Telat Nikah?

Telat Nikah?
Tersinggung


__ADS_3

#####


Ternyata apa yang aku khawatirkan hari ini terjadi juga. Belum genap dua puluh menit aku berada di rumah Prita, sepupu Reynand dari Bunda yang baru saja melahirkan anak pertamanya. Tapi telingaku rasanya sudah cukup pengap dengan godaan kapan aku segera menyusul. Apalagi saat mendapati fakta bahwa Arisha sudah hamil. Duh, rasanya aku seperti ingin kabur saking bosannya mendengar godaan yang mereka layangkan untukku, agar segera hamil.


"Tuh, La, adikmu saja sudah hamil. Kamu jangan nunda ya, Nduk."


Aku hanya meringis mendengar salah satu bentuk perhatian yang diberikan salah satu Budhe Reynand, karena memang bingung juga harus merespon bagaimana.


"Inggih, Budhe. Insha Allah, enggak," jawabku sekenanya.


Dan yang sedikit menyebalkan, Mbak Silfi tiba-tiba berceletuk, "Jangan keasikan kerja juga, La. Biar cepet jadi." Bahkan tanpa perasaan bersalahnya, Mbak Silfi terkikik geli. Yang hanya kurespon dengan ringisan canggung.


"Loh, memang kamu masih kerja, Nduk?"


"Kerja dong, Budhe, kan Qilla ini wanita karir."


Itu bukan suaraku, melainkan suara milik Mbak Silfi.


"Kalau sudah menikah, mbokyo berhenti kerja to. Urusin suaminya, masalah keuangan biar suamimu yang mencari. Kamu ngurus rumah."


Mbak Silfi tersenyum canggung ke arahku. "Mbak ke Aurine dulu, ya," pamitnya lalu meninggalkanku dengan Budhe begitu saja.


Meski sedikit tidak rela, aku akhirnya tersenyum sambil mengangguk, mempersilahkan Mbak Silfi pergi.


Duh, Mbak Silfi ini, bukannya bantuin malah meninggalkanku dengan Budhe begitu saja.


"Kamu kerja apa to?"


"Usaha kecil-kecilan, Budhe, jadi ya Qilla nggak bisa berhenti begitu aja. Soalnya Qilla punya tanggung jawab."


"Usaha apa?"


"Buka butik, Budhe."


"Oalah, kalau usahanya buk butik, ya ndak bisa berhenti seenaknya, ya. Susah itu."


Aku meringis lalu mengangguk canggung.


"Tapi kamu masak, nduk?"


"Masak, Budhe, kalau sempet."


"Kalau enggak? Jajan di luar?"


"Iya, Budhe."


"Jangan keseringan jajan, jajan di luar memang tidak dilarang, Nduk. Tapi kan kalau masak di rumah lebih terjamin."


Sekali lagi aku hanya mampu meringis, saat merespon wejangan dari Budhe, yang bahkan sampai detik ini belum kuketahui namanya. Ya, ini pertama kalinya kami bertemu, bahkan saat nikahan kami dulu, beliau tidak hadir karena sedang berhalangan. Pertama kali bertemu tapi sudah begitu luar biasanya dalam memberi wejangan, bagaimana kalau setiap hari, ya?


"Mbak Qilla, iiih, dicariin Bunda. Tahunya sama Budhe Anis."


Aku bersyukur karena kehadiran Arisha. Coba kalau tidak, aku tidak tahu bagaimana nasib kedua telingaku.


"Bunda ngapain nyariin aku, Ris?" Aku kemudian langsung berdiri.


"Enggak tahu," jawab Arisha sambil mengangkat kedua bahunya secara bersamaan, ia kemudian menatap Budhe Anis. "Kita ke sana dulu, ya, Budhe," pamitnya lalu menarik lenganku.


Aku tersenyum lalu ikut berpamitan. "Mari, Budhe!"


"Kenapa?" tanyaku saat kami sudah berada agak jauh dari Budhe Anis, "Bunda nyariin aku ada apaan emang?"


Arisha menyengir. "Enggak nyariin sih, cuma aku lihat Mbak Qilla kayak nggak nyaman gitu, makanya aku bohong. Hehe."


"Astagfirullah, aku kirain dicariin beneran. Ternyata cuma tipu muslihat kamu aja to, tapi tetep makasih deh. Congrats, juga ya, buat kamu. Sehat-sehat ya, dedeknya," kataku sambil mengelus perutnya yang belum terlihat membuncit.


