
Setelah selesai dimandikan, dilapnya dengan handuk pelan sangat pelan, "ibu ini sakit ya, ibuuu... bisiknya pelan sambil terus mengelap tubuh ibunya.
Ghina melihat lekat wajah ibunya ia ingin menyimpan wajah itu dengan detail didalam hatinya yang terdalam tak ingin hilang sampai kapanpun. Dilihatnya sekujur tubuh ibunya, didadanya penuh dengan luka membiru... ya Alloh apa yang tadi terjadi pada ibu, kenapa ditubuh ibu dan tante Yati penuh dengan lumpur, rambutnya bajunya semuanya memang kecelakaannya bagaimana, gumannya dalam hati.
Malam itu Ghina benar benar larut dalam dukanya dia seperti tidak menapak bumi, rasanya melayang dadanya sakit, sesak seperti dihimpit gunung besar.
Tangisnya tumpah setiap kali pikirannya melayang mengingat semua kenangan tentang ibunya.
Kakinya lemah tidak bertenaga, benar benar linglung.
Oom dan beberapa orang tetangganya tadi akhirnya bercerita tentang kejadian yang dialami ibu dan tantenya Ghina
" Tiga hari ini memang hujan besar terus menerus, tapi pagi tadi hujan mulai reda matahari bersinar, habis sholat dhuhur ibu Isti dan tante Yati pergi kekampung sebelah untuk menghadiri tauziah seperti biasa setiap hari jum' at minggu ke 2 pasti rutin.
Namun sepulang dari pengajian itu saat melewati jalanan yang pinggir atasnya sebuah kebun akasia tiba tiba tanah itu bergerak, longsor akibat tanah labil terisi air... yang didepan teriak karena suaranya bergemuruh, namun bu Isti, tante Yati dan tiga orang lainnya belum sampai ditempat yang aman ketika tanah, batu dan juga pohon menimpa mereka tiga temannya tadi selamat hanya saja luka luka dan harus dirawat di klinik desa, namun naas buat bu Isti beliau tertimpa pohon didadanya terhimpit sangat kuat dan tante Yati terbentur batu dikepalanya itu yang membuat mereka tidak tertolong. Ghina meremas gamisnya memejamkan matanya saat mendengar cerita itu, air matanya sudah banjir membasahi hijabnya, digigit bibirnya menahan sesak didada, rasanya melayang susah untuk dikendalikan, mungkin ini yang dimanakan shock berat entahlah.
Salman yang melihat kakaknya seperti itu hatinya sangat perih apalagi Oomnya, beliau selain kehilangan kakak juga istri ibu dari anak anaknya, entah apa yang dia rasakan ketika melihat ponakannya seperti itu, juga melihat Dina, Syifa berasa hancur lebur tak tersisa, tapi beliau sadar kalau semua anak itu butuh bersandar padanya bukan hanya dua anak tapi empat sekarang, harus kuat, itu saja saat ini yang ada dipikirannya.
Sepanjang malam Ghina tidak memejamkan matanya dia setia menunggui jazad ibu dan tantenya sambil membacakan ayat suci.
Oliv yang melihat keadaan Ghina terasa hancur juga hatinya, sedih, tidak tega.
__ADS_1
_______
Pagi pagi sekali Ghina sudah mandi bersiap menunggu adzan subuh setelah sebelumnya dia sholat tahajud, dibacanya lagi lantunan ayat suci disamping ibunya sampai adzan terdengar dia akhirnya beranjak untuk sholat fajar dan subuh.
Secangkir teh panas disodorkan Oliv untuk diteguk Ghina agar dia sedikit hangat karena semalaman tidak tidur apalagi semalam cuaca kembali diguyur hujan.
"Oliv bisa melihat betapa sulit temannya itu untuk sekedar meneguk teh itu, ia tahu teh yang hanya air itupun sulit ditelan terasa duri dikerongkongan Ghina, dia menghela nafas dalam seakan ikut merasakan kepahitan yang Ghina alami.
"Ghin.... kamu itu gadis baik, anak sholehah, hidupmu lurus lurus saja, tapi kok nasibmu begini... semoga ujian demi ujian dalam hidupmu ini akan menjadikanmu sebuah berlian yang kuat. .... doa Oliv dalam bathin sambil melihat Ghina berusaha meminum teh yang ia buatkan.
"Kak... mau ikut kemakam ga, tanya salman.
" Kalau begitu kakak harus sarapan dulu, walau susah masuk, nanti kalau terjadi apa apa sama kaka adik akan tambah sedih... imbuh Salman.
" siap siap karena jam 8 sudah mau dibawa kepemakaman, imbuh Salman lagi.
"Ya... akhirnya Ghina menjawab.
Oliv yang mendengar ucapan Salman langsung berinisiatip cari bubur buat Ghina sarapan.
Dengan sedikit dipaksa akhirnya Ghina sarapan. Sebelum akhirnya beberapa tamu datang untuk bertakziah ibu kost dan Nena juga sudah datang dipagi itu.
__ADS_1
Tetangga juga pada berdatangan lagi mereka bersiap untuk menghantar bu Isti dan tante Yati orang yang mereka kenal baik, ramah dan suka membantu tetangga.
Tepat jam delapan pagi setelah disholatkan dimasjid dekat rumah akhirnya kereta jenazah berjalan pelan menuju pemakaman umum dipinggir kampung.
Bu isti dimakamkan disamping suaminya almarhum pak Arif sementara tante Yati disebelah nenek, mereka berjajar empat.
Ghina menabur bunga.... mengusap nisan ibunya sebelum beranjak pergi meninggalkan pemakaman itu.
Langkahnya lemah benar benar lemah, dia tahu sebenarnya tidak boleh begini, tapi sekuat apapun ia menata hatinya untuk kuat tapi tetep belum bisa, dia masih ingin meratapi sedihnya.
Sesampainya dirumah masih ramai para pelayat berdatangan mulai dari tetangga kampung sebelah temen Ghina SD, SMP, SMA Guru gurunya dulu, hingga sahabatnya Nola juga datang dia yang belum justru Adam dan Asri.
_____
Adam yang pagi itu dengar kabar melalui postingan Nola kemudian bergegas pulang dengan motornya, dia lupa mengajak bareng Asri yang ada dibenaknya hanya ingin secepatnya sampai kampung dan bertemu Ghina, ingin melihat kondisi Ghina, ingin menghiburnya, bathin Adam.
Namun jarak semarang kekampung itu tidak dekat paling cepat tiga sampai empat jam. Adam yang baru tau kabar itu jam 7 kemudian bersiap kemungkinan siang baru akan sampai. Sementara teman Ghina dari tempat kerja juga ada beberapa yang sedang off dan shif sore pada datang, ada Chandra, Billy dll. Pak Hendrapun menyempatkan setelah siangnya.
tbc
____________________________________________
__ADS_1