
#####
Aku menghela nafas sambil memandang bangunan ruko yang akan dijadikan kantor Reynand, jaraknya hanya sekitar dua puluh meteran dari butikku. Jujur, tempatnya memang bagus, lokasinya pun juga strategis. Aku suka, kalau boleh jujur, cuma kalau ingat jumlah yang harus dibayar itu lho, rasanya aku ingin sekali menghajar suamiku. Coba saja kalau menghajar suami itu tidak berdosa, aku pasti sudah melakukannya dari semalam. Tapi sayang, aku hanya bisa melakukannya di dalam ekspektasiku saja, tidak bisa kuterapkan di dunia nyata, dan itu sangatlah menyebalkan.
"Gimana menurut kamu, suka nggak?"
Aku langsung menoleh ke arah Reynand, dan hanya mengangkat kedua bahuku secara bersamaan, sebagai tanda jawabanku.
"Aku suka atau tidak nggak akan berpengaruh, Mas. Kan yang mau nempati kalian, bukan aku."
"Kamu masih marah?"
"Enggak, cuma masih agak rela aja. Udah, ya, aku langsung ke butik, biar kamu sama karyawan kamu bisa langsung kerja."
Aku kemudian langsung meraih tasku dan bersiap keluar dari ruangannya, namun ditahan Reynand.
"Aku anter, bentar, aku ambil hape."
"Lebay banget deh kamu ini, butik aku kan deket. Jalan kaki juga nyampe."
"Iya, ini juga aku mau nganter kamu jalan kaki," balas Reynand lalu merangkul pundakku.
Aku tidak bisa protes, hanya bisa pasrah dan menurut. Ingat, harus jadi istri yang baik dan nurut suami. Nggak boleh membantah, apa lagi itu bukan sesuatu yang merugikan, meski sedikit menyebalkan, ya.
"Guys, gue keluar bentar, ya, anter bini dulu," seru Reynand pada anak buahnya yang kini sedang sibuk di depan layar komputer masing-masing.
"Siap, bos! Yang lama juga boleh," canda salah satu karyawan pria, yang belum kuhafal siapa namanya.
Reynand hanya tertawa sambil mengacungkan jempolnya, baru setelahnya ia mengajakku turun ke lantai bawah.
Kukasih tahu sedikit gambaran kantor baru Reynand. Lantai pertama itu hanya ada meja resepionis untuk menerima tamu, sofa panjang untuk para tamu yang harus menunggu, dapur kecil dan kamar mandi. Sedang lantai dua tempat bekerja para anak buah Reynand dan Reynand tentunya. Di sana ada ruangan khusus untuk Reynand, ruangannya tidak terlalu besar tapi cukup nyaman jika seandainya ingin tidur siang di ruangannya sendiri. Sistem Meja kerjanya seperti kantor pada umumnya, dengan meja kubikel bersekat, ada meja panjang untuk rapat, dan sofa panjang untuk beristirahat. Anak buah Reynand ada dulu ada tiga, tapi sekarang bertambah satu, dan bertugas untuk menerima tamu. Sedang tiga lainnya bertugas untuk membantu pekerjaan Reynand, yang tidak aku pahami sama sekali.
"Makan siang nanti mau makan di mana?"
Hari ini aku memang tidak sempat memasak, untuk sarapan kami tadi juga hanya bermodal bubur ayam yang Reynand beli, karena aku yang terlambat bangun.
"Kamu nggak makan-makan sama anak-anak?" kataku balik bertanya.
"Kenapa gitu? Aku kan punya istri, ya, makan harus bareng istri dong."
"Siapa yang mengharuskan itu?"
"Aku. Barusan."
Aku langsung berdecak sebagai respon pertamaku, sebelum akhirnya berkata, "Maksudnya aku itu, kan kalian baru aja nempatin kantor baru tuh. Enggak ada rencana buat makan-makan bareng gitu buat ngerayain."
"Kita ngerayainnya pake bersyukur, sayang," balas Reynand sambil tersenyum dan memainkan kedua alisnya naik-turun.
"Dasar, kamu aja yang pelit."
Aku kemudian langsung mendorong pipi Reynand pelan.
"Bukan pelit, tapi berhemat. Kan aku abis ditipu," sanggahnya malah curhat.
