
Ghina duduk di ruang tamu menemani Tasya ada rasa sedikit curiga tapi Tasya adalah tamu, jadi harus di hormati.
Tak lama Al pun datang setelah memarkirkan mobilnya kemudian mengucap salam, masuk ke ruang tamu, Ghina langsung menjawab salamnya dan berdiri menyalami tangan Al dan menciumnya, sementara Tasya hanya memperhatikan sambil duduk.
" Sudah lama nunggu" tanya Al pada Tasya.
"Lumayan hampir 30 menit, gapapa untuk mu Al apa yang tidak sih.... heheee" Tasya tertawa kecil.
"Hmmm..... , Sayang... buatkan aku kopi" Teriak Al kemudian meminta kopi buatan Ghina.
" Iya... " Ghina bergegas ke dapur untuk membuat kopi, kemudian menyajikannya didepan Al.
Ghina berfikir untuk tidak mengganggu obrolan Al dan Tasya maka dia memilih di dapur lagi buat menyiapkan makan malam.
Setelah selesai masak ternyata obrolan suaminya belum selesai, tanpa pamit Ghina memilih naik ke kamar untuk mandi dan sholat maghrib setelah sebelumnya menyiapkan makan di meja.
Namun saat kembali turun suaminya sudah tidak terlihat, mobil Al dan Tasya juga tidak ada, kembali hati Ghina bertanya kemana perginya mereka, dalam hati Ghina.
Dia langsung bergegas mengambil ponselnya , dilihatnya chatt masuk barang kali Al meninggalkan pesan, tidak ada, nihil.
Kembali dia membuka ponselnya barang kali Al miscall juga tidak ada.
Hatinya berkecamuk ... tenang Ghina... Tenang Ghina... berusaha menenangkan.
Kenapa ga aku telpon saja, pikirnya.
Tut tuttt tuuttt
Suara sambungan telpon di sebrang terdengar tapi lama Al baru mengangkat.
π±:" Assalamualaikum sayang... sorry ... aku balik lagi kekantor buru-buru ada yang ketinggalan
π±:" Waalaikum salam....Sudah sholat?"
π± :" sudah barusan di rumah, di kamar tamu, habis tadi kamu ya dikamar mandi lama"
π±:" Mbak Tasya pulang atau bersama mas?"
π±: " Tasya pulang... tadi mau pamit nunggu kamu mandinya lama terus dia pulang sebelum aku sholat" terang Al.
π±:" ya sudah hati-hati, aku menunggu mas makan malam"
π±:" iya sayang tunggu... mas ga lama... mas tutup. telponnya ya.. sudah sampai kantor, Assalamualaikum. tut tut tut...
__ADS_1
Ada sedikit kelegaan di hati Ghina tapi hatinya terlanjur menaruh sedikit curiga jadi dia merasa harus waspada.
Ghina menunggu hampir dua jam Al belum pulang juga, was was di hatinya kambuh lagi, bagaimana tidak perginya ga pamit sudah gitu ga tau sendiri atau berdua sama sang mantan, bilangnya hanya sebentar dan suruh nunggu makan malam tapi sampai cacing cacing yang tadinya demo diperut Ghina sampai pingsan mungkin karena sudah sepi tidak bersuara lagiπ
Ghina bersandar di sofa ruang tv ... sampai tertidur.
Jam 9 malam dia melirik jam yang didinding saat sebuah tangan mengoyang goyangkan pungungnya
" Sayang.... sayang.... bangun... ayo bangun... " suara Al yang baru datang.
" Hmmm.... mas sudah pulang?" tanyanya sambil mengucek matanya.
" Iya maaf lama.... " ucap Al
" Gapapa mas... mau di angetin dulu makanannya?" tanya Ghina sambil berjalan mau ke meja makan.
"Ga usah sayang... maaf aku tadi sudah makan... maaf aku ga bisa nolak ajakan Tasya" ucap merasa ga enak sama Ghina.
deg dag dug dorrr
Hati Ghina perang badar atau perang dunia ke tiga entahlah... ingin rasanya membanting semua yang ada di meja makan, ingin berteriak sekencang mungkin, menangis atau apa saja lah yang biasa orang lakukan kalau marah.
"Astaghfirullohal'aladzin.... " ucap Ghina sambil kembali duduk.
" Sayang.... maaf jangan marah... mas minta maaf benaran sayang ini bukan mau mas, tadi dia tiba-tiba menyusul ke kantor dan mengajak makan, mas ga bisa nolak... maaf" ucap Al sambil menunduk.
