Telat Nikah?

Telat Nikah?
Semoga Kamu Baik-baik Saja, Sayang!


__ADS_3

####


"Capek?"


Aku langsung menoleh ke arah Reynand dengan kedua mata menatapnya datar, menghela nafas sejenak lalu menggeleng sebagai tanda jawaban dari pertanyaan Reynand. Lalu kembali fokus pada buku sketsaku.


"Belum, Mas," kataku kemudian.


"Tapi ini udah malem, yang, udahan dong lemburnya," rengek Reynand.


Sekali lagi aku menoleh ke arah Reynand dengan pandangan datar. Sepertinya mood Reynand sudah mulai, jika aku tidak menurut, sudah jelas Reynand pasti akan marah. Jadi, berhubung aku masih ingin aman, lebih baik aku menurut saja. Dengan sedikit tidak rela, aku kemudian meletakkan pensilku dan menutup buku sketsaku, mematikan lampu dan berjalan menghampiri Reynand.


"Kamu, tuh, sekarang hamil, mbokyo jangan ngoyo-ngoyo kenapa sih, yang? Enggak capek emang?"


"Enggak. Emang belum aja sebenarnya, Mas. Ya udah, yuk, kita nonton tv dulu kalau gitu."


"Enggak langsung tidur aja?" tawar Reynand, yang langsung kujawab dengan gelengan kepala.


"Kamu udah ngantuk?"


Reynand menggeleng lalu merangkul pundakku. "Ya udah, kita nonton tv."


"Mau nyemil apa?" tanyanya kemudian.


"Di kulkas adanya apa?"


"Enggak tahu, bentar. Aku cek dulu, kamu duduk dulu! Aku belum beli stok buat cemilan kamu soalnya, mungkin adanya buah sih."


Reynand menyuruhku duduk. Aku mengangguk, lalu mendudukkan diri di sofa, sedang Reynand berjalan menuju dapur. Aku kemudian menyalakan televisi, mencari-cari saluran tv yang sesuai denganku. Tak lama setelahnya, Reynand datang dengan menbawa beberapa buah-buahan.


"Adanya ini, gimana? Mau aku cariin ke luar?" tawar Reynand.


Aku menggeleng. "Enggak usah, itu aja."


Reynand mengangguk, lalu kemudian langsung mengambil posisi duduk bersila di atas karpet, menghadap tempat sampah untuk menaruh bekas kulit buah.


"Sini, aku aja yang ngupas," kataku berniat untuk mengambil buah apel dan juga pisau yang Reynand pegang.


"Jangan! Mengupas ini tuh, berat, kamu tidak akan kuat. Biar aku saja."


"Apaan sih, nggak jelas!"


Aku langsung memukul kepala bagian belakang Reynand menggunakan bantal sofa, lalu tertawa. Reynand pun ikut tertawa setelahnya, sembari mengusap kepala bagian belakangnya.


"Biar ala-ala Dilan gitu, yang."


"Dih, udah tua juga, mau sok-sokan kayak Dilan. Ngaca dong, Pak! Kaca di rumah udah pecah apa gimana, tuh? Pecah gara-gara kebanyakan ngaca, ya, dulu," ledekku sambil terbahak.


Reynand cemberut. "Dih, jahat banget sih, sama suami sendiri juga. Lupa kali, ya, kalau bukan karena aku, kamu, tuh, nggak bakalan hamil." Ia kemudian menyodorkan potongan buah apel ke dalam mulutku, tanpa kutolak aku langsung menguyahnya. "Iya, emang udah pecah, tapi bukan karena saya yang kebanyakan ngaca, tapi karena istri saya yang kebanyakan ngaca, makanya pecah."


Aku kembali memukul kepala Reynand. "Enak aja! Emangnya aku sejelek itu apa?"


"Cantik dong, kalau nggak cantik, mana mungkin aku mau sama kamu."


Reynand tertawa puas sambil memainkan kedua alisnya naik-turun. Kembali menyodorkan potongan apel ke dalam mulutku, agak aku tidak kembali melanyangkan pukulan ke kepalanya.


