
Dua tahun kemudian
Seorang wanita dengan perut sedikit membuncit, tengah sibuk berkutat di depan kompornya, rambutnya dicepol asal, hingga beberapa helai menjuntai tak beraturan. Namun, meski demikian ia tetap sibuk dengan wajan dan spatulanya. Bahkan, saking sibuknya ia dengan aktivitas yang tengah ia lakukan, ia bahkan sampai tidak menyadari jika ada sepasang mata tengah memandanginya dengan tatapan kagum.
Merasa seperti sedang diperhatikan, Aqilla, nama wanita itu langsung menoleh. Alisnya terangkat sebelah saat mendapati sang suami tengah tersenyum tidak jelas saat menatapnya. Mendadak wanita itu bergidik ngeri. Suaminya itu sedang baik-baik saja kan, tidak sedang kesambet apa lagi kerasukan?
"Kenapa lihatinnya begitu banget?" tanya Aqilla keheranan.
Ia sudah kembali sibuk dengan masakannya. Tidak terlalu kepo dengan apa yang dilakukan oleh Reynand, suaminya saat ini, karena jika ia masih ingin tahu apa yang sedang dilakukan suaminya sekarang, sudah jelas, masakannya akan berakhir gosong.
"Kamu seksi deh, kalau lagi masak," ucap Reynand.
Si wanita lalu ber'oh'ria sambil mangguk-mangguk dramatis. "Oh, jadi kalau nggak masak aku nggak seksi gitu?"
Dengan wajah polosnya, si pria mengangguk tanpa ragu, kemudian mengiyakan. Sontak membuat si wanita langsung menoleh ke arah si pria dengan wajah tidak bersahabatnya.
"Apa kamu bilang?!" seru Aqilla tidak terima. Ia mematikan kompor lalu berbalik dengan kedua tangan berkecak pinggang, menatap lurus ke arah Reynand.
Pria itu menyengir lebar, secara pelan tapi pasti, ia kemudian melangkah maju dan memeluk tubuh sang istri.
"Kamu itu cantik, sayang, enggak seksi. Tapi kalau lagi masak, nggak tahu kenapa kamu jadi seksi. Padahal kalau dipikir-pikir kan dandanan kamu kacau banget kalau pas lagi masak beg--Akhhh! Kok malah dipukul?" protes Reynand tidak terima.
"Bisaan banget sih kalau ngejelek-jelekin istri."
"Kok ngejelekin? Aku muji loh," kata Reynand tidak terima.
Aqilla langsung berdecak sambil geleng-geleng tak percaya. "Sana mandi, aku siapin ini dulu. Mau bawa bekal enggak?"
Reynand mengangguk sebagai tanda jawaban.
"Ya udah, sana, mandi, aku siapin dulu."
Sekali lagi, Reynand mengangguk. Bergerak maju lalu memeluk istrinya dan mendaratkan ciuman di kedua pipi sang istri secara bergantian, sebelum akhirnya berbelok dan kembali ke kamar untuk mandi. Sedang sang istri, sibuk menuang hasil tumisannya ke dalam wadah, lalu menatanya di atas meja, bersama nasi dan lauk pauk yang lain. Setelah semua tertawa rapi di atas meja, perempuan itu kemudian beralih ke westafel untuk mencuci wajan dan beberapa alat masak yang lainnya.
Namun, saat tangannya baru saja menyentuh spon dan hendak mencelupkannya pada wadah kecil, yang berisi air yang sudah dituangi sabun pencuci piring, suara suaminya terdengar memanggilnya dengan kencang.
"Sayang, ini kemeja aku yang warna biru ke mana? Kok enggak ada?" teriak Reynand dari kamarnya.
Aqilla berdecak gemas. Kebiasaan suaminya itu memang tidak pernah berubah, berteriak seperti sedang berada di hutan saja, hanya untuk menanyakan barang dicarinya tidak berada di dalam pengelihatannya. Ia kemudian mematikan kran dan mengelap tangannya menggunakan serbet dan berjalan pelan menuju kamarnya.
"Kenapa?"
"Kemeja biru aku di mana?"
"Kemeja biru yang mana?"
Aqilla malah balik bertanya.
"Yang panjang. Yang kamu beliin pas ulang tahunku tahun lalu."
Kedua alis Aqilla terangkat tinggi. "Emangnya masih muat?"
"Enggak tahu juga sih, cuma, kan belum dicoba. Mana tahu masih muat," balas Reynand sambil mengangkat kedua bahunya.
