Telat Nikah?

Telat Nikah?
Pulang Ke Semarang


__ADS_3

\=\=\=\=\=


Aku menggeliat saat sambil berusaha mengumpulkan nyawaku yang terasa belum berkumpul semua. Setelah kurasa mulai sedikit terkumpul, aku kemudian meraih ponselku yang sedari tadi terus berbunyi. Sumpah demi apapun, kalau sampai Reynand si pelaku yang membuat tidur cantikku terganggu, aku tidak segan untuk menendang tulang keringnya nanti, serius. Aku tidak main-main.


Aku sedikit menyesal, karena nama yang tertera di layar ponselku bukan nama Reynand. Ya, gimana aku nggak nyesel kalau kesempatanku untuk menendang tulang kering Reynand tidak terbuka.


Bukan nama Reynand yang tertera, melainkan nama Mas Adi. Sambil menggaruk rambutku yang sedikit gatal, aku akhirnya langsung menjawab panggilan suara darinya dengan sedikit ogah-ogahan.


"Ya, assalamualaikum, Mas! Kenapa nih, nelfon pagi-pagi?"


"Maaf, ya, La. Mas mau minta tolong nih."


"Minta tolong apaan?"


"Nanti abis subuh kamu ke Semarang, ya?"


"Ngapain? Mbak Lusi udah mau lahiran?" celetukku asal.


Maklum. Kan, masih setengah ngantuk. Jadi, omongannya masih suka ngaco.


"Iya, Mbakmu udah mau lahiran. Kamu pulang, ya, jagain Kafka."


"Hah?!" responku spontan.


"Biasa aja, nggak usah teriak!" sungut Mas Adi dari seberang.


Aku terdiam. Hah, keponakanku sudah mau nambah lagi?


"Qilla!" panggil Mas Adi, yang akhirnya menyadarkanku dari lamunan.


"Ya? Gimana-gimana, Mas?"


Dapat kudengar dengkusan samar dari seberang, sebelum akhirnya Mas Adi kembali bersuara.


"Nanti kamu dapat jatah jagain Kafka, nggak usah ke rumah sakit."


"Lah, kok gitu?" protesku tidak setuju. Meski Kafta itu tidak termasuk bocah rewel dan cukup cerdas, sebenarnya. Tapi, kalau harus jagain Kafka seharian atau bahkan lebih, rasa-rasanya kok nggak seru gitu lho.


"Kenapa memangnya? Kafka kan nggak susah dibilangin ini dan juga itu, La."


"Tapi, aku pengen lihat Mbak Lusi sama keponakanku," rengekku tidak setuju dengan permintaannya.


"Kafka juga keponakan kamu, La, kalau kamu lupa," kata Mas Adi mengingatkan dengan nada ketus.


"Tapi beda lah, Mas."


"Ya, beda lah. Udah, ah, Mas tutup. Pokoknya kamu jangan lupa pulang."


Tanpa membiarkan aku kembali protes, Mas Adi langsung mematikan sambungan telfonnya. Emang paling bisa ya, kalau bikin orang kesel. Huh, nyebelin.


Akhirnya, dengan perasaan tidak rela aku turun dari kasur dan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, aku memilih untuk membereskan pakaianku terlebih dahulu, daripada berganti pakaian. Setelah semua barang yang kubutuhkan masuk ke dalam tas, baru aku berganti pakaian dan berdandan. Setelah siap dan rapi, aku baru menghubungi Reynand.


"Ya, kenapa, yang?" sambut Reynand, saat sambungan terhubung.


"Enggak. Cuma mau ngasih kabar, kalau aku mau balik ke Semarang."


Aku mengobrol sambil membuat segelas coklat hangat untuk pengganjal perut.


"Kapan?"


"Pagi ini juga."


"Naik?"


"Mobil lah."


"Dijemput?"


Aku langsung tertawa mendengar pertanyaan Reynand.


"Dijemput siapa sih, Rey? Ya, nyetir sendiri lah. Kamu ini ada-ada aja lho pertanyaan."


"Ya, siapa tahu dijemput Kakak kamu atau siapa gitu, bisa aja kan?"


"Enggak ada. Orang biasanya aku juga nyetir sendiri."


"Kalau aku anter, mau?" tawar Reynand tiba-tiba.


Aku terdiam. Dulu, kalau saat aku masih berpacaran dengan Kenzo, enggak pernah tuh, ceritanya aku dianterin pulang. Jadi, rasanya agak aneh deh, kalau mau dianter segala.


"Emmm..."


"Aku rasanya enggak rela deh, ngebiarin kamu nyetir sendirian. Aku anter aja, ya?"


