon Reynand sambil geleng-geleng kepala. "Aku tuh, enggak ngambek, apalagi marah. Cuma agak kesel sih, dikit. Tapi, ya, cuma kesel dikit aja, nggak sampai ngambek kok. Lagian aku ini cowok loh, nggak pantes ah, kalau ngambek-ngambekan. Malu-maluin."
Ekpresiku berubah girang. "Serius nggak ngambek?"
"Enggak," tegas Reynand.
Aku nyengir dan mengucapkan terima kasih dengan tulus.
"Pacaran, yuk!" ajak Reynand tiba-tiba.
"Kok pacaran? Kenapa nggak nikah aja?" tanyaku sebal.
"Nikahnya nanti dong, kalau aku udah lamar kamu terus kita nikah deh. Ngebet banget, ya?" goda Reynand, yang sukses membuatku mendadak salah tingkah dan juga malu-malu.
"Enggak. Biasa aja," elakku sambil mengangkat daguku tinggi-tinggi.
Reynand langsung mencibir, "Enggak percaya tuh."
"Enggak percaya ya udah. Aku mau pulang."
Saat aku hendak berdiri, Reynand tiba-tiba mencekal tanganku dan menyuruhku untuk duduk kembali.
"Ayo, serius pacaran!" rengek Reynand membuatku jijik melihatnya.
Di umurnya yang sudah kepala tiga, tapi masih merengek seperti balita, bukankah itu terlihat menjijikkan? Meski yang melakukannya pacarmu sendiri dan sebenarnya dia itu tampan. Tetap terlihat tidak mengenakkan bukan?
"Diliatin banyak orang, Rey," tegurku memperingatkannya dengan tegas. Malu aja rasanya gitu dilihat pengunjung atu pembelian yang lain. "Lagian kita itu udah ketuaan, untuk pacaran, Rey."
"Siapa yang bilang?"
"Aku. Barusan."
"Berarti kamu salah, kukasih tahu ya, sayang. Di luaran sana banyak kok yang pacaran seteleh nikah, katanya lebih enak."
Aku terkekeh geli saat mendengar kalimatnya. Dan baru menangkap maksud dari 'pacaran, yuk!' nya.
"Ya udah, mau pacaran di mana?" tanyaku pada akhirnya.
Reynand tidak langsung menjawab. Ia berpikir sambil mengusap dagunya sok misterius, membuatku tak tahan untuk mengatainya lebay, meski hanya dalam hati.
Karena ia berpura-pura berpikirnya lumayan lama, aku akhirnya langsung menegurnya, "Jadi enggak sih?" tanyaku sedikit sebal. Masalahnya aku ini bukan pengangguran yang tidak punya pekerjaan, yang punya banyak waktu luang untuk berpacaran.
"Jadi," jawab Reynand sambil mangguk-mangguk yakin.
"Terus mau di mana?"
"Di masa depan rumah tangga kita."
Kriiikk Kriiik Kriiik
"Iih, kok ekspresinya gitu?" protes Reynand dengan ekspresi cemberutnya. "Kalau digombalin tuh, minimal pasang ekspresi berbinar dong."
Aku menggeleng tegas. "Kamu ngegombal barusan?" tanyaku, masih belum bisa menyembunyikan ekspresi terkejutku.
Gombalan macam apaan yang begituan. Batinku tak habis pikir.
"Iya," ketus Reynand dengan ekspresi judesnya.
"Kayak begituan kamu sebut gombalan?"
"Iya, iya, gombalanku emang enggak semanis Deni Cagur. Tapi seenggaknya, cintaku jauh lebih tulus dari..."
"Dari siapa?" desakku sambil terkekeh geli, karena Reynand terlihat kebingungan dengan pemilihan kata selanjutnya.
"Dari... dari siapa ya, enaknya?" tanya Reynand yang malah bertanya pendapat denganku.
Ckck. Seperti fakta kalau Reynand lama tak berpacaran itu benar adanya, kalau dilihat dari betapa payahnya ia menghadapiku.
"Kamu udah berapa lama sih enggak pacaran, Rey?"
"Lupa," jawab Reynand cuek. "Yang jelas udah lama banget. Tapi aku nggak ngintung, nggak penting juga sih untuk diitung. Ya, kan? Mending juga ngitung seberapa besar cintaku padamu?" Sambil tersenyum menggodaku, ia memainkan kedua alisnya naik-turun. Membuatku tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
Tbc,
**hehe, mohon maaf untuk yang menunggu kelanjutan cerita ini. saya terlalu lama ngilang ya, ada yg masih nunggu gk sih? kalo ada, saya ada kabar bahagia loh. habis ini saya bisa fast update, karena alhamdulillah saya udah ada beberapa draf. mau saya up pelan2, tpi klo ada yg minta fast update, akan update segera 😂. jadi saya harus bagaimana? fast update atau update pelan2 aja????
jawab di kolom komentar, ya 🤗😍😘**
__ADS_1