TERJAL

TERJAL
Sakit


__ADS_3

Anton langsung memapah Al menuju mobil begitu sampai rumah Al, Ghina terlihat mempersiapkan semua keperluan kemudian langsung mengunci pintu dan berangkat ke Rumah sakit.


Al duduk bersandar di jok tengah ditemani Ghina yang setia dan terus mengusap keringat dingin yang bercucuran membasahi kening Al.


Sesampainya di rumah sakit Anton langsung minta tolong perawat untuk membawa Al ke ruang IGD.


Dokter yang bertugas langsung memeriksa Al. Sementara Al saat itu sudah dalam kondisi pucat membiru , sesak nafas dan keringat dingin.


Ghina memperhatikan semua tindakan dokter yang memeriksa Al dengan perasaan was was.


" Mas harus kuat ya... " ucap Ghina menciup kening Al.


" Pak ... yang sakit dada sebelah kiri, apakah punya riwayat jantung sebelumnya?" tanya dokter


" Tidak dok..." Al menggeleng.


" Pernah mengalami kecelakaan sebelumnya yang menyebabkan tusukan di dada?" tanya dokter lagi


" tidak juga dok" jawab Al.


" Untuk lebih mengetahui sakit yang bapak alami akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,


Sebaiknya malam ini bapak di rawat di sini dulu, ibu silahkan di ke bagian administrasi untuk ruang inab nya.


" Sayang.... tunggu dulu aku ke administrasi bentar" pamit Ghina sambil mengecup kening suaminya.


" Anton... kalau mau pulang gapapa, mas harus di rawat biar aku yang menemani malam ini, bawa saja mobilnya" ucap Ghina menemui Anton sebelum ke bagian admin.


" Biarin saya tunggu sampai dapat kamar baru saya pulang mbak" ucap Anton.


" Oke, tolong jagain mas Al dulu aku mau ke bagian admin" pinta Ghina kemudian berlalu.


" Baik..." Jawab Anton kemudian menuju ruangan Al.


" Mas.... gimana, masih sakit?" tanya Anton.


" Masih Ton, tolong semua di handel ya... aku nitip... tolong " ucap Al dengan nafas yang nampak sesak.


" Pasti... mas tenang saja, nanti kalau ada perkembangan kasus di swalayan akan saya kabari secepatnya" ucap Anton.

__ADS_1


Ghina sudah selesai mengurus admin dan sudah berada di ruangan itu.


" Mas... sebentar lagi pindah ke tuang rawat inap ya... mas harus kuat... Bismillah ya mas ga lama-lama disini terus kembali sehat Aamiin yra" ucap Ghina sambil membelai rambut Al. Sementara perawat sudah siap memindahkan Al.


Mereka menaiki lift untuk sampai di ruang vip rumah sakit tersebut.


Setelah sampai ruangan kemudian Al di pasangkan infus oleh perawat tesebut.


Sementara Ghina diluar ruangan terlihat membicarakan sesuatu dengan Anton.


" Tolong.... mengenai masalah di swalayan kalau sudah ada hasil kirim dulu ke mbak... nanti kita runding kan keputusan yang akan diambil baru minta persetujuan mas Al kalau kondisinya mulai membaik.... tolong percaya sama mbak..." ucap Ghina pada Anton minta persetujuan.


" Oke mbak.... Anton percaya mbak punya kemampuan untuk menghandel permasalahan ini, cuma mas Al tidak tega kalau mbak mesti memikirkan urusan yang bukan urusan mbak..." ucap Anton.


" Sekarang permasalahan itu menjadi masalah ku juga sampai mas Al sehat" ucap Ghina sambil menepuk punggung Al. Kemudian mereka masuk kamar setelah melihat perawat keluar ruangan itu.


" Mas... malam ini kita tidur disini dulu ya... " ucap Ghina seperti nampak baik baik saja.


" Dari mana kalian,... " tanya Al karena beberapa menit barusan dia tidak melihat istrinya.


" Oh... aku tadi ke perawat minta tisu mas... ini" jawab Ghina menunjukkan Tisu ditangannya, karena dia tadi berjaga jaga kalau suaminya curiga harus punya alasan.


