TERJAL

TERJAL
Hujan #2


__ADS_3

Hujannya awet banget, sudah tiga hari hujan terus terusan... hmmm... semoga berkah ya Alloh jangan membawa bencana hujan ini, guman Ghina yang hendak pulang dari kampus dengan menyiapkan payungnya tapi masih terlalu deras jadi dia memutusnya untuk menunggu sampai agak reda.


10 menit kemudia Ghina membuka payungnya karena dirasa hujan sudah agak mendingan reda, dia akhirnya beranjak pulang .


Sesampainya di kost langsung bersih bersih kekamar mandi kemudian sholat dhuhur, setelah itu pingin rebahan sebentar sebelum berangkat kerja karena masih jam 2 jadi masih ada sejam lagi untuk siap siap berangkat kerja.


Baru setengah jam dia berebahkan diri tiba ponselnya berdering, dilihatnya Oom Yasin...


deg... jantungnya berdegub secara si Oomnya ini jarang menghubungi, ada apa ini, bathinnya sebelum kemudian mengangkat telponnya.


📱: Assalamualaikum, Ghin... kamu usahakan pulang sekarang ya... ibumu kecelakaan sehabis pulang ngaji dari kampung sebelah barusan... Oom juga belum liat kondisinya, ini Oom mau barangkat, kamu dijalan hati hati jangan buru buru, semoga ibumu gapapa,,,, tut tut tut.....telpon langsung mati, begitulah bunyi telpon dari Oomnya, tanpa ngasih jeda Ghina menjawab bahkan sekedar salamnyapun belum dijawab sudah ditutup kembali. Membuat hati Ghina tambah tidak karuan.


Ghinapun secepat kilat langsung mempersiapkan diri, ganti baju, dimasukkanya ponsel, dompet dan sedikit perlengkapannyakedalam tas punggung dengan air mata yangterus membanjiri pipinya, gemetar, sesak campur aduk rasanya.


Ibu kos dengan Oliv yang melihatnya kemudian bertanya


"Ada kabar apa Ghin... tanyanya


"Ibu kecelakaan tapi blm tau keadaanya, tapi hatiku ga enak bu... sambil menangis semakin kencang.


"Tenang Ghin, sabar... kalau kayak gini keadaan lo, mending aku anterin aja, bentar aku siapin diri dulu... sahut Oliv


"Iya Liv... ibu setuju mending kamu yang boncengin biar lebih cepat sampai rumah lagian kalau naik bis takutnya sudah ga ada, karena sudah sore nih, jawab bu Mia

__ADS_1


Oliviapun sudah siap mereka langsung pamit sama ibu Mia...


"Assalamualaikum bu... berangkat dulu, pamit mereka


"Waalaikumusalam... hati hati semoga ibunya ga kenapa napa... doa bu Mia sambil menutup pintu pagar rumahnya.


Disepanjang jalan hati Ghina udah rasanya campur aduk, melihat keadaan Ghina yang seperti itu Oliv berinisiatif untuk mampir ke warung nasi dulu, takutnya nanti ada apa apa malah Ghina bisa jadi sakit.


"Ghin... aku lapar nih temenin aku makan dulu ya... bentar, pliisss✌️ ajak Oliv symbil mengacungkan dua jarinya.


Ghina yang merasa hanya membonceng akhirnya mengiyakan, masak iya mau nolak temannya ini sudah berbaik hati mau mengantar pulang masak harus nahan lapar, kasihan... lagian tadi dia juga belum makan sepulang kuliah... Ya sudah ayo.. jawab Ghina.


Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan yang masih separoh waktu lagi untuk sampai rumah Ghina.


" Semoga tidak hujan lagi biar cepat sampai rumah", ucap Ghina


30 menit kemudian sudah hampir sampai, hati Ghina bergejolak luar biasa ada rasa was was, penasaran ga tau entah rasa apalagi yang jelas dadanya berdebar debar sesak seperti dihimpit batu.


Begitu sampai dekat rumahnya banyak orang berkerumun dihalaman rumahnya, tambah dadanya sesak makin menjadj jadi, dicarinya Oomnya, salman atau anggota keluarga yang lain tapi dia hanya melihat Syifa anak kecil itu yang masih kelas 5 sekolah dasar menangis di ruang tamu sedan dielus oleh beberapa ibu ibu tetangganya.


