
"Aqilla!!"
Aku memanggil nama Aqilla dengan dingin. Kedua mataku menatap nyalang ke arahnya yang baru saja berpelukan dengan Kenzo, mantan pacar Aqilla. Dengan langkah lebar aku langsung menghampirinya.
"Rey, kamu ngapain di sini?" tanya Aqilla tanpa merasa bersalah.
"Ngapain aku di sini?" ulangku dengan nada menyindir. "Harusnya aku yang tanya itu, Aqilla. Ngapain kamu di sini, padahal jelas-jelas tadi kamu bilang mau begadang nyelesain desain kamu. Ini yang kamu bilang begadang? Ini yang kamu bilang nyelesain desain kamu?" bentakku emosi. "Aku nggak nyangka kamu kayak gini," gumanku kemudian, namun bisa kupastikan Aqilla mendengarnya dengan jelas.
"Kayak gini?" ulang Aqilla dengan raut wajah tak terima, jelas. Dan aku langsung menjawabnya dengan anggukan kepala yakin. "Maksud kamu apa itu, Rey? Kok kamu jadi nuduh aku yang enggak-enggak gini?"
"Aku nggak nuduh, tapi aku ngomongin fakta," tegasku kemudian.
"Apa?! Fakta kamu bilang, kamu nggak tahu apa-apa, Rey. Kamu ambil kesimpulan sendiri dari apa yang kamu lihat, tanpa mau tau apa yang sebenarnya terjadi dan itu kamu sebut fakta. Lucu sekali kamu, Rey."
Aqilla terkekeh miris sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kedua matanya menatapku malas.
"Oke. Anggap aja aku yang salah karena aku pria dan kamu yang benar karena kamu perempuan."
"Bro, kayaknya--"
"Bukan urusan lo," ketusku memotong ucapan Kenzo. "lo sadar nggak sih, gara-gara lo gue berantem sama Aqilla. Lo itu udah punya bini, jangan menimbulkan fitnah dan bikin image jelek buat calon istri gue dong."
"Gue nggak maksud--"
"Tapi buktinya--"
"Serah kamu, Rey! Aku mau pulang. Sebebas kamu mau mikir yang kayak gimana, yang penting aku nggak seperti yang kamu tuduhkan ke aku barusan," ujar Aqilla terlihat frustasi dan juga putus asa.
Ia menatapku datar lalu beralih pada Kenzo. Saat pandangan mereka bertemu, Aqilla tersenyum, meski aku tahu jika itu hanya senyum paksaan.
"Aku duluan ya, Ken," pamit Aqilla langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa berpamitan denganku.
Aku hanya meringis menatap mobil milik Aqilla yang kian menjauh.
"Gila! Lo beneran cemburu sama gue, Rey," seru Kenzo setelah mobil Aqilla sudah hilang dari pandanganku.
"Enggak. Itu cuma karena akting gue aja yang kelewat bagus," balasku sambil memainkan alisku naik turun.
Kenzo bergidik, membuatku tertawa. Ya, adegan barusan memang hanya skenario semata dalam rangka memberi kejutan untuk Aqilla yang akan berulang tahun besok. Bukan karena aku yang cemburu buta ya, meski aku akui, jika aku tetap merasa cemburu melihat mereka tadi.
"Serem lo. Besok-besok coba casting deh, kali aja bisa gantiin Aliando," celetuk Kenzo asal. "Gue langsung cabutlah, tugas gue udah kelar kan ini?"
Aku mengangguk sambil mengacungkan jempol. "Sip. Akting lo tadi juga keren kok, gue suka. Thanks, ya."
"Ya, asal jangan lupa bayarannya aja."
"Diskonan yang gue kasih masih kurang?"
Aku mendengkus, menatap Kenzo tak percaya. Potongan harga yang aku kasih lumayan gede untuk desain calon rumahnya beserta istrinya dan sekarang dia minta bayaran. Minta dirobohin kali ya, Cafe-nya.
"Bercanda, Rey. Tatapan mata lo serem amat, udah kayak mau ngerobohin Cafe gue," kelekar Kenzo membuatku bertambah kesal.
"Emang gue kepikiran mau ngerobohin Cafe lo," ketus gue galak. "Udah ah, gue cabut duluan. Mau tidur, buat persiapan besok."
Tanpa menunggu jawaban dari Kenzo, aku langsung meninggalkannya menuju mobil. Masa bodoh deh, kalau dia mengumpati aku di belakang sana.
