
3 Bulan kemudian
Hari- hari dilalui Ghina dan Al dengan Al sibuk bekerja kadang hingga larut bahkan terkadang weekend pun tetep bekerja, sementara Ghina hanya menjalankan rutinitas biasa di rumah nyiapin sarapan, nyuci, setrika dan nyiapin makan malam kadang kalau Al pulangnya masih belum terlalu malam sementara yang bersih-bersih kamar mandi ngepel rumah ada seminggu 3 kali, bik Ina.
Sehingga Ghina memilih melanjutkan kuliahnya lagi dan memperdalam tehnik menjahit juga ikut kursus memasak.
Dalam pikiran Ghina mau memanfaatkan waktu mumpung belum disibukkan dengan kehadiran anak dan Al setuju.
Di siang hari Ghina benar-benar mengatur jadwalnya sepadat mungkin agar malamnya bisa di rumah dengan Al.
Kalau akhir pekan Al ada waktu luang, Al mengajak Ghina berwisata atau hanya sekedar keliling kota sesuai janjinya waktu Ghina baru datang.
Walaupun hanya malam hari bersama namun perhatian dan komunikasi mereka sangat dijaga, Al selalu menyusul dimanapun istrinya berada untuk makan siang bersama atau hanya ketemu sebentar walau kadang Ghina lagi dikampus, di tempat kursus jahit atau di tempat ia belajar menjadi chef.
Bahkan hasil dari belajar chef nya sering ia praktekkan di rumah untuk menu sarapan Al.
Yang paling konyol Al kadang menemui Ghina hanya minta minum bekas minum Ghina.
"Kangen" bilangnya cuma seperti itu.
Seperti sore ini Al menjemput Ghina di tempat les jahit kemudian langsung mengajak makan di luar.
Mobil memasuki sebuah restoran mewah.
"Mas.... kok kita kesini... cuma makam malam ini, bisa dipinggir jalan atau yang biasa saja lah... tempat begini ini bingung mau pesan menunya," ucap Ghina sambil menarik tangan Al
" Kalau bingung nanti aku yang pesanin buat kamu, sayang tinggal duduk manis terus makan" ucap Al seraya merangkul istrinya menuju sebuah ruangan yang telah dipesan Al, Ruangan VIP dengan cahaya temaram berada di sudut ruangan dengan meja dan lilin disana dekat dengan kaca yang besar, sehingga yang duduk disana bisa melihat indahnya kota saat malam hari dengan sempurna.
Al melangkah masuk mendekati meja dengan tangan erat menggenggam Ghina, setelah itu Al menarik kursi meja dan mendudukkan Ghina
" Duduklah... " perintah Al.
" Mas.... dibawah sana terlihat sangat indah... lampu-lampu itu... cahayanya seperti bintang... ujar Ghina senang.
Al hanya tersenyum melihat istrinya sangat senang.
"Dalam rangka apa mas mengajak ketempat seperti ini.... jangan bilang mas mau minta ijin nikah lagi" ucap Ghina sambil cemberut.
"Huuaaaahaaahaaaa..... "Al yang berniat romantis jadi ambyar pikirannya, sehingga yang keluar hanya tawa lebar sambil menggelengkan kepala.
" Mas.... jawab dong... jangan bilang tebakan Ghina benar.... mas udah ketemu ya.. sama mantan mas yang janda anak dua itu..." Ghina terus saja nyerocos sambil cemberut.
"Sayang .... sayang.... dengerin mas, kita kesini karena mas mau bilang terima kasih sama sayang... selama tiga bulan ini sayang sudah bikin mas bahagia, kita kesini karena mau makan romantis bukan seperti yang sayangku pikir... oke...
Buang jauh- jauh pikiran jelek itu, mas marah mas ga suka" terang Al panjang lebar.
" Ya mas sama-sama..... ghina juga bahagia selama 3 bulan ini, Ghina tadi bicara seperti itu karena jujur mas.... Ghina takut ... Ghina kwatir... mas boleh pulang telat, boleh pulang larut tapi jangan pernah lewatkan malam tanpa ada aku di sisimu mas, Ghina ingin setiap pagi ketika mata ini terbuka selalu ada mas di sampingku.... " ucap Ghina dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Al langsung berdiri berjalan kebelakang Ghina dan menundukkan badannya merengkuh pundak Ghina membenamkan wajahnya tengkuk istrinya.
"Sayang.... kamu pingin seperti itu... mas lebih dari itu... 29 tahun hidup mas penuh dengan kesenangan semu, tapi mengenalmu... hidup mas jadi berwarna, mas jadi tau kemana tujuan hidup ini.... memiliki mu adalah anugerah Alloh sayang... seandainya kamu tau ... rasa syukur mas pada Robbku atas hadirmu dalam hidupku tak bisa ku tukar dengan apapun yang kumiliki bahkan nyawaku sekalipun.... " Al berucap sambil terus menciumi tengkuk dan telinga istrinya.
