
####
"Guys, aku mau keluar nih. Nanti siang mau dibawain apa?" tanyaku sambil menatap semua karyawanku satu per satu secara bergantian.
"Apa aja lah, Mbak, yang penting enak, halal, dan bikin kenyang. Uwes cukup," jawab Mbak Husna.
"Aku nggak usah, Mbak. Aku mau makan siang sama Candra. Udah janjian soalnya," cengir Sandra sok malu-malu.
Aku tersenyum paham sambil mengangguk. Kemudian beralih pada Jihan yang masih tampak berpikir serius. Ini anak cuma ditanyain mau makan apa tapi mikirnya gitu banget.
"Han, kamu pengen sesuatu?" tanyaku berhasil membuyarkan lamunan Jihan.
"Aku pengen bakso isi cabe kaya ini, Mbak. Boleh?"
Dengan sedikit ragu, Jihan menunjukkan layar ponselnya ke arahku. Membuatku secara reflek memajukan wajahku ke arah ponsel.
"Itu cabenya banyak loh, Han? Yakin nggak takut sakit perut?"
Tanpa keraguan sedikit pun, Jihan mengangguk, "Aku nitip aja deh, Mbak," ucapnya kemudian hendak beranjak berdiri namun aku tahan.
"Eh, eh, enggak-enggak. Nanti aku beliin. Pake uang aku aja."
"Tapi, Mbak-"
"Udah nggak papa. Mbak Husna mau disamain sama Jihan?"
"Ojo to, Mbak. Wes, ketoprak opo gado-gado wae," tolak Mbak Husna mentah-mentah, membuat kami tertawa.
"Oke, kalau gitu. Aku langsung jalan ya."
"Iya, Mbak, hati-hati nyetirnya!"
"Iya," balasku sebelum keluar butik.
Aku langsung melajukan mobilku menuju rumah Monik. Kita memang janjian untuk pergi membeli kado buat bayi Lina yang sebenarnya belum lahir. Karena Monik yang ngotot untuk beli kadonya sekarang. Alasannya, takut keburu uangnya kepake untuk kehidupan rumah tangga, yang katanya sering kali butuh dana dadakan.
Begitu sampai di rumah Monik, aku cukup kesal dengan kelakuan Ibu Killa yang masih menggunakan seragam dinas rumahannya, yaitu daster batik sampai lutut.
"Si Illa mana? Kok nggak keliatan? " tanyaku saat menggeledah kulkasnya yang penuh dengan bahan-bahan untuk memasak. Sedang Monik masih sibuk dengan ikan bandeng kesukaan Killa.
"Di rumah neneknya."
"Loh, nggak diajak?"
Monik menggeleng sambil mematikan kompornya. "Enggak. Males. Nanti minta mainan, repot."
"Lah, kalau minta mainan ya tinggal beliin kan?" Aku menatap Monik yang sedang mencuci perabot bekasnya memasak dengan raut wajah penuh tanya.
"Gowo duetmu?" ketus Monik galak.
"Ya pake uang kamulah, masa pake uang aku."
"Ya iya lah, kamu bos. Lah aku? Pengangguran yang masih tetep butuh skincare."
Aku memandang Monik tak percaya. "Jadi kamu lebih milih beli skincare ketimbang mainan buat anak kamu sendiri? Wah, kalau sampai netizen tahu bisa diamuk kamu."
"Ya, abis aku itu suka kesel sama Illa, itu bocah kalau udah liat mainan suka khilaf mata kayak emaknya. Kan jadinya aku kalau mau pergi-pergi gini, suka was-was sendiri. Takut khilaf marahin terus divideoin sama warganet, bisa-bisa viral ntar kita. Jadi biar aman, aku ungsiin ke tempat neneknya, sekalian main juga. Beda kalau bapaknya ngikut."
Aku hanya mangguk-mangguk malas mendengar penjelasannya yang panjang lebar itu. Baru kemudian mendorong tubuhnya yang bau asam ini untuk keluar dari area dapur.
"Iya, iya, sekarang sana mandi! Aku tungguin di depan. Curcolnya kapan-kapan lagi," kataku lalu berbelok ke ruang tamu.
