Telat Nikah?

Telat Nikah?
Arisha Hamil?


__ADS_3

#####


Hari ini sudah tepat sebulan, aku menyandang status sebagai suami Reynand. Tidak terlalu banyak yang berubah selama ini, Reynand masih tetap Reynand yang biasa, yang jahil, suka menggodaku, dan nyebelin. Dia juga tidak menunjukkan kebiasaan aneh yang tidak ia tunjukkan sewaktu belum menikah, semuanya hamipir sama seperti sebelum kami menikah, hanya bedanya ia lebih agresif menggodaku kalau urusan ranjang, itu saja, selain itu, sama saja. Susah diatur.


Hari ini rencananya, kami akan menghadiri acara aqiqah anak dari sepupu Reynand. Arisha kemarin sudah mewanti-wantiku agar kami mampir ke rumah Bunda terlebih dahulu, tapi bukannya segera bersiap-siap, Reynand malah sibuk dengan laptopnya.


"Mas, jadi ke acara aqiqahan anaknya Resti enggak sih?"


Aku berdecak sebal, sembari berkecak pinggang dan menatap Reynand mulai bosan. Akhir-akhir ini, ia memang lumayan sering membawa pekerjaannya ke apartement kami, yang secara otomatis mengurangi waktu berdua kami. Tahu tidak, aku suka gemas kalau melihatnya serius memandangi laptopnya dan tidak menggubrisku, membuatku sempat berpikir untuk membanting laptopnya karena kesal. Mungkin, kalau tidak ingat biaya servis laptop atau kemungkinan aku yang tidak dapat jatah bulanan darinya, mungkin aku sudah benar-benar melakukannya karena kesal.


"Mas!!" jeritku kesal.


"Iya, iya, bentar dong, sayang. Ini nanggung loh, kamu mending mandi dulu aja."


Saat mengatakan itu Reynand menatapku sama sekali. Boro-boro menatapku, sekedar melirikku saja tidak.


"Mas," panggilku sekali lagi, tapi kali ini nada suaraku lebih kalem, menjurus ke datar.


"Hmm," respon Reynand seadanya, masih belum sudi untuk sekedar melirikku.


"Lihat aku!"


Antara rela dan tidak rela, Reynand akhirnya melirikku, kemudian ia meringis sembari menggaruk tengkuknya.


"Eh, kok kamu udah siap sih, yang? Nggak bilang-bilang pula."


"Nggak bilang gimana, kamu aja yang pacaran sama laptop terus. Aku sih nggak masalah kamu bawa kerjaan pulang, nggak papa, meski akhirnya kamu jadi nyuekin aku. Aku nggak masalah, Mas, toh, aku tahu kamu kerja juga nggak buat kamu sendiri, tapi buat aku dan masa depan kita. Tapi, hari ini kita ada acara, Mas, kalau kerjaan kamu emang nggak bisa ditinggal, ya udah, aku dateng sendiri nggak papa. Kamu di rumah aja, dari pada begini. Aku yang emosi sendiri ini lho, Mas."


"Iya, iya, aku ikut kok, yang. Janji, bentaran doang. Oke?"


"Iya," jawabku singkat.


Reynand langsung tersenyum cerah dan kembali fokus ke layar laptopnya lagi.


"Bentaran versi kamu kali ini, berapa jam?"


Mendengar pertanyaanku yang jelas-jelas sedang menyindirnya, membuat Reynand menyengir dan menoleh ke arahku.


"Yang jelas nggak ada sejam kok, sayang," kedipnya genit, sambil mencium pelipisku sedetik.


Aku tidak tahu sih, Reynand sedang bercanda atau hanya menggodaku saja, yang jelas, jawabannya barusan tetap membuat bibirku manyun beberapa senti.


"Bibirnya biasa aja, sayang," celetuk Reynand tiba-tiba, padahal ia sedang tidak menoleh ke arahku atau sekedar melirikku.


Dari mana dia tahu kalau bibirku maju beberapa senti?


Belum sampai bibir ini berucap, untuk menyuarakan pertanyaanku, layar ponselku tiba-tiba berkedip. Membuat aku akhirnya lebih memilih mengangkat panggilan tersebut.


"Ya, halo. Assalamualaikum, ada apa Ris?"


"Mbak Qilla sama Mas Rey udah sampai mana?"


"Masih nungguin Mas-mu, Ris, gimana? Udah pada mau berangkat?"


"Nungguin Mas Rey? Emang lagi ngapain dia, Mbak?"


