
#####
Hubunganku dengan Reynand masih belum memiliki status sampai saat ini, meski sudah berjalan lebih dari tiga bulan. Aku tidak masalah akan hal itu, toh, kami nyaman dengan hubungan yang kami jalani saat ini. Yang penting kita masih bisa saling mensupport satu sama lain, saling mendengar keluh kesah satu sama lain, dan saling percaya bahwa kami memiliki rasa yang tidak biasa terhadap satu sama lain.
Dua minggu saat kami mulai lebih dekat, Reynand sebenarnya ingin menawarkan status pada hubungan kami, tapi aku tolak. Bagiku, umur kami terlalu tua untuk berpacaran. Tapi jika memutuskan untuk langsung menikah, jelas terdengar terlalu terburu-buru. Aku lebih senang saat dia kemudian menawarkan hidup bersama kelak, yang dengan tidak tahu malunya, langsung aku terima begitu saja. Kalau begitu, aku rasa status hubungan kami ya calon patner hidup. Hahaha. Aneh kan? Dulu saat bersama Kenzo pun aku tidak seyakin ini dengannya.
"Ngelamunin apaan sih? Diajak ngobrol nggak nyambung."
Aku tersentak dari lamunanku. Saat ini kami sedang bermalas-malasan di bed sofa apartement Reynand, karena Reynand sedang sakit. Sehabis bertemu klien, Reynand memilih untuk pulang ke apartementnya yang jarang ditinggali. Kami berbaring sebelahan, aku menyandarkan kepalaku di dadanya, sementara tangan kiri Reynand merangkul pundakku.
"Eh? Kamu tanya apaan emang?"
Reynand berdecak sekali lagi. Ekspresinya terlihat sangat kesal, namun membuatnya terlihat imut di mataku.
"Mikirin apaan sih?"
"Kamu," jawabku jujur.
"Aku sudah sembuh, sayang," ucap Reynand sambil menatapku.
Aku langsung menyentuh dahinya yang masih panas, lalu mendengkus.
"Kamu masih demam, Rey. Ke rumah sakit aja, yuk," ajakku melepaskan diri dari rangkulannya.
Dengan gerakan cepat Reyanand menggeleng. "Baringan lagi, biar aku cepet sembuh." Ia kemudian menarik tubuhku agar berbaring di sampingnya. Ck, Reynand dengan sifat keras kepalanya. Mana mungkin mau ia kalau bukan karena maunya sendiri.
"Kalau aku ketularan sakit gimana?" candaku saat Reynand makin mengeratkan pelukannya.
"Aku yang bakalan rawat kamu, gantian," ucap Reynand tanpa beban.
"Pusing?" tanyaku saat Reynand memejamkan kedua matanya.
Ia hanya menjawabnya dengan gumanan sambil mengangguk.
"Mau teh?"
Reynand menggeleng. "Mau bobo aja sama kamu. Kamu nginep ya?"
Aku mengangguk meski dalam hati ingin menolak. Tapi kasian juga sih kalau aku tolak permintaannya. Enggak enak. Toh, dia lagi lemes gini, rasa-rasanya nggak mungkin kuat mau ngapa-ngapain aku. Tak berapa lama aku langsung mendengar suara dengkuran halus dari mulut Reynand, membuatku tanpa sadar tersenyum.
"Sudah tidur rupanya," gumanku sambil. Membenarkan selimutnya dan ikut terlelap setelahnya
*****
PRANG!!!
__ADS_1
Aku dan Reynand langsung terlonjak kaget saat mendengar suara benda jatuh. Di hadapan kami ada Tante Linda yang tengah memasang wajah shocknya. Astaga, Tante Linda! Buru-buru aku menjauhkan tubuhku dari Reynand.
"Apa yang kalian lakukan?" desis Tante Linda tanpa repot-repot menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
Aku panik. Kutolek Reynand, yang kini sedang memijit pelipisnya. Wajahnya masih agak pucat, meski tidak sepucat kemarin. Tanpa sadar aku meringis. Sepertinya Reynand masih sakit.
"Rey sakit, Bun. Minta tolong temenin Aqilla dan kita nggak lakuin apa-apa selain tidur," jawab Reynand tenang. Sementara aku blingsetan di sampingnya.
"Kalian pacaran?"
Reynand mendengkus. "Kita udah ketuaan untuk pacaran, Bun. Ohya, Bunda ngapain ke sini, pagi-pagi pula. Bunda harusnya istirahat aja di rumah."
"Bunda nggak lagi sakit kok. Lha wong hasil tes gula darah Bunda kemarin bagus," jawab Tante Linda. Kemudian menatapku dan juga Reynand bergantian. "Kalian yakin nggak pacaran?" tanyanya sekali lagi.
"Enggak, Bun, nggak pacaran. Tapi kami sedang dekat dan dalam masa penjajakan, ya Bunda, berdoa saja semoga Aqilla bisa segera menyandang status mantu Bunda."
