TERJAL

TERJAL
Akhir yang menentramkan


__ADS_3

6 bulan kemudian


Setelah pembangunan Kafe di Jogja selesai Ghina berencana pindah, sementara Ghina mempercayakan Kafe di Malang pada Rani dan Al mempercayakan swalayan nya pada pak Sapto namun semua dalam pengawasan Anton.


Anton mendapat amanah untuk mengawasi swalayan, kafe dan rumah.


Anton memang sangat bisa di andalkan, meskipun sekilas nampak agak kemayu gimana gitu, tapi tanggung jawabnya dan kecerdasannya untuk menjadi leadher sangat memuaskan Al.


"Ton.... aku percayakan semuanya padamu, tolong jaga amanah ku ini, aku sangat percaya padamu", ujar Al saat mereka duduk di ruang tamu rumahnya.


" Insyaalloh mas... " Anton menunduk sedih karena berarti dia akan jarang bertemu dengan bos nya ini yang sudah Anton rasa seperti kakak.


" Satu lagi.... carilah pendamping hidup, mas rasa gaji yang aku berikan padamu sudah lebih dari cukup untuk kau memiliki keluarga", imbuh Al sambil terkekeh lebar dan memukul kepala Anton pelan dengan gulungan koran.


" Sik to mas... pacar aja belum punya kok", jawab Anton sambil merapikan ramburnya yang agak berantakan akibat pukulan koran tadi.


" Makanya.... cepet cari, apa perlu mas yang carikan?" jawab Al sambil tersenyum tipis dan wajah menyelidik.


" Ga ono sik gelem karo aku mas... biarin aku jadi jomblo abadi... eehhh jangan, kasihan ibuku", jawab Anton dengan muka sedih dan bibir bawah yang sedikit maju.


" Karo Rani ae... cocok kayaknya secara Rani itu cewek yang tegas dan sedikit tomboy", ucap Al mencoba memberi pilihan pada Anton.


" Idiihhh... mas sok mau jadi mak comblang....", jawab Anton dengan wajah datar.


" Ya sudah.... bentar lagi kita berangkat, baik baik disini, jangan lupa pesan mas".


" Baik bos.... semoga di Jogja lebih sukses", doa Anton.


"Aamiin... " jawab Al mantap.


Ghina dan Al kemudian berkemas dan menuju Jogja meninggalkan kota Malang.


*******


1 Tahun kemudian


Ghina sibuk melihat laporan ke uangan dari kefe Kade cabang Jogja, terlihat senyum manisnya tersungging menghiasi bibirnya.


Sesekali dia melihat aktifitas Farah yang sangat aktif dan sudah mulai cerewet.


Al yang sedang menikmati secangkir kopinya juga sesekali meladeni ocehan putri nya tersebut.

__ADS_1


" Mas.... Alhamdulillah lancar semua, begitu juga yang di Malang makin banyak saja pelanggannya, Terima kasih mas... dukungannya selama ini" ucap Ghina saat selesai membaca hasil laporan keuangan dari stafnya.


" Itu semua karena kerja keras mu dan doa doa mu yank..." jawab Al dengan senyum manisnya.


Ghina pun tersenyum dengan ucapan Al.


Ada rasa syukur dari dalam hatinya yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, bahwa semuanya akan terasa sangat mudah.


Tiba tiba ponsel Ghina berdering, sebuah panggilan masuk.


Dreetttt dreettttt dreeetttttt


πŸ“±: "Assalamualaikum.... ada apa?" Ghina.


πŸ“±:" Nok.... ada dimana?" Chandra


πŸ“±:" Di rumah", jawab ghina


πŸ“±:" Aku kesana ya... sekarang otewe", Chandra


πŸ“±:" Oke!"


Iya, Chandra memang teman yang masih sering berkunjung ke tempat Ghina.


Beberapa menit kemudian Chandra sudah datang, diapun langsung mencari Farah, karena kelucuan anak itu sehingga siapapun pasti akan merindukannya.


" Farah.... ada Oom Indro nih..." panggil Ghina


" Oom...... Indo," bocah itu langsung berlari mendatangi Chandra dengan bicaranya yang masih cadel.


" Ini Oom bawain boneka barbie... cantik kan kayak Farah ya", ucap Chandra gemas.


" iiihhh... bagus... Fay suka..." celoteh bicah lucu itu sambil memeluk boneka pemberian Chandra.


" Kalau begitu cium Oom dulu... di sini", ucah Chandra dalam posisi duduk jongkok dan menunjuk pipinya, bocah itupun lansung mendekat dan menciumnya.


" Muuaachhh....udah ach... ma acih Oom boneka belbinya", bocah itu kemudian berlari sambil memanggil bunda.


"Nok... udah gede dia waktunya dikasih Adik tuh mas Al" ujar Chandra sambil menoleh ke arah Al.


" Lagi dalam tahap usaha keras, tiap malam lembur", ucap Al, Ghina yang yang mendengar pun cuma menggeleng.

__ADS_1


" waoww kalau begitu bagus dong.... hahaaa" Chandra terkekeh.


" Kau sendiri kapan mau nikah?" Tanya Al tiba tiba.


" Tenang.... semua sudah siap... undangan juga sudah dicetak , cuma...." ucap Chandra tidak dilanjutkan.


" Cuma apa Dro..." tanya Ghina sambil membawa kopi panas untuk mereka.


" Cuma belum ada nama calonnya... hahaaaa", jawab Chandra sambil terkekeh sementara Al ikut tertawa juga dan Ghina nampak sebal mendengar jawaban Chandra.


" Dasaarrr.... bocah gemblung... " umpat Ghina sambil melempat permen yang dia ambil dari toples di meja tempat mereka mengobrol.


" Sudah yuk... kita siap siap sholat sebentar lagi Adzan nih" ujar Al sambil beranjak pergi meninggalkan obrolan mereka menuju kamar untuk mengambil sarung dan berganti baju koko.


Al dan Chandra berangkat menuju masjid, sementara Ghina mengajak Farah untuk masuk ke kamar.


Malam harinya setelah makan malam Chandra pamit untuk pulang. Sementara Ghina langsung menina bobokan Farah.


*******


Setelah cabang kafe di Jogja sukses Ghina pun kemudian mengembangkan usahanya di tengah kota di daerah kampus dan juga beberapa juga di tempat tempat wisata yang ramai pengunjung.


Tahun berganti sampai akhirnya ada 10 cabang kafe yang berhasil Ghina miliki.


Al dan Ghina pun dikaruniai 2 anak lagi berjenis kelamin laki-laki.


Bahkan usahanya merambah ke Resort dan kafe di tempat tempat wisata baru yang sudah mulai ramai pengunjung.


Semua kerja keras pasti akan berbuat manis, tapi ada beberapa hal yang tidak boleh di lupakan atas pencapaian, salah satunya adalah berbagi dengan sesama.


Ghina dan Al selalu menyisihkan dari hasil jerih payahnya itu, banyak orang yang kurang mampu bisa menikmati hasilnya.


___________________________________________


TERIMA KASIH MANGATOON 😘😘😘


SEMOGA KARYAKU SELANJUTNYA BISA LEBIH BAIK LAGIπŸ™πŸ™πŸ™


SAMPAI JUMPA


GHINA & AL

__ADS_1


____________________________________________


***************** TAMAT *********************


__ADS_2