TERJAL

TERJAL
Berduka*2


__ADS_3

Bagi Ghina ditinggal ibu untuk selama- lamanya adalah pukulan yang luar biasa, sangat keras dan tajam menusuk bathinnya.


Terasa hilang separuh nyawanya, terasa sesak dan sakit setiap kali teringat nama ibu.


Ghina merenungkan semua tentang ibunya, tetang pesan terakhirnya waktu beliau menelpon.


Ibuuu .... ibuuu.... bisiknya sesak sambil sesenggukan, Aku tahu ibu, aku harus kuat demi Salman demi diriku juga , aku ga boleh meratapi terus semua ini ibu, tapi rasanya masih sakit biarkan aku menangis sebentar ya Alloh, lirih Ghina sambil menusupkan wajahnya kebantal yang biasanya dipakai tidur ibunya, Sampai beberapa saat kemudian.


Ghin.... diluar masih banyak tamu, ayo temui dulu, ajak Oliv.


Dengan berat Ghina mendongakan kepalanya dan menyeka air matanya lalu beranjak sambil menghela nafas dalam-dalam kemudian membuangnya pelan, setelahnya mencoba menguat hati sebelum akhirnya keluar kamar ibunya untuk menemui tamu yang masih berdatangan untuk ta'ziah.


Sejenak kemudian diliatnya Adam datang, setelah menyalami beberapa tamu, mata Adampun nampak mencari-cari seseorang. Ya seseorang yang dari beberapa waktu lalu ingin dia temui, ingin dia lihat.


Sejenak matanya berkeliling ruang mencari oramg yang dimaksud yakni Ghina...


Dilihat dia tengah menjawab beberapa pertanyaan dari pada pelayat yang menanyakan kronogis kecelakaan yang dialami ibunya.


Setelah mencari mata Adam tertuju pada Ghina disudut ruangan itu, dia langsung bergegas untuk menemuinya.


"Ghin...


Yang dipanggil mengarahkan pandangannya dengan mata berkaca-kaca, seakan ingin meluapkan semua kepedihannya itu pada seseorang yang baru datang ini.


"Hik hik hikkk... iya... maafkan ibu ya... akhirnya air matanya pun merembes walau tidak begitu deras, Ghina menahannya sangat kuat untuk tidak membanjiri pipinya. Dia ingin sedikit terlihat tegar didepan Adam.


Iya, pasti... kamu harus ikhlas dan sabar ya ... bisiknya menguatkan Ghina dengan mimik wajah kesedihan, Dia juga merasakan kepedihan Ghina, apalagi setelah melihat wajah Ghina secara langsung ingin rasanya memeluk, merangkul, menguatkan secara lebih lagi, tapi itu tidak mungkin secara mereka baru pacaran, ada rasa canggung, malu dengan pelayat yang lain.


Akhirnya Adam hanya menggenggam tan Ghina dengan erat dan mengelus punggung tangan Ghina.


Adam duduk disebelah Ghina sambil terus menggenggam tangannya dan mengelusnya, sesekali ai melirik dan melihat raut kesedihan diwajah Ghina, hatinya ikut perih ada rasa kasihan, tidak tega, sayang dan sebagainya yang berkecamuk dibathin Adam.


"Kamu pasti kuat... " bisik Adam yang hanya dijawab anggukan sama Ghina.

__ADS_1


Sampai hari beranjak sore Adam masih setia menemani Ghina. Oliv Akhirnya pamit pulang karena besok hari senin ada jam kuliah pagi.


"Ghin... aku duluan ya, kamu tenangin diri dulu baru balik ke kost kalau sudah siap, nanti kabari aku kalau mau balik, tak jemput ya... " pamit Oliv pada Ghina.


"Iya... kak hati-hati ga usah ngebut, jawab Ghina sambil memeluk temannya itu.


Baru saja memutar badan setelah mengantar Oliv didepan rumah, tiba-tiba ... Ghin... suara yang tidak asing ditelinga Ghina memanggil.. Ghina langsung balik badan ketika namanya ada yang memanggil... Ghinaaa... suara Asri yang langsung menghambur memeluk Ghina.


Tak pelak tangis-tangisan dua sahabat ini terjadi.


