Telat Nikah?

Telat Nikah?
Positif?????


__ADS_3

#####


Reynand langsung berdiri dan menghampiriku, saat aku keluar dari kamar mandi. Ekspresinya penuh harap-harap cemas, namun ia tetap tersenyum cerah dan menuntunku menuju ranjang, dan menyuruhku untuk duduk di tepi ranjang.


"Gimana?" tanya Reynand penasaran.


"Kamu nggak mau nebak?" ucapku ngaco.


Di detik berikutnya, aku cukup menyesali ucapanku barusan. What the hell, kenapa aku bertanya begitu?


"Boleh. Aku tebak sih, dua garis biru," ucap Reynand penuh keyakinan.


Aku langsung tertawa. "Jangan ikut-ikutan Author kamu dong, dua garis biru kan judul film, Mas."


"Terus yang bener apa?"


"Dua garis merah."


"Itu tandanya?"


"Hamil."


"Siapa yang hamil?"


"Aku."


"Yang ngehamilin?"


"Kamu." Aku kemudian tersadar akan obrolan tidak jelas kami. "Apaan sih, kenapa jadi abusrd nggak jelas begini deh obrolannya," protesku sambil memukul paha Reynand.


Reynand tersenyum lalu memelukku. "Selamat dan terima kasih, ya." ia kemudian mengurai pelukannya, "semoga semua lancar sampai hari H, kamu sama dedek bayinya sehat-sehat," imbuhnya sambil mengelus perutku yang masih rata.


"Aamiin. Selamat dan terima kasih juga buat kamu. Siapin diri jadi suami siaga dan Ayah yang baik, ya, buat dedeknya," balasku lalu memeluk Reynand.


Reynand mengangguk sambil membalas pelukanku.


"Nggak nyangka banget lho aku, kalau hasilnya bisa positif gini."


Aku mengurai pelukan kami, lalu aku menunjukkan testpack yanh sudah kupakai tadi.


"Soalnya tanda-tanda udah jelas. Kamu gampang capek, gampang ngantuk, jadi mager, terus ngidam rujak, sensi, sama pengen belalang goreng. Ah, sama yang terakhir, kamu muntah-muntah dari tadi. Emang udah akurat banget gitu, yang. Kamu aja sih yang lebay, nggak mau dengerin suami pula."


"Iya, iya, aku salah. Kamu bener, puas?"


Dengan wajah polosnya, Reynand menggeleng. "Enggak, biasa aja." Lalu secara tiba-tiba, ia turun dari ranjang dan jongkok di hadapanku. "Makasih sayang, karena hadir lebih awal," bisiknya lalu mencium perutku.


Membuatku langsung memekik karena geli. "Mas, geli!!" Sedang Reynand hanya tertawa setelahnya.


"Mau ke dokter hari ini?"


"Ke Bidan aja, deh," kataku menyarankan.


"Enggak ke dokter aja sekalian?" tawar Reynand, yang langsung kujawab dengan gelengan kepala.


"Ya, udah, aku ikut kamu." Reynand langsung berdiri dan kembali duduk di sampingku. "Ngomong-ngomong, sekarang udah nggak mual."


"Eng.." belum selesai aku mengucapkan kata enggak, rasa mual itu tiba-tiba hadir kembali. Membuatku akhirnya langsung berlari masuk ke kamar mandi, dan Reynand memekik heboh.


"Nggak usah lari, yang!" teriak Reynand frustrasi. Ia kemudian langsung menyusulku setelahnya. "Jalan pelan-pelan kan bisa," omelnya kemudian, namun ia tetap membantuku mengeluarkan sesuatu dari perutku.


"Reflek," kataku sambil membasuh mulutku bekas muntahan.


Reynand berdecak samar lalu bertanya, "Gimana, udah enakan? Mau langsung ke Bidan sekarang?"


Aku menggeleng lalu berjalan keluar dari kamar mandi dibantu Reynand. "Nanti deh, kita juga belum mandi. Aku belum bikinin sarapan buat kita juga loh."


"Kalau nanti-nanti keburu Bidannya pergi dinas dong, sayang. Lagian, meski kita belum mandi, nggak bakalan diusir juga lho. Terus urusan sarapan, kan bisa beli."


Aku kemudian mangguk-mangguk pasrah. "Ya, udah, terserah kamu deh. Ngikut aja aku."


Reynand meringis lalu merangkulku dan bertanya, "Pusing banget, ya? Duh, ini anak Ayah dibilangin nggak boleh nakal juga, kok nakal sih sama Bunda."


Aku langsung memukul lengan Reynand, saat mendengar ucapan Reynand yang seolah sedang berbicara dengan anak kami lalu tertawa.


