TERJAL

TERJAL
Menuju rumah mertua


__ADS_3

Mereka menikmati malam indah itu sampai beberapa kali setelah melakukan tertidur sebentar kemudian mengulang lagi sampai waktu subuh akhirnya mereka harus benar-benar bangun dan mandi junub sebelum melaksanakan sholat subuh.


Ghina kemudian menyiapkan sarapan dan Al melanjutkan tidur kembali sementara Salman mengurus ternak bebeknya, mengambil telor-telor yang ditinggal induknya berserakan di jerami.


"Dik.... kapan mulai kuliah lagi?" tanya Ghina


"Besok Salman sudah balik ke kost an kak... kalau aku sudah sibuk kuliah lagi nanti rumah, kebun dan ternak biar diurus sama Oom Yasin dan Mbah Sarjo ( Tetangga yang suka bantu-bantu ).


Setelah sarapan siap Ghina menyiapkan kopi untuk Al dan teh untuk dia dan Salman kemudian bergegas untuk membangunkan suaminya di kamar.


"Kak... bangun dulu yuk... sudah aku buatin kopi tuh... " Ghina menggoyang-goyang kaki Al dengan pelan.


"Heeeuuhhh.... " Al menggeliat kemudian duduk mensejajarkan dengan Ghina yang juga duduk disisi ranjang.


cup


"Morning kiss sayang... " Al menyambar bibir Ghina sementara Ghina terkejut tapi senyum senang.


"Ayo... mau cuci muka dulu? " tanya Ghina.


"Ayo... mau minum kopi buatan istriku dulu" jawab Al sambil merengkuh kan rangkulan ke leher Ghina mereka berjalan menuju meja makan.


Al langsung duduk dimeja makan sambil menikmati kopi buatan istrinya untuk pertama kalinya.


"Hemmm.... mantap... kopi buatan mu numero uno sayang... " bisik Al ditelinga Ghina mesra membuat Ghina tersipu malu.


" Kayak iklan saja kak... tapi kopi yang ini bukan merk itu lho... ini kopi asli dari kebun sendiri... kopi ndeso" ucap Ghina.


" Dik... ayo kita sarapan dulu, ini tehnya nanti keburu dingin diminum dulu mumpung masih anget" panggil Ghona pada Salman.


"Bentar kak tanggung nih... masih ada telor yang belum di wadahin" jawab Salman.


"Dik... mau dibantu kakak biar cepet?" tanya Al.


"Tidak perlu kak... jangan kesini bau kotoran, udah kakak tunggu saja sebentar juga selesai, Salman langsung membersihkan diri setelah selesai kemudian menyusul kakaknya ke meja makan.


"Dik... mulai bulan ini biaya kuliah nanti kakak bantu, jadi seandainya mau berhenti beternak juga gapapa, manun seandainya tidak mengganggu kegiatanmu, masih bisa di handel silahkan tapi tetap biasa kuliah kakak yang tanggung" ucap Al pelan takut menyinggung perasaan Salman dan Ghina. Sementara Ghina hanya menjadi pendengar yang baik dari pembicaraan 2 lelaki dihadapannya itu.


"Waahhh... asyik... terima kasih kak, Salman senang tapi ternak ini tidak akan Salman hentikan biar hasilnya tak seberapa tapi lumayan telor dan dagingnya bisa kita konsumsi sendiri dan juga ada mbah Sarjo yang mengurus sekalian ngurus rumah, ladang dan sawah kok kak" jawab Salman panjang lebar.

__ADS_1


"Baiklah... nanti kakak kirimi nomer rekening mu ya" ucap Al sambil menepuk punggung Al pelan.


"Iya kak siap... Terima kasih sebelumnya semoga rejeki kakak lancar terus" ucap Salman.


"Aamiin .... ucap Al dan Ghina bersamaan.


"Kakak pagi ini mau memboyong kak Ghina ke rumah ibu kak Al, Salman mau bareng kita atau mau berangkat sendiri ke kost an?" tanya Al.


"Salman berangkat naek motor kak biar gampang nanti kalau pulang lagi kesini" jawab Salman.


"Sayang habis ini kau beresin baju yang mau dibawa ga usah banyak-banyak secukupnya saja, lanjut kita pamit sama Oom Yasin" ucap Al.


"iya kak... Ghina beresin ini dulu baru berkemas" jawab ghina sambil beranjak membawa piring bekas makan mereka ketempat cuci piring.


Setelah selesai semuanya Ghina dan Al berpamitan kepada Oom Yasin kemudian berangkat hanya berdua karena Salman tidak bareng.