"Kamu gendutan loh, pakai yang aja kenapa sih?" decak Aqilla gemas, tangannya kemudian menunjuk perut sang suami, yang memang terlihat sedikit membuncit. "Tuh, liat perut kamu udah segitu majunya."
Reynand berdecak tidak terima. "Aku belum segendut itu sayang. Lagian segini masih kurus kok, yang gendut itu kamu!"
Reynand memang suami yang sangat pemberani. Mengomentari bentuk tubuh sang istri tanpa rasa bersalah atau takut diomeli.
Aqilla mendengkus sebal, lalu melirik ke arah suaminya dengan tatapan sinis. "Ya, emang aku gendut. Tapi aku gendut juga gara-gara kamu!"
Dengan wajah polosnya, Reynand menyengir tanpa dosa, kemudian mengangguk, membenarkan.
"Iya, dong, kalau bukan karena aku mana bisa kamu gendut begini. Yang ada kurus kering kayak nggak dikasih makan--astagfirullah! Dipukul lagi sih?" protes Reynand tidak terima.
"Kamu itu nyebelin, Mas. Minggir! Jadi dicariin kemejanya, enggak?"
Reynand mengangguk polos lalu menggeser tubuhnya, agar tidak menghalangi sang istri mencari kemeja yang ingin dipakai.
"Nih!" kata Aqilla sambil menyodorkan kemeja yang Reynand maksud.
"Cepet amat," respon Reynand takjub.
"Ya, ngapain harus lama-lama, kalau bisa cepet," balas Aqilla.
Reynand mengangguk setuju, sambil mengacungkan jempolnya. "Memang andalanku kamu, sayang. Sini cium dulu!"
"Emoh! Buruan dipake, masih muat enggak. Kalau enggak ganti yang lain."
Aqilla mendorong wajah suaminya, agar menjauh darinya. Reynand cemberut tak terima lalu membuka kancing kemeja dan langsung memakainya.
"Tuh, masih muat, sayang," kata Reynand, kembali mengancingkan kancing kemejanya, "masih muat kan?"
__ADS_1
Aqilla meringis. Memang benar sih, masih muat masuk ke dalam tubuh suaminya. Tapi... Aqilla kemudian menggeleng tidak setuju secara tiba-tiba. Tampilan suaminya saat ini sama sekali tidaklah oke. Kemeja ini terlalu ketat di tubuh Reynand, perutnya yang sedikit membuncit jadi terlihat semakin kentara, dan itu benar-benar mengganggu penglihatan Aqilla.
"Ganti!" perintah Aqilla sambil menggeleng.
"Kenapa?" tanya Reynand tidak setuju.
Aqilla menghela napas lalu menyeret tubuh suaminya ke kamar mandi, yang ada cermin besarnya.
"Lihat dan perhatikan, cerminnya baik-baik!" intruksi Aqilla.
Reynand melakukan intruksi sang istri dengan patuh. Memutar tubuhnya di depan cermin dengan percaya diri.
"Ganteng kok," ucap Reynand narsis.
"Bukan masalah ganteng apa enggak, Mas. Tapi yang jadi masalah itu, perut kamu," decak Aqilla gemas.
Serius. Aqilla benar-benar merasa jika urat malu suaminya ini sudah putus, ia rasa.
"Kenapa? Seksi kan?"
"Seksi apanya? Dari mana seksinya sih, Mas?"
"Ya, enggak dari mana-mana, tetep dari perut dong, sayangku."
"Tahu lah, capek aku lama-lama ngomong sama kamu."
"Ya, udah, oke. Aku ganti," kata Reynand pada akhirnya.
"Terserah kamu!" balas Aqilla lalu meninggalkan suaminya begitu saja.
Ia lebih memilih keluar kamar dan kembali ke dapur untuk meneruskan pekerjaan mencucinya tadi, yang sempat tertunda. Tak berapa lama Reynand menyusulnya, pakaiannya sudah berganti kemeja berwarna coklat muda dengan kombinasi coklat tua pada bagian kerah dan manset lengannya.
"Sayang," panggil Reynand langsung memeluk perut buncit Aqilla, tangannya mengusap pelan perutnya, lalu ia kemudian menempelkan dagunya pada pundak sang istri. "Kalau hamil tua begini tuh, nggak boleh banyak ngambek loh."
Aqilla memutar kedua bola matanya, kesal. Persetan dengan sopan santun dan lain sebagainya. Ia tidak perduli. Setidaknya, untuk saat ini.