"Apaan sih, lebay, deh!"


"Lho, kok lebay? Aku kan lagi ngobrol sama anak kita, bagus tahu katanya. Biar dedeknya juga tahu kalau ada Papanya yang senantiasa di samping Mamanya."


"Ini yang bener Papa-Mama atau Ayah-Bunda?" tanyaku sambil geleng-geleng kepala.


"Apa aja, asal adeknya sehat," jawab Reynand sambil mengelus perutku sekali lagi.


"Udah, sana cuci muka dulu. Abis ini kita ke Bidannya."


"Siap, laksanakan!"


Reynand langsung bangkit berdiri dan menegakkan tubuhnya, lalu berlagak seperti tentara yang siap bertugas. Aku kemudian berdecak lalu kembali menggelengkan kepala tanda prihatin, melihat kelakuan suamiku. Semoga, kamu nggak ketularan lebay, ya. Batinku sambil mengelus perutku yang masih rata.


"Mandi sekalian juga boleh," seruku agak berteriak, karena Reynand sudah masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Nanti aja, takutnya nggak keburu," balas Reynand ikut berteriak. Tak lama setelahnya, ia keluar dari kamar mandi dengan wajah basahnya hingga menyebabkan lantai basah karena beberapa tetesan air dari wajahnya.


Aku langsung berdiri sambil berdecak. "Kamu itu lho kebiasaan, pake handuk dulu dong. Basahin lantai lho ini, nanti kalau ada yang kepleset gimana?" lalu mengulurkan handuk untuknya.


"Hehe, lupa, yang, padahal kan kamu lagi hamil, ya. Oke, oke, besok-besok enggak lagi."


"Bukan cuma aku, tapi kamu juga," decakku kesal.


"Iya, iya, besok enggak, yang. Langsung berangkat sekarang?"


"Iya, aja, dari pada nanti-nanti, entar keburu Bidannya dinas. Terus kamu juga harus ngantor kan?"


"Aku ngantornya, mah, gampang. Yang penting kamu itu lho, kerjaan bisa disambi kok."


"Tapi ya, enggak enak sama anak-anak dong."


"Mereka, mah, maklum, kan kamu lagi hamil."


Aku menghentikan langkah kakiku dan menoleh ke arah Reynand dengan tatapan bingung.


"Kok mereka bisa tahu, dari mana? Kamu langsung bikin status di sosmed?"


"Enggak, yang, kemarin aku curhat ke anak-anak tentang gejala-gejala yang kamu alamin. Terus, mereka langsung yakin kalau kamu hamil, makanya nyuruh aku beli testpack."


Aku kemudian mengangguk paham. "Aku kirain kamu udah bikin instastory gitu."


"Kalau itu baru rencana mau bikin sih," kata Reynand sambil merengkul pundakku dan mengajakku segera berangkat.


"Enggak usah," larangku sambil menggeleng tanda tidak setuju.


"Kenapa?"


"Itu kan kebahagiaan kita, cukup kita dan keluarga yang tahu. Follower kamu nggak usah."


"Loh, kenapa? Kali aja ada yang mau endorse, kan lumayan, yang."


"Dih, emang kamu selebgram, yang sering diendorse?" sindirku dengan kedua mata memicing.


"Bukan." Reynand menggeleng dengan polosnya.


"Terus kenapa ngarep diendorse?"


"Ya, enggak papa. Kali aja ada yang khilaf, kan siapa yang tahu, yang. Kali aja rejeki anak kita gitu."


Setelahnya aku lebih memilih untuk merangkul lengannya, dan mengajaknya untuk mempercepat langkahnya.


####


Aku menoleh ke arah Reynand dengan ekspresi bingung. Reynand sudah terlihat rapi dengan stelan kemeja dan celana bahannya, sedangkan aku masih dengan tampilan kucelku tadi.


"Mau ke mana, Mas?" tanyaku heran.


Ya, tentu saja aku heran. Kalau katanya, hari ini dia tidak akan berangkat ke kantor atau yang lainnya, dan lebih memilih untuk tetap di rumah menemaniku. Tapi, kenapa sekarang dia malah berpakaian super rapi begini?


"Kok mau ke mana? Aku mau ketemu klien, nemenin Rustaf."


Aku ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk.


"Kok cuma mangguk-mangguk?"


Aku kemudian menegakkan tubuhku secara spontan dan menatapnya dengan ekspresi keheranan.


"Loh, emang aku harus ngapain lagi, Mas? Emang tadi kamu minta tolong apaan?"


