
Di ruang inap Al tampak Ghina tengah tertidur usai melahirkan, wajahnya terlihat sangat lelah. Al memandangi wajah istrinya itu, bathin Al tak henti hentinya mengucap terima kasih.
Terima kasih ya Robb.... Kau jaga isteri dan anakku, sehingga anakku lahir dengan sehat dan sempurna... terima kasih sayang... kau begitu kuat... cepatlah sehat" bisik Al lirih disamping tempat tidur Ghina sambil mengelus pelan tangan Ghina, tak ingin isterinya kaget dan bangun.
Semenjak diantar suster ke ruangannya, Al langsung mengabari ibunya, salman dan Oom Yasin atas kelahiran putrinya.
Jam makan siang Ghina di bangun pelan oleh suster supaya bangun dan makan karena sebentar lagi bayinya akan di bawa ke ruangan untuk menyusu ibunya.
Ghina pun bangun, Al langsung memberikan minum air putih hangat supaya Ghina merasa segar.
"Makasih mas..." ucap Ghina.
" Masih cape... lemes banget ya?" tanya Al dengan raut wajah memelas.
" Sudah lumayan mas... rasa sakit, cape dan semuanya telah terbayar lunas ketika melihat debay lahir sehat dan selamat" ucap Ghina dengan wajah senang, melihat itu Al langsung tersenyum.
" Kita kasih nama yang telah kita sepakati kemarin ya" Ucap Al.
" Hmmm... iya... FARAH ADIBA nama yang bagus semoga dia memberi kebahagiaan dan menjadi anak yang penuh sopan santun serta cerdas" ucap Ghina.
Suara kereta bayi terdengar, betul saja seorang suster datang dengan mendorong debay, suster itu langsung mengambil bayi dari box kemudian mengarahkan Ghina cara memegang bayi dan posisi yang betul untuk menyusui.
Al melihat bayinya ketika mulai menyedot Asi dari ibunya terlihat sangat menggemaskan.
" Sayang.... Dia sangat cantik, mirip kamu tapi juga ada miripnya sama aku... perpaduan wajah kita sayang... " ucap Al sangat antusias.
" Iya mas.... " Jawab Ghina
" Farah....cantik... sehat selalu ya.... " ucap Al sambil mendekat dan mencium lembut kening bayinya.
" Mas... semangat ... berjuang terus untuk sembuh... demi dia mas.... dia butuh mas" ucap Ghina dengan mata berkaca kaca sementara Al hanya mengangguk kemudian membelai lembut kepala Ghina.
__ADS_1
****
Setelah 2 hari di rawat Ghina sudah diperbolehkan pulang karena lahirnya normal bayinya sehat jadi bisa pulang bareng... begitulah kenikmatan dari seorang ibu yang kuat, hamil tidak ngidam yang berlebihan melahirkan normal dan bayinya sehat.... ***** maaf ini hanya cerita untuk Ghina ya... jadi kalau ada Readers yang tidak seperti Ghina... karena setiap wanita hamil berbeda pembawaannya..... mohon maafkan kata-kata Authorπππππππ
Dan Al pun juga sudah boleh pulang, mereka pulang di jemput Anton.
Sampai di rumah Ghina mengurus bayi nya sendiri, dikarenakan proses melahirkan tidak sampai di jahit sehingga kesembuhan Ghina juga sangat cepat, Dia sudah bisa ber aktifitas seperti biasa mulai dari menyiapkan sarapan Al dan dirinya, memandikan debay Farah semua bisa di tangani sendiri.
Hanya saja kalau bersih bersih rumah ada yang membantu 2 hari sekali.
Sedangkan cucian di cuci sendiri dengan mesin cuci di rumah, menyetrikanya di bawa ke loundry namun untuk baju debay Farah di urus Ghina sendiri karena harus penanganan khusus tidak boleh dicampur dengan baju orang dewasa karena kulit bayi masih sensitif.
Untuk akikah debay Farah Ghina dan Al sepakat mengadakan di panti asuhan yang sering di kunjungi Ghina, selain penghuni panti disana juga diundang beberapa orang yang sering di santuni Ghina.