"Udah tahu istrinya lagi hamil tua, bukannya dimanis-manisin, malah dibikin kesel terus. Ya, gimana aku nggak ngambek?"
"Ya udah, aku minta maaf."
"Hhmm. Udah, sana buruan sarapan! Nanti kamu telat."
"Ini dimaafin apa enggak?"
"Kalau aku nggak maafin, mana mungkin aku nyuruh kamu sarapan, yang ada aku suruh kamu cuci piring-piring kotor ini."
"Selagi aku masih mampu ngelakuin sendiri, kenapa harus nyuruh orang lain? Ngehabis-habisin duit aja."
Reynand mangguk-mangguk setelahnya. "Kamu ini hemat apa pelit sih, yang?"
Aqilla menoleh ke arah Reynand dengan pandangan datar.
Membuat Reynand meringis lalu berkata, "Hemat deh, iya, kayaknya kamu lebih cocok disebut hemat."
#####
Aqilla bergerak gelisah di kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Ia tidak bisa tidur sejak terbangun jam satu tadi, sedang Reynand, suaminya tampak tertidur pulas di atas ranjang mereka.
"Mas," panggil Aqilla sambil menggoyangkan kaki Reynand.
Reynand tidak langsung bangun, bahkan ia hanya melenguh sebentar baru setelahnya ia kembali tertidur. Tidurnya benar-benar nyenyak.
Aqilla mengeram jengkel. "Mas, bangun dong!" serunya emosi.
"Hah?!" respon Reynand dengan spontan dan langsung bangun. "Kenapa? Kenapa?" tanyanya kebingungan.
Aqilla mendesah lalu mendudukkan bokongnya di tepi ranjang, tepat di sebelah Reynand.
"Aku mules dari tadi, Mas," cicit Aqilla takut-takut.
"Astagfirullah! Aku pikir kamu mau ngelahirin, sayang. Tahunya cuma mau laporan kalau mules. Kenapa, nggak berani ke kamar mandi sendiri? Ayok, aku temenin."
Kali ini Aqilla melongo. Serius, untuk detik ini ia bingung harus merespon suaminya ini bagaimana?
"Kok malah bengong, ayo, sayang! Nanti keburu keluar di sini."
"Aku bukan kebelet yang itu, Mas."
"Terus?"
Aqilla memandang Reynand ragu-ragu. "Aku kayaknya mau lahiran deh," cicitnya ragu-ragu.
"Ya udah, ayo kita--eh, apa kamu bilang tadi?" Reynand memandang Aqilla horor, "melahirkan? Kamu udah mau lahiran?" serunya heboh. "Terus ini gimana?"
__ADS_1
"Telfon Bunda, gih!"
Reynand mangguk-mangguk patuh. Lalu bergerak kebingungan mencari keberadaan ponselnya.
"Hape aku ke mana ini, yang?"
"Itu di meja, Mas. Kamu charger."
Reynand mangguk-mangguk paham, lalu meraih ponselnya dan langsung mencari kontak sang Bunda, lalu menghubungi Bundanya.
"Hallo, assalamualaikum!"
"Ya, wa'allaikumussalam. Ada apa, Nak?"
"Bunda bisa ke sini?"
"Loh, ada apa? Istri kamu sudah mau melahirkan?"
"Kayaknya gitu, Bun. Katanya udah mulai mules-mules nih. Rey bingung harus ngapain."
"Oke, oke, kamu tenang dulu, jangan panik! Ayah sama Bunda langsung berangkat."
"Iya, jangan lama-lama, Bun. Aku tungguin."
"Assalamualaikum!"
"Wa'allaikumussalam."
Tut Tut Tut
"Gimana?"
"Bunda mau on the way ke sini."
Aqilla mengangguk sambil mengelus perutnya. Ia kemudian berdiri dan kembali berjalan mondar-mandir. Sedang Reynand masih duduk di ranjang mereka dengan ekspresi kebingungannya.
"Ini aku harus ngapain, yang?"
"Ganti baju sana!"
Reynand mengangguk patuh, lalu turun dari ranjangnya. "Terus perlengkapan buat kamu?"
"Aku udah siapin. Ada di tas."
Reynand kembali mengangguk lalu segera berganti pakaian.