"Kok minta tolong?" ulang Reynand dengan ekspresi gemasnya, "aku nggak minta tolong apa-apa, sayang. Tapi aku ngajak kamu--"


"Ngajak ke mana? Enggak, ah, aku mager," potongku menyela ucapan Reynand.


"Aku anterin kamu ke rumah Bunda, sayang."


"Ngapain ke sana?"


"Biar kamu ada temennya. Biar aku juga ngerasa aman, nggak khawatir ninggalin kamu sendirian."


Mendengar jawaban berlebihan Reynand, aku langsung mendengkus. Astagfirullah! Kenapa suamimu harus selebay ini ya, Tuhan!


"Mas, nggak usah lebay deh. Aku cuma hamil, lho, enggak sekarat. Lagian kata Bidannya kan aku sehat, cuma agak males dikit, dan itu wajar. Udah, deh, mending kamu langsung berangkat, sana! Dari pada kena omel klien."


"Terus kamu?"


Bukannya langsung berangkat, Reynand malah duduk di sampingku. Membuatku tanpa sadar langsung memukul lengannya.


"Kok malah duduk sih? Sana, kerja!" omelku kemudian, "aku ya, tetep di rumah. Nunggu suaminya pulang kerja. Gimana sih?" sambungku kemudian.


"Tapi aku nggak tega."


"Enggak usah berlebihan dong, Mas. Aku itu baik-baik aja, lagian banyak loh, para istri yang ditinggal suaminya dinas keluar kota atau luar negeri misalnya. Kamu jangan berlebihan dong, aku nggak suka deh."


"Ya udah, aku telfon Bunda. Biar dianter ke sini sama supir," ucao Reynand sambil mengeluarkan ponselnya dari saku kemejanya.

__ADS_1


"Enggak usah," larangku sambil merebut ponsel Reynand.


"Aku baik-baik saja, Mas. Nggak usah berlebihan bisa nggak sih?"


Reynand menatapku tidak suka lalu berdecak dan berdiri. "Pokoknya aku tetep bakalan telfon Bunda, dan nyuruh Bunda ke sini. Kamu ati-ati sebelum Bunda ke sini. Aku berangkat, assalamualaikum!" pamitnya kemudian, sambil mengecup pucuk rambutku dan keluar dari apartemen kami.


Sementara aku, hanya mampu menatap punggung Reynand yang kian menjauh sambil berdecak. Duh, Bunda mau ke sini? Sedangkan ruang masih kelihatan begini? Ck, bisa hancur reputasiku sebagai menantu baru Bunda yang paling cantik. Iya, lah paling cantik. Orang menantu Bunda yang perempuan hanya aku, sisanya kan pria semua.


Sambil menghela nafas pasrah dan menatap ke sekeliling ruangan, aku akhirnya memutuskan bangkit berdiri mulai membereskan apartemen kami, meski sebenarnya aku sedikit enggan melakukannya. Namun, demi pencitraan di depan Mertua, aku rela menghilangkan rasa malasku saat ini.


Saat aku sedang mencuci gelas, tiba-tiba aku mendengar suara bell berbunyi. Aku kemudian mematikan kran dan berjalan ke arah ruang tengah untuk membukakan pintu, dan benar saja, saat aku membuka pintu ada Bunda dengan dua kantong plastik bawaannya.


"Duh, kok malah jadi ngerepotin sih, Bun."


"Ngerepotin apaan to, enggak. Ini tadi Bunda abis dari rumah adikmu, terus dibawain ini sama Mertuanya."


Bunda kemudian menyodorkan dua kantong plastik itu ke arahku. Aku langsung mengintipnya, dan ternyata berisi mangga.


"Pilih, pilih makan enggak kamu, La?"


"Enggak, Bun, alhamdulillah. Apa aja sih rasanya pengen dimakan," cengirku sembari menggaruk tengkuk bagian belakang.


"Bagus, itu, cuma perlu dijaga, jangan terlalu banyak juga makannya. Kasian adeknya, perut Mamanya begah, nanti kurang nyaman dedeknya."


Aku hanya meringis sambil mangangguk, pura-pura paham. Baru setelahnya mempersilahkan Bunda untuk duduk.


"Duduk dulu, Bun, aku ke belakang buat teh."


"Enggak usah! Bunda nggak minum teh," tolak Bunda sambil menggelengkan kepala, sekaligus memengibaskan kedua tangannya. "Udah, sini duduk aja sama Bunda. Kita nonton ftv. Rey tadi sudah mewanti-wanti Bunda kok tadi, kalau Bunda nggak boleh nonton serial azab atau double azab. Karena kamu nggak suka. Udah, Bunda udah tahu. Sini, duduk!"