"Hehe, iya, makasih, Budhe," balas Arisha, pura-pura menggunakan nada anak kecil, "yuks, kita cari Mas Rey biar Mbak Silfi dimarahin." ia kemudian menarikku menuju gerombolan para pria yang sedang berada di luar rumah, namun aku tolak.


"Apaan sih, Ris, lebay kamu, mah," kataku sambil terkekeh geli dan menggelengkan kepala tidak setuju.


"Ngadu, Mbak, Mbak Silfi tuh, emang begitu orangnya. Jahil banget, suka ngerjain orang."


"Hai, La, gimana kuping? Sehat?"


Mbak Silfi lalu menghampiriku dan merangkul lenganku sambil terkekeh geli, kedua alisnya dimainkan naik-turun. Aku langsung meresponnya dengan dengkusan kesal.


"Alhamdulillah, sehat, itu pun berkat Risha. Coba kalau enggak, Mbak, nggak tahu deh nasibnya."


Mendengar jawabanku, Mbak Silfi sontak langsung terbahak puas, membuatku kembali mendengkus kesal. Untung dia Kakak iparku, coba kalau bukan, tidak tahu deh, bagaimana nasibnya.


"Iiih, Mbak Silfi tuh jahat banget sih. Mbak Qilla tuh, adik ipar Mbak Silfi loh."


"Bercanda doang, Ris, lagian Qilla sih, nggak baperan kayak kamu."

__ADS_1


Aku terkekeh lalu menyahut, "Kan kata Mbak Silfi bumil tuh sensitif, wajar dong kalau Risha baperan."


"Dia mah baperannya jauhhh sebelum hamil, La. Emang dari sono-nya dia itu udah baperan."


"Biarin! Udah, ah, aku mau pulang. Keburu make up-ku luntur, terus kebayaku bau asem."


"Salah sendiri ke sini pake baju begituan ke acara begini," cibir Mbak Silfi.


"Ini itu yang disebut dengan penghematan, Mbak."


"Halah, penghematan apaan, ini sih pengeretan."


Mbak Silfi kembali mencibir. Aku hanya tertawa melihat kedua kakak beradik ini beradu mulut.


"Mbak Silfi!!" jerit Arisha lalu menghentakkan kedua kakinya lalu pergi meninggalkan kami, sepertinya sebentar lagi dia akan mengadu ada Farhan.


"Ckck, kasian aku sama Farhan dan anaknya nanti karena harus ngadepin yang modelnya begituan," kekeh Mbak Silfi sambil geleng-geleng kepala. Ia kemudian menoleh ke arahku. "Ikutan cabut, yuk!"


"Eh, nggak papa, Mbak?" tanyaku tak yakin.


"Ya, dari pada gabut," cengir Mbak Silfi sambil memainkan kedua alisnya naik-turun.


Aku tersenyum lalu ikut mengangguk setuju. "Yuk, aku juga mulai bosen di sini. Hehe."


Tanpa ragu Mbak Silfi lalu mengajakku berpamitan dengan yang punya rumah dan lainnya. Setelah selesai berpamitan kami langsung menghampiri para lelaki ke halaman belakang.


"Pa, anak-anak minta pulang. Yuk, pulang sekarang."


Mas Arif mengangguk lalu mematikan rokoknya dan beranjak berdiri dari kursinya. Ia kemudian langsung berpamitan pada kami dan langsung pergi.


"Duluan, ya!" kata Mbak Silfi sambil mengedip ke arahku.


Aku tersenyum lalu mengangguk, mempersilahkan mereka untuk pulang. Lalu pandanganku beralih pada Reynand yang kini sedang menatapku.


"Kamu minta pulang juga?"


Sambil menyengir malu-malu, aku mengangguk.


Reynand menghela nafas sambil merenggangkan ototnya dan bangkit berdiri.


"Gue cabut dulu, ya, nyonyanya udah minta balik nih. Udah nggak sabar minta dikelonin kayaknya," gurau Reynand membuatku langsung melotot tajam ke arahnya.


"Mas!!"


Reynand langsung menghampiriku dan merangkul pinggangku. "Duluan, ya, semua!" pamitnya lalu mengajakku pulang.


"Udah pamit sama yang lain?" tanya Reynand.


Aku mengangguk. "Udah, kamu pamit sendiri, ya. Aku tunggu di mobil."


Reynand langsung berdecak tidak setuju. "Masa sendiri, berdua dong, temenin."


Aku menggeleng tidak setuju. "Enggak, sendiri sana. Kan ini dari keluarga kamu, masa minta aku temenin segala."


"Ya, enggak papa, yang."


"Ya, kalau nggak papa, pamit sendiri dong."