"Sabar ya Ghin... ikhlasin, ibumu udah tenang disyurga... bisiknya.


"iya, maafin semua kesalahan ibu ya As... minta Ghina sambil terisak.


"ga ada salah ibumu sama aku Ghin, yang ada aku yang salah sering ngerepotin, ungkap Asri.


kemudian Ghinapun mengajak Asri untuk masuk... didalam ada Adam


Aaaaoowww... sorri aku sampai lupa ga kepikiran, pingin buru-buru sampai dan lihat Ghina, jawab Adam jujur.


Asri hanya mendengus mendengar jawaban Adam.


________


Seminngu kemudian Ghina berencana pulang lagi ke kosan, ada rasa berat yang sangat untuk pargi dari rumah, kasihan sama Salman harus sendiri dirumah, mengurus sekolahnya, makannya semuanya sendiri.


Benar-benar hati Ghina tidak tega, tapi Salman meyakinkan kakaknya untuk pergi


"Kak aku bisa sendiri... wis to, ojo kepikiran wae ( sudahlah, jangan dipikirin terus) kata Salman meyakinkan kakaknya.


Masak nasi tinggal nyuci beras terus dicolokin mejicom, lauknya bisa dadar telur atau beli diwarung nasi depan pasar kak... aku bisa pokok e, kata Salman penuh semangat , agar kakaknya merasa tenang meninggalkan dirinya.


"Dik, nanti setiap seminggu sekali kakak pulang, diusahakan, nanti kakak bikinin ungkep ayam, ikan yang sudah dibumbu untuk ditarus dikulkas jadi kalau adik mau makan tinggal goreng, tambahnya.

__ADS_1


"Ya, boleh tapi jangan dipaksakan kalau tidak bisa, kakak kan juga kerja selain kuliah...jawab Salman santai.


"Oke, adikku yang manis... ucap Ghina sambil mengacak rambut Salman.


"Oom..... Ghina mau kembali ke kos sekarang, ,, pamit Ghina sama pamannya sambil memeluk sedih


"iya ... hati-hati, jangan ditangisi terus ibumu, doakan biar terang disana, bisik Oomnya yang sebenarnya dia sendiri manahan sesak didadanya.


"Ghina titip Salman Oom... kali ini Ghina tidak tahan menahan air matanya dia berbisik sambil sesegukan, rasanya sesak sekali dadanya harus meninggalkan adiknya sendiri dirumah, walau rumahnya sama Oomnya berjajar satu pekarangan tetap saja rumahnya sendiri- sendiri, jadi pasti segala kegiatan Salman tidak terpantau semua oleh Oomnya, itu yang menjadi pikiran tersendiri dihati Ghina.


Lanjut memeluk Dina... "Din... kamu yang kuat ya dik, urus adikmu syifa jangan bertengkar ya, kalian harus saling menyayangi... oke, ucap Ghina sambil mengelus rambut Dina dengan suara yang tercekat, sedih.


"iya kak... kakak hati-hati ya, seringlah pulang biar kami ga kesepian, jawab Dina setengah merengek.


"iya dik... kakak usahakan, anggukan Ghina menyakinnkan adik-adiknya.


"Naik angkutan apa dianter siapa Ghin?, tanya Oomnya


"Tadinya mau diantar Adam tapi kasihan Oom, lagian ini sudah sore, takutnya dia nanti kemaleman sampai disemarang, jadi biar dia langsung berangkat aku naik angkutan umum saja, semoga masih ada, jawab Ghina .


"kalau gitu biar pamanmu yang nganterin, tunggu Oom panggilin dulu... perintah Oom Yasin sambil berlalu menuju rumah paman, bermaksud minta bantuan paman untuk mengantar Ghina.


"Ini kebetulan paman lagi santai... biar diantar saja minimal sampai jalan ring route, jadi tinggal naik bis satu kali, ucap Oom.


Ya baiklah Oom... tapi ga ngerepotin nih paman, tanya Ghina


Ayo naiklah keboncengan keburu sore,,, ga ada yang direpotkan, santai saja, ucap paman.


Diangguki oleh Ghina yang kemudian mengucap salam perpisahan pada Oom, salmat, Dina dan Syifa.


tbc


_____________________

__ADS_1


__ADS_2