Telat Nikah?

Telat Nikah?
Cemburu??


__ADS_3

###


"Kamu cemburu, ya?"


Aku langsung memutar kedua bola mataku kesal saat mendengar pertanyaan Reynand. Tidak ada nada bersalah atau semacamnya, ia bahkan terkesan seperti sedang menggodaku.


Astaga, bisa-bisanya dia berbicara dengan nada sesantai itu. Padahal ekspresi wajahku saat ini sedang menggambarkan raut wajah kesal.


"Iya," jawabku ketus dan tanpa ragu, "kamu itu nggak menghargai aku banget tahu, nggak, Rey. Bisa-bisanya kamu cipika-cipiki sama mantan pacar kamu di depan calon istri kamu. Bahkan kamu melempar candaan yang sudah kelewatan."


"Kelewatan gimana?" protes Reynand dengan nada tidak terima.


"Tadi, kamu bilang kalau kita belum sah, terus mantan pacar kamu itu bisa nikung. Kok kamu gitu sih, Rey, bisa-bisa bikin candaan begitu. Kamu pikir itu lucu?"


"Astagfirullah!" desah Reynand sambil meraup wajahnya frustrasi, "itu cuma candaan, sayang. Nggak bener--"


"Tapi candaan kamu udah keterlaluan," potongku kesal.


"Oke, aku minta maaf."


"Rey, bisa nggak sih kamu itu nggak nyepelein kata maaf?"


"Maksudnya?"


"Dikit-dikit minta maaf, tapi kamu nggak benar-benar tulus untuk meminta maaf."


"Aku tulus, sayang, minta maafnya. Aku nggak tahu kalau candaanku tadi kelewatan. Aku dan Gita itu kenal lama, kita emang suka begitu kalau bercanda, aku beneran nggak ada maksud bikin kamu kesel apa lagi cemburu."


"Mungkin nggak ada maksud, tapi kamu udah bikin aku kesel. Kita baru aja baikan, Rey, dan kamu ngajakin ribut lagi? Kamu serius ngajakin aku nikah nggak sih?"


Rahang Reynand mengetat secara tiba-tiba, sorot matanya terlihat menggambarkan kalau ia marah, mungkin tersinggung.


"Kok kamu tanyanya selalu begitu sih, La?" tanya Reynand dengan nada dinginnya.


"Kamu yang mulai duluan," balasku tak kalah dingin.


"Oke, fine, yang salah itu aku. Kamu nggak salah, tapi asal kamu tahu, ya, Gita itu temen aku, bukan mantan aku. Terus yang lebih penting dia itu udah nikah dan punya dua anak, kamu puas?"


Seketika bibirku langsung membungkam. Apa tadi katanya, bukan mantan pacarnya, dan cuma temen. Terus perempuan tadi juga udah nikah dan punya anak? Astaga, kok aku jadi ngerasa posesif, ya? Cemburuan nggak jelas pula. Harusnya aku tidak seperti itu.


"Kamu serius?" tanyaku masih sedikit tidak percaya.


"Buat apa sih aku bohong." Reynand mengutak-atik ponselnya dan menyodorkannya padaku. Layar ponselnya terdapat feed Instagram perempuan tadi. "Itu anak-anak dan suaminya. Aku nggak bohongkan?"


Sambil menunduk malu, aku akhirnya mengangguk. "Maaf," sesalku pelan.


Sumpah, aku malu banget.


Reynand mendesah dan kembali mendekat ke sampingku, ia meraih kedua tanganku, yang secara otomatis membuatku berhadapan dengannya.


"Dengerin aku! Aku nggak pernah main-main sama hubungan ini, sayang, apalagi hubungan ini sudah sampai ke tahap melibatkan keluarga kita. Aku tuh, serius dengan kamu, masa kamu nggak percaya sama aku?" Reynand kemudian berjongkok di hadapanku, kedua tangannya menggenggam tanganku. "Kamu kayaknya perlu cuti secepatnya deh. Ngerasa nggak sih, kalau kamu kayaknya lumayan stress sama persiapan nikahan kita?" kedua sorot matanya menatapku lembut, sebelah tangannya terulur dan mengusap kepalaku.