"Apaan deh, lebay banget deh kamu. Aku itu udah biasa nyetir sendiri, Rey. Aku nggak bakalan kenapa--"


"Aku khawatir loh. Aku anterin aja, ya? Nanti pulangnya aku jemput juga deh," bujuk Reynand masih bersikeukeuh untuk mengantarkanku.


"Terus kerjaan kamu?"


"Gampang, urusan nanti. Aku bisa kerja habis nganter kamu. Jam kerja-ku kan agak flaksibel, lagian lagi nggak terlalu banyak proyek kok. Aman kalau cuma ditinggal nganter kamu doang."


"Ya udah, terserah kamu. Ini aku udah hampir siap tapi lho, kalau kamu datengnya satu jam kemudian, aku berangkat sendiri," kataku pada akhirnya.


"Oke. Deal. Aku siap-siap terus otewe, ya."


"Iya, nggak boleh lama tapi."


"Siap, bosku!"


Tanpa membalas ucapannya, atau meminta izin, aku langsung mematikan sambungan telfonku dan menghabiskan segelas cokelat hangatku dan sepotong roti tawar lalu turun ke bawah untuk membuka butik dan menunggu karyawanku masuk. Yang ternyata aku sudah keduluan sama Sandra ternyata.


"Pagi, Mbak!" sapa Sandra sambil membawa segelas kopi yang masih mengepul.


"Rajin amat," sindirku setengah bercanda.


Kenapa aku bilang setengh bercanda, ya, karena aku tidak benar-benar sedang bercanda, alias, karena Sandra memang biasanya datang lebih pagi karena dia punya kebiasaan ngopi dulu. Ya, demi menghemat pengeluaran gitu lah ceritanya. Kan kalau ngopi di sini gratis, kalau di kostannya harus beli dulu.


"Hehe, demi segelas kopi pembangkit semangat, Mbak," cengir Sandra sebelum menyeruput kopinya. "Mbak Qilla sendiri, tumben udah dandan cantik plus wangi?" tanyanya kemudian.


"Mau balik soalnya."

__ADS_1


"Hah?" Sandra menoleh ke arahku dengan tatapan terkejutnya. "Maksudnya?"


"Pulang ke Semarang."


"Kok mendadak?" pekik Sandra heboh. "Terus aku gimana?"


"Ya, baru disuruh pulangnya tadi, San. Namanya orang lahirankan nggak bisa diprediksi dengan tepat. Nah, terus kalau kamu, ya tetep di sini dong. Masa iya, mau ikut aku. Enggak, ah, kamu kan makannya banyak."


"Terus fitting bajunya Ibu Hernawati?"


Aku meringis dengan perasaan bersalah. "Kamu yang handle dulu, ya."


Kebetulan Bu Hernawati itu termasuk costumer kami yang agak rewel. Butuh kesabaran cukup ekstra untuk melayani beliau. Biasanya, selain banyak maunya, mendadak beliau suka tiba-tiba ganti model. Terdengar agak ngeselin sih, tapi mau bagaimana lagi, kepuasan pelanggan tetap harus jadi nomor satu kan.


"Enggak mau!" rengek Sandra, sambil menggeleng tidak setuju.


"Nanti ditambahin bonus deh," bujukku kemudian.


"Enggak mau. Mbak Qilla pulangnya besok aja deh," rengek Sandra masih berusaha membujukku. Acara ngopinya pun mendadak sudah tidak menarik lagi.


"Enggak bisa, San, aku harus jagain Kafka."


"Ah, Mbak Qilla jahat!"


"Serius, nanti aku tambahin bonus, San. Ya, ya, ya?"


"Sandra nggak butuh bonus!"


"Ya udah, bonusnya batal," kataku kemudian.


"Terus yang nemenin fitting baju Ibu--"


"Ya, tetep kamu."


"Mbak Qilla ratunya jahat," rengek Sandra sambil menangis dramatis.


"Iya, aku jahat. Tapi kamu tetep yang handel fittingnya Ibu Hernawati, oke?"


"Tau, ah," ambek Sandra cemberut.


"Oke, itu artinya kamu setuju, ya," kataku menyimpulkan.


Lalu setelahnya Sandra menjerit kesal. "Mbak Qilla!!"


Membuat Reynand, yang kebetulan masuk ke dalam butik terbengong karena kaget. Sandra pun ikut kaget karena menyadari keberadaan Reynand yang tiba-tiba. Sementara aku tertawa melihat ekspresi kaget keduanya.


"Ada apa sih?" tanya Reynand dengan wajah bingungnya.


