TERJAL

TERJAL
Cemburu


__ADS_3

"Kak... ini kopinya" ucap Ghina sambil meletakkan cangkir kopi dihadapan Al, Al menatap intens wajah Ghina.


" Terima kasih sayang... kok kak lagi sih, bukannya kemarin bilang mau panggil mas?" ledek Al sambil melihat ekspresi wajah istrinya yang nampak acuh dan tidak mau melihat dirinya.


"Masih marah ya... udahan dong marahnya... mas sedih nih didiemin.... sayang boleh marah tapi jangan didiemin gini dong... pukul aja sini yang kuat" ucap Al sambil menarik tangan Ghina supaya memukul dadanya, tapi Ghina memalingkan wajahnya dengan Diam tanpa suara.


"Duduknya sini... disebelah mas yang...jangan jauh-jauh..." ucap Al sambil menarik pinggang Ghina supaya duduk berdekatan dengannya, Ghina nurut tapi tetap diam ga ada suara.


Al yang ga tahan didiemin pun akhirnya hanya sibuk membelai kepala Ghina kemudian merangkul punggung Ghina dan menciumi pipi, kening, meniup-niup telinga Ghina, namun Ghina hanya diam tapi tidak menolak dengan perbuatan suaminya itu.


Namun lama-lama karena suaminya makin nakal al hasil suara desahan lembut pun lolos dari bibirnya.


"Aacchhhh... kak sudah nanti dilihat pak Totok malu..." ucapnya.


" Hmmm.... kan... gitu dong dari tadi bersuara jadi kan mas ga nakal" suara Al sudah bergetar menahan hasrat karena ulahnya sendiri akhirnya bangun dech tuh macan tidur.


"Minum dulu kopinya terus makan brownis nya" ucap Ghina mengalihkan perhatian pada dirinya.


Kemudian Al menyeruput kopinya.


"Sayang... maafin mas semalam ya... apa yang kamu dengar semalam itu hanya obrolan ga guna, ga berarti apapun , hanya obrolan sesama teman waktu jaman kuliah saling mengabarkan satu sama lainnya, mas tidak ada maksud buat menyakiti apalagi sampai menduakan sayang ku... mas sayang sama kamu melebihi diri mas sendiri, jangan ragukan itu..." ucap Al sambil memandang mata Ghina tajam.


" Gombal.... kita lihat saja ke depan nya aku ga mau janji aku mau yang nyata saja, biar Alloh yang mengatur hidupku, cukuplah Alloh sebagai sandaran hidupku mas, Ghina tidak berani janji apapun, mas bisa jujur, baik dan pengertian alhamdulillah berarti itu rejekiku tapi kalau sebaliknya berarti itu juga rejekiku, akan tetap aku syukuri, semoga aku bisa apapun itu... kita baru mulai bahkan masih dalam hitungan jam kalau kakak mau mundur Ghina ga masalah, akan Ghina terima" jawab Ghina dengan wajah yang nampak masih ada kecewa disana.


"Sayang.... kok gitu sih ngomongnya... sakit tau hati mas dengarnya" rengek Al dengan wajah kagetnya, Al ga menyangka akan ucapan Ghina barusan.


"Pokoknya kapan pun kakak mau menduakan Ghina, sekarang, besok atau kapanpun Ghina terima.... dengan syarat tinggalkan Ghina dan lanjutkan hidup kakak dengan orang yang kakak pilih..." ucap Ghina dengan nada sedikit meninggi.


" Sayang kau kah itu... benar... ini istriku... wanita yang 2 hari lalu aku nikahi... kok kata-katamu seakan-akan kamu ga pernah cinta sama suami mu ini... apakah aku memaksamu waktu kemarin sebelum kita menikah... hah...!!!" ucap Al bergetar menahan emosi.


Ghina hanya diam, tak ada kata lagi, kemudian beranjak meninggalkan Al sendiri, dia berlari ke kamar mandi di kamarnya menyalakan shower dan menangis sejadinya disana, lama.... setelah hatinya sedikit tenang dia mandi dan wudhu kemudian keluar kamar mandi.


Masih tak ada Al kemudian dia ganti baju dan sedikit berdandan kemudian sholat dhuha. Berdoa dengan khusyu' sampai terdengar ketokan mbok Sri memanggil untuk sarapan

__ADS_1


Tok tok tok...


"Non... semua sudah menunggu untuk sarapan" panggil mbok Sri


"Mbok maaf... suruh semua sarapan duluan, Ghina masih mau sholat dulu mbok, tanggung udah wudhu nih..." jawab Ghina sambil membuka pintu masih mengenakan mukenanya, mbok Sri mengangguk kemudian pergi.


