
#####
Aku tidak bisa berhenti tersenyum, sambil memandangi pundak polos Aqilla yang kini berada di dekapanku. Tubuh kami saat ini sama-sama sedang tidak berbusana, hanya tertutupi selimut putih. Ya, kami baru resmi menikah seminggu yang lalu di kota kelahiran Aqilla di Semarang. Tapi sekarang kami sudah kembali ke Jogja, lebih tepatnya di kamarku.
Beberapa menit yang lalu kami baru saja menyelesaikan kegiatan olahraga malam yang menguras keringat dam juga tenaga. Setelah kegiatan kami selesai, Aqilla langsung terlelap saking kelelahannya. Maklum, tadi siang ada acara ngunduh mantu yang diadakan di rumah Bunda, jadi wajar kalau ia kelelahan. Aku pun juga merasakan hal yang sama. Jadi, setelah merapatkan tubuhku agar lebih menempel padanya, aku pun terlelap setelahnya.
Lalu tahu-tahu aku sudah merasakan tepukan pelan di pundakku. Dengan sangat terpaksa aku membuka mataku, menatap Aqilla dengan ekspresi bingung.
"Kenapa? Aku baru tidur loh," keluhku sedikit jengkel karena tidurku diganggu.
"Lepasin ini!" Aqilla mengeplak lenganku yang kini sedang memeluknya, "udah masuk waktu subuh ini, kita harus mandi wajib juga. Kalau kita nggak bangun sekarang, bisa telat lagi ntar subuhannya," gerutunya kemudian.
Aku hanya tersenyum mendengar omelannya, tanpa melepaskan pelukanku. Bahkan membuatku dengan perasaan tak bersalah malah makin mengeratkan pelukanku, membuat Aqilla berdecak jengkel. Sedangkan aku terbahak puas dalam hati.
"Lepasin sekarang atau aku tendang selangkangan kamu ya, Mas," ancam Aqilla galak.
Aku langsung tertawa dan menjauhkan tubuhku darinya. Aqilla berdecak sekali lagi, lalu turun dari ranjang dengan santai, tanpa berusaha menutupi tubuhnya dengan sesuatu, membuatku menahan nafas secara reflek.
Astagfirullah, bini gue!
"Aqilla Khanza," panggilku dengan susah payah menahan emosiku agar tidak menyembur.
Sabar, Rey, sabar!
Aqilla kembali berdecak dan berbalik.
"APA?!"
"Mbokyo pake baju dulu," kataku mengingatkan.
"Ribet. Nanti juga mau dilepas di kamar mandi."
Dengan tanpa dosa dan cueknya, Aqilla melenggang masuk ke kamar mandi begitu saja, mengabaikan teguranku serta ekpresi mupeng-ku. Selama seminggu menikah dengan Aqilla, aku baru tahu tingkah ajaibnya yang luar biasa macam tadi. Yang tidak perlu aku jabarkan satu persatu, karena takut dimarahin si Author keganjenan yang sedang menunggu pujaan hatinya.
Ebuset, kenapa gue dibawa-bawa Mamas Rey!!!
Enggak papa, biar agak terkenal lo, Thor. Kali aja ada cowok jomblo juga yang baca cerita gue sama istri gue tercinta.
Mamas Rey.... yang gantengnya ngalahin Lee Jung Shin. Kalau emang ada yang jomblo juga, apa urusannya?
Ya, enggak papa. Kan lo jadi ada temennya.
Nggak perlu lo umumin di mari, gue juga udah ada temen yang jomblo, ya. Sembarangan! Udah, lanjut!
Back to skrip ya gaesss!
Yuk, mati!
Mari!!
Iya, itu maksud gue. Jari lu yang ngetik, woy. Elu yang typo cucunya Anakonda. Ngapain nyalahin gue.
Gue nggak nyalahin tuh.
Wah, kebangetan lu bikin dialog absurd beginian, Thor. Biar apa dah.
Biar kelihatan panjang skripnya.
"Rey! Mandi!"
Noh, dipanggil bini.