__ADS_1
"Yee, siapa juga yang curhat. Orang aku cuma cerita," balas Monik tak terima.
Aku hanya melambaikan tangan kananku ke atas tanpa menoleh ke arahnya, tanda aku tidak peduli apa katanya.
Butuh waktu lumayan sedikit lama, sampai akhirnya Monik turun dan siap pergi.
"Lama banget sih dandannya, udah laku juga," protesku kesal karena hampir mati bosan menunggunya.
"Terus kalau udah laku dan punya buntut nggak boleh dandan gitu? Justru emak-emak gini itu wajib dandan, karena pelakor masih merajalela."
"Enggak takut suami cemburu kalau dandannya gitu?" tanyaku iseng.
Monik langsung tertawa saat mendengar pertanyaanku.
"Ya enggak lah. Sebagai seorang istri yang baik, aku itu harus tetep tampil cantik di setiap saat, apalagi mau keluar gini. Takutnya pas ketemu rekan suami, terus akunya nggak dandan cantik, ntar dikirannya suami aku nggak mampu beliin make up buat aku. Nah, kalau udah gitu siapa yang susah? Ya, suami kan. Makanya aku harus tetep tampil oke."
Aku mangguk-mangguk karena penjelasannya. "Aku pikir suami bakalan ngomel-ngomel kalau tahu istrinya tampil cantik gini, padahal nggak lagi jalan bareng dia."
Monik kembali tertawa. "Kalau suami di luar sana atau suami kamu sih, mungkin iya. Tapi kalau suami aku sih enggak ya. Eh, kamu kan belum nikah ya, belum punya suami juga. Jadi nggak bakalan ngerti," ledeknya kemudian diiringi tawa nistanya.
Sial. Aku disindir ternyata.
Responlku selanjutnya hanya dengkusan kesal sebelum berkata, "Enak aja. Tapi seenggaknya aku punya pacar, nggak jomblo ya."
"Yakin masih pacar itu? Kok kurang meyakinkan ya," sindir Monik sambil memasang wajah tak yakinnya. Membuatku ingin sekali memukulnya dengan vas bunga yang ada di hadapanku saat ini.
"Makanya jangan macem-macem lo sama power of emak-emak. Kualat kan. Udah, ayo berangkat sekarang! Keburu siang," ajaknya kemudian.
Dengan wajah cemberut aku bangkit berdiri dan menyerahkan kunci mobilku padanya.
"Lo yang nyetir," balasku ikut menggunakan bahasa lo-gue karena kesal.
"Lah, kok aku?" protes Monik tak terima.
"Iya, iya, aku yang nyetir. Bawel banget sih ini perawan. Belum ngerasain sperma laki ya gitu," gerutunya sambil merebut kunci mobilku dengan wajah cemberutnya dan berjalan mendahuluiku.
"Mulut kamu itu loh, Mo!" amukku makin geram. Sementara Monik justru mempercepat langkah kakinya keluar rumah.
"Bercanda doang, La!" teriaknya sambil berlari.
Ck. Udah emak-emak juga kelakuan kayak bocah.
****
Kami sudah sampai di toko perlengkapan bayi, tanpa kendala macet. Monik begitu antusias melihat-lihat perlengkapan bayi yang terlihat lucu dan juga cantik. Ia bahkan sampai bingung memilihnya.
"Kita mau beliin apa nih buat adek Illa?" tanya Monik tanpa menoleh ke arahku. Kedua matanya terfokus memilah-milah beberapa barang di hadapannya.
"Adek Illa? Kamu hamil lagi, Mo?" tanyaku kaget.
Buset. Aku aja satu belum punya, lah si Monik udah mau punya dua? Duh. Kok miris ya, dengernya.
Monik berdecak. "Bayi Lina, La, maksud aku."
Aku langsung bernafas lega mendengar jawabannya.
"Aku kirain."
"Nanti lah, minimal biar Illa masuk PAUD atau TK sekalian. Sambil nunggu kamu juga."
Aku menaikkan alis, pura-pura tak paham. "Kok aku?"
