Telat Nikah?

Telat Nikah?
Pov Reynand


__ADS_3

#####


"Yang, mau makan apa?"


Aku melirik Aqilla sekilas, meraih tangannya lalu meremasnya perlahan. Saat ini kami sedang berada di perjalanan pulang. Sejak tadi, ia banyak diam, sudah tidak menangis lagi, memang, tapi itu justru membuatku takut.


Aqilla hanya menggeleng sebagai tanda jawaban.


"Tapi kamu belum makan siang lho."


"Kita sama-sama belum makan siang, Mas, kalau kamu lupa," balas Aqilla dengan wajah sembabnya.


Aku menghela nafas pendek, lalu mengangguk, membenarkan ucapannya.


"Iya, kita emang sama-sama belum makan siang. Makanya aku nawarin kamu, kamu mau makan apa kali ini?"


Aqilla menggeleng. "Terserah. Aku belum laper."


"Kamu juga perlu makan sayang, jangan begini dong. Aku tahu ini berat, tapi, plis, jangan begini!"


Dengan kedua mata memerahnya, Aqilla memalingkan wajah ke luar jendela dan berkata, "Aku mau pulang."


Aku kembali menghela nafas lalu mengangguk pasrah. Setidaknya aku harus menjaga perasaannya, bagaimana pun, ia sakit secara fisik dan juga psikisnya.


"Kalau pengen sesuatu, bilang, ya," kataku sambil mengelus pundak Aqilla.


Aqilla tak bersuara, dan hanya mengangguk sebagai tanda jawaban. Aku kembali menghela nafas dan mencoba untuk fokus menyetir, setidaknya, aku harus memahami perasaan Aqilla yang sedang sangat terpukul saat ini. Sejujurnya, yang terpukul bukan hanya Aqilla, aku pun sama terpukulnya. Hanya saja, karena aku pria dan kepala rumah tangga, aku tidak boleh terlalu menunjukkan kesedihanku. Aku harus kuat dan tegar, meski rasanya, aku sama saja, seperti ingin menangis karena telah gagal menjadi seorang suami yang baik mau pun calon Ayah yang baik. Tapi sekali lagi, aku harus tegar dan bisa mengkuatkan Aqilla.


Begitu sampai di apartemen kami, Aqilla langsung bergegas masuk ke dalam kamar. Aku tidak berani masuk, karena takut berbuat salah, yang mungkin membuat moodnya memburuk. Aku kemudian memilih duduk di sofa sembari mengeluarkan ponselku dari saku celana, Mencari-cari kontak Bunda dan langsung menghubungi beliau.


"Ya, assalamualaikum! Ada apa, Rey?" sambut Bunda, begitu sambungan telfon terhubung.


Jantungku rasanya seperti diremas detik ini juga, mendengar nada suara Bunda yang begitu terdengar antusias dan bahagia. Semenjak tahu kalau Aqilla juga sedang hamil, perasaan Bunda sangat bagus. Bahkan, gula darah beliau selalu stabil, tidak pernah berlebihan lagi. Berat, rasanya harus berbagi berita tak mengenakkan begini. Ya, Tuhan, aku harus bagaimana?


"Nak! Kamu masih di sana? Telfon kok nggak ngomong? Kalau mau ngomong, ya, ngomong dong, jangan diam saja!"


Kedua mataku tiba-tiba terasa panas. Aku ingin menangis.


"Bun," panggilku dengan nada suara sedikit bergetar, karena menahan tangis.


"Kamu ini kenapa to? Jangan bikin Bunda takut, Rey? Ada apa, bilang sama Bunda. Istri kamu sehat-sehat saja kan?"


"Bunda bisa nggak dateng ke apartement kami? Aku butuh bantuan Bunda."


"Ya, udah, tunggu sebentar! Bunda nunggu Ayahmu dulu, ya?"


Aku mengangguk. "Iya, Bun, Rey tunggu. Udah, Bun, gitu aja. Assalamualaikum!"


"Iya, Wa'allaikumussalam!"


Tut Tut Tut


Aku kemudian meletakkan ponselku di atas meja, lalu meraup wajahku dengan frustrasi. Melirik ke arah kamar sebentar lalu menyandarkan punggungku pada badan sofa. Aku butuh menjernihkan otakku sejenak.