Jujur, dalam hati aku membenarkan ucapan Reynand. Aku sendiri memang merasa sedikit stress, jelang pernikahan kami. Bawaannya, jadi sensitif dan pengen marah-marah. Inginnya dimengerti, tapi enggan untuk mengerti balik.


"Berat banget, ya, nyiapin ini semua, hmm?"


Aku menggeleng. "Harusnya sih, enggak. Kan dibantuin Ibu sama Bunda. Malah yang sibuk nyiapin ini itu, mereka. Yang beneran aku urus sendiri kan cuma ngurus kostum."


"Ya, udah, nikmati aja dong, sayang. Jangan dijadiin beban, nanti kamu sendiri yang capek."


Aku mengangguk. Reynand bangkit berdiri dari posisi jongkoknya dan memelukku.


"Maafin aku, ya."

__ADS_1


"Iya, nggak papa. Aku mungkin nggak bisa sepenuhnya bisa ngertiin kamu, atau pahami kamu. Tapi, aku akan berusaha untuk belajar ngerti kamu, tapi kamu juga harus bantu aku, ya."


Aku mengangguk pelan.


"Ya, udah, yuk! Aku anterin pulang," ajak Reynand sembari melepaskan pelukannya dan menatapku lembut.


Kali ini aku menggeleng, lalu berkata, "Aku bawa mobil, Rey."


"Ya, nggak papa. Aku anter pake mobil kamu."


"Apaan sih, aku masih kuat nyetir sendiri," kataku sambil menggeleng tidak setuju dengan idenya, yang ingin mengantarkanku pulang.


"Emang yang bilang kamu udah nggak kuat nyetir siapa?"


Aku garuk-garuk kepalaku bingung. "Eung.. enggak ada sih."


"Ya, udah, masalahnya di mana?"


Aku memandang Reynand ragu, sekaligus tak yakin. "Ya, enggak ada masalah sih, cuma--"


"Kalau nggak ada masalah, ya udah lah. Kenapa kamu pusingin? Udah ayo, aku antar. Biar nggak terjadi drama dadakan ulang."


Mendengar gerutuan Reynand, yang bernada guyon ini, otomatis membuat bibirku manyun beberapa senti. Sementara Reynand terkekeh geli dan merangkul pundakku.


"Bercanda doang, sayang. Jangan sensi-sensi lah, aku nanti bisa-bisa gagal kawin kalau kamu terus-terusan tegang gitu. Lemesin aja, say!" Reynand kemudian mengedip genit ke arahku dan mengajakku untuk segera turun ke lantai bawah.


"Mau bawa cemilan?" tawar Reynand saat kami sebelum kami keluar dari toko Arisha.


Aku hanya menggeleng sebagai tanda jawaban, dan langsung berpamitan dengan Arisha.


"Ris, pamit dulu, ya!" kataku sambil melambaikan tangan kananku, karena Arisha sedang sibuk melanyani pembeli. Calon adik iparku ini mengangguk dan mengacungkan jempolnya, sebelum akhirnya fokus ke pembelinya lagi.


Sebelum akhirnya tiba-tiba berteriak, "Eh, Mbak, nggak bawa camilan?" tawarnya kemudian.


Aku tersenyum lalu menggeleng. "Enggak usah. Yang kamu bawain kemarin masih."


Aku mengangguk lalu menyusul Reynand keluar dari toko setelahnya. Menyerahkan kunci padanya lalu masuk ke dalam mobil.


"Mau mampir dulu?" tawar Reynand sambil memasang seatbelt-nya.


Aku menggeleng. "Enggak, langsung pulang."


"Ke Semarang?"


Aku melirik Reynand lalu berdecak samar. "Ke butikku lah."