Aku menggeleng lalu berdiri. "Tunggu sebentar, ya, aku ambil tasku dulu," pamitku lalu naik ke lantai atas.


"Segitu aja?" tanya Reynand saat aku kembali turun sambil menenteng tas travelku. Dengan sigap, ia lalu meraih tas travelku. "Sini aku bawain," katanya kemudian.


"Iya, di Semarang bajuku udah banyak. Lagian, ini termasuk banyak sih kalau menurut aku. Soalnya, biasanya aku jarang bawa baju dari sini."


"Terus kenapa ini bawa?"


"Ya, kali aja butuh gitu."


Reynand menatapku heran, bermaksud meminta penjelasan. Namun, aku hanya tersenyum dan menggeleng. Baru kemudian menyuruhnya untuk meletakkan travel bag-ku di mobilnya. Setelah Reynand keluar, aku langsung menghampiri Sandra dan memeluknya.


"Titip butik, ya, pamitin ke Mbak Husna sama Jihan juga. Bilangin maaf, karena nggak bisa pamit ke mereka."


"Enggak mau," tolak Sandra tegas.


Aku terkekeh geli dan mengangguk. "Oke, daripada kamu makin jadi, mending aku langsung berangkat deh."


"Jahat," gerutu Sandra sambil melirikku sinis.


"Iya, iya, aku jahat. Oke? Langsung jalan, ya, kamu hati-hati," pesanku lalu keluar butik.


"Jangan lama-lama di Semarangnya," teriak Sandra.


Aku tersenyum, lalu membalas, "Enggak janji," kataku kemudian lalu masuk ke dalam mobil Reynand.


"Itu si Sandra kenapa?" sambut Reynand saat aku masuk ke dalam mobil.


"Biasa. Drama. Sandra kan emang begitu kalau aku mau balik ke Semarang," kataku sambil memakai seatbelt-ku.


"Loh, kenapa bisa begitu?"


"Kan dia jadi bertanggung jawab ini itu. Nah, kebetulan hari ini tuh ada fitting baju istri pejabat gitu. Orangnya sih sebenarnya ramah, cuma agak rewel masalah model. Biasanya susah banget langsung 'klik, oke, saya suka ini'. Itu susah banget."


Reynand mangguk-mangguk sambil memutar stir mobilnya. "Pantesan sampai sebegitunya, ya."


"Ya. Tapi emang dasarnya dia itu suka lebay kalau aku pulang ke Semarang sih," kataku mengimbuhi.


Reynand mengangguk sekali lagi. "Ngomong-ngomong, ada acara apaan emang pulang ke Semarang, kok perasaan dadakan. Apa emang aku-nya yang belum kamu kasih tahu sebelumnya?"


"Enggak. Emang dadakan sih, baru disuruh pulang tadi. Soalnya Mbak Lusi mau lahiran."


"Mbak Lusi itu Kakak kandung kamu atau ipar?"


"Ipar. Yang ini kelahiran anak kedua. Makanya aku disuruh cepet ke Semarang buat jagain anak pertamanya."


Eskpresi Reynand berubah antusias. "Berarti kita bentar lagi punya keponakan baru dong?" tanyanya terdengar ambigu.


Aku mengernyit. Hah? Kita? Punya keponakan baru? Kita tadi katanya, aku tidak salah dengar kan?


"Kok kita?" tanyaku heran, "kan yang lahiran Kakakku."


"Loh, Kakakmu kan Kakakku juga, berarti keponakan kamu, keponakan aku juga dong."


Aku meliriknya tak setuju. Teori macam apa itu, kan aku sama dia belum nikah.


"Ngarang bebas," cibirku mengejeknya.


"Loh, kan kita bentar lagi nikah."


Aku tertawa. "Siapa yang bilang?"


"Aku. Barusan. Kan waktu itu juga kamu pernah bilang, udah siap jadi istri dan menantu Bunda. Kok sekarang berubah lagi. Nyebelin deh," rajuk Reynand sambil melirikku sinis dan fokus menyetir.

__ADS_1


Hampir lima menit suasana mobil tanpa suara. Reynand fokus dengan kemudinya, sedangkan aku fokus memperhatikannya wajah cemberutnya, yang terlihat lucu. Aku terkikik geli lalu keingat dengan pesan Arisha beberapa waktu yang lalu.


"Kamu laper, ya, Rey?" tanyaku akhirnya berhasil memecah keheningan.


Reynand menoleh ke arahku dengan ekspresi kebingungannya, kebetulan mobilnya sedang berhenti karena lampu merah.


"Kenapa begitu?" tanya Reynand kembali menjalankan mobilnya, saat lampu sudah berubah hijau.