Aku menggeleng. "Enggak papa, Bun, aku bikinin dulu, ya."


"Enggak usah," tolak Bunda, "Bunda nggak minum teh."


"Nggak pake gula, Bun."


"Mana enak? Udah to, sini duduk aja!' Bunda melambaikan tangannya, lalu menepuk sofa.


"Air putih, Bun?" tawarku tidak ingin.


"Endak usah, Nak, nanti Bunda malah diomelin sama suami kamu. Udah nggak papa, kalau cuma air putih nanti biar Bunda yang ambil sendiri." Dengan ekspresi gemasnya, beliau langsung berdiri dan menghampiriku, kemudian menuntunku menuju sofa, dan menyuruhku untuk duduk di sana. "W**es, duduk yang anteng di sini. Bunda paham kok kalau masih hamil muda gitu, kadang bawaannya males. Waktu hamil suami-mu Bunda juga begitu, sampai ndak ngapa-ngapain, males-malesan aja bawaannya. Udah, Bunda paham, ndak usah neko-neko. Bunda ke sini kan mau nemenin kamu, biar kamu ndak suntuk di apartemen sendirian, nggak mau ngetes gimana kamu kalau sendirian. Uwes to, santai saja kalau sama Bunda."


"Iya, Bun." Aku hanya mangguk-mangguk saja setelahnya.


Lalu apa kabar dengan cucian piring dan gelas kotor?


"Ibu-mu sudah kamu beritahu?" tany Bunda mulai mengganti topik pembicaraan.


Aku menerjapkan bulu mataku beberapa detik, karena belum paham maksud Bunda. Namun setelah paham, aku mengangguk sebagai tanda jawaban.


"Ibu-mu kan jauh, di Semarang, kamu kalau pengen makan apa-apa minta tolong saja sama Bunda, jangan sama Ibu. Maksudnya, kan kalau Ibu-mu jauh, sedang yang lebih dekat ada, begitu, nduk. Ndak usah sungkan kalau sama Bunda, kan Bunda Ibu kamu juga."


"Iya, nanti kalau Qilla pengen dimasakin sesuatu, Qilla minta tolong sama Bunda."


"Nah, gitu, kalau ndak berani ngomong langsung sama Bunda, lewat suami kamu juga ndak papa."


Sekali lagi aku meringis dan mengangguk. Duh, dengerin Bunda ngomong kok membuatku mendadak mengantuk, ya? Kutinggal tidur, nggak sopan. Tapi nemenin Bunda ngobrol, kok rasanya makin ngantuk.


"Kamu ngantuk?"


Mampus ketahuan.


"Engg--"


"Tidur aja di kamar sana, biar enak. Kalau di sini nanti pegel."


"Tapi Bun--"


"Enggak papa, kan Bunda ke sini tugasnya nemenin kamu. Kalau kamu ngantuk, ya, tidur. Bunda temenin dari sini," ucap Bunda sambil mengelus pundakku penuh sayang, "sana, tidur saja!"


Aku menggaruk bagian belakang kepalaku, karena merasa tidak enak. Aku memang merasa mengantuk luar biasa, tapi meninggalkan Mertua sendirian sedangkan aku tertidur pulas, jelas bukan hal yang baik. Itu namanya tidak sopan.


"Endak papa, Nduk, kamu tidur saja!" Bunda kemudian bangkit berdiri, "ayo, Bunda anterin kalau gitu!"


Eh?


"Enggak usah, Bun! Ya udah, Qilla tidur bentar, ya, Bun, nggak akan lama. Janji, insha Allah."


"Lama juga nggak papa, wong di rumah kamu sendiri."


Aku meringis lalu mengangguk canggung, lalu masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintu kamarku.


**Tbc,


alhamdulillah, positif, ya. beneran dua garis biru, eh, salah, dua garis merah maksudnya 😃😂


see you next part 🤗😘😘


mohon doanya, semoga ini tulisan bisa kelar bulan ini, ya 🤗 ku sudah sedih sekli memikirkannya 😝😝**

__ADS_1


eh, iya, aku mau minta tolong dong, di sini yg baca ini ada yg pake noveltoon? kalo ada, minta tolong vote ini cerita dong, aku ikutin lomba nih. hehe, gk berharap menang sih, cuma pengen aja gitu ada yang ngevote, ayo dong, yg pake noveltoon, yg pake mangatoon nnti aja votenya, klo udh ada versi ngevote pake poin, soalnya yg bisa pake poin itu msh noveltoon aja. udh, cukup sekian. maksih bgi yg mau memberikan 🤗🤗🙄 semoga ada ya😆😝


__ADS_2