Iye, B aja lagi.
Aqilla langsung menghampiriku sambil menyerahkan handuk kimono milikku yang sama persis dengan miliknya. Dengan wajah sumringah, aku langsung menerimanya.
"Makasih, sayang," kedipku genit.
Yang jomblo, jangan iri. Termasuk lo, ya, Thor!
Terserah lo, Mamas Rey, bodo amat. Gue bikin lo mati, mampus.
Mampus, Authornya lagi sensi.
Aqilla mengangguk lalu sibuk mengeringkan rambutnya. Sementara aku langsung masuk ke kamar mandi, setelah memakai handuk kimono yang diberikan oleh Aqilla tadi. Hanya butuh waktu lima menit saja, aku sudah menyelesaikan ritual mandiku. Aku kemudian langsung keluar dan menemukan baju koko dan juga sarung yang sudah disiapkan Aqilla di tepi ranjang, sementara Aqilla kini sibuk memakai mukenanya, sampai tidak sadar aku sudah keluar.
"Buruan, pake bajunya. Sudah jam 5 lebih."
Oh, ternyata aku salah. Aku pikir dia tadi tidak sadar saat aku udah keluar dari kamar mandi. Tanpa membuang waktu, aku langsung bergegas meraih baju koko dan langsung memakainya. Begitu siap, kami langsung menunaikkan ibadah sholat subuh secara berjamaah.
Duh, adem rasanya, ya. Aku jadi merasa menyesal, kenapa kami tidak dipertemukan dari dulu. Kalau saja kami dipertemukan dari dulu, sudah pasti kita sekarang punya anak-anak lucu ngalahian anaknya Mbak Silfi dan Mas Arifin.
"Mau sarapan apa nanti?" tanya Aqilla tiba-tiba, berhasil membuyarkan lamunanku. Aku kemudian menoleh ke arah Aqilla yang kini sedang melipat mukenanya.
Aku mengubah posisiku menjadi duduk bersila. "Enaknya apa, ya?"
"Apa aja enak, yang penting bukan aku yang masak," jawab Aqilla cuek, sambil mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.
Buset, ini istriku sebenarnya niat nggak sih nawarinnya?
__ADS_1
"Tapi aku maunya kamu yang masak," rengekku dengan sengaja menggunakan nada manja.
"Sarapan sejuta umat?" tawar Aqilla membuatku mengernyit.
Apaan deh itu. Baru denger loh.
"Sejenis apaan tuh?"
"Nasi goreng, Rey, eh," jawab Aqilla, "Mas, maksudku," ralatnya kemudian.
Aku tersenyum gemas melihatnya, Aqilla memang masih saja suka lupa menyelipkan kata Mas di depan namaku. Jujur, aku sih tidak masalah, dia mau memanggil namaku saja atau nama panggilan sayang lainnya. Sama sekali tidak peduli gitu mau dipanggil apaan, tapi berhubung Ibu mertuaku yang menyuruhnya, jadi Aqilla hanya bisa menurut saja. Meski awalnya ia sedikit enggan dan seperti tidak rela, tapi, akhirnya, dia mulai membiasakan diri. Meski, lagi-lagi masih suka lupa.
Aku mangguk-mangguk sebagai tanda jawaban. Aqilla ikut mengangguk lalu berdiri.
"Mau pake tambahan apa aja?"
"Apa aja, yang pentingl halal dan bikin kenyang," kataku bersiap untuk kembali berbaring.
"Mau ngapain kamu?" tanya Aqilla heran.
"Tidur."
"Enak aja! Sana bantu-bantu beberes di luar."
Aku merengut tak rela. "Ngantuk, sayang. Capek juga. Lagian nanti juga ada tukangnya."
"Kamu ini, nggak boleh gitulah. Sana bangun! Aku mau turun ke bawah bantuin Bunda. Kamu kalau semisal nggak bantuin, ya nggak papa, tapi minimal kamu turun ke bawah deh. Nggak enak, ah, kalau kamu enak-enakan tidur, yang lain pada kerja. Ayo buruan, bangun!"