####
Reynand merasakan rambutnya sakit efek jembakan tangan dari Aqilla, telapak tangan pun terasa perih akibat cengkeraman dari sang istri. Memang benar, istrinya jauh lebih merasakan sakit yang luar biasa, tak sebanding dengan yang ia rasakan saat ini. Tapi tetap saja, ia merasa ingin protes. Serius, jambakan yang Aqilla berikan menimbulkan sensasi ngilu yang luar biasa. Jika ditanya ia ingin anak berapa, maka dengan lantang tanpa berpikir dua kali, ia akan berkata satu saja cukup. Selain tidak tega harus menyaksikan sang istri tercinta mengalami kesakitan yang begini lagi, ia juga belum siap mengalami kebotakan efek jambakan Aqilla.
"Ayo, Bu, sebentar lagi!" seru si Bidan mengintruksi agar Aqilla terus mengejan.
"Ayo, sayang, sebentar lagi. Kamu pasti bisa!" kata Reynand menyemangati.
"Akkkhhh.... sakit, Mas!" jerit Aqilla di sela napas ngos-ngosannya. Sekuat tenaga, ia masih berusaha untuk mengejan, meski rasanya ia seperti hampir kehabisan napas.
"Ayo, Bu, tinggal dikit lagi. Iya, ayo, Bu!"
Oek Oek Oek
Aqilla langsung bernapas lega setelah mendengar suara jeritan bayinya. Di sampingnya, Reynand langsung mengecup keningnya.
"Terima kasih, sayang. Kamu luar biasa, seperti biasa."
"Alhamdulillah, bayinya sehat, Pak. Cowok."
"Terima kasih, Dok."
"Cowok, sayang," bisik Reynand, kembali mengecup kening Aqilla. "makasih. Sekarang kita resmi jadi orangtua. Terima kasih."
"Selamat udah bisa jadi Ayah," bisik Aqilla membalas.
Reynand mengangguk. "Iya, sama-sama. Kamu juga, selamat udah jadi Ibu. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi, bisa kamu lepasin jambakan kamu sekarang? Rambutku rasanya mau rontok, sayang!"
**End!!!!!!!!
alhamdulillah, kelar, ya. lunas!
curhat dulu ya, authornya. hehe. eh, tapi mau ngucapin makasih dulu deh. Pertama-tama aku ingin mengucapkan terima kasih untuk Allah SWT, yang telah memberikan aku kesehatan mau pun kesempatan dalam mengerjakan ini. lalu untuk kedua orangtua aku, yang udah melahirkan aku tentunya. buat keluarga temen, dan juga pembacaku tercinta. buat yang ngedukung karirku di nulis(yang penuh liku, kerikil dan juga drama ini) pokoknya makasih, makasih, makasih, dan makasih. buat orang-orang spesial yang telah meremehkan aku dulu, hehe, terima kasih, berkat kalian aku jadi tahu kalau aku beneran pengen tetap dan bermimpi menjadi penulis. meski ya, agak-agak meragukan, ya. cuma gk papa. aku bahagia dengan yang aku pilih ini. saya bangga dengan mimpi gila saya, dan saya tidak mau menyerah di nulis meski begitu banyak cobaan yang telah saya dapatkan. hehe, curhatnya keblabasan, ya? oke-oke. gk akan saya terusin deh.
__ADS_1
ngomongin alur yuk, hehe, ada yang kurang puas gk nih sama part kali ini. perlu gk sih dikasih extra part atau semacamnya? kalau perlu, ketik di komen, ya, nanti kalo yang minta extra part banyak, mau sih saya bikinin. cuma kalo yang minta dikit dan ya, gk akan saya bikinin. udah cukup sih, kebanyakan juga part yang aku tambah di cerita ini. karena asal kalian tahu, ya, part ini tuh cuma mndek di part pov Reynand yang ulang tahun sama lamaran trs nikah. udh itu aja, sisanya spontan dibikin demi kontrak. kan, malah buka aib sendiri. Author kalian ini benar-benar deh. hehe, mon maap ya, kalau A/N nya lagi-lagi panjang. maklum, demi jumlah kata. heheheheheehehehehe. Mari kita akhiri cuap2nya sampai di sini. Terima kasih buat kalian. jangan lupa kasih kesan yang kalian dapet pas baca ini, ya, aku gk minta koin tips kok, gk minta vote jg, bodo amat, klian vote jg blom tentu menng. cuma minta tolong kasih kesan kalian pas baca ini, oke.
hehe, sampai bertemu di kisah absurd saya berikutnya. abis ini rajin up buat Jatuh Cinta Dadakan, ya. hehe, ada pembaca yang baca kisah kocak mereka? hehe, klo ada sampai bertemu di sebelah ya. sayang kalian semuaaaa 🤗🤗😍😗😙😘😚😗😙😘😚😚**