Telat Nikah?

Telat Nikah?
Mencoba Menikmati Hidup


__ADS_3

#####


"Nanti aku mungkin jemputnya telat, ya," kata Reynand sambil menatapku, yang kini sedang meleoas seatbelt-ku.


Aku mengangguk lalu meraih paperbag-ku yang sengaja kutaruh di bangku penumpang bagian belakang. "Iya, yang penting kabarin aja," kataku sambil bersiap membuka pintu, namun ditahan Reynand.


"Kan, kan, lupa."


Keningku mengkerut secara spontan dan menghentikan niatku untuk membuka pintu dan menoleh ke arah Reynand dengan pandangan bingung.


"Enggak kok, ini udah aku bawa. Punya kamu yang warna hitam, terus yang punyaku kan coraknya batik. Lagian kalau pun ketuker nggak papa, kan isinya sama."


"Bukan itu, yang, yang aku permasalahin. Tapi sesuatu hal penting dan wajib, yang kamu lupain."


Aku menggaruk kepalaku bingung. "Emang apa yang aku lupain?"


Dengan ekspresi cemberutnya, Reynand memutar kedua bola matanya sebelum akhirnya menyodorkan tangan kanannya. Membuatku terkekeh lalu meraih tangan kanannya dan mencium punggung tangan Reynand. Dilanjut dengan Reynand yang mencium keningku, setelah tadi sempat mencium kedua pipiku secara bergantian. Selama menikah, ini adalah aktivitas wajib yang harus kami lakukan, menurut versi Reynand. Kalau menurut versiku jelas tidak wajib, hanya sunnah saja.


"Hati-hati, aku langsung masuk, ya?"


"Iya, jangan kangen aku," seru Reynand namun kuabaikan.


"Terserah kamu, Mas," kataku sambil menutup pintu mobil. Melambaikan tangan sejenak lalu, saat mobil Reynand sudah menghilang dari pandanganku, aku masuk ke dalam.


"Assalamualaikum, cantik," sapaku pada Sandra sedang asik memotret secangkir kopinya. Gadis itu langsung tersentak kaget dan menyengir ke arahku.


"Hehe, Mbak Qilla, udah lama, Mbak?"


"Barusan. Yang lain belum nyampe?"


Sandra menggeleng lalu mengutak-atik ponselnya. "Otewe kayaknya, Mbak. Tadi dianter Mas Rey, Mbak?" tanyanya sambil menyeruput kopinya.


Aku mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Mau kopi, Mbak?" tawar Sandra.


"Enggak, makasih," tolakku sambil menggeleng dan bersiap untuk naik ke atas, namun ditahan Sandra.


"Kalau fotoin aku dulu, mau, Mbak?" cengir Sandra sambil menatapku malu-malu.


Aku berdecak lalu geleng-geleng kepala, kemudian menyodorkan telapak tanganku.


"Mana, siniin! Sekali aja tapi, ya?"


"Sip. Asal bagus sih, sekali aja cukup, Mbak," kata Sandra sambil menyodorkan ponselnya kepadaku.


Aku mendengkus lalu menerima ponselnya. Mengarahkan ponsel Sandra ke arahnya, dan memberinya aba-aba.


"1...2...3... nasi!"


"Iiih, kok nasi sih, Mbak?" protes Sandra sambil menerima ponselnya yang kusodorkan.


"Kenapa? Kan kita orang Indonesia, apa-apa harus pake nasi kan? Mie aja harus dimakan pake nasikan?"


"Tapi masa iya, nasi sih, Mbak, untung hasilnya bagus," gerutu Sandra sambil geleng-geleng kepala.


"Jelas, wong fotografer profesional. Lagian nih Amerika kan nyebutnya cheese, terus Korea Kimchi, ya udah, kita nyebutnya nasi."


"Super jenius sekali deh ini Mbak bosku," gerutu Sandra, "tapi aku copas terus dijadiin caption IG bolehkan, Mbak?"


Aku langsung memukul kepalanya menggunakan bolpoin. "Dasar kamu, ih! Udah sana, diposting lalu matiin datanya. Abis itu kerja." Lalu berjalan meninggalkannya.


"Hapenya siapa yang harus dimatiin, Mbak?"


Mendengar jawaban Sandra, aku langsung menghentikan langkah kakiku dan berbalik menoleh ke arahnya. Kedua alisku terangkat dengan kedua mata menatap Sandra datar, lalu berkata, "Data hape kamu lah, masa data hape tetangga."


"Tapi hape aku lagi nggak ada kuota data internet, Mbak, ini aku pake Wi-Fi butik."


"Ya udah, matiin Wi-Fi hape kamu. Emang salah, ya, aku pasang Wi-Fi di butik," decakku lalu geleng-geleng kepala dan berjalan meninggalkannya.