"Kerja. Nggak tahu deh, dari tadi nggak kelar-kelar. Padahal aku udah siap lho ini, lama-lama keburu luntur bedakku," kataku malah curhat.


Aku kemudian melirik ke arah Reynand, yang kini hanya terkekeh geli mendengar gerutuanku.


"Terus gimana, Mbak, Mas Rey-nya mau ngikut apa enggak? Apa aku suruh Farhan jemput Mbak Qilla aja, terus nanti bareng aku nanti ke sananya?"


"Bentar, Ris, aku tanya orangnya dulu."


Aku agak menjauhkan ponselku dari telinga, lalu menoleh ke arah Reynand.


"Kenapa?"


"Kamu mau ikut apa enggak, kalau enggak, aku berangkat sendiri aja. Gimana? Dari pada nggak enak lho ini, aku."


"Biar dijemput Farhan aja, Mbak."


Suara Arisha tiba-tiba terdengar kembali, mungkin ia mendengar obrolanku dengan Reynand.


"Iya, Ris, bentar, ini orangnya belum jawab."


"Oke, suruh jawab cepet dong, Mbak. Jadi, suami kok lelet banget."


"Gimana?" tanyaku pada Reynand.


Reynand berdecak, lalu mematikan laptopnya dan menyimpannya di meja kerja.


"Iya, iya, aku siap -siap dulu."


Aku mengacungkan jempolku lalu kembali mendekatkan ponselku pada telinga. "Ini Mas-mu lagi siap-siap, kalau seandainya udah harus pada berangkat, ditinggal aja nggak papa, Ris, nanti kita nyusul."


"Enggak papa, Mbak, kita tungguin kok, cuma Mas Reynya suruh cepet aja, ya, Mbak. Itu orang kalau nggak disuruh cepet, apa-apa lama."

__ADS_1


Aku tersenyum masam, lalu mengangguk, meski faktanya Arisha tidak dapat melihatku.


"Iya, nanti aku sampein."


"Ya udah, gitu aja, Mbak. Aku matiin, ya, assalamualaikum!"


"Iya, Wa'allaikumussalam."


Setelah sambungan telfonnya mati, aku kemudian meletakkan ponselku di atas meja. Pandanganku kemudian fokus kepada Reynand yang kini malah berdiri di depan lemari sambil berkecak pinggang, dan belum memakai baju atasan, hanya celana jeans panjang dan singlet putihnya. Membuatku akhirnya kembali berdecak gemas. Astagfirullah, suamiku!


"Kok belum pakai baju?" tanyaku gemas.


"Baju kemejaku yang kotak-kotak di mana?" tanya Reynand sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Kemeja kotak-kotak yang mana?"


"Yang itu loh, warna hitam. Tapi kotak-kotaknya yang kecil."


Aku berdecak gemas. "Pakai yang ada aja kenapa sih, Mas, ini si Risha udah nyuruh kita cepet-cepet loh. Masa kamu malah musingin baju."


"Tapi kan aku mau pakai yang itu, yang."


"Loh, kamu ini lho, masa pengen pakai baju yang nggak ada. Udah, pakai seadanya aja."


Meski dengan bibir komat-kamit, menahan gerutuan. Reynand akhirnya menurut.


"Aku mau pakai yang ini," kata Reynand sambil menunjuk kemeja garis-garisnya.


Aku langsung menatapnya datar. "Terus?"


"Ya, ambilin dong, sayang!"


"Astagfirullah! Kamu ini manja banget sih, Mas, masa apa-apa harus aku," gerutuku, namun tetap mengambilkan kemeja garis-garisnya lalu menyerahkan padanya.


Reynand menyengir sembari mengerling jahil, tangannya sibuk melepas kancing kemejanya, sebelum akhirnya berujar, "Kan aku baik, biar istriku nambah pahalanya. Lagiankan kemeja ini tadinya ada di tumpukan tengah, kalau nanti aku nariknya sembarangan, terus berantakan, siapa yang susah? Kamu juga lho, yang."


Aku mendecih samar, lalu membantunya mengancingkan kemejanya agar cepat selesai. Namun, sepertinya aku salah, karena kenyataannya tidak demikian. Bukannya cepat, justru malah semakin lama karena kelakuan genit Reynand. Menikah dengannya, benar-benar membuatku harus menyetok banyak kesabaran. Kalau taat pada suami termasuk ladang pahala, mungkin aku sudah... oke, tidak akan kuteruskan. Takut dosa, lalu aku terkena azab seperti yang ada di tv-tv itu.