" Ga perlu mas... Ghina bisa makan sendiri, ga usah di ambilin... lagian aku tadi nungguin mas lama jadi sudah nyemil jadi sebenarnya Ghina ga begitu lapar" cegah Ghina sambil menyusul Al.
"Sayang sedikit saja ... kalau gitu, biarin mas yang nyuapin ya" rayu Al.
" Iiddiihhhh.... jurus rayuan maut, yang lagi seneng buangetz habis dinner bareng belahan jiwa, minta dimaafkan" sinis Ghina akhirnya ga tahan keluar juga dari bibirnya.
Al membelalakan mata, tidak menyangka istrinya akan bilang seperti itu.
" Kok bicaranya bener.... bener-bener ngacau" jawab Al sambil mengacak rambut Ghina.
" Mas... jadi berantakan.." teriak Ghina.
"Duduk sini... Aaak..." perintah Al sambil menyuapkan sendokan nasi dan lauk ke mulut Ghina. Ghina membuka mulutnya sambil mengunyah tanpa bicara. Sementara Al membelai-belai rambut Ghina sambil di ciumin. Sampai pada suapan terakhir selesai.
Ghina kemudian mengambil piringnya kemudian di taruh di tempat cuci piring.
" Mas udah malem... aku mau tidur" ucap Ghina sambil berlalu menaiki tangga menuju kamar. Al langsung mematikan tv dan lampu kemudian menyusul istrinya, lanjut ke kamar mandi karena tadi dia mandi.
__ADS_1
Selesai mandi dan berganti baju kemudian menyusul Ghina yang masih duduk bersandar di tempat tidur,
" katanya ngantuk... kok malah masih mainan ponsel sih" tanya Al, tapi Ghina hanya diam tak menjawab. Al langsung tau kalau istrinya itu beneran marah.
" Yang kok diem sih... belum ngantuk" pancing Al ingin memastikan bahwa dugaannya itu tidak benar.
Benar saja ga ada jawaban dari Ghina, dia malah asyik mainan ponselnya.
Matihhh gueee.... bathin Al, marah beneran nih bini gue... gerutunya dalam hati
" Yang... kok aku di cuekin sih... sinijn ponselnya.... liat mas... sayang" tangal Al sambil merebut ponsel Ghina.
" Mas siniin.... aku lagi lihat postingan teman- temankuuuu maasss." rengek ghina sambil berusaha merebut ponselnya kembali.
" Jangan cuekin mas dong makanya... "
" Mas.... suasana hatiku lagi jelek mas, ponsel itulah hiburan buat ku, tolong mas siniin..." rengek Ghina. Mendengar seperti itu Al kembali sadar kesalahan yang telah dia lakukan hari ini.
" Maaf..." Al mengembalikan ponsel Ghina sambil membelai rambut Ghina.
Ghina mengambil ponselnya kemudian mengusap layarnya lagi dan berselancar lagi ke dunia maya.
Sementara Al benar-benar tidak tau lagi harus bagaimana merayu istrinya itu.
Dreettt dreettt dreettt
Sebuah panggilan masuk ke ponsel Ghina, dengan cepat Ghina menggeser tombol hijau dan menjauh dari tempat tidur menuju balkon.
Rupanya dia barusan berchatting ria dengan group temen kerja kedai pak Hendra, di obrolan group itu lagi ramai membicarakan kalau Billy mau nikah, makanya dia japri sama Billy ga tau nya malah di telpon, lumayan lah buat menurunkan tensi ku yang lagi naik, mending aku menjauh dulu dari mas Al, bathinnya.
Al hanya melongo melihat istrinya keluar menuju balkon, bahkan pintu balkonnya dia tutup.
Siapa malam malam begini telpon, mana tadi suara lelaki... hmmm... Al mulai geram.
Al menunggu agak lama, tapi Ghina belum menyudahi obrolannya, Al mondar mandir, duduk di sofa sambil memperhatikan Ghina dari balik kaca.
Sial... dia seneng banget... siapa sih???" Guman Al sedikit naik tensi.
Tidak sabar Al kemudian membuka pintu balkon dan memperhatikan obrolan istrinya itu. Ghina merasa dilihat Al dengan wajah dingin kemudian mengakhiri sambungan telponnya itu.
π± :" Udah dulu ya bateraiku low nih...terima kasih udah mau mengabari ku... tau saja kalau aku sangat sangat kangen... kangeennn..... salam buat semuanya... Assalamualaikum..
Setelah terdengar jawaban salammya Ghina langsung mematikan ponselnya. Kemudian masuk dan menutup pintunya. Al sudah duduk di bersandar di tempat tidur sambil mengawasi wajah Ghina.
__ADS_1
tbc
____________________________________________