Sementara Ghina sudah berderai air mata mendengar semua ucapan suaminya itu, hatinya berdesir sedih ternyata dia tak bisa melihat hati suaminya sampai sedalam itu.
Betapa aku tidak pernah bersyukur ya Robb... ampuni hamba....... ampuni hamba ya Alloh... jaga suami hamba selalu dalam lindungan jalanMu, Hamba ingin dia bahagia dan sehat dalam RidhoMu Ya Robb... Aamiin yra.
" Mas... aku tahu itu... tapi egoku kadang menipu hatiku... maafkan aku suamiku" Ghina sambil memalingkan lehernya kearah wajah suaminya yang sedari tadi nggak mau lepas terus saja bertengger, sehingga pas Ghina menoleh pas kena bibirnya... cup bibir Ghina pas kena di bibir Al, sampai pelayan datang membuyarkan adegan itu.
" Maaf.... pak... mbak... ini pesanannya"
" Iya makasih mba... " ucap Ghina tapi tidak dengan Al dia nampak dingin.
" Suamiku sayang... ayo makan... berdoa dulu jangan manyun gitu dong" rayu Ghina.
" Enak saja pelayan tadi.... panggil ke sayang mbak... giliran ke aku pak... dia pikir aku ini Oom Oom dan sugar dady gitu... kesel" Al cemberut.
" Haaaiisss... pelayan tadi salah, ini bukan bapak- bapak tapi bayi tua... hahahaaaa... " kekeh Ghina sambil menyuapi suaminya.
" Selama acara makan itu Ghina sibuk menyuapi Al, padahal biasanya Al yang demikian sambil sesekali mengelus pipi Al membelai rambutnya memandangi wajahnya, namun Al nampak hanya diam menikmati.
" Kenapa jadi manja gini sih... " ucap Ghina
" Sesekali boleh dong... sama istri sendiri" jawab Al.
" Jangan.... kasihan istriku cape kalau keseringan ... hahahaaaa" jawab Al menyerigai.
" Mas.... urusan kursus-kursusku sudah mau beres nih... boleh dong aku bekerja setelah ini?
" Nggak boleh.... !!!"
" Hmmmm.... kalau punya usaha sendiri, seperti kedai kopi misalnya.... boleh tidak?"
" Sayang serius???"
" Banget...!!!"
"Nanti mas pikirin dulu ya... sabar dulu" ucap Al sambil membelai pucuk kepala Ghina.
" Terima kasih mas...."
" Pikirin juga kondisi badan mu sayang.... karena mas tidak mau kamu capek!!!"
" Pasti mas... kita pulang yuk"
Merekapun kemudian pulang dari restoran itu.
__ADS_1
Baru saja keluar tiba-tiba ada suara yang memanggil
" Al....... Al.... Al gifari... maaf benar ini Al gifari?" panggil seorang perempuan mungkin sebaya dengan Al usianya.
" Tasya.... " jawab Al setelah memperhatikan orang yang memanggil tadi.
" Iya Al.... kamu kok disini... ?" tanya perempuan yang terlihat cantik dan tinggi dengan senyum sangat manis.
"Apa kabar kamu sekarang.... selamat ya atas pernikahan mu kemarin... " ucap nya lagi.
"Alhamdulillah aku baik... iya terima kasih... kenalkan ini istriku " ucap Al sambil menunjuk kearah Ghina.
" Ghina....." ucap Ghina sambil tersenyum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Natasya... " menyambut uluran tangan Ghina sambil senyum dan memperhatikan penampilan Ghina.
"Al... kamu sekarang tinggal di sini?"
"Iya... Aku buka usaha disini" jawab Al santai Ghina hanya mendengarkan saja obrolan mereka.
"Tinggal dimana disini?" tanya Tasya lagi
" Di perumahan xxx Residen" jawab Al menyebutkan tempat dia tinggal.
" O ya... aku dengar kabar kalau suami mu meninggal.... ikut bela sungkawa" tambah Al lagi.
" iya Al .... kurang lebih 6 bulan lalu, terima kasih " jawab Tasya agak sendu.
"Kamu disini sendiri lagi apa?" tanya Al penasaran.
"Kebetulan restoran ini adalah rintisan aku dan almarhum suamiku dulu saat kami baru menikah... jadi ya... setelah dia tidak ada lagi... aku yang mengurus"
"Oh... ternyata ini punyamu... syukurlah, sukses terus untuk usahamu"
"Aamiin makasih Al... sering-seringlah mampir kesini"
" Oke... kalau begitu aku pamit dulu, udah malam" pamit Al.
"O ya... senang Al bisa ketemu kamu disini" jawab Tasya.
"Assalamualaikum... " pamit Al tidak ingin menjawab kalimat Tasya barusan.
" Mba... kita duluan ya... " pamit Ghina sambil tersenyum kearah Tasya.
Natasya memandangi mereka pergi sampai mobil melaju di jalanan menembus malam.
tbc
__ADS_1
__________________________________________