****
"Semua udah oke, Ris?" tanyaku pada adikku satu-satunya, yang kuberi tugas paling penting untuk menyiapkan tempat pesta kejutan untuk Aqilla.
Sedangkan aku sendiri masih sibuk di luar, mau ketemu calon klien yang akan menggunakan jasaku.
"Sedang proses, mas. Kamu kapan ke sininya? Baju yang kamu pesen udah kamu ambil belum? Jangan sampai lupa loh, aku nggak mau direpotin sama urusan itu. Cukup ngurusin tempat sama hidangan."
"Iya, santai. Urusan baju udah aku serahin ke Mbak Silfi kok, inshaAllah aman."
"Oke. Kerja yang bener sono! Biar cepet kelar. Aku tutup."
__ADS_1
"Iya, makasih adikku sa--"
Tut Tut Tut
Aku hanya mendengkus karena Arisha yang langsung mematikan sambungan telfonnya.
"Dasar adik durhaka," gerutuku kesal.
Kemudian kuletakkan ponselku di atas meja, namun tak lama setelahnya ponselku kembali berdering. Bukan nama Arisha yang tertera di sana, melainkan nama Mbak Silfi. Ada apa ini Ibu-ibu nelfon?
"Ya, hallo. Kenapa, Mbak?"
"Jas kamu udah aku ambil. Tapi aku titip ke Ayahnya anak-anak, Axelle tiba-tiba demam, rewel minta pulang. Males kalu mampir ke rumah dulu. Kamu ambil aja di kantornya, ya. Terus si Aurine masih ngikut Risha, entar balikinnya jangan malem-malem, ya. Udah gitu aja, langsung aku tutup."
Tut Tut Tut
Aku melongo, enggak Kakak, enggak adik, sama-sama hobi matiin sambungan telfon sesuka hatinya. Minta tolong biar nggak repot kok malah makin repot, kan nggak guna. Sambil menggerutu tak jelas aku memilih memasukkan ponselku ke dalam saku celana, dan untungnya setelah itu klienku datang. Setidaknya mampu membuat moodku membaik karena klienku pun nggak terlalu rewel minta aneh-aneh. Sekalipun obrolan kami selesai tepat hampir satu setengah jam kemudian.
Aku nyaris mengumpat saat melirik jam tanganku. Waktu yang kumiliki ternyata tidak banyak. Dengan gerakan terburu-buru aku mulai membereskan barang-barangku, lalu melesat menuju kantor Mas Arifin.
Di perjalanan aku menghubungi Kakak iparku, untuk menyuruhnya turun ke loby.
"Ya, hallo. Kenapa, Rey?"
"Gue otewe ke kantor lo, Mas."
"Ngapain ke kantor gue?"
Nada bicara Mas Arifin terdengar kaget, membuatku was-was seketika. Jangan bilang Mbak Silfi nggak benar-benar nitipin jasku ke kakak iparku ini.
"Ambil jas yang Mbak Silfi titipin, Mas. Tadi Mbak Silfi nitip jas ke lo kan?"
Di seberang Mas Arifin hanya merespon dengan ber'oh'ria.
"Lo turun bentar ya, Mas," pintaku.
"Hah? Terus nasib jas gue?"
"Pake baju yang lain aja, jas lo kan nggak cuma yang gue bawa ini. Gue malah lupa kalau Mbakmu nitip jas tadi "
"Wah, tega lo, Mas."
"Sorry, beneran nggak bisa nih gue kalau disuruh nganterin."
Aku bersiap ingin mengeluh dan memprotes, namun Mas Arifin kembali bersuara.
"Sorry, Rey, udah dipanggil nih. Gue tutup, ya."
Meski sedikit ogah-ogahan, aku mengangguk. "Ya udah, iya. Cepet sembuh buat Axelle."
"Iya, thanks. Sukses buat acara lo, sorry gue sama keluarga nggak bisa gabung."
"Halah, nggak usah dipikirin. Penting ponakan gue sembuh dulu lah."
"Iya, gue tutup."
"Hmm."
Tut Tut Tut
Aku melirik jam tanganku sekali lagi lalu mengumpat kesal. Aku tidak punya waktu lagi, jika aku nekat pulang atau bahkan ke klinik dekat rumah Mbak Silfi lebih tidak mungkin lagi. Bisa-bisa Monik dan Aqilla datang lebih dulu ketimbang aku. Dengan terpaksa aku pun akhirnya melajukan mobilku menuju Resto&Cafe milik teman Arisha, tempat yang kusewa untuk mengadakan pesta kejutan untuk Aqilla yang hari ini sedang berulang tahun.