Baru beberapa menit berada di dalam mobil nampak Ghina sudah menguap beberapa kali.


"Ngantuk sayang... " Al yang tau istrinya menguap memastikan dengan pertanyaan sambil menggenggam tangan istrinya.


"Iya..." jawab Ghina sedikit malu.


"Kakak... ngantuk nih... " rengek Ghina manja berharap suaminya mengijinkan tidur tanpa menggodanya lagi.


"Iya... tidurlah... kakak tau sayang, pasti capek banget... makasih ya untuk semalam... masih sakit?" tanya Al sambil terus menggenggam tangan Ghina dan fokus mengemudi namun sekali-kali melirik istrinya.


"Hemmm.... dikit" ucap Ghina tertunduk malu sampai pipinya panas mendengar pertanyaan itu dari suaminya.


"Maaf... habisnya bikin nagih sih... ya udah tidurlah, jok nya agak di setel kebelakang aja biar enak posisi tidurnya" Al sambil mengelus pucuk kepala istrinya.


"He-em... " jawab Ghina sambil membetulkan jok diposisi enak, sebentar kemudian sudah terlelap karena memang ngantuk yang mendera ditambah badannya yang terasa pegal karena ulah Al semalam.


"Kalau tidur wajahnya damai banget... " lirik Al lewat spion mobilnya.


Karena istrinya terlelap Al memutar musik pelan untuk menemani melajukan mobilnya.


Setelah hampir 2 jam perjalan akhirnya sampai dihalaman rumah bu Heni.


"Sayang.... sayanggg.... bangun, kita sudah sampai... " ucap Al lirih sambil melepas tali pengaman yang melilit pinggang istrinya.

__ADS_1


"Hemmm... Dimana ini... hah sudah sampai lagi... " teriak Ghina sambil mengucek matanya.


"iya turun yuk... dilanjut lagi tidurnya dikamar " Ucap Al sambil mencubit hidung Ghina.


Mereka bergegas turun dan melangkah ke dalam


"Assalamu'alaikum... " teriak mereka berdua.


"Waalaikum salam...." jawab semua yang didalam ada bu Heni, mbok Sri dan kakak Al mbak Dilla, beserta suami mas Herman dan kedua anaknya Leo dan Lea.


"Haiii... pengantin baru sudah datang... selamat datang nyonya Al gifari" canda kak Dilla.


"Bagaimana nih... malam pertamanya ... sukses... " celetuk kak Dilla lagi


"Sukses dong... secara dikampung hawanya dingin udah gitu sepi lagi" kali ini ibu Heni yang menimpali. Sementara Ghina hanya tersenyum malu-malu...


"Nah itu ibu tau... " jawab Al dengan senyum lebarnya.


"Udah sana Al... bawa Ghina istirahat dikamar dulu... atau mau makan siang dulu, tapi tunggu masakan mbok Sri masih belum beres semua" ucap ibu.


"Kita mau menurunkan barang bawaan Ghina dulu buk... mana pak Totok suruh bantu" ucap Al sambil menanyakan tukang kebun di rumahnya.


"La... memang bawa apa kok sampai harus pak Totok yang bantu Al" tanya kak Dilla tapi mas Herman sudah dengan sigap ikut Al menuju mobilnya.


"Waaahhhh... banyak bener oleh-olehnya Ghin" ucap mas Herman


"Hasil kebun mas... di rumsh juga ga ada yang makan" alasan Ghina padahal sengaja disiapkan.


Ada telor bebek 1 keranjang penuh, setandan pisang tanduk, pisang Ambon, kelapa muda, gula aren, kopi bubuk yang sudah dikemas oleh ibu-ibu PKK kampung Ghina, beras hasil dari sawah Ghina, beberapa ikan gurame yang sudah di bersihkan dan dikemas di kotak plastik yang diberi bongkahan es batu, ada juga kacang tanah yang siap tinggal merebus, serta buah alpukat semua hasil kebun Ghina.


"Wah... Ghin... kalau begini tambah sayang ibu punya mantu seperti kamu ini, udah cantik, shalihah pinter nyenengin hati ibu" Ucap bu Heni dengan lembut.


"Ibu jangan berlebihan... Ghina jadi malu, ini kan karena dikampung adanya seperti ini, pas kebetulan ada itu juga, kalau ga ada ya Ghina datang bawa badan saja bu..." ucap Ghina.


Setelah menurunkan semua barang bawaan Ghina dari kampung kemudian mereka makan siang bersama.


Setelah itu Al dan Ghina pamit kekamar untuk Sholat dan istirahat.


tbc

__ADS_1


___________________________________________


__ADS_2