Baru saja aku menejamkan kedua mataku, ponselku tiba-tiba berbunyi, membuatku sedikit tersentak kaget dan bangun dari sandaranku lalu meraih ponselku yang tergeletak di atas meja. Nama Pras yang tertera di layar ponsel.


"Ya, Pras. Gimana? Ada trouble?" Aku bertanya sambil memijit pelipisku yang terasa berdenyut.


"Enggak, Mas, cuma mau nanya. Ini kita ke lokasinya, saya berangkat sendiri dulu apa nunggu Mas Rey terus kita berangkat bareng, Mas? Sorry, Mas, tanya buat memastikan aja. Takutnya nanti saya nungguin Mas Rey, eh, Mas Rey-nya berangkat duluan. Kan nggak enak, Mas."


Aduh, aku lupa. Siang ini kan harusnya aku dan timku harus ke lokasi untuk melihat tanah klien kami yang ingin renovasi rumah.


"Waduh, lupa aku, Pras. Sorry, nih, ini kamu lagi sama Mayang nggak?"


"Oh, Mbak Mayang. Ada ini, Mas, mau ngomong?"


"Iya, tolong kamu kasih hape kamu ke dia. Biar aku ngomong sama dia."


"Hallo, Mas, ini gue Mayang. Kenapa?"


Mayang sebenarnya bukan anak Jakarta, tapi kami dulu sempat sekantor waktu kami sama-sama bekerja di Jakarta, karena dia juniorku, kami lumayan akrab jadi lebih suka menggunakan bahasa lo-gue karena terbiasa begitu.


"Sorry, nih, May, nanti untuk ke lokasi klien kita nanti, lo bisa temenin Pras dulu enggak? Gue lagi ribet, nih, nggak bisa balik ke kantor juga."


"Loh, emang kenapa, Mas? Mbak Qilla-nya nggak kenapa-kenapa tapi, kan?"


"Ya, itu dia, dia lagi... nanti deh, kalo ada apa-apa gue kabarin. Ini sekarang dia lagi butuh gue banget soalnya, May. Tolong lo temenin dia dulu, ya."


"Iya, Mas, santai lah. Nanti kalau ada apa-apa sama Mbak Qilla kabar-kabar, ya."

__ADS_1


"Iya, nanti gue kasih kabar."


"Iya, Mas. Baek-baek, ya. Ada lagi?"


"Ohya, nanti kalau udah selesai ketemu kliennya, si Pras langsung suruh bikin laporannya, ya, gue tunggu sampai malem."


"Wadalah, nggak besok-besok aja, Mas? Harus malem ini banget."


"Iya, soalnya kliennya temen gue. Biar prosesnya cepet juga, May."


"Ya udah, oke, Mas. Kita mah, manut atasan."


"Iya, lah, gue yang bayar kalian."


"Iya, iya, siap, boskuh!"


"Ya udah, gitu aja, gue tutup, ya?"


"Iya, Mas, sehat-sehat buat keluarga kecilnya, ya. Doa gue selalu menyertaimu, Mas!"


"Iya, thanks, ya!"


Aku kemudian langsung menutup sambungan telfon dan meletakkan ponselku kembali di atas meja. Kembali berniat untuk menyandarkan punggungku pada sofa, namun harus kuurungkan karena aku mendengar suara bell berbunyi. Aku kemudian langsung berdiri dan membuka pintu.


"Qilla mana?" tanya Bunda, saat aku membuka pintu.


Bunda kebetulan datang bersama Ayah. Aku kemudian mempersilahkan keduanya untuk masuk baru kemudian menjawab, "Ada di kamar."


"Memangnya ada apa to? Kok sampai Ayah harus ikut ke sini?"


"Duduk dulu, Yah, nanti aku jelasin. Ayah sama Bunda mau minum apa?" tawarku pada Ayah dan Bunda.


"Kayak sama siapa kamu ini to, Rey. Langsung bilang saja, nanti kalau haus kita bisa ambil sendiri. Jadi, ada apa?"


Aku menghela napas lalu duduk di sofa single, sedang Ayah dan Bunda duduk di sofa panjang.


"Aqilla mengalami Blighted ovum."


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un! Terus gimana keadaan Qilla sekarang?"


Aku meraup wajahku. "Shock sih, Bun, yang jelas. Tadi pas masih di ruang periksa sih masih sempat nangis, tapi pas kita jalan pulang, cuma diem aja, Bun. Aku jadi takut deh. Dia juga belum makan siang, pas aku ajak katanya belum lapar."


