TERJAL

TERJAL
Balik ke Malang


__ADS_3

Ghina berada di kampung selama dua hari setelah kemarin sehari sudah berkunjung ke makam orang tua Ghina, hari ini ada pertunjukan di lapangan utama, tepatnya didepan pendopo kecamatan.


Yaitu pertunjukkan berupa kuda lumping untuk memeriahkan sunatan masal yang diadakan oleh Remaja karang Taruna tingkat kecamatan.


Iseng iseng Ghina dan Al ingin mengajak Farah liat pertunjukan itu, sekedar mau melihat sebentar sekalian mencari aneka jajanan, pikirnya begitu.


" Yank.... ramai banget... Asyik juga tapi.. kita cari jajanan dulu yuk... " Ajak Al sambil menggendong Farah menunjuk ke arah kerumunan penjual jajanan.


" Ayo.... kita liat disebelah sana.." tunjuk Ghina pada penjual yang di ujung jalan sambil tangannya bergelayut manja pada Al.


" Ghina..."


Saat sedang asyik melihat-melihat, tiba-tiba saja suara seseorang memanggil Ghina.


Spontan Al dan Ghina memandang ke arah asal suara


" I - iyaa....."


Suara Ghina tercekat, antara tidak mau menjawab, kaget dan tidak berharap bertemu dengan seseorang yang memanggil nya.


" Apa kabar..." tanya seseorang tadi sambil mengulurkan tangannya tetapi Ghina hanya membalas dengan menyedekapkan tangan di dada sambil senyum terpaksa.


" Baik... Alhamdulillah... " jawab Ghina sambil melirik ke arah suaminya.


Sementara Al melihat reaksi Ghina yang tidak seramah apabila bertemu orang lain, membuat dia bertanya-tanya dengan sorot mata tajam dia menatap ke arah orang yang memanggil Ghina.


" Kapan pulang..." tanya seseorang tadi yang tak lain adalah Adam.


" Kemarin.... " jawab Ghina singkat.


" Kenalin ini mas Al suamiku" lanjut Ghina kemudian menunjuk ke arah suaminya.


Al kemudian mengulurkan tangan untuk salaman yang kemudian disambut oleh Adam.


" Wah.... ini putri kalian... siapa namanya cantik" lanjut Adam sambil mengusap kepala bocah itu.


" Farah Oom..." jawab Ghina kemudian pamit pada Adam untuk melanjutkan mencari jajanan.

__ADS_1


Kemudian mereka berpisah, sungguh dalam hati Ghina sebenarnya malas untuk bertemu apalagi sampai tegur sapa dengan Adam, tetapi rasanya juga tidak enak hati kala bertemu dengan tidak sengaja terus disapa duluan, dia mengabaikan.


Sementara Adam sendiri tadinya tidak berniat menyapa, karena Ghina pernah bilang jika bertemu anggap tidak pernah kenal, tetapi ada rasa yang besar ingin sekali melihat senyum Ghina walau kini dia sudah bersama orang lain


Ghina.... bisik hati Adam, ada rasa rindu yang menggebu, yang ia simpan semenjak kejadian dipinggir danau itu, tapi Ghina pernah bilang untuk tidak menyapa jika bertemu, anggap tidak pernah kenal, tapi.... tidak... aku ingin menyapanya, sekalipun disampingnya ada suaminya,aku berharap ada sedikit senyum di bibirnya untukku walau itu hanya senyum terpaksa... ternyata dia mau menjawab sapaan ku, dan mengenalkan suaminya... orang yang sangat beruntung bisa hidup bersama Ghina, bahkan mereka telah memiliki seorang putri yang sangat cantik... ada rasa perih di relung hatiku yang terdalam namun.... aku juga ikut bersyukur melihat raut bahagia dari wajah Ghina... Lama aku melihat dia meninggalkanku.... Batin Adam.


"Siapa yank tadi yang menyapa?" tanya Adam penasaran takut salah terka.


" Adam mas" jawab Ghina singkat


"Oohhhh.... mantan terindah" jawab Al lagi.


" Apaan sih mas... mantan terburuk... Puas", jawab Ghina ketus.


" Sudah Ah ... kita cari jajan terus pulang" ucap Ghina masih dengan nada sedikit kesal.


*****


Beberapa hari Ghina berada di kampung halaman, sebelum akhirnya kembali lagi ke rumah ibu mertuanya.