Begitu sampai di lantai atas, aku langsung menaruh papperbag-ku yang berisi nasi dan juga lauk pauk yang aku masak tadi, untuk makan siangku nanti, di meja dapur. Aku kemudian mengambil sebotol air dingin dan berjalan menuju ruanganku. Aku meletakkan botol air minumku dan duduk di kursi. Mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan mengutak-atiknya. Tak lama setelahnya sebuah pesan Whatsapp dari Reynand masuk.


Mas Suami:


Sent a pict


Mas Suami:


Sudah sampai tempat kerja dengan selamat, aman, dan tanpa tergoda dengan gadis atau janda yang lewat 😆🤗😍😘😘😘


Mas Suami:


Selamat beraktivitas istri kesayangannya Mamas 😘😻💏


Seketika aku langsung tertawa saat membaca pesan yang Reynand kirimkan.


"Dasar," gumanku sambil geleng-geleng kepala.


Aku kemudian mengambil foto selfi dengan pose jari membentuk huruf V, lalu kemudian mengirimkan pada Reynand


Me:


Sent a pict


Me:


Hai, Mas suami, aku dari sini menyemangati kamu yang sedang bekerja 🤗😘


Mas Suami:


Terima kasih sayang 🤗😘💏


Aku tersenyum lalu menggelengkan kepala dan meletakkan ponselku di atas meja, tanp ada niatan untuk membalas pesan Reynand. Hehe, soalnya kalau aku balas, yang ada nanti kami tidak jadi kerja, malah sibuk bertukar pesan.


"Seneng banget deh, ini pengantin baru?"


Aku kemudian langsung menoleh ke asal suara dan menemukan Monik sambile membawa papperbag lalu berjalan ke arahku.


"Eh, kamu, Mo? Ada apa nih?" tanyaku berbasa-basi.


Monik lalu meletakkan papperbagnya di atas meja kerjaku dan duduk di kursi yang ada di hadapanku.

__ADS_1


"Bikinin baju. Adeknya Mas Hasan yang bungsu mau nikah, nih. Dibikin agak lebaran aja deh, aku kayaknya gemukan deh. Jangan lama-lama, La, tinggal sebulan setengah."


"Berani bayar berapa?" tantangku sambil berdiri dan mengalungkan meteran di leher.


"Berapa aja berani, yang penting jadi."


Aku mengangguk sambil terkekeh geli. Lalu mulai mengukur Monik.


"Gimana kabarnya?" tanya Monik.


"Siapa?"


"Kamu sama suami kamu lah, La. Masa siapa lagi."


Aku langsung ber'oh'ria. "Alhamdulillah, sehat."


"Udah ada tanda-tanda?"


Aku menghentikan gerakan tanganku menulis lalu menyilangkan kedua tanganku di depan dada dan menatapnya datar.


"Tanda-tanda apa sih?" tanyaku pura-pura tak paham. Meski kenyataannya, aku cukup peka dengan maksud dari pertanyaannya."


"Pura-pura nggak paham."


"Ya, pertanyaan kamu ambigu sih, jadi wajar kalau aku nggak paham."


"Kehamilan. Udah ada tanda-tanda?"


Aku menghela nafas lalu menggeleng. "Belum, Mo, masih baru ini kan. Santai lah, menikmati masa-masa berduaan dulu lah, nggak usah buru-buru."


Monik mangguk-mangguk. "Tapi kalian enggak nunda kan?"


"Enggak."


"Mau aku kenalin sama spesialis obgym?" tawar Monik, membuatku cemberut.


"Enggak dulu, Mo, thanks. Aku sama Rey sempakat untuk nggak terburu-buru."


"Konsultasi aja, La, nggak usah langsung program."


"Iya, thanks, nanti, ya. Kalau kita butuh, boleh deh."


"Oke, aku cuma nawarin, ya. Nggak maksud buat apa-apa, kali aja kalian butuh gitu. Kalau enggak, ya, nggak papa. Sorry, sih, kalau pertanyaanku sedikit menyinggung. Serius, La, maksudku baik."


Mau tak mau, aku akhirnya mengangguk. Meski sedikit tidak rela, sebenarnya.


"Ya, thanks deh. Cuma untuk sekarang enggak dulu lah, Mo. Takutnya malah kecewa atau gimana kalau nanti programnya nggak langsung berhasil."


"Iya, juga sih. Hehe, dulu aku juga gitu, La. Dan tekanannya jauh lebih gede."


"Nah, maka dari itu, mending aku nikmati ini dulu deh. Dari pada stress nantinya, kan kasian suami aku nantinya."


"Iya, juga sih. Eh, tapi kalian nggak ada rencana mau bulan madu atau semacamnya gitu? Sepupuku buka agen travel nih, baru, jadi masih banyak promo. Tertarik?"