Kemudian Ghina menutup pintu kembali dan memilih mengaji karena sholatnya sebetulnya sudah selesai.


Tak berapa lama Al masuk sambil membawa makan di piring. Melihat Ghina yang masih ngaji dia masuk kamar mandi.


10 menit kemudian keluar dari kamar mandi sambil mengelap rambutnya yang basah. Ghina sudah tidak terlihat di kamar sedang makanan yang dia bawa tadi masih utuh belum disentuh sama sekali.


Al mengambil ponselnya bermaksud menelpon istrinya itu.


Drettt drettt dreetttt...


"owh ponselnya disini kemana dia... duuhhh kalau ngambek susah banget mencairnya" guman Al sambil menghela nafas dalam.


Kemudian Al menaruh ponselnya kembali tak berapa lama Ghina masuk


Ghina menerima sambil melihat sendu pada suaminya, kemudian menaruh lagi piring itu diatas Nakas, Al yang melihat mau marah.... tapi tiba-tiba sebuah pelukan erat menghunjam dadanya ... pelukan dengan suara isak tangisan... Al reflek langsung membalas pelukan itu.


"Hikz hikz.... mas aku sakit, aku cemburu aku ga ikhlas mas mau ketemu sama mantan mas yang cantik dan seksi yang sudah janda itu..." suara itu keluar mulus dari mulut Ghina dengan sekali tarikan nafas... hahaaa... kayak ijab kabul ya😊


Al terperanjat kaget tapi juga bahagia


"Owh jadi sayang itu ga marah toh... tapi cemburu berat... hmmm... mas hampir frustasi dibuatnya dik..." ucap Al penuh senyum bahagia dan semakin mengeratkan pelukannya.


" Sayang...... jangan begini lagi ya... mas sedih, mas frustasi, cemburu boleh tapi jangan diemin mas... terus tadi bilang kalau mas mau nikah lagi katanya ikhlas... kata-kata itu mas suka tuh... tapi ujungnya ga ada enaknya... kamu mau ninggalin mas... enak saja... kalau kamu sering diemin begitu yang jelas mas nikah lagi tapi tidak meninggalkan kamu juga" Canda Al yang membuat Ghina reflek mencubit perut suaminya sekuat tenaga.


"Aowwww.... sayang sakiittt... asli ini sakit yang..." Al langsung melepaskan pelukannya dan tersungkur di kasur.


"Kak... beneran sakit" tanya Ghina sambil mengelus punggung suaminya yang belum mengenakan baju sedari tadi.

__ADS_1


Tak ada jawaban.


"Kak... jangan gitu... Maafin Ghina kak" rengek ghina sambil terus mengelus punggung suaminya.


"Kak sakit banget ya... sini Ghina obati sebelum Ghina pergi sama ibu sejam lagi... ya..." mendengar itu, Tiba-tiba Al membalikan badan dan menarik Ghina sehingga Ghina berada diatas dadanya.


Tanpa suara Al langsung menarik tengkuk istrinya dan ******* bibirnya...semakin dalam sampai terasa sesak nafas... setelah itu baru dilepas... masih tanpa berkata-kata Al membuka hijab dan seluruh pakaian istrinya.


merekapun menumpahkan hasrat di pagi hari itu.


"Terima kasih" ucap Al sambil menghujani kecupan di kening Ghina.


Ghina langsung beranjak kekamar mandi lagi untuk mandi dengan cepat takut ibu nya sudah menunggu merasa tidak enak hati, malu.


"Sayang .... perginya diantar pak Totok ya... nanti kalau sudah beres kabari mas, nanti mas yang jemput" ucap Al sambil mengenakan celana dan kaos santai.


"Jangan lupa makan dulu.. " Imbuh Al.


Ghina masih sibuk berpakaian dan menyiapkan segala sesuatunya.


Al mengambil dompetnya dan memberikan kartu ATM pada Ghina,


" PIN nya tanggal penculikan yang kulakukan waktu itu" ucap Al sambil senyum.


"Harus ya aku pakai ini?" tanya Ghina ragu.


"Iya itu nanti akan aku transfer setiap bulan sebagai nafkah lahir untukmu" ucap Al


"Terima kasih.... semoga aku bisa mempertanggung jawabkan kelak" ucap Ghina sambil menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.


"Al merasa senang dengan ucapan Ghina barusan, selama ini seorang Cindy yang ga pernah diakui sebagai pacar saja selalu minta jatah bulanan yang lumayan dengan alasan buat beli susu untuk anaknya yang sudah yatim. Lah ini istriku baru dikasih kartu belum digesek, belum diambil uangnya sudah berucap terim kasih penuh haru" lamun Al.


tbc

__ADS_1


__________________________________________


__ADS_2