"Nyebelin kamu!" kataku kesal, di sela kunyahanku.


"Tapi ngangenin. Justru aku yakin, kamu terpesona sama aku tuh, karena itu."


"Dih, ngayal!"


"Bener sih menurutku."


"Iya, iya, terserah kamu aja lah."


"Nanti buat acara empat bulanan, maunya di mana?" tanya Reynand tiba-tiba mengganti topik pembicaraan sambil menatapku.


"Masih lama, ah, dipikirin nanti aja," kataku sambil meraih potongan buah apel yang sudah Reynand potong.


"Di sini aja, ya? Di rumah Bunda?" pinta Reynand.


"Terserah kamu sih. Di sini nggak masalah, di Semarang juga nggak masalah. Yang penting doanya kan?"


Reynand mengangguk setuju, lalu berdiri dan mencium pipiku dan mengucapkan terima kasih.


"Abis ini langsung tidur, ya?" tanya Reynand sambil menyodorkan potongan apel ke padaku.


"Nanti deh, belum ngantuk."

__ADS_1


"Udah malem, itu juga nggak ada acara yang bagus. Mending tidur."


"Kamu kalau udah ngantuk, tidur duluan aja nggak papa kok. Aku belum ngantuk soalnya."


"Kalau aku tinggal tidur, nanti kamu kerja lagi. Enggak, ah!" Reynand menggeleng tidak setuju sambil memasukkan potongan buah apel ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya secara perlahan.


"Dih, posesif," cibirku sambil terkekeh.


"Semua ini kulakukan demi kamu seorang, sayang. Kok malah dibilang posesif."


"Iya, iya, terserah kamu. Tapi aku memang belum ngantuk, Mas."


"Masa sih, ini padahal udah malem loh, yang."


"Malem apa? Masih sore ini."


"Jam sepuluh lewat lima belas menit, kamu bilang sore? Bercanda kamu?"


Aku meringis. "Maksudnya, belum malem-malem banget, Mas. Gini aja deh, kalau kamu emang udah ngantuk tidur dulu aja, aku janji nggak akan kerja lagi. Nyemil sambil nonton tv doang," kataku meyakinkan sambil mengacungkan jempolku.


"Nggak percaya aku!"


"Sama istri sendiri nggak percaya?"


"Ya udah, iya, aku percaya. Cuma janji, ya, kalau udah ngantuk langsung tidur. Jangan kerja lembur?"


"Iya, janji, sayangku!" Aku kemudian berdiri dan membantu Reynand berdiri, dan mengajaknya ke kamar. "Bobok yang nyenyak, ya, sayangku. Aku mau nonton tv dulu."


Reynand mengangguk lalu masuk ke dalam kamar, sedangkan aku kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan acara menontonku.


#####


Aku bergerak gelisah di depan kamar mandi. Perasaanku mendadak tak karuan, setelah mendapati ada sebercak darah pada celana dalamku. Aku jelas panik, tapi aku juga bingung harus berbuat apa. Jadi, yang dapat kulakukan sejak tadi hanya lah berjalan mondar-mandir di depan kamar mandi. Serius, aku bingung harus bagaimana saat ini. Karena tidak bisa berpikir cukup baik, aku kemudian memutuskan untuk turun ke lantai bawah dengan hati-hati dan mencari keberadaan Mbak Husna. Sepertinya, aku butuh saran dan nasehat darinya.


"Han, Mbak Husna ke mana?"


"Toilet. Kenapa, Mbak?" tanya Jihan.


"Ada perlu, aku mau tanya sesuatu."


"Duh, baru aja banget masuknya, Mbak. Mau buang air besar soalnya, katanya. Gimana, Mbak, perlu aku panggilin biar dipercepat? Mendesak banget nggak sih?"


Aku meringis, kemudian menggeleng.


"Penting sih sebenarnya, cuma nggak papa. Nunggu Mbak Husna-nya kelar aja, kalau udah kelar suruh langsung naik ke atas, ya!"


"Oke, Mbak." Jihan mangguk-mangguk paham, "ada lagi, Mbak?"


