
Setelah menyelesaikan tugas-tugas pentingku, aku memutuskan untuk mengambil masa cuti, sekalian bantu-bantu Airin yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Pekerjaan lainnya kuserahkan pada Sandra untuk mengambil alih tugasku. Setelah merapikan bawaanku aku langsung turun ke bawah, untuk berpamitan dengan yang lain.
"Guys, aku mau pamit nih," seruku begitu sampai di bawah.
Semua langsung menoleh dan menghentikan aktifitasnya masing-masing, lalu berhampur ke arahku.
"Hati-hati di jalan, Mbak, oleh-oleh jangan lupa," kata Jihan sambil menyengir.
Aku tersenyum sambil mengangguk, tak lupa memberikan pelukan untuknya.
"Selamat menikmati liburannya, Mbak, serahkan semua tugas sama Sandra. Pasti beres," cengir Mbak Husna sambil menunjuk Sandra, tak lupa sembari mengacungkan jempolnya.
Sementara Sandra jelas langsung memasang wajah cemberutnya.
"Oke, sip, Mbak," balasku tak lupa sambil mengacungkan jempolku. Yang membuatku langsung mendapatkan pelototan tajam dari Sandra.
"Mbak Qilla jahat deh sama Sandra," rajuk Sandra cemberut.
"Enggak, nanti bonus kamu paling gede kok," balasku serius.
"Iya lah, lha wong kerjaan beda. Banyakan aku," gerutu Sandra membuat kami semua tertawa.
"Ya udah, aku langsung jalan ya. Kalau mau pesen oleh-oleh tambahan chat langsung. Oke?"
Semua langsung mengangguk kompak, termasuk Sandra, meski raut wajahnya masih sedikit ditekuk.
"Ini muka ditekuk aja, kayak pintu angkot," candaku malah membuat Sandra makin cemberut.
"Jangan lama-lama perginya ya, Mbak. Aku tuh nggak bisa Mbak Qilla tinggalin lama-lama."
"Lebay. Ya udah aku langsung berangkat."
"Cepet pulang, Mbak," seru Sandra setelah aku masuk ke dalam mobil.
"Iya."
*****
Begitu sampai di depan rumah, ku lihat Ibu langsung masuk ke dalam, seperti tidak ada niatan untuk menyambut kedatanganku. Kalau dilihat dari cara berjalannya sih, sepertinya Ibu masih marah denganku.
Tapi kalau dipikir-pikir memang salahku sih, aku kemarin waktu memutuskan kembali ke Jogja tanpa pamit dengan beliau, bahkan begitu sampai di Jogja pun aku terlalu sibuk dengan kehidupanku di sana, aku bahkan melupakan kewajibanku untuk menelfon beliau, dikarenakan aku yang terlalu malas jika Ibu nantinya akan membahas kapan aku menikah.
Aku tersenyum miris menyadari kesalahanku yang sudah kelewat batas. Dan untungnya tadi aku sempat membelikan pisang coklat kesukaan Ibu, dan semoga saja Ibu bisa memaafkan aku sedikit lebih mudah.
Setelah mengeluarkan koper dan juga beberapa oleh-oleh, aku langsung bergegas masuk ke dalam rumah sembari mengucap salam. Tangan kanan, ku gunakan untuk menyeret koper sementara tangan Kiri ku gunakan untung menenteng oleh-oleh yang tidak seberapa.
"Wallaikumsalam! Kowe to, nduk? Mau pulang kok ndhak bilang-bilang dulu. Tumben?" sambut Bapak, yang langsung membantuku membawa koper.
__ADS_1
Aku nyengir. "Hehe, biar agak surprize. Ibu kemana, Pak? Lihat aku pulang kok malah masuk bukannya nyambut aku?" tanyaku yang kini meletakkan kantung kresek berisi berbagai macam. Mulai dari coklat monggo kesukaan Mbak Lusi, keripik belut kesukaan Bapak, walang goreng kesukaan Mas Adi, dan pisang coklat kesukaan Ibu.
"Ngapain juga Ibu nyambut kamu? Koyo pejabat wae dhadhak disambut," sahut Ibu yang terlihat keluar dari dapur, kemudian berjalan menuju ruang tengah, melewatiku begitu saja.
Bahaya. Sepertinya Ibu marahnya serius kali ini. Tidak seperti biasa. Pisang cokelat kesukaan Ibu pun, sepertinya nggak mempan untuk meluluhkan hati Ibu.
Dengan gusar, ku tatap Bapak. "Pak, kayaknya Ibu masih marah banget sama Qilla?"
"Biasa to, Ibukmu, uwes ayo kita samperin," kata Bapak mengajakku ke ruang tamu.
Aku mengangguk kemudian mengekor di belakang Bapak.
"Bu, masih marah ya, sama Qilla?"
Ibu masih dalam aksi diamnya. Bahkan kini duduknya pun membelakangiku.