Begitu selesai memarkirkan mobilku, aku langsung berlari masuk ke dalam dengan berlari.
"Darimana aja sih, Mas, ditelfonin susah lagi. Mbak Qilla udah otewe tahu. Ini lagi, kenapa masih pake baju tadi? Jasnya mana?" berondong Arisha begitu aku masuk ke Restaurant.
Aku memilih mengabaikan pertanyaannya, lalu pandanganku mengelilingi ruangan yang sudah didekorasi dengan cantik, sambil mengatur nafasku biar tidak ngos-ngosan.
__ADS_1
"Udah beres semua kok, Mas," celetuk Sandra salah satu anak buah Aqilla.
Aku tersenyum sambil mengangguk. "Kuenya mana? Saya mau lihat," tanyaku kemudian.
"Sialan. Adiknya sendiri malah diacuhin. Lupa kamu, Mas, siapa yang paling repot ngurusin semua ini?" umpat Arisha dengan wajah galaknya. Wajahnya terlihat paling kelelahan, meski sudah lumayan tersamarkan oleh make up mahalnya.
Aku tersenyum lalu merangkul pundaknya. "Makasih adikku sayang," ucapku tulus lalu memberinya kecupan manis di pipinya. Membuat adik semata wayangku memekik heboh. Dan tentunya langsung ku sambut dengan gelak tawa.
"Lepasin! Kita harus siap-siap, Mbak Monik sama Mbak Qilla udah di depan."
Aku mengangguk paham, lalu mengambil posisi paling depan di antara barisan. Tak lupa kedua tanganku sudah siap dengan kue cantik bikinan Arisha.
"Loh, kok mati?"
Itu suara Aqilla. Aku terkikik geli membayangkan wajah bingung Aqilla saat ini. Lalu setelahnya, aku mendekat ke arah pintu sembari membawa kue dengan lilin yang sudah menyala dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Wajah Aqilla terlihat bingung dan juga kaget.
"Apa ini?" desisnya tak percaya. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca, membuatku tak tega melihatnya.
"Kue. Ayo tiup dulu lilinnya, jangan lupa doanya!" intruksiku sedikit bercanda.
"Aku pikir kamu masih marah," ujar Aqilla, yang kini sudah benar-benar menangis.
Aku langsung memeluknya, memberikan kecupan ringan ke pucuk rambutnya lalu mengelap pipinya yang basah.
"Enggak."
Tak lama setelahnya lampu pun menyala. Wajahnya kembali kaget saat melihat banyak orang yang kini tersenyum ke arah kami.
"Loh kok?"
"Kenapa?"
"Kamu marah-marah kemarin itu..."
Aku tersenyum lalu menoleh ke arah Kenzo.
"Ya, kemarin cuma settingan, La. Pacar kamu ini emang kebangetan teganya," celetuk Kenzo sambil merangkul pinggang istrinya.
Aku tertawa dan sukses membuatku mendapatkan cubitan pedas dari Aqilla.
"Jahat banget. Aku takut tahu, kupikir kamu beneran marah."
"Enggaklah, mana bisa aku marah sama kamu," godaku sambil mencium pipinya.
"Plis deh! Udahan mesra-mesraannya. Kita juga mau ngucapin selamat buat Mbak Qilla."
Sudah tahu kan siapa pemilik suara itu? Benar, itu suara Arisha. Si istri kesepian yang lagi kegalauan karena sedang LDR-an dengan suaminya.
"Sirik aja lo."
"Biarin."
Aqilla langsung melepaskan diri dari pelukanku lalu menyalami yang lain.
"Thanks ya, Mo, udah bawa calon istri dengan selamat," ucapku sambil menyalami Monik.
"Iya, santai. Meski kupingku rasanya pengap juga denger curhatan calon istri lo. Eh, bentar calon istri?" Ia menatapku curiga. "Ini sekalian lamaran?" bisiknya kemudian.
Aku tertawa lalu menggeleng. "Bukan. Yang ini pure buat ulang tahun kok."
Monik mengangkat bahunya cuek lalu bergabung dengan yang lain.
"Oh, kirain."
Sementara aku memilih menempel pada Aqilla sampai acara selesai.
****
__ADS_1