"Anton makasih ya... sudah aku repotin malam ini... silahkan tinggalkan kita, sudah malam, siapin tenaga buat besok di kantor swalayan tidak ada mas Al, mbak nitip ya, takutnya ada garong disana" ucap Ghina pada Anton.


"Kalau begitu aku pamit ya mas, mbak... lekas sembuh mas, jangan lama lama bubuk di sininya... mobil aku bawa simpan di rumah, nanti kalau perlu hubungi aku mbak..... Aman mbak... di swalayan tidak ada garong, karena pawangnya ini nih.... hahaaa..." ucap Anton menunjuk diri sendiri.


" Iya... kamu hati hati Ton, makasih untuk bantuannya hari ini" ucap Al sambil berbaring.


" Makasih untuk semuanya... nitip toko" ucap Ghina.


Anton kemudian beranjak meninggalkan ruangan itu.


Sementara Ghina langsung menggenggam tangan suaminya.


" masih sakit banget..." tanya Ghina sambil mencium tangan suaminya.


" Agak berkurang... sayang tidur saja, kasihan debay dia cape karena ibunya melakukan banyak hal hari ini" ucap Al dengan suara pelan.


" Debay sehat mas... sekarang aku pingin membelai mu sampai tertidur baru nanti aku tidur di sofa itu, aku mau lihat mas tidur dengan nafas lembut seperti biasanya, tidak seperti hari ini yang sesak dan sakit... " ucap Ghina dengan berkaca kaca dengan air mata yang hampir jatuh.

__ADS_1


Al tidak menjawab karena dadanya masih sedikit sesak, dia hanya membelai wajah istri nya.


Ghina duduk disebelah Al.


Membelai lembut rambut kepala Al, sambil membisikkan beberapa doa dan ayat cuci Al- qur'an dengan pelan agar suaminya cepat tertidur.


Tak berapa lama ada perawat yang masuk untuk memeriksa, rupanya perawat itu baru berganti jam kerja, dia memeriksa suhu badan dan mencatat nya, Ghina bertanya sesuatu pada perawat tersebut


" Sus...... kira kira suamiku akan bisa tidur tanpa kesakitan tidak" tanya Ghina memastikan karena dia tidak tega kalau suaminya kesakitan seperti tadi.


" O... bisa bu, diinfus ini sudah di masukin obat penahan nyeri, jadi bapak bisa istirahat tanpa kesakitan." ucap suster.


"Oke... terima kasih sus" ucap Ghina.


" Sama sama bu... mari.. permisi" pamit suster.


****


Pagi harinya Al melakukan berbagai macam pemeriksaan untuk mengetahui sakitnya.


Sementara Ghina setia menemani, walau Al sebenarnya berkali-kali untuk istirahat di rumah, tapi memilih untuk menemani Al.


Sementara di swalayan milik Al Anton terus dalam mode awas, dia tidak mau terjadi penggelapan terjadi berulang di toko milik Al.


Dengan usaha dan bantuan orang-orang yang tersebar dalam penyamaran dan juga alat penyadap rahasia Anton hampir menyakini pelakunya.


Anton dengan telaten dan teliti serta rahasia mengumpulkan data dan bukti untuk meringkus pelaku dengan bukti yang akurat dan tidak bisa disangkal meskipun dengan pengacara kelas dunia sekalipun.


**** Anton canggih... heheee.. ****


Sementara di kafe Ghina menempatkan Rani dan manager kafe pak Sapon sebagai orang kepercayaannya.


Seperti hari biasa kafe selalu ramai pengunjung, Ghina memang memikirkan secara detail setiap menu dan harga, bagi Ghina usaha adalah selain ladang rejeki juga ladang amal, harus saling agar pelanggan bisa tenang menikmati makanan yang menjadi menu pilihannya.


Bisa makan enak dan kenyang dengan harga terjangkau tapi juga bagi pegawai juga sejahtera gaji bukan hanya memenuhi makan sehari hari tapi juga bisa di tabung dan bersedekah** bukan hanya membuat sang bos kaya sendiri** itu prinsip Ghina, dengan begitu Ghina mengharap usahanya berkah.


tbc


____________________________________________

__ADS_1


__ADS_2