"Sensitif."


"Iya. Kamu udah sarapan?"


Aku menggeleng sambil menyengir. "Cuma minum segelas cokelat aja sih tadi."


"Kalau gitu, nanti kita berhenti di warung makan, ya? Kamu mau makan apa?" tanyanya penuh perhatian sambil menoleh ke arahku sekilas.


"Apa aja deh, yang penting halal dan bikin kenyang."


"Ada warung nasi Padang, mau mampir?"


"Boleh. Lama juga nggak makan rendang," cengirku kemudian.


Reynand tersenyum sambil geleng-geleng kepala, mengejekku. Lalu ia memberhentikan mobilnya tepat di warung nasi Padang yang sepertinya baru buka.


"Mbak, sampun buka kan?" tanya Reynand pada seorang Mbak-mbak yang sedang menyapu.


Aku dalam hati menertawakannya, orang jelas-jelas sudah dibuka, masa tanyanya udah buka apa belum.


"Sampun, Mas, tapi masakannya belum lengkap. Sebagian masih diproses," jawab si Mbak-mbaknya.


Reynand menoleh ke arahku, meminta saran.


"Gimana?"


"Ya udah, nggak papa. Nggak lagi nyidam harus makan apa juga kan."


"Ya udah, nggak papa, Mbak. Yang penting sudah ada yang bisa dimakan."


Mbak-mbaknya itu pun langsung meletakkan sapunya dan mempersilahkan kami masuk.


"Monggo-monggo, Mas, Mbak, pinarakan riyen. Mau pesen apa?"


"Rendangnya udah ada, Mbak?" tanya Reynand tanpa melihat buku menu.


"Kebetulan belum, Mas, sepurane," sesal Mbak-mbaknya dengan ekspresi tidak enak.


Reynand mengangguk maklum dan menoleh ke arahku. "Kamu mau apa?"


"Dendeng balado aja deh, Mbak. Udah ada belum, ya?"


"Kalau dendeng balado sudah siap, Mbak. Masnya mau disamain atau gimana?"


Aku mengangguk. "Ya sudah, saya itu saja."


"Saya ikan asam padeh aja, Mbak. Kayaknya enak nih," kata Reynand sambil menunjuk gambar.


Hmm, kalau dilihat dari gambarnya memang kayaknya enak sih. Aku saja tiba-tiba jadi tergiur.


"Minumnya?"


"Teh anget aja, Mbak. Sama air mineralnya dua, ya. Yang ukuran 600ml ya, Mbak."


"Saya ulangi ya, Mbak, Mas. Makannya sama dendeng balado, sama ikan asam padeh, terus minumnya teh hangat dua dan air mineral dua botol ukuran 600ml," kata Mbak-mbaknya mengulangi pesanan kami.


Aku dan Reynand mengangguk mengiyakan.


"Siap, mohon ditunggu sebentar!" kata Mbaknya sebelum kembali ke belakang dan melaporkan pesanan kami.


"Gagal makan rendang deh," kata Reynand sambil meringis sungkan.


"Enggak papa. Lain kali juga bisa, lagi nggak pengen-pengen banget kok."


Reynand mengangguk. "Kamu rencana berapa hari di Semarang?"


Aku mengangkat kedua bahuku bersamaa. "Belum tahu juga, habis acara aqiqah mungkin."


"Kapan acara aqiqahnya?"


"Ya, enggak tahu juga, ini aja dedek bayinya belum lahir," kataku sambil menunjukkan room chat-ku dengan Mas Adi. "Baru bukaan empat katanya."


Reynand ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk. "Yang pertama itu cewek apa cowok?"


"Cowok."


"Kalau kita nikah nanti, kamu pengennya cewek apa cowok?" tanya Reynand terlihat antusias.


"Ya, sedikasihnya aja."


"Berapa?"


"Ya, ikut pemerintah. Dua aja cukup."


"Taat banget. Nggak ada rencana mau nambah gitu, jadi empat atau lima, mungkin?"


"Boleh aja sih."


Secara spontan, Reynand langsung menegakkan tubuhnya dan menatapku tidak percaya.


"Serius?"


Aku mengangguk, meyakinkan. "Ya, asal yang hamil dan yang melahirkan itu kamu," jawabku kemudian sambil tertawa.


"Dasar nyebelin!"


Tbc,


**yeyeyeyeyeyeye


double up, hehe, biar semangat menjalani bulan baruπŸ€—πŸ™ƒ**


typo tolong dikoreksi, males ngedit πŸ˜‚πŸ˜†πŸ™

__ADS_1


__ADS_2