"Enggak deh, makasih, kita nggak ada rencana, eh, mungkin belum. Lagian, masih pengen beli rumah dulu aja, Mo."


"Apartemen kalian tuh, udah kawasan elit, ngapain beli rumah?"


"Semarang?"


Aku menggeleng. "Jogja dong, kan aku sama Rey tinggal di Jogja."


"Kalau di Semarang udah dapet jatah sendiri, ya?" goda Monik sambil menyenggol pundakku.


"Apaan deh, udah, ini mau dibikin yang kayak gimana?"


"Terserah, cuma model baru, ya."


"Males. Model umum aja, ya, yang penting kamu nggak kelihatan gemuk?" tawarku, mengajaknya bernego.


Monik berpikir sejenak, sebelum akhirnya berkata, "Oke, asal diskonnya 50%?"


Tanpa sungkan sedikit pun, aku langsung memukul pundak Monik menggunakan buku catatanku. Membuat Ibu Killa ini mengaduh kesakitan dan tertawa ringan.


"Bercanda doang, sensi banget sih, kayak merk pempers."


"Ya, kamu minta diskon tanggung banget, kenapa cuma 50% kenapa nggak 101% sekalian?" decakku sebal.


"Boleh?"


"Boleh banget, tapi syaratnya kamu harus jadi pembantu di apartemenku setahun. Mau?"


"Ora sudi," tolak Monik mentah-mentah.


Aku hanya terkekeh geli.


"Ya udah, aku langsung pulang ya, ini. Mau jemput Killa."


"Iya, ke sini tadi naik apa?" tanyaku berbasa-basi.


"Pinjem motor Yuli."


Aku mengangguk. "Ya udah, hati-hati aja, ya. Salam buat Killa," kataku sambil bercipika-cipiki dengan Monik.


"Iya, jangan lupa diskonan buat gue nanti, ya."


Aku mendengkus sebagai respon. "Dasar! Sana pulang!"


####


"Alhamdulillah, sampai juga," desah Reynand sambil melemparkan tubuhnya di atas sofa, tas kerjanya ia letakkan di lantai begitu saja.


Sepulang dari menjemputku tadi, kami terjebak macet hampir satu jam lebih karena ada kecelakaan, padahal biasanya hanya butuh dua puluh menit dari butikku menuju apartemen kami.


"Mau aku siapin air hangat? Atau makan dulu?" tanyaku sambil memungut tas kerja milik Reynand.


Reynand menoleh ke arahku sambil tersenyum, wajah lelahnya tidak dapat ia sembunyikan.


"Kamu nggak capek, yang? Kan kita sama-sama baru pulang kerja. Masa kamu masih mau melayani aku?"


"Kan emang itu tugas dan kewajiban aku sebagai istri, Mas. Jadi, mau mandi atau makan dulu?"

__ADS_1


"Mandi," jawab Reynand lalu bangkit berdiri.


"Ya udah, aku siapin makan malamnya kalau gitu," kataku lalu berbelok menuju dapur.


Aku kemudian menghangatkan tumis capcay yang kubuat tadi pagi, setelah itu aku menggoreng ikan lele yang sudah aku bumbui tadi pagi. Setelah semua siap, aku kemudian menatanya di atas meja. Tak berapa lama setelahnya Reynand bergabung mendekat ke arahku. Mencium pipi kananku lalu mencomot potongan wortel yang ada dalam tumis capcay, lalu memasukkan ke dalm mulut dan mengunyahnya secara perlahan.


"Makan malamnya sama kayak yang tadi siang nggak papa kan?"


"Enggak papa, asal belum basi mah nggak masalah." Reynand menggeleng tidak masalah, tangannya terulur hendak mencomot potongan bakso, namun aku tahan.


"Makannya pake sendok dong, enggak sopan, ah."


"Satu doang, yang."


"Kalau mau kamu abisin pun nggak masalah, Mas. Tapi pake nasi sekalian," kataku sambil berdecak.


Reynand menyengir dan duduk di kursi. "Ya udah, ambilin sekalian." ia kemudian menodongkan piring ke arahku.


Aku mengambil piring dan mulai menyendokkan nasi menggunakan entong nasi. "Segini cukup?"


"Tambahin dikit."


"Sedikit lagi, suamimu ini kan porsi makannya kuli, yang."


Aku kemudian menyendok nasi sedikit lebih banyak. "Segini masih kurang?"


"Kelebihan dikit, yang. Kalau banyak-banyak nanti aku kegendutan, roti sobekku hilang yang ada nanti ganti jadi bolu kukus."


Aku mendengkus tak percaya, mendengar pengakuannya yang sedikit berlebihan itu lalu geleng-geleng kepala.