Ghina tidak bertanya sepatah katapun pada semua orang tetangganya itu, dia langsung merangkul tubuh Syifa yang terduduk semau air matanya tumpah.


Ghina tak ingin penjelasan atau mungkin tidak mau mendengar kabar buruk yang terjadi pada ibunya dan tetangganyapun juga tidak keluar sepatah katapun untuk menjelaskan pada Ghina tidak ada yang tega rasanya melihat gadis itu begini nasibnya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian suara ambulance berhenti didepan rumah, hati Ghina deg deg... kok ambulance yang datang ada apa ini, dimana ibunya, Oomnya, tantenya, Salman dan Dina kok ga ada,,, itu pertanyaan Ghina dalam hati penuh penasaran tapi dia memilih diam seribu bahasa tidak mau berita buruk.


Begitu ambulance berhenti Oomnya yang turun bersama Dina, kemudian pintu belakang mobil itu dibuka tapi yang dilihat tante Yati yang sudah terbujur dibalut kain jarik kemudian langsung diangkat kemeja yang sudah ditutup kain sekelilingnya.


Ya tante Yati yang lsngsung mau dimandikan oleh ibu ibu majelis ta'lim tetangga Ghina.


Ghina menjerit , namun rasa penasaran ibu semakin besar, ada apa ini kok tantenya meninggal lalu dimana ibu sama Salman hikz hikz.... Oomnya langsung merangkul sangat erat... mereka menangis bersamaan, semua yang melihat adegan itu tak pelak ikut terisak apalagi Oliv yang ternyata dia sudah tau apa yang terjadi sejak datang tadi berbisik pada bapak yang didepan sana tapi dia memilih diam, biar Ghina tau sendiri saja, pikirnya dia ga tega memberi tau.


Ambulan itupun pergi setelah menurunkan jasad tante Yati. Ibu ibu memandikan, menyiapkan kain kafan, setelah beres dimandikan kemudian siap untuk dikafani.


Namun Ambulance itu datang lagi didepan rumah dan yang turun kali ini sang Adik Salman disitu pertanyaan Ghina dalam hati tadi terjawab.


Dia menghambur memeluk adiknya menjerit sekuat kuatnya... ibuuuu... ibuuu... ibuuu... adiknya hanya ikut menangis lagi tanpa berkata apapun.


Sampai beberapa saat kemudian saat ibunya sudah dimeja pemandian Salman berbisik pada Ghina


"Kak.... mau ikut memandikan ibu ga, kakak kuat ga, kalau ga, ga usah, kalau mau jangan nangis kuatkan hatimu lebih kuat dari sebelum sebelumnya, bisik Salman ditelinga Ghina.


Ghina menyeka air matanya, menguatkan hatinya Oliv terus menguatkan dengan mengelus punggungnya, dia beranjak menuju meja pemandian Ghina akhirnya memutuskan akan ikut mengurus ibunya, ingin dia berbakti untuk terakhir kali pahlawan hidupnya itu, ingin melihat wajah ibunya untuk terakhir kalinya, ingin mencium ibunya, ingin berbisik menyapanya semua rasa dalam hatinya ingin ia tumpahkan rasanya walau itu tidak mungkin.


Ghina memandang jasad yang terbujur itu, "ibuuu... ibuuu... ini Ghina bu, Ghina pulang... ucapnya sambil menciup ibunya yang dingin pucat dengan luka luka lecet dikening, jidat juga bibir ibunya yang nampak seperti pecah. Ingin Ghina menjerit sekuat tenaga tapi dia tau sesakit apa hatinya sakit ini tidak boleh menangis dia tidak mau membebani ibunya.


Diguyur pelan tubuh ibunya, Salmanpun ikut memandikan, Ghina melihat setiap jengkal tubuh ibunya menatap lekat wajah pucat ibunya, diusap pelan dengan sabun sesekali menyeka air matanya agar tidak jatuh mengenai tubuh ibunya.

__ADS_1


tbc


_________________________________________


__ADS_2