"Iya lah, kena tipu, durhaka sama istri sih, kena azab kan?"
"Bahasanya, bawa-bawa azab pula. Perasaan kalau di rumah, aku nggak sengaja nonton itu sinetron, kamu misuh-misuh. Kenapa sekarang malah dibawa-bawa?"
"Ya, enggak papa. Tiba-tiba terlintas aja."
Aku mengangkat kedua bahuku secara bersamaan.
"Jadi, nanti mau makan di mana?" Reynand mengulang pertanyaannya.
"Lihat nanti deh," jawabku sambil meringis.
"Kenapa? Kamu ada janji makan siang sama siapa emang?"
"Belum tahu jadi apa enggak sih, cuma si Monik ngajakin aku main di rumah Lina. Kebetulan di rumah Lina ada acara apaan, ya, aku lupa, pokoknya kayak acara syukuran ulang tahun gitu deh."
"Loh, emang Lisa udah ada setahun?"
Aku menggeleng. "Belum. Baru itu loh, berapa bulanan."
"Lapanan?"
Sekali lagi aku menggeleng. "Enggak tahu, iya mungkin. Aku nggak paham soalnya."
Reynand berdecak sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Jadi, kamu lebih memilih makan sama temen kamu, ketimbang suami sendiri?"
"Enggak gitu maksud, Mas. Maksudnya kan, sekarang aku jarang kumpul-kumpul sama mereka. Mereka juga sibuk sama keluarga masing-masing, apa salahnya kalau pas ada waktu tepat, diluangin buat kumpul. Lagian, momennya pas juga, kamu jadi bisa makan-makan bareng anak-anak untuk ngerayain kantor baru."
Reynand berdecak tidak setuju, namun kepalanya tetap mengangguk.
"Ya udah, berhubung aku suami yang baik, aku ngikut istri," kata Reynand pada akhirnya.
Aku tersenyum lalu mengacungkan jempolku. "Nah, gitu dong. Itu baru namanya suami yang baik," kedipku sambil terkikik geli dan dibalas dengkusan samar oleh Reynand.
"Ya udah, sana masuk, kerja! Aku balik ke tempatku, ya."
Aku mengangguk, lalu bersiap masuk ke dalam butik. Sedang Reynand langsung berbalik dan berjalan menuju tempat kerjanya.
"Cie cie, pengantin barunya dateng," sambut Sandra saat aku memasuki butik.
"Apaan sih, udah bukan pengantin baru, ya. Udah selesai," balasku lalu naik ke lantai atas.
Sesampainya di atas aku langsung meletakkan tasku dan mengeluarkan ponsel. Ternyata ada pesan yang Monik kirimkan.
Monik.AH:
nnti siang jadi?
__ADS_1
Me:
enaknya?
Monik.AH:
jadi
Me:
ya udh, jadi
Monik.AH:
gitu aja?🤔
Me:
mau gimna lagi emangnya? 🙄
Monik.AH:
ya udah, jemput gue ya 🙃😉
Me:
males nyetir 😴
Monik.AH:
😒 sombong, mentang2 udh pnya laki
Me:
iya dong 😋😎
Monik.AH:
ya udah, minta anter laki lo klo gtu
Me:
enggak bisa, aku suruh makan2 sama anak buahnya
Monik.AH:
😕eh, kenapa gitu? lgi berantem?
Me:
udh baikan kok
Monik.AH:
Me:
naik taksi online??
Monik.AH:
ya udah, kutunggu, ya
Me:
kok gitu?
Lama kumenunggu, Monik tak kunjung memberikan balasan. Padahal statusnya online, tidak ada tanda-tanda kalau ia ingin membalas pesanku. Membuatku berdecak dan akhirnya memutuskan untuk meneleponnya.
"Kenapa?"
"Chatku belum kamu bales, Mo," protesku kesal.
"Mau dibales apa lagi emang? Udah jelaskan, La. Kamu ke sini naik taksi atau apa pun deh terserah, untuk jemput aku."
"Kok gitu?" protesku tidak setuju.
Di seberang terdengar suara decakan samar lalu Monik berkata, "Ya udah, gue yang ke sana jemput lo. Puas?"