"Ah, kamu nggak asik," rajuk Reynand lalu pergi meninggalkanku di ruang tengah rumah Prita. Aku hanya merespon dengan gelengan kepala tak percaya dengan sifat ngambekannya.


######


"Mampir ke rumah Bunda dulu, enggak?" tanya Reynand sambil menoleh ke arahku sekilas, sebelum pandangannya fokus menyetir.


"Terserah kamu sih."


Reynand mangguk-mangguk. "Enggak usah, ya, kan Bunda masih di rumah Prita. Mampir ke rumah Bunda mau ngapain coba." Ia kemudian terkekeh sambil menggaruk tengkuknya.


Sedang aku hanya mengangguk setuju.


"Tadi ditanya macem-macem nggak?"


"Macem-macem yang gimana maksudnya?" tanyaku bingung.


"Ya, ditanya-tanya apa gitu? Kan kita baru nikah."


Aku hanya ber'oh'ria sebgai responku setelahnya sembari mengangguk.


"Ditanya apa aja?" tanya Reynand kepo.


Aku berdecak tidak suka dan menggeleng. "Males bahas ini, ah."


"Yah, kok gitu sih?"

__ADS_1


"Males, Mas, bikin badmood. Lagian pertanyaan beginian, kan, pertanyaan wajib untuk mereka tanyakan. Meski sebagian hanya sebatas guyon atau beneran pada kepo. Cuma kalau aku inget-inget, takutnya stress. Males, ah."


Reynand mengangguk sembari memutar stir mobilnya. Lalu saat aku sedang melihat ke arah luar jendela, Reynand tiba-tiba menyodorkan sesuatu.


"Nih!" kata Reynand sambil menyodorkan selembar kertas kecil, yang aku tebak sepertinya itu kartu nama.


Meski dengan sedikit ragu-ragu, aku akhirnya menerima kertas kecil itu dan membacanya. Betapa terkejutnya aku saat mendapati tulisan dari kartu nama yang Reynand sodorkan. Aku tidak bisa menahan rasa kesalku, saat membacanya. Kartu nama yang kupegang sekarang adalah kartu nama seorang dokter spesialis obgym di Singapura.


"Maksudnya apaan ini?" tanyaku dengan nada tersinggung, yang tidak dapat kusembunyikan sama sekali.


"Itu tadi dikasih sama Haikal, kali aja kita butuh."


Aku menegakkan tubuhku dan menatap Reynand dengan pandangan tidak percaya. Apa Reynand bilang tadi? Kali saja kita butuh? Itu tandanya dia meragukan kesehatan rahimku begitu.


"Jadi, kamu mikir aku nggak bisa hamil?"


Raut wajah Reynand berubah panik saat mendapati wajahku yang kinu sudah tidak bersahabat.


"Eh, enggak gitu, yang, maksudnya itu, kali aja. Suatu saat nanti, kalau kita butuh. Aku enggak ada itu punya pikiran kamu nggak bisa hamil atau semacannya," sanggah Reynand sambil menggeleng tegas.


"Terus maksudnya apa?" tanyaku kesal.


"Maksud aku kamu simpenin itu aja gitu lho, aku bukannya mau ngajakin kamu ke sana juga kok, sayang. Ngajakin kamu ke sana itu sama aja, aku harus ngajakin kamu liburan lho. Kan aku belum ada uang, tabunganku nyaris terkuras habis buat biaya pernikahan kita. Lagian, aku juga nggak pengen buru-buru sayang. Aku suka melewati semua prosesnya step by step. Nggak mau maksain pake segala cara biar cepet, yang ada nanti kalau kita paksain malah capek sendiri kitanya. Aku minta maaf kalau ini menyinggung perasaan kamu. Tapi, kamu harus tahu, sayang, aku nggak ada maksud apa-apa. Serius. Demi Allah!"


Aku menghela nafas pendek sambil melirik Reynand dan mengangguk, beberapa detik kemudian aku juga ikut meminta maaf. Mungkin memang akunya yang terlalu sensitif karena membahas tentang kehamilan.


"Iya, aku minta maaf juga."


"It's okay, sayang. Kamu jangan terlalu mikirin kapan bisa cepet-cepet hamil, kan aku tadi udah bilang, kita baru nikah sebulan. Kan kita bisa terus usaha dan berdoa, sayang. Banyak kok pasangan di luar sana yang sudah menikah bertahun-tahun tapi belum dikasih. Anak itu kan amanah, kalau kitanya belum siap diberi amanah, ya udah, sayang. Nanti kalau sudah saatnya juga dikasih, kamu jangan terlalu stress mikirin ini deh. Nanti kamu malah sakit lho."