Aku mengangguk, lalu bangkit berdiri, dan mengantarkan Bunda menuju kamar kami.


Tok Tok Tok


Meski pintu kamar kami terbuka, aku tetap mengentuknya. Agar Aqilla tidak terkejut dengan kehadiranku dan juga Bunda.


"Sayang, ini ada Bunda. Kita boleh masuk?" tanyaku hati-hati.


Sebisa mungkin Aqilla memaksakan senyumnya, dan mengangguk. Setelah Bunda masuk, aku keluar dan menemani Ayah.


"Gimana keadaan istrimu?"


"Masih kayak tadi, Yah."


Aku menghela nafas sambil menyandarkan punggungku ke badan sofa.


"Mertuamu sudah kamu kasih kabar?"


Aku menggeleng. "Belum."


"Kabari dulu, mereka juga berhak tahu kondisi Qilla," kata Ayah menasehati.


Aku mengangguk setuju, lalu meraih ponselku yang tergeletak di atad meja. Namun, rasa ragu itu tiba-tiba hadir. Aku harus menelfon siapa? Rasanya tidak tega kalau harus memberitahukan berita ini ke Ibu langsung melalui telfon.


"Kok malah ngelamun, ayo buruan ditelfon!"


Ayah kembali bersuara, membuyarkan lamunanku sejenak. Aku kemudian menoleh ke arah Ayah dengan pandangan bimbang.


"Rey bingung mau telfon siapa? Mau telfon Ayah atau Ibu langsung, rasanya nggak tega, Yah."


"Telfon Iparmu kalau begitu, biar disampaikan Iparmu nanti," saran Ayah, yang langsung aku angguki setuju.


Aku kemudian langsung mencari-cari nomor ponsel Mas Adi, setelah ketemu, aku langsung menghubunginya. Tidak butuh waktu lama, sambungan pun langsung terhubung.


"Ya, hallo, assalamualaikum! Kenapa, Rey? Tumben nelfon."


Aku mengusap belakang kepalaku salah tingkah, bingung juga harus menjelaskannya.

__ADS_1


"Rey? Masih di sana kan?"


"Eh... masih, Mas. Gimana keluarga, pada sehat kan, Mas?"


Aku memilih berbasa-basi sebentar, karena tidak berani bicara secara langsung. Rasanya juga kurang sopan, kalau aku langsung memberitahu berita tak mengenakkan begini, tanpa berbasa-basi sebentar.


"Sehat, Rey, alhamdulillah. Ponakan kalian udah mau belajar miring, nih. Gimana kabar ponakanku? Sehat-sehat kan?"


"Itu dia, Mas, aku telfon mau ngasih berita kurang mengenakkan."


"Kurang mengenakkan gimana, Rey? Qilla sama ponakanku baik-baik saja kan?"


"Qilla, insha Allah baik-baik saja, Mas. Tapi ponakan Mas Adi..."


"Kenapa?"


"Ponakan Mas Adi nggak ada, Mas. Maaf."


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Maksudnya, Qilla keguguran?"


"Blighted ovum, Mas. Mas Adi bisa bantu ngomong ke Bapak sam Ibu? Aku nggak tega nih, Mas, mau ngasih kabar langsung ke beliau."


"Iya, iya, bisa, bisa. Nanti masalah Ibu sama Bapak biar aku yang kasih tahu pelan-pelan ke mereka. Terus, ini sekarang Qillanya gimana?"


"Qilla shock banget, Mas, banyak diem pas pulang dari RS, sekarang lagi ditemenin Bunda."


"Terus tidakan yang mau diambil apa?"


"Belum tahu, Mas. Masih mau dirundingin nanti setelah Bapak sama Ibu ke sini. Tapi, dokter nyaranin buat kurete, soalnya takutnya kalau dibiarin luruh sendiri prosesnya lama, Rey juga agak takut ada resikonya."


"Ya udah, kalau gitu, aku langsung pulang ke rumah Bapak ngasih kabar ini terus ke sana. Kalau ada apa-apa, langsung kabarin aja."


"Iya, pasti. Makasih ya, Mas."


"Iya, santai. Kayak sama siapa aja. Aku tutup, ya?"


"Iya, assalamualaikum."


"Wa'allaikumussalam."


Tut Tut Tut


"Gimana?" tanya Ayah.


"Iya, nanti Bapak sama Ibu mau ke sini."