Tanpa sikap manis-manis manja, Aqilla langsung menarik tanganku agar terbangun. Buset, tenaganya boleh juga ternyata. Kalau aku ajak nambah satu ronde kuat ini mah.
"Mikir jorok pasti," celetuk Aqilla, yang berhasil membuyarkan lamunanku.
Aku meringis kemudian memeluk pinggangnya. "Peka banget sih istriku yang cantik ini."
"Udah, lepasin! Aku mau masak."
Dengan gerakan tak rela, aku pun melepas pelukanku dan membiarkannya keluar kamar. Tak berapa lama setelahnya Aqilla kembali.
"Nggak boleh tidur. Langsung turun, nanti sore kita pulang ke apartement kamu," katanya lalu keluar kamar begitu saja.
****
Sorenya, kami benar-benar langsung pulang ke apartement, setelah rumah Bunda sudah terlihat sedikit lebih bersih. Bersih dari tenda dan kursi-kursi tamu. Awalnya, aku ingin mengajaknya pulang siang karena istriku ini terlihat sangat kelelahan. Kelelahan karena acara kemarin, bantu-bantu Bunda, dan melayaniku tentunya. Tapi Aqilla menolak dengan alesan klise, enggak enak dengan mertua. Tapi lihatlah sekarang, begitu masuk ke dalam apartement dia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa panjang, wajahnya terlihat letih, membuatku benar-benar tak tega melihatnya.
"Capek banget aku rasanya," keluhnya dengan kedua mata terpejam. "Boleh minta tolong, Mas?" lanjutnya sedikit berteriak karena aku sedang berada di dapur untuk meletakkan beberapa makanan yang kami bawa.
"Aku capek, Mas," gumannya masih dengan kedua mata terpejam.
Aku tersenyum lalu kembali membelai rambutnya. "Iya, Mas tahu, sayang. Nggak usah kamu bilang juga kelihatan. Jadi mau minta tolong apa?"
"Tolong keluarin makanan yang kita bawa tadi, lalu kamu simpenin sekalian, ya?" Ia membuka kedua matanya, menatapku dengan tatapan memelasnya. Membuatku otomatis tertawa. Duh, jadi gemas pengen nyium.
Dengan gerakan cepat kilat aku kecup bibirnya yang tanpa lipstik atau apa pun itu, entah apa namanya itu, aku tidak perduli. Aqilla tidak memprotes hanya tersenyum lalu memiringkan tubuhnya memeluk perutku. Wow, tumben nggak misuh-misuh?
Tapi, kalau begini bagimana caranya aku memindahin makanan yang kita bawa tadi ke dalam wadah? Ada yang tahu caranya? Kalau ada, tolong segera beritahu aku, ya.
"Aqilla," panggilku pelan.
"Hmmm," respon Aqilla seadanya.
"Kenapa kamu mau nikah sama aku?"
Aqilla membuka kelopak matanya dan menatapku sengit. "Aku ngantuk loh, Mas, serius kamu tanya begituan, padahal mataku dayanya tinggal dua setengah watt?"
Aku terkekeh geli, lalu mengelus kepalanya. "Soalnya aku penasaran, sayang."
"Enggak tahu," jawab Aqilla asal dan lagi-lagi jawabannya singkat.
"Masa enggak tahu sih?" protesku agak kesal.
Wajar dong? Maksudnya begini, aku tahu betul sejarah cintanya dengan Kenzo. Mantan pacarnya dulu. Bisa dibilang hubungan mereka berakhir karena Aqilla yang seakan takut untuk menikah. Kenzo yang sudah lumayan sudah sangat menginginkan pernikahan, sementara Aqilla terlihat enggan untuk menikah. Masalah inilah yang menjadi pemicu retaknya hubungan mereka. Jadi wajar dong, kalau aku sangat ingin tahu alasan kenapa ia dengan mudahnya kuajak menikah sementara dengan Kenzo dulu tidak.
"Ya, emang nggak tahu, Mas. Semua berjalan begitu aja dan tahu-tahu aku langsung semangat kamu ajak nikah. Meski waktu itu kamu bercanda."