"Tapi, kan aku udah dua puluh delapan tahun, Mas."


Reynand tiba-tiba menepikan mobilnya dan menghentikannya di tempat yang tidak terlalu ramai.


"Sayang, dengerin aku! Dua puluh delapan itu masih muda, kamu tahu istrinya Surya Saputra? Istrinya baru hamil setelah tujuh tahun lebih pernikahannya, masa kita yang baru sebulan kamu sebegininya. Rilex, sayang, nikmatin aja semuanya. Hidup itu tidak hanya tentang pernikahan, dan pernikahan itu hanya tentang udah punya anak apa belum. Pernikahan itu kan niatnya karena kita mau beribadah, sayang, menunaikan sunah Rosul kan? Meski memiliki keturunan termasuk salah satu alasan untuk menikah juga, cuma kan itu bukan alasan utama. Kamu ngerti?"


Aku akhirnya mengangguk, meski rasa-rasanya masih agak tidak rela. Entahlah, apa yang membuatku sampai berpikir sebegininya hanya karena godaan orang-orang di rumah Prita tadi. Aku tahu, aku berlebihan saat ini. Tapi, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, perasaan ini hadir begitu saja tanpa dapat kucegah mau pun kukendalikan. Rasanya seperti berada di luar kendaliku.


"Minum dulu," kata Reynand sambil menyodorkan sebotol air mineral yang selalu ada di dalam mobilnya.


Aku tidak langsung menerimanya. Hanya menoleh ke arahnya dan menatap Reynand. Membuat Reynand menghela nafas pendek lalu meraih tanganku dan menyuruhku untuk memegang botol yang ia sodorkan.


"Minum dulu, sayang!"


"Aku nggak haus."


"Minum!" tegas Reynand tidak ingin dibantah. Nada bicara masih tetap tenang dan juga kalem, tapi kedua bola matanya menyorotku sedikit lebih tajam. Membuatku akhirnya dengan pasrah menerima dan meneguk air mineral yang Reynand sodorkan, meski hanya sedikit.


"Kan, lebih enak kan?"


Aku menggeleng sambil tersenyum kecut. "Sama aja, air mineral rasanya gitu-gitu aja, nggak ada bedanya, apa lagi lebih enak," kataku dengan ekspresi cemberut.


Reynand terkekeh lalu mencubit hidungku dengan gemas. "Bukan enak di minumannya, sayang, tapi perasaan kamu. Iiih, gimana sih?" protesnya sambil berdecak.


Aku melirik Reynand sekilas, lalu mengangkat kedua bahuku acuh tak acuh. "Mana kutahu, kamu nggak bilang dulu sih tadi."


"Dih, curang!" gerutu Reynand sambil berdecak samar.


Aku langsung menoleh ke arahnya dengan kerutan di dahi, karena bingung. "Curang kenapa?"


"Itu kamu, minta aku peka. Nggak usah bilang, tapi minta aku untuk paham. Eh, tapi dirinya sendiri nggak gitu. Mintanya dipeka-in tapi diri sendiri enggak mau peka. Dih, enak banget hidup kaum kalian. Maunya benar terus, nggak mau disalahin, eh, hobinya nyalahin. Ckckck, dunia memang kejam tapi terkadang semesta terlalu lucu untuk bertindak adil."


Mendengar gerutuan Reynand yang menjurus ke arah curhat dadakan ini, sontak membuatku langsung tertawa sampai terbahak-bahak. Serius, kalian harus tahu, ekspresinya saat mengucapkan semua kalimatnya tadi. Lucu. Jadi pengen meluk.


"Lah, malah diketawain?"


"Emang maunya diapain?" tanyaku sedikit menggodanya.


Reynand mengusap-usap dagunya, dengan gaya sok berpikir.


"Enaknya apa, ya?"


"Mending jalanin mobil kamu dulu, Mas. Enggak enak ini lho, kita di pinggir jalan gini," kataku menyarankan sambil tersenyum.


Reynand tersadar lalu terkekeh. "Iya, juga, ya. Salah kamu sih, pake acara ngambek segala kan aku jadinya harus minggir buat nenangin kamu."


Aku hnya mangguk-mangguk pasrah. "Iya, hari ini pasalnya diubah, ya. Pria selalu benar, wanita selalu salah. Gimana, setuju?"


"Setuju!!" seru Reynand berlebihan. Aku yang melihatnya hanya mampu geleng-geleng kepala.


**Tbc,


🙈🙈🙈🙈 absurd parah Ya Allah 😭😭😭😭😭**

__ADS_1


__ADS_2