Aku langsung tertawa dan mengangguk. "Yap, puas banget."
"Ya, udah, aku matiin," kata Monik langsung mematikan sambungan telfon begitu saja, tanpa menunggu respon dariku.
"Dasar, kebiasaan banget deh ini orang," gerutuku sambil geleng-geleng kepala dan meletakkan ponselku di atas meja. Baru kemudian aku melanjutkan pekerjaanku.
#####
"Anjir, suami Lina beli motor baru. Ini kalau Papa Killa sampai lihat, ngiler deh ini. Pengen beli juga."
Monik langsung berdecak sambil geleng-geleng kepala saat kami tiba di rumah Lina, dan mendapati motor besar milik suami Lina yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Kebetulan, suami Monik, Mas Hasan memang sangat menyukai otomotif dan motor besar. Jadi, wajar kalau Monik sampai khawatir jika suaminya melihat, sudah pasti Mas Hasan akan merengek minta diberi izin untuk membeli motor seperti itu juga.
"Ya, dibeliin to, Mo, biar nggak ileran suaminya," candaku sambil terkikik geli.
"Enak aja, harga motor begituan tuh, hampir dapet mobil keluarga yang murah-murah loh, La. Jangan salah kamu. Lihat nominalnya, kena serangan jantung kamu."
"Ya, udah, jangan dikasih tahu kalau gitu," kataku sebagai respon, lalu mendorong tubuh Monik agar segera masuk ke dalam rumah Lina.
"Assalamualaikum!!" seru kami lalu masuk ke dalam rumah Lina begitu saja, kebetulan rumah Lina pintunya dibuka, jadi kita memang lebih mudah masuk.
Tak lama setelahnya Lina menyambut kami. "Wa'allaikumussalam! Kok lama sih, Jogja sekarang macet, ya?"
"Parah," balas Monik berlebihan.
__ADS_1
"Ya udah, langsung ke dapur, yuk! Itu cucian udah pada numpuk!"
"Enak aja! Lo kata gue ke sini mau ngebabu apa," sewot Monik judes.
Baik aku dan Lina hanya terkekeh geli setelahnya. Sedang Monik hanya mendengkus setelahnya.
"Bercanda doang, Mo, sensi amat," balas Lina.
"Gegara liat motor gede laki lo, tuh."
"Lah, apa hubungannya?" sahutku kemudian.
"Ketar-ketir aku, La. Nanti kalau Papanya Killa lihat gimana?"
"Ah, kenapa jadi pada ngomongin motor Mas Fauzan? Kan aku jadi kesel."
Baik aku dan Monik langsung berpandangan, lalu Monik bertanya, "Emang kenapa?"
"Dia itu beli itu tuh, nggak bilang-bilang aku dulu. Tahu-tahu bawa pulang itu motor, pas aku tanya itu motor punya siapa, dia malah dengan entengnya jawab itu motor punya kita. Mana harganya nggak main-main pula. Ah, kesel aku. Sempet berantem hampir seminggu kita, cuma gara-gara itu."
"Buset, kok bisa? Masa nggak diomongin dulu sih? Kan dalam rumah tangga itu ada konsep uang suami milik istri, uang istri ya, milik istri sendiri. Harusnya suami kamu nggak boleh begitu dong?"
"Ya, harusnya emang gitu cuma, sayangnya suamiku begitu, Mo. Mana peduli dia sama konsep begituan. Suamiku tuh, tipekal yang royal. Kalau aku pengen sesuatu, ya tinggal beli, selagi ada duit, nggak perlu minta izin ke aku atau semacamnya. Nah, kalau seandainya dia juga pengen sesuatu, ya tinggal beli juga, selagi ada duitnya. Kan, ngeselin banget emang itu Papanya Lisa. Kesel tahu, nggak. Kadang aku tuh mikir, kenapa sih, aku dulu mau-mau aja dia ajak nikah. Heran."
Monik langsung tertawa merespon curahan hati Lina, sedangkan aku hanya diam. Tiba-tiba teringat dengan kelakuan Reynand yang membeli sesuatu tanpa mendiskusikan dulu denganku.
"Eh, malah ngelamun."
Monik tiba-tiba memukul pundakku, membuat ku tersentak kaget.
"Kenapa?" tanyaku kebingungan.
