
1 bulan kemudian
Setelah menunaikan sholat dhuhur Ghina kembali ke ruang kerjanya, dia merasa hari ini sangat melelahkan, ingin rasanya merebahkan badannya barang sebentar.
Kafe nya selalu terlihat ramai pengunjung dari buka sampai malam menjelang tutup selalu silih berganti pelanggan.
Ghina juga sudah mendapatkan pegawai pegawai andalan. Mulai dari barista nya, chef sampai pegawai di bagian lainnya.
Setiap hari jum" at kafenya selalu membuat menu nasi box yang dibagikan kepada kaum dhuafa, panti asuhan dan anak yatim.
Bahkan Ghina juga membuat progam bagi anak petani kopi yang memasok kopinya ke kafenya berprestasi akan mendapat bantuan peralatan sekolah secara rutin.
Semua kegiatan yang Ghina lakukan itu semata-mata karena rasa syukur atas nikmat rejeki usaha nya serta rasa kepeduliannya kepada sesama.
_____
Sementara Al siang itu nampak gusar terjadi banyak kendala di tempat usahanya.
Sehingga banyak perusahaan yang memasok barang ke swalayannya terlambat pembayarannya.
Al mamanggil beberapa pegawai bagian keuangan dan manager nya untuk memberikan laporan beberapa bulan terakhir yang lebih valid.
"Kok bisa seperti ini... saya minta dalam 2 hari ke depan semua laporan keuangan dan distribusi barang sudah harus dimeja kerja saya... saya tidak mau hal hal seperti ini terjadi lagi" ucap Al dengan tatapan tajam dan wajah dingin.
" Baik pak... " jawab bu Melly dan pak Sapto bagian keuangan dan manager swalayan.
" Baik silahkan keluar... " ucap Al kemudian.
Al kemudian menghubungi seseorang melalu ponselnya.
" Dalam 2 hari ini awasi semua karyawan, laporkan jika ada yang tidak beres, sepertinya masih ada sampah disini" ucap Al dengan seseorang di sebrang sana.
"Baik bos..... mulai detik ini juga saya mulai pekerjaan itu dengan detail, agar tepat sasaran" jawabnya.
Seseorang di sebrang sana itu adalah Anton, dia adalah orang kepercayaan Al selama di Malang.
Anton bukanlah seseorang dengan penampilan gagah dan kekar seperti bodyguard melainkan seseorang dengan pembawaan kalem, sedikit kemayu, dan mudah akrab dengan banyak orang.
Al memilih Anton karena Al merasa orang seperti Anton bisa masuk di bagian mana saja di swalayan nya tanpa ada yang merasa curiga. Bahkan semua pegawai Al tidak ada yang tau kalau Anton adalah kepercayaan Al.
Al terduduk di meja kerjanya dengan berantakan, rambutnya sesekali di acak dengan tangannya.
Bahkan baru 2 bulan lalu hal seperti ini terjadi... kok bisa ini terulang lagi... berarti sampah itu masih tumbuh subur ditempat ini... huh... umpat Al.
__ADS_1
Tok tok tok...
Suara pintu ruangan terdengar ada yang mengetuk
" Siapa ...." seru Al dari dalan.
" Maaf pak... ada seseorang mencari bapak... Hmmm.... bu Tasya pak" ucap pegawai swalayan
*Mau apa lagi dia mencari ku... Bathin Al.
" Suruh masuk..." perintah Al.
Tiba-tiba* pintu terbuka, nampak Tasya dengan senyum ramah berdiri di depan pintu
" Apa kabar Al... sorry aku mampir ketempat kerjamu, barusan aku belanja di swalayan
mu ini jadi mendadak pingin ketemu kamu" alasan Tasya panjang lebar.
" Masuk... silahkan duduk..." ucap Al dengan Nada sedikit dingin, sebenarnya Al lagi tidak kepingin ketemu siapaun apalagi Tasya, mungkin kalau Ghina yang datang akan membuat hatinya yang lagi emosi bisa sedikit tenang, pikirnya.
" Ada hal penting lainnya selain hanya mampir saja" tanya Al tanpa basa basi.
" Iiihhh.... kok gitu sih tanya nya... ya aku kesini karena pingin ngobrol saja ga ada yang penting sebenarnya" Jawab Tasya jujur.
" Lagi bete ya... kok sinis banget" Ucap Tasya dengan raut sedikit merayu. Al hanya senyum tipis yang dipaksakan tanpa menjawab.
" Al... aku tau kamu sudah ada Ghina, tapi setidaknya perlakukan aku layaknya teman kamu, jadi kita bisa jalan atau saling bertukar pikiran, jangan seperti ini... maafkan kalau aku dulu menyakiti hatimu... lihatlah sekarang dirimu yang hanya seorang single parent dari dua anak Al, jangan terlalu dingin padaku.