Aku menggeleng. "Enggak. Itu aja. Ya udah, aku naik, ya."


"Iya, Mbak. Nanti disampaikan ke Mbak Husna-nya."


Aku mengangguk, lalu segera naik ke lantai atas. Duh, perasaanku semakin tidak karuan. Terlebih lagi di daerah kewanitaanku mulai terasa sedikit tidak nyaman. Aku juga mulai merasakan nyeri pada tulang panggulku. Astagfirullah, apa inikah wajar?


"Nak, kamu baik-baik saja kan? Jangan bikin takut Bunda dong," bisikku sambil mengelus perutku.


"Mbak Qilla," panggil Mbak Husna, "Mbak Husna manggil aku?"


"Iya, Mbak, aku mau tanya."


Mbak Husna kemudian berjalan menghampiriku, lalu duduk di sampingku. "Mau tanya apa, Mbak? Kata Jihan penting."


"Iya, Mbak. Begini, Mbak, aku tadi barusan abis flek. Itu wajar nggak sih?"


"Duh, aku juga kurang paham, Mbak. Soalnya, katanya sih ada yang bilang wajar, Mbak, cuma kadang ada yang karena memang ada masalah sam janinnya. Untuk memastikan, saranku sih mending langsung ke dokter. Ini yang Mbak Qilla rasain apa aja? Ada keluhannya enggak?"


Aku menegakkan tubuhku, lalu mengelus perutku secara spontan. "Agak nggak nyaman, Mbak, rasanya. Terus aku juga ngerasa agak nyeri gitu bagian tulang punggungku. Aku bingung, Mbak, musti gimana. Aku takut juga deh jadinya."


Mbak Husna kemudian mendekat ke arahku, dan mengusap pundakku. "Tenang, Mbak Qilla, jangan panik dulu. Mending sekarang telfon Mas Rey dulu."


Aku menggeleng tidak setuju dengan ide Mbak Husna. Reynand sedang lebay-lebaynya sekarang ini, bukan pilihan bagus kalau seandainya menghubungi Reynand dan memberitahu tentang hal ini. Itu jelas ide yang buruk.


"Kenapa, Mbak?"


"Rey lagi lebay-lebaynya, Mbak, kalau aku telfon dia, dia pasti langsung heboh. Enggak, ah."


"Tapi, Mbak, Mas Rey perlu tahu lho. Takutnya nanti, ini amit-amit, ya, Mbak. Moga sih nggak kejadian, cuma kalau seandainya ada apa-apa gimana? Jadi mending Mbak Qilla telfon Mas Rey dulu. Aku bikinin teh bentar, Mbak."


Mbak Husna langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur, membuatkan teh untukku. Setelah siap, ia kembali duduk di sampingku sambil menyodorkan tes buatannya.

__ADS_1


"Diminum dulu, Mbak! Dikit aja nggak papa."


"Iya, Mbak, makasih."


Aku kemudian menyeruput teh buatan Mbak Husna sedikit, lalu meletakkan cangkir ke atas meja.


"Sekarang telfon Mas Rey, Mbak!"


"Tapi, Mbak, aku takut," cicitku sambil menggeleng tak yakin, "aku takut Rey nanti khawatir."


Mbak Husna mengusap pundakku sekali lagi. "Mas Rey akan lebih khawatir dan juga mungkin akan marah kalau Mbak Qilla tidak memberitahu Mas Rey. Jadi, saran aku, mending Mas Qilla telfon Mas Rey."


Aku diam, berpikir sejenak. Apa yang diucapkan Mbak Husna memang benar, kalau aku tidak memberitahu Reynand, dia pasti marah. Tapi kalau memberitahu, ia pasti khawatir.


"Telfon saja, Mbak, nggak papa. Apa perlu aku yang telfonin?" tawar Mbak Husna, yang langsung kujawab dengan gelengan kepala tegas.


Kalau yang telfon Mbak Husna, Reynand pasti bertambah khawatir, ia pasti akan mengira yang tidak-tidak.


"Jangan, Mbak! Nanti kalau Mbak Husna yang telfon, Rey pasti bertambah khawatir."