Aku mengigit bibir bawahku panik, gimana aku bisa jadi mantu Bunda kamu, Rey, kalau kesan pertama yang aku tampilkan seburuk ini. Menginap di apartement anaknya sambil tidur saling memeluk satu sama lain. Hei, itu jelas kesan buruk.
"Kok kamu pucet, kamu ikut sakit?" kekeh Reynand jelas-jelas sedang menggodaku.
Aku mendengkus kasar. Bisa-bisanya dia bercanda di situasi seperti ini. Astaga.
"Bunda masih di sini, Rey!" decak Tante Linda terlihat kesal melihat putranya yang malah menggodaku. "Kenapa kamu bisa sakit?" imbuhnya bertanya sambil berjalan mendekat ke arah Reynand. Tangannya terulur menyentuh dahi Reynand.
"Rey manusia juga, Bun, masa nggak bisa sakit," gerutu Reynand.
"Kejauhan. Reynand nggak kuat nyetir," jawab Reynand bohong.
Jelas-jelas aku yang menjemputnya pulang bertemu klien, aku juga yang menyetir. Awalnya aku akan mengantarnya pulang namun ditolak mentah-mentah oleh Reynand. Alasannya karena ia tidak ingin membuat sang Bunda khawatir. Jadi dengan terpaksa aku mengantarnya kemari.
Pandangan Tante Linda beralih padaku. "Makasih ya, Nak Qilla, udah jagain anak Tante. Ini anak emang agak rewel kalau sakit, dia nggak ngerepotin kamu kan?"
Aku masih duduk di sofa dengan gelisah, kemudian menggeleng.
"Enggak ngerepotin kok, Tan."
"Enggak papa, Bun, itung-itung buat latihan," celetuk Reynand, yang sukses membuatnya mendapatkan pukulan ringan dari Tante Linda.
"Sakit, Bun!" protes Reynand cemberut.
Aku meringis. Sumpah, bingung mau bagaimana. Mau nafas saja rasanya takut setelah kepergok begini.
"Bunda bawa apa tadi?" tanya Reynand masih sambil mengusap lengannya. Kedua matanya menatap iba ke arah rantang yang tergeletak di lantai.
"Opor ayam."
__ADS_1
Reynand meringis. "Ya, kelihatan dari sini."
"Astagfirullah!" Tante Linda memekik panik saat menyadari rantang yang dibawanya tadi tumpah di lantai. "Opor ayam Bunda, Rey!"
Reynand turun dari bed sofa, berjalan mendekat ke arah Tante Linda.
"Masih bisa dimakan kok, Bunda tenang aja nanti Rey abisin." Ia tersenyum kemudian menoleh ke arahku. "Sama Aqilla," imbuhnya kemudian. Aku hanya mendengkus samar.
Tante Linda ikut menoleh ke arahku, kemudian menggeleng tak yakin. Membisikkan sesuatu ke telinga Reynand, membuat pria itu tertawa.
"Seri kok, Bun. Aqilla pasti juga mikir kalau kesan pertamanya buruk. Udah kita makan ini aja. Berbagi, biar agak romantis dikit. Bunda mending pulang," saran Reynand, mengusir Tante Linda secara halus.
Tante Linda mendengkus lalu berdiri. "Ya udah, Bunda pulang." Kemudian mendekat ke arahku. "Tante pamit ya, Nak Qilla. Kalau Rey nakal, sentil aja dahinya."
"Bunda," panggil Reynand memperingatkan.
"Iya, Tante hati-hati, ya. Apa mau saya anterin?" tawarku kemudian.
Tante Linda menggeleng. "Enggak usah, Tante sama supir kok ke sininya. Tante titip Rey, ya?"
Aku mengangguk.
"Inget, jangan neko-neko sebelum halal. Kalau sampai ketahuan lagi, Bunda sunatin lagi kamu," peringat Tante Linda sebelum meninggalkan apartement Reynand.
"Iya, Bundaku sayang."
Reynand kemudian mencium punggung tangan Tante Linda setelah aku melakukannya.
"Tante pamit ya, sayang," pamit Tante Linda sekali lagi.
Aku mengangguk, mengantarkan beliau sampai depan lift.
"Pusing," keluh Reynand setelah Tante Linda pulang. Ia kembali merebahkan tubuhnya di bed sofa, sambil memejamkan kedua matanya.
Aku menghampirinya, kemudian menempelkan telapak tanganku di dahinya. Mengecek apa masih demam atau tidak. Dan ternyata masih sedikit demam.
"Masih anget. Mau ke dokter aja?" tawarku sambil duduk di tepi sofa.
Reynand menggeleng. "Mau makan," rengeknya seperti anak kecil.
Aku mendengkus lalu berdiri. "Ya udah, aku siapin dulu makanannya."
Reynand mengangguk. "Makasih," bisiknya pelan.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
Tbc,