"Ngelamunin apa sih, serius amat?" tanya Monik keheranan.
"Suami."
"Cie cie, pengantin baru emang gitu, ya. Bawaan kepikiran mulu kalau sedang berjauhan gini," seloroh Lina menggodaku.
Aku langsung cemberut dan meraih bantal sofa, lalu melemlarkannya ke wajah Lina.
"Aku sih bukan kamu ya, Lin," sahutku kesal.
"Ngelak aja terus!! Jujur aja kenapa sih sama kita-kita," kata Lina masih mengompori.
"Kenapa sih? Kalian berantem?" tanya Monik penasaran.
"Keinget keselnya aku aja sih, kemarin aku juga sempet berantem gitu sama Rey."
"Eh, berantem kenapa? Doi juga beli sesuatu tanpa minta izin dulu?" tebak Lina tepat sasaran.
Aku langsung mengangguk, membenarkan.
"Beli apaan doi? Motor juga?"
Aku menggeleng. "Bukan. Dia beli ruko."
"Lah, dia mau buka toko?" celetuk Lina dengan wajah polosnya.
"Bukan ruko yang buat toko, tapi buat kantor barunya."
"Itu sih bagus, La. Kok kamu kesel?"
"Loh, jelas aku kesel dong, Mo. Aku ini istrinya lho, masa hal penting beginian nggak diobrolin dulu sama aku. Kan rasanya jahat banget, mana dia kena tipu pula sama temennya sendiri."
"Hah, kena tipu gimana?"
"Terus duit laki lo raib, gagal dapet kantor baru juga? Wah, ini sih karma namanya. Nggak mau terbuka sama istri sih, kena azabkan. ckckck." Lina berdecak sambil geleng-geleng kepala.
"Enggak, dapet kok buat kantor barunya. Hari ini udah mulai ditempatin malah, makanya aku ke sini, biar dia sama timnya makan-makan bareng buat ngerayain kantor baru nya."
"Loh, terus ditipunya gimana, tuh?" Lina menatapku bingung.
"Temen Rey kebanyakan ngambil untung."
Baik Monik dan Lina langsung mangguk-mangguk dan ber'oh'ria.
"Emang kantor lamanya kenapa?" kini giliran Monik yang bertanya.
"Campur sama toko Risha."
"Eh, bukannya toko Risha itu ada kayak Cafe kecil-kecilan gitu. Kita bisa ngopi di sana juga kan?"
Aku mengangguk, membenarkan ucapan Monik.
"Loh, bukannya enak kan kalau mau metting sama klien jadi sekalian ngopi di sana kan?"
"Ya, enggak gitu juga, Lin. Kan kalau punya kantor sendiri enak. Suasananya beda," balas Monik menimpali ucapan Lina. Lalu aku mengangguk setuju dengan pendapat Monik.
"Terus berapa lama kalian marahannya?"
"Nggak lama, cuma aku kalau inget suka mendadak kesel, Lin. Kayak masih nggak rela gitu. Aku sih bukan tipekal yang uang suami milik istri, terus uang istri milik istri sendiri. Tapi, maksudnya kalau mau merencanakan sesuatu, mbokyo diobrolin dulu gitu lho. Maksudnya, kan sekarang udah punya istri gitu lho. Meski pendapatku belum tentu berpengaruh, seenggaknya aku tahu lah apa yang lagi dihadapi suami aku. Gitu lho."
"Ya, namanya masih baru, La, mungkin Reynand kadang lupa kalau udah punya kamu untuk berbagi beban. Nanti lama kelamaan juga enggak. Yang penting ada komitmen buat saling terbuka aja, meski baru belajar. Pelan-pelan, La!"
Mau tak mau, aku mengangguk membenarkan.
"Ya udah, yuk, sekarang makan-makan. Itu mumpung Lisa belum bangun. Ngobrolnya dilanjut nanti, laper nih aku."
Lina kemudian bangkit berdiri dan mengajak kami menuju dapurnya. Baik aku mau pun Monik langsung tersenyum cerah dan mengekor di belakang Lina.
**Tbc,
__ADS_1
Astaghfirullah, makin gaje aja sih ya Allah. maafkan daku ya, gaes. aku juga pusing ini ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜**