
*****
"Pada ke mana, San, kok sendirian?" tanyaku heran, saat memasuki butik dan hanya menemukan Sandra sedang memainkan ponselnya.
"Sholat, Mbak," jawab Sandra masih sibuk dengan ponselnya.
"Kamu kenapa nggak ikut?"
"Lagi ada tamu, Mbak."
Aku celingukan mencari tamu yang Sandra maksud, tapi aku tidak menemukannya siapapun.
"Mana tamunya? Orang nggak ada orang selain kita?"
"Maksud Sandra itu tamu bulanan, Mbak."
Aku ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. Heran, kenapa aku nggak mikir ke arah sana, ya?
"Gimana keadaan Mas Rey, Mbak? Udah sehat?"
"Udah mendingan sih, cuma masih anget sih tadi badannya. Tapi udah kerja lagi. Bandel banget orangnya, diajak ke rumah sakit nggak mau,"
ceritaku setengah curhat.
Sandra mangguk-mangguk paham, kemudian merogoh lacinya dan mengeluarkan amplop berwarna krem dengan ukiran cantik di setiap sudutnya. "Ohya, Mbak, Mas Kenzo tadi ke sini. Nitip undangan." Lalu menyodorkannya padaku.
"Kesha udah mau nikah?" tanyaku sambil membolak-balikkan amplop itu. Kedua mataku langsung membulat saat menemukan nama Kenzo yang tertera di sana, bukan nama Kesha.
"Yang mau nikah Kenzo?" tanyaku tanpa bisa menyembunyikan rasa terkejut. "Kok bisa," desisku kemudian saat mendapati anggukan yakin dari Sandra.
"Ya, bisa dong, Mbak. Itu buktinya udah sampai sebar undangan. Ngomong-ngomong calonnya tadi juga diajak kok, Mbak. Cantik terus kalem gitu. Pake hijab."
Aku mengangguk pelan. Masih kaget aja gitu rasanya. Astaga, Kenzo mau nikah? Aku harus tanya langsung ke orangnya. Oke, telfon aja sih. Takutnya nanti dikiranya aku yang gagal move on kalau langsung menghampirinya.
"Aku ke atas dulu, ya. Mau introgasi calon penganten," pamitku pada Sandra.
Sandra hanya mengangguk, mempersilahkan. Sementara aku langsung menghubungi Kenzo setelah meletakkan tas selempangku.
"Ya, hallo. Assalamualaikum, mantan!"
Aku mendengkus kasar kala mendengar sapaannya bernada usil itu.
"Wallaikumsalam. Kamu seriusan mau nikah, Ken?" tembakku langsung tanpa basa-basi.
Di seberang Kenzo langsung terbahak. "Iya. Kamu udah pulang ke butik? Gimana keadaan pacar kamu? Udah mendingan?"
"Nggak usah ngalihin pembicaraan, Ken. Aku serius ini, kamu beneran mau nikah?" tanyaku kesal. "Anjir, tinggal bulan depan lagi," imbuhku setelah membaca tanggal akad dan resepsi pada amplop depan.
"Iya, aku serius. Kamu ini kenapa sih? Kamu nggak rela aku nikah sama cewek lain? Salah kamu sih dulu selalu nolak pas mau aku lamar. Nah, giliran aku mau nikah sama yang lain kamu malah kayak gini."
Ya, aku tahu ucapan Kenzo tidak serius. Dia hanya bercanda. Tapi tetap saja aku kesal mendengarnya.
"Itu sama sekali enggak lucu, Ken."
"Aku juga nggak lagi ngelucu. Aku kan bukan pelawak."
"Ken,"
"Iya, iya. Aku tahu kamu khawatir, Qilla. Tapi, kamu tenang aja. Aku serius sama Raisa. Kami emang baru kenal tiga bulan, tapi aku yakin sama dia. Dia bukan hanya pelarian aku, Qilla. Aku beneran sayang sama dia, dan aku mau jagain dia pake cara halal. Nggak mau cuma pacaran aja. Jadi, kamu nggak perlu khawatir. Aku bahagia sama Raisa, La. Dan kamu, kamu harus bahagia sama.... duh siapa lagi namanya pacar kamu itu?"
"Reynand."
"Nah, iya itu. Kamu sama Reynand juga harus bahagia. Kamu juga harus menikah, La. Umur emang nggak bisa dijadikan patokan untuk menikah, La. Tapi rasa yakin terhadap pasangan kita, kalau memang dia orangnya dan karena kita ingin beribadah karena Allah cukup kok dijadikan alasan untuk segera menikah. Jangan kelamaan nunda-nunda, ya?"
__ADS_1
Aku tersenyum sambil mengangguk, meski aku tahu Kenzo tidak dapat melihatku.
"Ya, aku bakalan inget pesan kamu."
"Harus. Kamu juga harus segera menikah, kalau emang udah yakin sama Rey."
"Gimana caranya agar aku bisa tahu?"
"Aku akan merasa yakin dengan sendirinya, La. Ya, pokoknya nggak bisa diungkapkan kata-kata deh."
"Gitu, ya? Iya, deh. By the way, selamatnya buat pernikahan kalian. Aku ikut seneng," ucapku tulus.
"Thanks. Jangan lupa dateng, ya! Reynand harus diajak. Ibu, Bapak, Mas Adi, Mbak Lusi, sama Kafka juga harus kamu ajak. Oke?"
"Enggak janji, ya. Kandungan Mbak Lusi udah gede, Mas Adi mana bolehin pergi."
"Iya udah, enggak papa. Yang penting amplopnya dititipin ke kamu, ya," canda Kenzo.
"Iya, nanti aku sampaiin."
"Heh, aku cuma bercanda."
"Iya, nanti aku bilangin. Ini kayaknya ada chat deh, udah dulu ya?"
"Oke."
Tut Tut Tut
Reynand:
🤒😷😩
Reynand:
Reynand:
Kangen
Reynand:
Pusing juga😖
Me:
Di mana?
Reynand:
Apartement
Me:
Aku mandi dulu
Me:
Nanti aku ke sana.
Me:
Mau dibawain apa?
Reynand:
__ADS_1
Cuma butuh kamu dan kasih sayang kamu😘😘
Aku hanya geleng-geleng kepala saat membaca balasan chat dari Reynand. Tanpa berniat membalasnya, aku pun langsung bergegas ke kamar mandi. Begitu menyelesaikan mandiku yang super singkat dan berganti pakaian. Aku langsung turun ke bawah. Dan tidak menemukan siapa pun di bawah.
"Lah, belum pada balik," gumanku sambil melirik jam tanganku, yang ternyata masih menunjukkan angka setengah satu kurang 5 menit. "Ya udah deh, nanti kabarin lewat telfon aja," gumanku lagi lalu keluar butik.
*****
Aku rasanya tidak bisa menahan diriku untuk sekedar memaki Reynand yang kini tengah asik bermain game. Di hadapannya ada sekotak pizza ukuran besar yang tinggal setengah, juga ada dua botol coca cola ukuran sedang.
Astaga, lemes katanya tadi? Dia sedang bercanda denganku.
Dengan emosi yang memuncak, ku rebut stik PS-nya lalu membantingnya di lantai. Ekspresi Reynand tampak terkejut sekaligus panik.
"Kenapa dibuang?"
"Karena aku marah!" semburku galak. "Lemes kamu bilang? Kamu habisin setengah kotak pizza ukuran besar, Rey! Jelas kamu lemes. Lemes karena kekenyangan. Iya, kan?"
"Rey, cewek lo udah mau datan--eh, udah dateng toh?" ucap seorang pria yang tidak kukenal, tiba-tiba keluar dari kamar mandi.
Aku menatap Reynand dan pria itu secara bergantian. Bermaksud meminta penjelasan.
"Namanya Agung, dia temen kantorku dulu pas masih kerja di Jakarta. Awalnya sih mau aku usir karena kamu mau ke sini, tapi itu anak ngeyel. Dan pizza ini dia yang bawa sekaligus dia yang makan, aku nggak ikut makan," jelas Reynand. Pandanganya beralih pada pria yang bernama Agung itu. "Balik sana, lo!" usirnya galak.
"Biasa aja. Gue juga udah punya bini, nggak bakalan gue tikung," gerutu Agung sambil meraih jaket kulitnya. "Duluan ya, Mbak," pamitnya kemudian padaku.
"Gue nggak lo pamitin?" protes Reynand.
"Ogah. Orang lo ngusir gue. Gue balik dulu."
Aku melongo. Itu barusan bukannya pamitan?
"Itu anak emang rada ajaib," sahut Reynand.
"Aku minta maaf," sesalku ikut bergabung di sebelahnya.
"Iya. Nggak usah dipikirin, kan cuma salah paham."
Aku mengangguk. "Gimana keadaan kamu sekarang?"
"Udah sembuh dong," ucap Reynand sambil menarik pundakku ke pelukannya. Membuatku dapat merasakan suhu tubuhnya yang masih agak hangat. Aku langsung menempelkan telapak tanganku di keningnya.
"Sembuh apaan, masih panas gini kok. Ke rumah sakit aja, yuk! Daripada malah makin parah. Bunda kamu juga nanti yang repot."
"Enggak papa, nanti juga sembuh. Enggak usah ke rumah sakit segala deh," tolaknya seperti biasa.
Aku berdecak gemas. "Terus kamu maunya gimana?"
"Enggak gimana-gimana."
"Serah kamu lah, Rey. Aku pulang aja kalau kamu nggak mau aku urusin."
Dengan jengkel aku segera melepaskan diriku dari rangkulannya dan langsung berdiri.
"Kok pulang sih? Jangan pulang dong!" rengek Reynand seperti anak kecil sambil menahan lenganku.
Aku menggeleng tegas. "Kita ke rumah sakit atau aku--
"Oke, kita ke rumah sakit," potong Reynand pasrah.
Aku langsung tersenyum puas. "Ya udah, sana ganti baju!"
Meski sambil menggerutu Reynand tetap menuruti perintahku.
__ADS_1
Tbc,