"Aku selalu serius sama kamu. Nggak ada tuh yang namanya bercanda segala," balasku tak terima.
Enak saja. Bahkan saat dinikahan Risha aku serius loh, untuk mendaftarkan Bunda supaya menjadi ibu mertuanya. Masalah seperti ini, menurutku tidak bisa dibercandain. Meski aku tahu waktu itu dia masih berstatus pacar orang. Sebut aku gila, tapi aku tidak peduli. Kan katanya cinta itu gila.
"Tapi serius loh, Mas. Aku aja juga bingung kenapa sama kamu aku nggak nemuin keraguan pas kamu ajak nikah. Kan aneh. Padahal dulu sama Kenzo...."
Jawaban menggantung dari Aqilla membuatku senang sekaligus kesal. Senang karena aku yang telah memenangkan hatinya, tapi kesal karena dia ngungkit mantan. Eh, sebentar,kan aku dulu ya, yang ngungkit, kenapa aku yang kesal?
"Kamu selalu ragu," kataku kemudian melanjutkan.
"Hampir," koreksi Aqilla membuatku mendengkus samar. Meski sedikit tidak rela, aku akhirnya mengangguk pasrah.
"Iya, kamu hampir selalu ragu diajak nikah Kenzo. Kamu yakin nggak tahu alasannya?"
Dengan polosnya Aqilla menggeleng.
__ADS_1
Ini serius tidak sih, masa hal sebegini pentingnya tidak tahu.
"Karena aku lebih ganteng?" pancingku sambil memainkan kedua alisku naik-turun.
Namun, kalian tahu apa respon istriku? Yap, Aqilla langsung terbahak. Ia bahkan sampai bangun dari rebahannya dan kini sedang menatapku sambil menggelengkan kepalanya. Eh, ini maksudnya aku nggak ganteng gitu?
"Enggak ada. Apaan, jelas gantengan Kenzo ke mana-manalah, kalau dibandingin kamu," ucap Aqilla disela tawanya.
Setelah mengataiku tidak setampan mantan pacarnya, dia bisa terbahak dengan puas?
Dengan ekspresi frustrasiku, aku langsung menatapnya tak percaya dan menggeleng dramatis. Egoku sebagai pria langsung tergores, aku tidak terima, ini tidak bisa dibiarkan. Hello, suami mana yang rela dibilangkan tidak ada apa-apanya dibanding mantan kekasihnya? Tidak akan ada. Jelas tidak akan ada. Semua pasti tidak akan rela.
Namun dengan gerakan tiba-tiba, Aqilla menempelkan telapak tangannya di pipi kiriku sambil tersenyum jahil.
"Cemburu?" goda Aqilla dengan sengaja, bahkan dengan wajah tanpa dosanya ia masih sempet-sempatnya memainkan kedua alisnya naik-turun. Membuat emosiku makin meradang.
"Kenzo mungkin jauh lebih ganteng ketimbang kamu, tapi bukan berarti kamu nggak ganteng, sayang. Lagian meski Kenzo lebih ganteng, itu nggak akan ngaruh apa pun buat aku, atau pun hubungan kita. Karena aku sayang dan cintanya sama kamu, sedang Kenzo sayang dan cintanya sama Raisa. Okay? Kamu tidak harus cemburu akan kegantengannya, karena kamu punya kharismatik tersendiri yang membuatku jatuh cinta terus-terusan tiap hari."
Secara mati-matian aku menahan diriku untuk tidak tersenyum. Meski tidak dapat kupungkiri hatiku menghangat dan aku sangat bahagia mendengar pengakuaannya. Tapi tetap saja, aku rasanya masih agak-agak ngambek dengan kalimatnya tadi. Enak aja, masa aku nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan mantan pacarnya itu.
"Ngambek?"
"Jelas," jawabku tanpa ragu.
"Yakin? Berarti jatah malam ini libur dong?"