"Makasih, sayang," kedip Reynand genit.


Aku hanya menatapnya datar lalu mengambil tasku. "Kamu yang bawa kadonya," kataku sambil berjalan meninggalkan Reynand begitu saja.


"Siap, boskuh!"


\=\=\=\=\=\=\=


Aku terkekeh geli sambil menggelengkan kepala, melihat tingkah keduanya yang hampir-hampir tidak pernah akur itu. Lalu kemudian aku memilih masuk ke dalam rumah, menyapa Ayah dan Bunda dan yang lainnya. Membiarkan Reynand diomeli Arisha sampai puas. Ck. Salah sendiri lama.


"Sehat, La?" sapa Mbak Silfi saat menyadari keberadaanku. Ia langsung bangkit berdiri dan menghampiriku dan mengajakku cipika-cipiki.


"Alhamdulillah, sehat, Mbak. Ini keponakanku pada ke mana?" tanyaku saat menyadari tidak ada Axelle maupun Aurine, aku kemudian langsung menghampiri Mas Arif dan Farhan lalu menjabat tangan mereka secara bergantian.


"Mereka udah berangkat duluan bareng Ayah dan Bunda," jawab Mbak Silfi, "langsung berangkat aja, yuk? Suamimu ke mana?"


"Di depan, Mbak, diomelin Risha," jawabku sambil menyengir.


Mbak Silfi terkekeh. "Itu dua orang meski udah punya pawang masing-masing, masih aja gitu," decaknya sambil geleng-geleng kepala, "Mau bawa mobil sendiri-sendiri apa gimana nih?" Mbak Silfi menengok ke arah Farhan dan suaminya Mas Arif yang saat ini sedang sibuk dengan gedget masing-masing.


"Barengan nggak papa sih, daripada macet," jawab Mas Arif tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Aku pake mobil sendiri, Mbak, mau kondangan soalnya habis ini. Nah, gara-gara ini nih, istriku ngomelin suamimu, Mbak," kata Farhan sambil menatapku dan Mbak Silfi secara bergantian.


Baru kemudian ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Pantesan, tadi aku lihat Arisha pakai kebaya dan juga batik resmi.


"Halah, emang istrimu itu hobinya marah-marah kali, Han. Pake segala kamu belain. Udah, ayo, berangkat sekarang!"


Aku mengangguk setuju, lalu kami semua berjalan keluar rumah. Di luar Reynand dan Arisha masih sibuk adu mulut. Membuatku langsung menoleh ke arah Farhan.


"Han, itu istrimu, kamu sirep dulu deh," kataku setengah bercanda, membuat Farhan dan yang lainnya tertawa.


"Duh, di-sirep banget, Mbak, bahasanya," kekeh Farhan.


Namun, ia tetap bergerak maju dan memeluk istrinya secara tiba-tiba. "Yang, udah yuk, ngomel-ngomel nggak capek apa kamu? Ini kita harus berangkat sekarang loh. Katanya mau kondangan, kalau kamu ngomel-ngomel terus yang ada bibir kamu nanti kering. Udah, ayo masuk mobil, kita berangkat sekarang."


Meski diiringi decakan kesal, Arisha tetap menurut dan berjalan masuk ke dalam mobil dituntun Farhan.


Di sampingku Mbak Silfi tiba-tiba terkekeh dan berceletuk, "Maklumin aja, ya, bumil emang suka sensi."


Apa?!


Bumil?


Maksudnya Ibu hamil?


Ini maksudnya Arisha hamil?


"Iya, baru jalan sepuluh minggu," kata Mbak Silfi saat menyadari ekspresi terkejutku. Ia kemudian menyentuh pundakku dan berkata, "cepet nyusul, ya?" ia berkedip lalu masuk ke dalam mobilnya. Saat hendak menyentuh pintu mobil, Mbak Silfi tiba-tiba berbalik dan menghadapku. "Kalian mau bawa mobil sendiri atau ngikut kita aja?"

__ADS_1


Aku menoleh ke arah Reynand, membiarkan ia yang mengambil keputusan.


"Bawa mobil sendiri aja," jawab Reynand sambil menggeleng.


"Bareng aja lah, Rey, nanti pulangnya bawa mobil Ayah. Biar nggak menuh-menuhin jalan kenapa," usul Mas Arif, yang kembali dijawab dengan gelengan kepala.


"Enggak, Mas, ribet."


"Ya udah, terserah. Kita duluan," kata Mas Arif lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Yang, kita jadi ikut nggak?" celetuk Reynand tiba-tiba.