"Emang sejak kapan kamu punya roti sobek? Bukannya emang dari dulu bolu kukus, ya, bentuknya?"


"Dari dulu?" beo Reynand dengan wajah pura-pura terkejut yang agak berlebihan, "kok kamu tahu kalau aku emang dari dulu nggak punya roti sobek? Kamu pernah ngintip? Apa jangan-jangan waktu aku nggak sengaja ketiduran di butik kamu pas mau ambil jaket waktu itu?"


"Apaan sih? Enggak jelas. Ngehalu aja terus!" kataku sambil menyerahkan piring nasinya yang sudah berisi nasi dan lauk pauk.


"The sense of humor, istriku sayang. Makasih buat makan malamnya," kedip Reynand lalu mulai menyantap makanannya.


Aku kemudian duduk di sebelah Reynand dan mengambil nasi untukku sendiri.


"Nggak mandi dulu, yang?" tanya Reynand di sela kunyahannya.


Aku menggeleng. "Nanti, sekalian abis cuci piring."


"Kalau masalah cuci piring biar aku yang ngerjain. Abis makan kamu langsung mandi, ya?"


Aku mengangguk tanpa protes dan mulai menyantap makanan milikku.


"Rencana mau main ke Semarang kapan?" tanya Reynand tiba-tiba.


"Nanti deh, kalau agak longgar."


"Lagi banyak pesenan?"


Reynand mengangguk. "Lumayan."


"Jangan banyak nerima costumer, ya. Aku nggak suka kamu sakit karena kebanyakan ngoyo. Kamu kalau udah kerja suka lupa waktu, kalau udah tepar baru deh, inget."


"Kepepet, Mas."


"Kamu kalau kurang nyaman panggil aku Mas, panggil nama aja nggak papa kok. Aku nggak masalah, panggil Masnya kalau lagi ada Ibu atau Bapak aja," ucap Reynand tiba-tiba.


Aku secara tiba-tiba menghentikan gerakan tanganku menyuap nasi, lalu menatap Reynand. Kalau boleh jujur, sampai detik ini aku memang masih agak canggung rasanya memanggil dia dengan sebutan Mas. Tapi berhubung Reynand sudah jadi suamiku, aku tetap ingin belajar memanggilnya Mas.


"Kedengerannya aneh, ya?"


Dengan anggukan yakin, Reynand mengangguk. "Dikit."


"Kan lagi tahap belajar. Nanti lama-lama juga kedengerannya enak. Lagian, kalau manggilnya cuma pas ada Ibu dan Bapak atau Ayah dan Bunda, nanti kalau aku lupa gimana? Kan nggak lucu, nanti aku diomelin sama Ibu lagi. Enggak, ah. Ibu kalau marah galak," kataku sambil menyendokkan sesuap nasi beserta potongan kol.


Reynand tertawa lalu mengangguk setuju. "Iya, kayak kamu. Mirip. Persis."


"Nyebelin!"


"Tapi ngangeninkan?" goda Reynand sambil memainkan kedua alisnya naik-turun.


Aku langsung mencibirnya. "Dih, kepedean!"


"Loh, emang enggak?"


Dengan gelengan tegas aku menjawab, "Enggak, tuh."


"Oh, gitu, ya? Jadi aku nggak ngangenin?"


"Enggak, biasa aja sih, perasaan."


"Bawa-bawa perasaan, nanti baper, bingung mau ngadu ke mana. Ngadu di facebook, pas ditanya kenapa jawabnya nggak papa. Itu maksudnya apa sih? Biar apa?"


"Hah?" responku spontan sambil melongo, karena kebingungan.


Reynand terkekeh. "Kesusahan, ya, ngimbangin jokes recehku?"


Dengan gerakan polos, aku mengangguk. "Banget."


Lalu Reynand kembali terbahak dan menepuk-nepuk pundakku.


"Enggak papa, nanti lama-lama bisa kok. Ini makannya udah kan? Langsung cuci piring?"


Aku mengangguk setuju sambil mengacungkan kedua jempolku lalu tersenyum manis.


"Makasih suamiku sayang. Aku mandi dulu, ya," kataku sambil mengedip genit dan meninggalkan dapur.


"Yang wangi sayang!!"


"Iya!"


**Tbc,


makin gaje 😭😭😭😭


mohon maaf baru sempet up, soalnya tubuh lagi gk bisa diajak kompromi. pengen dimanja2 gtu ceritanya. loyo, bawaannya pen bobo syantik, tapi keinget blom up. mau up, mles 😅 jadinya ya gitu deh lama up nya. mon maap yak 🤗🙏🙏🙏🙏🙏 semoga masih ada yg baca deh 😅 udh segitu aja, ya

__ADS_1


see you next part 🤗😍😘😘😘**


__ADS_2