Aku langsung menatapnya serius sambil melotot tajam, baru kemudian menggeleng tidak setuju. "Enggak dong. Kan belum tanggal merah. Kalau kebanyakan liburnya nanti Reynand junior nggak jadi-jadi," keluhku membuat Aqilla tertawa. Wajahnya kini sudah tidak terlihat mengantuk lagi.
"Ya udah, sana mandi. Habis ini pijat plus-plus ya?" kedipnya sebelum berdiri menuju dapur. Membuatku langsung terbahak dan hanya geleng-geleng kepala melihatnya menggulung rambut panjangnya.
Aku menggeleng tidak setuju, lalu mengekor di belakangnya.
"Aku bantuin kamu dulu deh, habis itu kita mandi bareng," kataku sambil mengedip genit.
Aqilla mendengkus lalu geleng-geleng kepala. "Ya, udah aku yang mandi, kamu yang beresin ini."
Loh, kok?
"Kenapa malah bengong?" sindir Aqilla sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, kedua matanya menyorotku dengan datar. Membuatku meringis dan akhirnya harus memilih untuk mandi.
"Ya, udah, iya, iya. Aku mandi," kataku pasrah.
Aqilla geleng-geleng kepala dan mulai sibuk menuang masakan yang kami bawa dari rumah Bunda, bibirnya pun tak berhenti menggerutu, "Orang disuruh mandi kok susahnya minta ampun. Kamu susah begini, gimana anakmu nanti?"
"Iya, iya, aku mandi, yang. Enggak usah nyanyi!" kataku judes, lalu meninggalkan dapur. Dapat kudengar samar-samar tawa renyah dari Aqilla setelahnya. Membuatku ikut-ikutan menggerutu setelahnya.
#####
"Mau makan dulu?" tawar Aqilla saat aku keluar dari kamar mandi.
Aku menggeleng sambil menggosok rambutku menggunakan handuk dan duduk di sofa. Aqilla baru keluar dari dapur, hendak masuk ke dalam kamar kami.
"Nanti deh, kamu mandi aja dulu, sana!"
Aqilla mengangguk setuju, lalu masuk ke dalam kamar. Sedangkan aku memilih untuk meraih remote dan menyalakan televisi, agar tidak bosan menunggu Aqilla mandi. Tahu sendiri kan, perempuan kalau sudah masuk ke kamar mandi, rasanya seperti tidak mau keluar lagi, saking betahnya. Lama banget, heran, apa aja sih yang mereka lakukan?
Hampir butuh dua puluh menit, akhirnya Aqilla keluar dari kamar. Pakaiannya kini sudah berganti piyama, rambutnya pun kini sudah diikat asal-asalan, sudah bukan kucir kuda lagi.
"Aku siapin makannya sekarang?" tawar Aqilla.
"Nanti deh, aku masih kenyang. Sini duduk dulu!" kataku sambil menepuk sofa yang kosong.
Aqilla mengangguk lalu duduk di sebelahku. Ia kemudian langsung menyenderkan kepalanya di pundakku, lalu dengan gerakan sigap, aku merangkul pundaknya.
"Capek? Mau pijit plus-plusnya sekarang?"
Dengan gerakam tiba-tiba, Aqilla mengangkat kepalanya dari pundakku. Menatapku tajam sembari diiringi decakan kesal dan pelototan tajam.
"Aku tadi cuma bercanda, Mas, nggak usah kamu tanggepin serius juga dong."
"Loh, serius juga nggak papa kok. Kan kita sudah halal," kataku sambil mengerling jahil.
Aqilla mendengkus sekali lagi, lalu secara tiba-tiba, ia menggeser tubuhnya, menjauh dariku.
"Loh, kok gitu sih?" protesku tak suka.
"Habis kamu ganjen. Aku males."
Astagfirullah! Suami sendiri dikatain ganjen?
**Tbc,
double-up!!!!
mon maap atas kegajean part ini, semoga kalian tidak mendadak kabur dan pindah ke lain hati gegara baca ini part 😝
udah sekian, terima kasih.
see you next part 🤗😍😘**
__ADS_1