"Ya udah, Mbak Qilla telfon sendiri."


Mbak Husna kemudian menyodorkan ponselku yang tadinya tergeletak di atas meja. Meletakkannya di atas telapak tanganku.


"Enggak papa, Mbak, kan cuma ngabarin."


Aku menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Mengutak-atik ponselku, untuk mencari nomor ponsel Reynand. Setelah ketemu, aku langsung menghubunginya. Butuh waktu sedikit lama, Reynand akhirnya menjawab telfonku.


"Ya, hallo, sayang. Assalamualaikum, ada apa? Kangen apa ngidam nih?" sambut Reynand, begitu sambungan kami terhubung.


"Wa'allaikumussalam, Mas. Kamu lagi sibuk?"


Reynand tidak langsung menjawabku, sepertinya sedang mengobrol dengan seseorang. Aku menunggu sejenak, sampai akhirnya Reynand kembali bersuara.


"Iya, kenapa, yang, maaf, tadi lagi ngobrol sama Pras. Tadi kamu tanya apa?"


"Kamu lagi sibuk?" tanyaku menggulang pertanyaanku yang tadi


"Bilang aja kalau mau sesuatu, nggak usah sungkan, sayang, kayak sama siapa aja. Lagian, nunggu aku nggak sibuk itu susah. Jadi, ada apa?"


Aku tidak langsung menjawab, melirik Mbak Husna sejenak. Saat mendapati anggukan kepala dari Mbak Husna, baru kemudian aku kembali bersuara.


"Kamu bisa ke sini?"


"Bisa dong, apa sih yang nggak buat istri kesayangku. Jadi, mau dibawain apa?"


"Enggak usah dibawain apa-apa, kamu cukup dateng ke sini aja."


"Yakin? Nggak mau dibawain sesuatu? Cemilan, mungkin?"


"Enggak usah, kamu langsung ke sini aja. Aku tunggu."


"Ya udah, aku beres-beres bentar, ya."


"Iya, aku tunggu."


Aku langsung meletakkan ponselku kembali di atas meja.


"Nggak papa, Mbak, insha Allah semua akan baik-baik saja."


Mbak Husna kembali mengusap pundakku, untuk menenangkanku.


"Iya, makasih, Mbak."


"Apa to, makasih segala, kayak sama siapa aja to. Udah, ini tehnya diminum lagi sambil nunggu Mas Rey."


Aku mengangguk, sambil menerima cangkir yang Mbak Husna berikan. Lalu menyesapnya perlahan.


"Positif thinking, Mbak, pikirin yang baik-baik saja. Sama banyakin berdoa," kata Mbak Husna kemudian.


Aku tersenyum lalu mengangguk, mengiyakan. Ya Allah, berikan kesehatan dan juga keselamatan untukku dan bayiku. Aamiin.


**Tbc,


dududududu, masih adakah yang baca ini cerita gaje? ada yang sudah mulai bosan? klo ada, berarti kita sama 😝😝 aseli, aku tuh mulai bosen loh ketemu Mbak Qilla sama Mas Rey mulu. Mana Mas Rey sok begitu, kebnyakan gaya pen jadi suami siaga dan calon ayah yang baik. kan aku kesel, belum punya yang macem Mas Rey 😭😭😭


fufu, kenapa saya malah jadi curhat sih? oke-oke kita bhas alur aja, oke?


kira2 Mbak Qilla-nya itu kenapa, ya? ada yg bisa nebak? duh, aku kasian sekaligus penasaran. moga-moga sehat-sehat, ya, calon dedek bayi Mbak Qilla sama Mas Rey. Aamiin mohon doanya ya, gaes 😢 kasian aku tuh

__ADS_1


See you next part 🤗😍😘


ohya, klo seandainya apa yg saya tulis kurang tepat bisa dibantu koreksi ya, emang sih udah tanya google entah sudah berapa kali aja, cuma tkutnya, apa yg sya tulis kurang tepat. atau mungkin Mas google nya yg salah. oke? ditunggu utk koreksinya 😘😘😘😘😘


__ADS_2