__ADS_1
"Iya lah, di antara kita yang belum taken ya cuma kamu. Yang belum tau siapa bapak dari anak-anaknya ya, kamu," balas Monik setengah jengkel.
"Kamu nyindir, Mo?"
"Kelihatannya?"
Aku hanya mengangkat bahu sebagau jawaban.
"Dasar nggak peka. Udah lah, masalah calon pendonor spermamu kita bahas lain kali. Sekarang kita bahas mau beliin apa buat bayi Lina?"
Aku hanya mendengkus mendengar istilah yang Monik pakai.
"Kereta dorong aja gimana?" kataku kemudian, memberikan saran.
Monik tampak berpikir sejenak. Kalau dilihat dari ekspresinya sih, dia seperti nggak begitu setuju gitu dengan saranku.
"Setahu aku, kereta dorong harganya lumayan sih, La. Yakin kamu?"
"Kenapa? Bukannya mau patungan ya, ini?"
"Iya, cuma..., ya udah sih kalau kamu srek -nya itu. Kita langsung ke bagian kereta dorong," kata Monik mengajakku ke bagian kereta dorong bayi.
Aku mengangguk sembari mengikuti langkah kakinya menuju bagian kereta dorong.
"Ohya, gimana hubungan kalian?"
"Gimana apanya?" tanyaku pura-pura tak paham. Membuat Monik mendengkus.
Aku hanya tersenyum kecil sebagai respon.
"Enggak bagus ya?" tebak Monik hampir tepat sasaran.
Aku tersenyum kecut lalu mengangkat bahu. Karena tidak tahu harus merespon bagaimana. Monik hanya mangguk-mangguk setelahnya.
"Kalau emang udah jodohnya juga balik lagi, jadi tenang aja," nasehatnya membuatku mengangguk.
"Iya."
"Terus kabar yang 'itu' gimana?" tanya Monik tiba-tiba, membuatku menghentikan langkah kakiku.
"Yang 'itu' apa?" tanyaku kali ini benar-benar tak paham.
"Cowok yang di Cafe sama di pos ronda pas lagi kondangan. Kayaknya kalian ada something kan?"
Aku merengut kesal dengan spekulasinya yang suka tak masuk akal sehat ini. Heran. Kenapa si Rey disebut-sebut juga.
"Bener kan?"
"Sok tahu," balasku ketus. "Yang ini kayaknya lucu deh. Aku juga suka warnanya," kataku sambil menunjuk salah satu kereta dorong yang menarik perhatianku.
Monik berdecak sebelum bersuara. "Pengalihan isu," ujarnya tak kalah ketus. Kemudian mengecek harganya. "Anjir. Kemahalan ini mah. Kita cari barang lain aja. Baby walker aja deh, biasanya agak murahan," komentarnya tak setuju.
"Sama temen sendiri kok itung-itungan," gerutuku kemudian mengikuti Monik berjalan menuju bagian Baby walker.
"Ya kamu enak, belum punya buntut. Bos pula. Lah sini? Cuma pengangguran yang udah punya bun..., eh, La, itu bukannya cowok yang tadi kita omongin?" Monik tiba-tiba menarik lenganku dan menunjuk ke arah pengunjung lain.
Aku mengikuti arah telunjuk Monik dan menemukan Reynand tengah bercanda gurau dengan seorang perempuan cantik yang tak ku kenali. Seketika aku merasakan darahku mendidih. Hawa panas seakan menguasaiku. Bahkan pendingin udara yang dipasang di toko ini tak mampu menyejukkan hatiku yang mendadak panas. Astaga! Apa aku bilang barusan?
"Kenapa?" bisik Monik tepat di daun telingaku.
Aku menggeleng. "Kita pulang sekarang. Ngantuk. Kita cari kadonya kapan-kapan aja," kataku langsung berjalan keluar toko, mengabaikan teriakan Monik yang meminta menunggunya. Tapi aku tidak peduli.
__ADS_1
Sial. Ada apa denganku? Kenapa aku merasakan kesal melihatnya begitu bahagia bersama wanita lain.
Tbc,