______
Al ternyata butuh waktu panjang untuk sembuh, seorang yang menderita cancer mengapa di sebut pejuang karena ya mungkin itu tadi, harus ekstra sabar dan disiplin dalam pengobatan.
Namun Ghina dengan telaten dan sabar setiap hari selalu memberi perhatian, makanan yang sehat, serta istirahatnya juga sangat diperhatikan memang Al masih bekerja dan aktifitas lainnya hanya saja semua dalam pengawasan dan saran dokter.
*****
Waktu terus berlalu, kini debay Farah sudah mulai merangkak cepat bahkan sesekali sudah mulai mencoba berdiri dengan menggapai pegangan.
Dia terlihat sehat dan badannya kencang pipinya cubi dengan lesung pipit dan matanya bulat bersih keningnya sedikit nonong menambah kelucuannya.
Al terus berjuang dalam sakitnya Ghina tak pernah putus asa untuk mendampingi Al dalam mencari pengobatan yang lebih baik.
Kafe Ghina semakin ramai namun swalayannya Al hanya berjalan seperti biasa itu karena kondisi Al, tidak bisa total mengurus begitupun dengan Ghina.
Walaupun begitu Swalayan selalu dalam keadaan stabil. Dibawah kendali Anton semua pegawai bisa dipercaya, mereka jujur dan rajin bekerja.
__ADS_1
Ghina juga sudah menyelesaikan pendidikannya. Namun selama pindah mereka belum pernah pulang itu dikarenakan Al yang sakit sehingga belum bisa melakukan perjalanan jauh, ibu Al dan Salman yang sesekali bergantian menjenguk.
Malam itu saat Farah sudah tertidur, Ghina melihat Al yang sudah tertidur juga, kini badan Al terlihat semakin kurus dan rambutnya terlihat menipis akibat dari proses pengobatan kemo yang dijalani.
Hati Ghina menangis, tak kuasa melihat suaminya itu, wajah yang biasanya ceria tersenyum padanya kini banyak diam menahan sakit.
Ghina berencana membawa Al berobat ke luar negeri karena Farah sudah tidak Asi eklusif jadi bisa di bantu dengan PM Asi dan susu tambahan saat nanti Ghina menemani Al berobat, Ghina berencana tidak membawa Farah karena masih terlalu kecil, Dia meminta Salman selama libur kuliah untuk mengawasi kafe dan juga Farah di Malang.
_________
Selama hampir 2 bulan Al menjalani pengobatan, akhirnya dokter menyatakan Al sembuh dari cancer paru stadium 1 yang di deritanya.
Tapi selama 1 tahun Al harus terus kontrol untuk memastikan bebas dari penyakit itu.
Rasa syukur Al tiada habisnya, dia begitu salut dengan istrinya yang begitu luar biasa berjuang siang malam untuk mensuport dirinya untuk sembuh, melalui usaha menjaga makanannya, istirahatnya, pekerjaannya, mencarikan berbagai pengobatan, dan doanya setiap malam yang dia panjatkan.
Al memeluk isterinya dengan erat air matanya mengalir deras.
" Terima kasih ya Alloh..... "
" Terima kasih sayang....... Terima kasih untuk.... semuanya" Al dan Ghina tersedu menangis dan saling mendekap didepan dokter yang membantu dalam pengobatan yang Al jalani di luar negeri itu, sampai dokter itupun ikut menitikkan air mata.
" I will do anythink for you, my hubby" isak Ghina dalam dekapan suaminya.
Kemudian mereka saling melepaskan pelukan itu dan menyeka air mata mereka kemudian menoleh kearah dokter dengan tersenyum.
Ucapan terima kasih dari Al dan Ghina untuk dokter, kemudian salam perpisahan untuk sementara karena nanti Al akan datang lagi untuk check up rutin.
Ghina dan Al menuju bandara untuk pulang dengan senyum bahagia.
Didalam taksi Al merangkul pundak Ghina dan sesekali mencium pucuk kepalanya.
__ADS_1
tbc
_________________________________________