"Bu, katanya kangen sama Qilla, masa giliran orangnya di sini malah Ibu cuekin. Nanti kalau anaknya ngambek terus nggak mau pulang siapa yang susah. Kita juga to, udah to, ndak udah ngambek-ngambekan lagi. Kayak Kafka wae to, ngambekan segala."
Aku hanya diam menunduk mendengar kalimat Bapak, yang terdengar sedikit memihakku. Karena dalam hatiku, aku merasa kalau aku memang anak yang buruk.
Cukup patut untuk dipersalahkan dalam situasi ini.
Ibu menatapku sebentar kemudian berdiri. "Kamu sudah makan?"
"Udah, tadi sarapan."
Wajahku langsung berubah senang mendengar perhatian Ibu barusan. Sepertinya sudah agak melunak.
"Enggak usah, Ibu mending buka oleh-oleh yang aku bawa. Ada keripik belut kesukaan Bapak juga."
Aku mengambil kantung plastik kresek berisi pisang cokelat dan keripik belut. Kemudian menyerahkan pada Ibu dan Bapak. Raut wajah Bapak tampak senang saat membuka kantung kreseknya, tanpa ragu ia langsung bangkit berdiri, menuju dapur. Yang aku tebak pasti langsung mencari nasi.
Dan benar saja, tak berapa lama Bapak kembali dengan sepiring nasi dan juga air putih.
"Yang ini apa?" tanya Ibu penasaran.
Tanpa menunggu jawaban dariku, Ibu langsung memajukan badannya untuk melihat apa isinya.
"Belalang goreng?"
"Mas Adi suka, Bu."
"Koyo ngono dituku," gerutu Ibu tak suka.
Aku hanya meringis sebagai respon, tidak berani menjawab karena takut salah ngomong. Ibu sudah mau bicara saja syukur, masa aku mau cari masalah lain. Aku belum segila itu.
"Berapa itu harganya?" tanya Ibu.
__ADS_1
"Uwes to, Bu, udah terlanjur dibeli juga," sahut Bapak. "Kenapa to tanya-tanya harga, mau Ibu ganti emang?"
"Ah, Bapak iki," gerutu Ibu lalu membawa semua kantung kresek ke dapur.
"Bu, yang buat Mas Adi tolong dipisahin sekalian, ya," seruku meminta tolong dengan sedikit berteriak, karena Ibu sudah berada di dapur.
"Makan, nduk," tawar Bapak di sela kunyahannya.
Aku mengangguk dan memilih menyandarkan kepalaku pada sofa.
"Capek?"
"Lumayan, Pak."
"Yo wes, langsung istirahat di atas," kata Bapak.
Aku mengangguk setuju, kemudian mencangklong tasku dan langsung bergegas naik ke lantai atas. Begitu sampai di kamar, aku langsung meletakkan tasku di meja rias lalu aku menghempaskan tubuhku begitu saja di atas kasur, tanpa berniat untuk mengganti pakaianku terlebih dahulu.
Sepertinya aku baru terlelap beberapa menit, namun harus terbangun karena suara Kafka yang merengek sambil mengguncangkan kakiku kananku.
Astaga. Bocah ini, apa Bapak nggak ngasih tahu Mbak Lusi kalau aku baru sampai. Dan pasti lelah karena harus menyetir sendirian, meski aku sebenarnya sudah terbiasa juga.
"Kenapa sih, Kak?" tanyaku sebal, masih enggan untuk membuka mata. Karena aku semalam harus begadang demi menyelesaikan pekerjaan.
"Ayo, jalan-jalan sama Kakak, Lek," rengek Kafka tak ingin dibantah.
"Jalan-jalan kemana to? Bulek, capek. Wegah. Ajak Ayahmu sana!" tolakku mentah-mentah.
Ohya, sekedar info saja. Kafka memang tidak pernah mau ku suruh untuk memanggilku Tante atau Aunty, karena semua teman-temannya memanggil Tantenya dengan sebutan Bulek. Dan aku tidak boleh protes. Sementara Kafka juga tidak mau dipanggil Dek atau nama, setelah dirinya tahu akan punya adik. Ia lebih senang dipanggil Kakak atau Mas.
"Ini udah sore, Lek. Masa mau tidur terus. Kata Bunda, kita itu nggak boleh jadi pemalas yang kerjaannya tidur terus."
Aku langsung membuka kedua mataku secara reflek mendengar kalimat Kafka. Sambil berdecak aku pun bangun.
"Ya udah, Bulek mandi sama ganti baju dulu. Kamu keluar sana, tungguin di bawah," usirku sambil menggulung rambut panjangku.
"Kakak tunggu di sini aja, nanti Bulek tidur lagi."
"Enggak. Ini Bulek langsung ke kamar mandi," kataku sambil menunjukkan handukku ke Kafka, sebelum menyampirkannya di pundakku.
Meski dengan raut wajah kecewa, Kafka mengangguk kemudian keluar dari kamarku dengan pasrah. Aku hanya menggelengkan kepala saat melihatnya.
"Mirip banget sama Bapaknya," gumanku yang langsung masuk ke kamar mandi.
Tbc,
mohon dibantu koreksi 🤗
__ADS_1