Hari berikutnya mereka menghabiskan waktu untuk berlibur ke di Jogja dan sekitarnya sekalian mensurvey tempat baru untuk membuka cabang baru usaha kafe Ghina.


" Bismillah ya yank.. semoga semuanya lancar, kalau nanti sudah banyak pelanggan dan stabil atau syukur syukur ramai, kita menetap di Jogja, sedangkan yang di Malang kita tinggal mengawasi dari sini sambil sesekali kita datang ke sana", ujar Al penuh harap.


" Aamiin yra.... Semoga mas... aku juga berharap seperti itu, agar ibu merasa dekat dengan kita dihari tuanya mas", jawab Ghina.


Tak terasa mobil mereka sudah sampai di halaman rumah pas menjelang adzan maghrib, dengan cepat Ghina turus sambil menggendong Farah, sementara Al membawa barang-barang bawaannya.


*******


Tiba waktu untuk kembali ke Malang karena mereka berada di Jogja sudah hampir 10 hari, yang semula rencananya hanya maksimal 1 minggu.


Setelah sarapan kemudian mereka berkemas dan pamit untuk kembali ke Malang.


" Assalamualaikum.... Uthi...", panggil Ghina sambil memegang tangan mungil Farah untuk salaman dengan neneknya yaitu bu Heni, yang di balas dengan ciuman bertubi tubi mendarat di pipi cubi Farah.


" Waalaikum salam.... jaga baik baik anak dan suamimu, semoga rencana cabang kafe baru cepet selesai agar lekas tinggal di sini lagi", ucap Bu Heni.

__ADS_1


" Aamiin yra..." jawab Ghina, kemudian Al pun memeluk ibunya untuk pamit dan mereka bersalaman dengan semua orang yang berada di situ.


Selanjutnya mobil mereka sudah meluncur di jalan menuju Malang.


Sementara pembanggunan kafe yang di rencanakan sudah berjalan.


Besar harapan Al dan Ghina untuk kesuksesan kafe itu, selain berada dekat dengan kota Kafe itu nanti juga berada kawasan jalan menuju tempat tempat wisata.


Menjelang siang Al menghentikan mobilnya untuk makan siang dan sholat.


" Sayang biar Farah aku gendong," ujar Al sambil melepas sabuk pengamannya.


" Cantiknya ibu, sama Ayah ya... ", jawab Ghina sambil mengecup kening bocah lucu itu. Bocah itu pun tersenyum memperlihatkan 2 giginya yang baru tumbuh.


Setelah Farah berada di gendongan Al, mereka selanjutnya menuju ke dalam rumah makan dan memesan beberapa menu.


" Mas... biar Farah di stroller aja sini", Ghina sambil menggambil Farah dari pangkuan Al.


" Yank... minta kursi buat baby aja sama pelayan, biar dia bisa duduk sejajar dengan kita", ucap Al.


Kemudian Al memanggil pelayan, tak lama kemudian kursi khusus bayi pun telah tersedia.


Ghina dengan telaten menyuapi Farah dengan sayur sup dengan lahap anak itu makan.


30 menit kemudian acara makan siang mereka beres, sholat kemudian melanjutkan perjalanan.


Sampai di rumah sudah menunjukkan jam 8 malam, mereka kemudian bergantian ke kamar mandi untuk membersihkan badan, karena sudah malam maka Farah tidak dimandikan cuma di seka dengan air hangat kemudian di beri minyak telon dan bedak dan ganti baju.


" Hemmmmm.... wangi banget anak bunda" Ghina sambil menciumi ketiak Farah, bayi itupun tertawa karena kegelian.


" Sayang.... mas cari makan di luar dulu ya, untuk Farah mau di belikan apa?" Ucap Al setelah selesai berpakaian.


" Aku tadi sebelum sampai rumah sudah pesan lewat chat ke Kafe minta di buatkan sedikit nasi tim ayam untuk Farah, bihun goreng pedas seafood buat aku, kalau buat mas tak pesenin nasi uduk bebek goreng komplit, tinggal ambil ke kafe mas" terang Ghina.


" Oke... tunggu ya, mas ambil dulu pesanannya," jawab Al sambil berlalu keluar kamar menuju parkiran.


tbc

__ADS_1


____________________________________________


.


__ADS_2