Ayah mengangguk. "Ya udah, nanti kita pikirkan sama-sama untuk jalan keluarnya. Semoga nanti semua baik-baik saja, kamu yang kuat, Rey. Ayah tahu ini berat, tapi ingat kamu itu pria, suami, dan juga kepala rumah tangga. Seterpukulnya kamu saat ini, kamu tetap harus bisa menguatkan istrimu, jangan perlihatkan sedihmu." Kemudian beliau menepuk pundakku, bermaksud menguatkanku.


Namun, bukannya kuat atau pun tegar. Aku justru merasa lemah. Kedua mataku mendadak terasa memanas, aku ingin menangis detik ini juga.


"Doain, Rey, Yah. Semoga Rey bisa kuat, biar bisa menguatkan Qilla."


"Iya, udah. Nggak usah nangis, laki-laki kok nangis. Malu sama kucing," gurau Ayah sambil menepuk pundakku sekali lagi.


Aku terkekeh lalu mengangguk, mengiyakan.


"Sana, mending kamu ke kamar, tanyain istrimu mau makan apa, terus kita delevery order," suruh Ayah sambil menepuk pahaku, "Ayah udah laper ini, tadi rencananya mau pulang terus makan, tapi malah diajak Bundamu ke sini. Sana!"


Aku kemudian mengangguk, lalu berdiri dan bangkit dari sofa, berjalan menuju kamar.


Sesampainya aku di depan pintu, aku langsung menghentikan langkah kakiku secara reflek. Jantungku terasa ditikam. Melihat Aqilla sedang menangis tersedu di pelukan Bunda benar-benar terlihat memilukan. Aku tidak sanggup melihatnya, rasanya benar-benar menyakitkan.


Kumohon kuatkan aku, ya Tuhan!!!


**Tbc,


yuhuuuuu, saya kumbek, masih ada yg menunggu kisah absurd bikinan saya yang makin gaje ini 😝


dududu, sepi ya, macem biasa.


wakss, tapi gk papa, saya ikhlas. wong sudah terbiasa, biasanya juga sepi. maklum sih, alurnya gk seseru lapak sebelah, jadi pada males gitu deh mau pada komen. gk papa sih, saya paham, mengerti kok. cuma dibaca aja juga, ya, alhamdulillah aja lah. dari pada nggk ada yang baca. ya terima ae lah, ya.


oke, oke, saya udah mulai ngelantur kejauhan sepertinya. sudahi saja kali, ya, dari pada makin ngaco 😂


eh, eh, aku mau cerita bentar deh, seklian ngasih fakta, jadi smlm ada yg komen dan ngira klo saya itu tuh paramedis gegara adegan ke dokter kandungan kmrin. jadi begini, saya bukan paramedis, ya, bukan dokter, perawat, apa lagi bidan. saya ini cuma penjahit. iya, penjahit kampung yang hobi dan demennya ngayal gitu. gimana ceritanya saya bisa jadi paramedis, lha wong saya ini cuma lulusan smp. aib sih ini sebenarnya, cuma ya, gimana, ya, saya memang cuma lulusan itu. malu??? jelas lah, yg bener aja kau. cuma gk papa, meski saya cuma lulusan smp, seenggaknya saya mau belajar tentang kepenulisan kok. ya, meski lagi-lagi cuma bisa ngandelin mas gugle ya. cuma gk papa. syukuri aja. yg penting masih ada kesempatan utk tetap belajar. kan belajar bisa dari mana aja 😆😝😝😝😜#ngeles. lagian utk situasi kemarin aku tuh cuma ngira2 aja, gtu, trs utk beberapa penjelasan saya ngandelin google. iya, semua itu hasil copas gtu utk penjelasan Blighted ovum. yah, meski saya sempet nyari2 info dulu sih itu, di sela-sela jhit suka nyempetin baca2 artikel tentang Blighted ovum, meski otak tak seberapa saya sering kali pusing ya, cuma tetep saya baca sampai lumayan blenger 😆😝😝


udah sih, ya, cuap-cuap unfaedahnya. soalnya belum tentu dibaca juga gitu lohhh😆😝


see you next part, jangan pada bosen bacanya, ya 🤗😍😘😚😗😙**

__ADS_1


(mon maap, A/N nya kepanjangan. Demi memenuhi target jumlah kata soalnya. 😆😝🙏🙏🙏🙏)


__ADS_2