" Jadi niat kamu kesini cuma mau ngomong itu, tanpa kamu ngomong sejak kamu memutuskan untuk menikah dulu, kamu itu sudah jadi mantan.... bahkan bukan mantan kekasih lagi tapi juga mantan teman" ucap Al di tekan setiap kata mantan.
"Maksud kamu apa Al... tidakkah kenangan kita dulu masih kau ingat walau hanya sedikit?" Teriak Tasya sedikit gusar.
" Kenangan... kenangan yang mana... aku tidak ingat sama sekali... selain kamu ninggalin aku karena lelaki yang sudah sukses, katamu waktu itu.... mantan ku banyak ... aku tidak mengingat satu persatu... ga ada waktu, lagian memiliki Ghina adalah anugerah luar biasa, dia hadir sebagai penghapus masa laluku dari semua mantan dan kelakuanku buruk ku dulu... aku harap kamu tau batasan kita. Jadilah single parent yang terhormat dan mulia untuk anak-anakmu" ucap Al panjang lebar dengan gemetar karena kesalnya bertambah dengan datangnya Tasya yang menambah masalah.
" Al... aku kecewa sama kamu... aku kira saat kita bertemu disini jauh dari keluarga kita akan jadi teman". ucap Tasya dengan mata berkaca kaca.
" Maaf aku tidak bisa... carilah teman yang lain saja dan jangan kamu datang lagi kalau hanya membahas hal yang ga penting begini" ucap Al sambil melebarkan pintu yang memang tidak ditutup.
"Al .... semoga kamu tidak menyesal dengan ucapan mu barusan" ucap Tasya sambil melangkah meninggalkan ruang kerja Al.
Al hanya mengacak rambutnya kasar. Kemudian dia mengambil ponselnya untuk menghubungi istrinya.
📱:" Assalamualaikum mas... "
__ADS_1
📱:" waalaikum salam... sayang kamu sakit? kok suaranya serak begitu..sebentar lagi aku jemput ya, mas sholat dulu... tunggu ya"
📱: "Ga mas... aku hanya baru bangun tidur saja... iya aku tunggu, aku juga belum sholat.
📱:" Oke aku tutup telponnya, sampai ketemu ya assalamualaikum"
📱 :" Waalaikumsalam".
Setelah mengakhiri telponnya Al kemudian membereskan meja kerjanya kemudian bergegas ke air mengambil wudhu dan sholat. Sebelum meninggalkan ruangannya dia menelpon seseorang dulu.
📱:" Ada pekerjaan tambahan buatmu... nanti akan ku kirim foto seseorang... awasi dia jangan sampai dia menyentuh istriku... " ucap Al kemudian menutup telponnya dan berlalu meninggalkan ruangannya.
15 menit kemudian dia sudah sampai di area parkiran kafe, dengan segera Al bergegas ke ruang kerja istrinya, beberapa pegawai Ghina yang berpapasan memberikan tanda hormat dengan senyum dan menundukkan kepala.
Kriieetttt.... suara pintu dibuka dari luar, Terlihat didalam Ghina sedang bersandar malas di sofa.
" Sayang... kamu sakit" teriak Al sambil mendekati tubuh istrinya.
" Tidak apa apa... cuma lagi malas atau lemes entahlah bawaannya pingin tidur terus" jawab Ghina masih dengan kepala bersandar di sofa.
" Kalau gitu kita ke dokter dulu sebelum pulang" Ajak Al sambil menciumi tangan Ghina.
" Mau periksa apa... orang ga sakit juga" jawab Ghina ragu
" Ya tensi saja atau minta vitamin .. ya... yaa... " bujuk Al.
" Hmmm... boleh lah... iya periksa tensi sama minta vitamin" Ghina sambil mengangguk.
" Ayo.. kalau begitu kita berangkat nanti ke buru malam." Ajak Al sambil berdiri dan menarik tangan Ghina.
" Mas makan dulu saja di sini... aku lagi pingin masak" ucap Ghina.
" Ooh... gini saja, minta dibungkus saja nanti kita makan di rumah, sayang mau apa ... biar mas yang bilang sama chef Ringgo" tanya Al menyebut chef dari kafe KD.
" Terserah mas... aku lagi ga kepingin apa-apa" jawab Ghina malas.
" Oke kalau begitu... Nasi goreng sea food 1, bistik iga bakar 1 dan sup buntut 1" Al sambil menulis di nota pesanan yang ada di meja kerja Ghina kemudian dia membawa itu ke bagian pantry.
Ghina masih duduk bersandar dengan malas di sofa, rasanya lemas tidak ingin berandak dari posisi itu.
tbc
____________________________________________
__ADS_1