Aku mengernyit dan menatapnya datar. "Maksudnya?" tanyaku tak paham.


"Itu mobil Mas Arif sama Farhan udah jalan semua, lah, kita? Masih di sini aja, nggak mau nyusul?"


Aku terkekeh geli saat menyadari kebodohanku. Hanya karena mengetahui fakta bahwa Arisha hamil, aku langsung menjadi tidak fokus begini.


"Maaf, maaf, aku kayaknya agak kurang fokus. Yuk, masuk mobil terus susul yang lain," kataku lalu mendorong tubuhnya agar segera masuk ke dalam mobil.


Reynand berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Mikirin apaan sih sampai begitunya? Butuh aqua apa butuh kasih sayang, nih?"


Aku langsung memukul pundaknya. "Butuh transferan duit."


Membuat Reynand langsung mendengkus dan mencibirku. "Dasar matre!"


Aku hanya tertawa, saat meresponnya lalu kami masuk ke dalam mobil.


"Tapi serius, aku penasaran deh. Kamu mikirin apa sih?" tanya Reynand sambil memasang seatbelt-nya, dan menoleh ke arahku.


"Itu... Risha hamil katanya, Mas. Kamu udah tahu?"


Dengan wajah santainya, Reynand menggeleng. "Belum. Eh, udah deh, dari kamu ini barusan. Udah berapa bulan katanya?"


Aku menghela nafas dan menyandarkan punggungku pada bangku penumpang. "Sepuluh--"


"Hah?" seru Reynand heboh.


Aku mengernyit heran sekaligus terkejut. "Kenapa teriak sih?"


"Itu tadi kamu bilang Risha udah hamil sepuluh bulan? Kamu jangan ngaco dong, hamil itu cuma sampai sembilan bulan, yang."


Lah?


"Siapa yang bilang? Aku tuh mau bilang kalau Risha hamil sepuluh minggu, bukan sepuluh bulan. Kamu aja yang ngaco!" dengkusku sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada, lalu melirik Reynand sengit.


Dan seperti biasa, Reynand hanya menyengir khas miliknya. Membuatku tak tahan akhirnya memutar kedua bola mataku.


"Kamu itu lho, kebiasaan banget tahu," gerutuku sebal.


"Hehe, maaf, sayang. Kayaknya aku butuh asupan kasih sayang tambahan."


"Makanya kamu jangan kerja mulu."


"Oke, siap."


Aku memandangnya datar dan menggelengkan kepala tak percaya, saat mendengar seruan hebohnya barusan. Membuatku secara spontan langsung mengucapkan istigfar dalam hati.


Astagfirullah!


Entah apa yang merasukiku dulu, sehingga mau dipersunting olehnya.


"Kamu sedih, ya?" celetuk Reynand tiba-tiba.


Kali ini aku kembali menoleh ke arahnya dengan ekspresi takjub. Lalu dalam hati membatin, "Tumben peka."


"Sayang," panggil Reynand saat ia tak kunjung mendapatkan respon apa pun dariku.


Sebisa mungkin aku memaksakan senyumku dan menggelengkan kepala. "Enggak."


"Bagus itu, memang harusnya begitu. Kita baru menikah sebulan, sayang, masih pengantin baru. Justru kalau kamu udah hamil sekarang, yang ada jadi bahan obrolan warga."


"Kenapa begitu? Kan kita udah nikah sebulan, bukan seminggu?"


"Ya, nanti pasti orang mikirnya kamu hamil di luar nikah. Tahu sendiri kan warga, suka berasumsi menurut sudut pandangnya sendiri, padahal nggak tahu kebenarannya."


Aku tersenyum. Mau tidak mau akhirnya mengangguk setuju, meski tidak dapat dipungkiri kalau perasaan iri itu hadir tanpa bisa dicegah. Aku juga khawatir kalau acara aqiqahan sepupu Reynand ini akan berujung pada obrolan apakah aku sudah hamil atau belum. Aku tetap takut kalau seandainya ditanya begitu. Meski ini lagi-lagi pertanyaan basa-basi yang wajib ditanyakan untuk pasangan setelah menikah.


Tapi kan baru nikah sebulan, masa sudah ditanya sudah hamil atau belum?


Ya, belum tentu jug mereka ingat berapa lama aku menikahnya.


"Udah, nggak usah dipikirin," kata Reynand sambil mengusap pundakku pelan.


Aku hanya meresponnya dengan senyum yang agak kupaksakan dan anggukan kepala tidak yakin.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2