"Masih sensi aja, udah lah, yang. Cuti!"


"Aku nggak bisa cuti seenakku juga lah, Rey. Aku punya tanggung jawab."


Helaan nafas pasrah terdengar keluar dari hidung Reynand, membuatku secara otomatis menoleh ke arahnya.


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Aku nggak tega liat kamu begini. Rasanya kayak pengen nyuruh kamu keluar dari sana, cuma itu tidak mungkin. Jadi, aku kayak kesel aja gitu loh."


Aku tersenyum lalu mengelus lengannya. "Sabar, ya! Kamu juga harus siap-siap dengan segala resiko yang akan kamu hadapi nanti kalau kita sudah sah nikah."


"Heh? Itu maksudnya apa?" Reynand menoleh ke arahku sekilas, tatapan matanya terlihat terkejut, membuatku akhirnya tertawa.


"Kenapa malah ketawa?"


"Ekpresi kamu soalnya lucu."

__ADS_1


"Lucu gimana?"


"Ya, lucu aja. Ngegemesin gitu loh."


"Jadi pengen kamu apain?"


"Cubit," kelekarku sambil tertawa puas. Sedangkan Reynand langsung memasang wajah cemberutnya.


#####


"Kamu bawa aja deh," kataku, saat Reynand hendak menyodorkan kunci mobilku.


Kita sudah sampai di depan butikku, dan Reynand hendak kembali ke tempat kerjanya. Tapi aku tidak tega kalau membiarkan dia naik ojek, jadi lebih baik dia membawa mobilku kan?


Reynand menggeleng tidak setuju, lalu memaksaku untuk menerima kunci mobilku. Tapi aku tetap kekeuh tidak mau.


"Kamu bawa aja, Rey. Lagian kita ini kan sebentar lagi menikah. Udah bawa aja," kataku kemudian.


"Tapi kalau kamu perlu pergi-pergi, gimana?"


"Telfon kamu," ucapku sambil memainkan kedua alisku naik-turun.


Reynand terkekeh lalu mengusap bagian rambut belakangnya.


"Oke, aku bawa kalau gitu. Tapi, yakin nggak papa aku bawa?"


"Enggak papa. Kan yang bawa calon suami sendiri."


"Tapi kalau mau ke mana-mana beneran telfon aku lho."


"Iya."


"Janji?"


Secara tiba-tiba, Reynand mengacungkan jari kelingkingnya. Membuatku tertawa geli. Astaga, bukankah ini terlihat kekanak-kanakan? Seriosly, janji jari kelingking gitu loh.


"Apaan sih, kayak anak kecil?"


"Enggak papa. Ayo, cepetan janji dulu, La!"


Aku menerjap tidak percaya. Meski begitu, aku tetap menautkan jari kelingkingku dan jari kelingkingnya.


"Kok diem aja?" protes Reynand, membuatku mendelik tajam ke arahnya.


"Mau sambil ngapain emang?" tanyaku heran.


"Ya, ngomong apa gitu kek." Reynand mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.


"Astagfirullah!"


"Masa malah istigfar?" protes Reynand kesal.


Aku terkekeh geli. "Ya, iya, aku janji kalau mau ke mana-mana ngehubungin kamu. Puas?"


"Belum sih, cuma, ya lumayan deh," cengir Reynand kemudian.


Aku tertawa kecil lalu mendorongnya untuk masuk ke dalam mobil. "Sana, buruan balik kerja! Biaya resepsi makin mahal lho," usirku dengan nada bercanda.


Reynand mengangguk, lalu segera masuk ke dalam mobil dan berkata, "Ingat, jangan terlalu stress, ya, mikirin nikahan kita. Semua pasti baik-baik aja kok, jangan terlalu dikhawatirin. Oke?"


Aku tersenyum sambil mengangguk.


"Ya, udah, aku langsung jalan, ya?"

__ADS_1


"Iya, hati-hati!"


Tbc,


__ADS_2