
Al perlahan membuka pintu ruang kerja Ghina, matanya langsung beredar mencari istrinya itu.
" Assalamualaikum...." sapa Al., sepi belum ada jawaban.
Al akhirnya mengecek diseluruh ruangan, kemana... gumannya dalam hati.
Sesaat kemudian pintu kembali terbuka, masuklah Ghina dengan senyum tersungging dibibirnya langsung menghambur kepelukkan Al.
" Assalamualaikum mas..." ucap Ghina sambil mendekat kepelukkan suaminya.
" Waalaikum salam... dari mana, bagaimana hari ini, masih lemes?" cecar Al
" Sudah tidak mas... tapi rasanya hari ini kangen terus sama mas, dari tadi aku pingin telpon tapi ga jadi, takutnya mas sibuk", sungut Ghina.
" Hmmm.... sama, mas juga perasaan dari tadi pingin cepet ketemu, pingin makan disuapin sama sayang..." ucap Al sambil mencium pipi istrinya.
" Ya sudah mas mau makan apa... kita pesan lewat telpon saja, biar chef Ringgo yang masakin" ucap Ghina.
" Mas pingin nasi rawon, cwie mie sama tempe mendol sayang..." Al memesan makanan khas Malang.
" Siap mas.... aku juga pingin nasi rawon sama Angsle ( minuman seperti skoteng ) biar ga eneg.... sehari ini bawaan perut nya mual terus ... " ucap Ghina sambil memegang telpon hendak memesan makanan ke bagian pantry.
Setelah beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu, ternyata Rani mengantarkan makanan.
" Assalamualaikum.... pesanannya Bu... pak", Rani masuk dengan nampan penuh dengan makanan.
" Waalaikum salam.... makasih Ran... udah taruh meja sini saja" ucap Ghina sambil menunjuk meja yang didepan sofa.
Setelah menaruh makanan Rani bergegas keluar. Sementara Al dsn Ghina langsung memakan menu pesanannya.
" Apa kabar hari ini anak Ayah... rewel tidak... makan yang banyak ya biar cepat besar" tanya Al sebelum menyuap makanannya sambil mengelus perut Ghina yang belum terlihat hamil namun terasa lebih kencang kalau di pegang.
" Hmmm... tidak ayah, debay baik baik saja, hanya kangen sama ayah terus...." jawab Ghina sambil mengelus rambut kepala Al yang tengah memeluk perut Ghina.
__ADS_1
" Sayang.... makan yang banyak ya... sini disuapin sama mas" Al sambil menyendok makanan.
" Tidak usah mas kita makan bareng saja... " ucap Ghina sambil tersenyum pada Al.
Kemudian berdoa dan makan bareng sampai selesai kemudian mereka berbincang.
" Mas.... Terima kasih ya, sudah memberikan Ghina kafe ini, selama satu bulan ini Alhamdulillah omset nya lumayan, progam yang Ghina jalani juga berjalan sesuai dengan kemauan Ghina" ucap Ghina berterima kasih pada suaminya.
" Alhamdulillah dong.... mas ikut senang, tapi tetap tidak boleh kecapean, harus jaga kesehatan", ucap Al sambil membelai pucuk kepala Ghina.
" Iya mas.... bersyukur anak kita itu baik banget tidak pernah menyusahkan ibunya, sampai telat 11 minggu saja aku tak peka mas, saking nyamannya dia tidak pernah nakal" ucap Ghina sambil mengelus perutnya.
" Iya... sepertinya dia kayak kamu sayang... tidak pernah menyusahkan orang", Ucap Al sambil memeluk istrinya.
" Ya nggak juga mas... Dia kayak mas, sukanya bikin senang hati ku", ucap Ghina sambil mencubit lengan suaminya.
" Semoga semua sifat baik kita yang dicontoh olehnya nanti, sedang sifat buruk kita tidak perlu" ucap Al sambil terus mengelus perut istrinya.
" Mas balik kekantor dulu ya... sebentar saja nanti kesini lagi, trus pulang" ucap Al.
" Iya... sebentar saja kok, masih ada beberapa urusan nanti kalau sudah kelar pasti langsung kesini" ucap Al sambil memeluk istrinya.
Ghina Akhirnya melepaskan suaminya untuk berangkat kerja kembali, dia juga memutuskan untuk memeriksa beberapa pekerjaannya.
_____
Natasya
Setelah beberapa kali pertemuannya dengan Al, Tasya mengerti kalau Al benar-benar sudah melupakan dirinya.
Awalnya Tasya bermaksud merayu Al, toh Al juga belum punya anak jadi seandainya bisa berhasil dan pisah sama istrinya, tidak akan menjadi beban berat untuk Al maupun Ghina, Tasya pikir Al adalah orang yang punya lalu dengan dirinya, usahanya juga maju, jadi niatan untuk mendakati Al sangat kuat, tapi setelah melihat reaksi Al yang susah didekati, bahkan terlihat sinis waktu terakhir ketemu pikiran Tasya jadi berubah.
Akhirnya Tasya menyerah, bahkan kini dia ada rasa malu pada Al, dia memilih fokus menjalani usahanya. Dia hanya berharap bisa dipertemukan dengan jodoh ke duanya selagi masih diusianya sekarang.
__ADS_1
Tasya tau, kebaikkan Al tapi kalau Al sudah marah dia tidak main main dengan ucapannya, dan Tasya melihat itu kemarin, sedingin apa tanggapan Al kemarin saat dia nekat menemuinya di swalayan milik Al itu.
ya sudahlah.... dulu aku meninggalkan dia karena kehidupan orang tua dia hanya menengah saja, lagian dulu pacar dia bertebaran dimana mana alias banyak... kalau aku bertahan pacaran lama sama dia itu karena dia ganteng, keren, pandai bergaul sudah gitu teman dia banyak banget dari berbagai kalangan... ya karena aku pacaran sama dia jadi aku kenal almarhum suamiku, yang jauh lebih kaya dari pada orang tua Al. usianya cuma 3 tahun diatas ku tapi sudah punya usaha sendiri dan sukses, makanya saat dia menyatakan suka padaku langsung aku terima dan langsung ku ajak nikah, ternyata walau tak sekeren dan seganteng Al suamiku sangat menyayangiku dan aku bahagia dengan melahirkan dua anaknya tapi takdir berkala lain... kecelakaan itu telah membawa dia kembali pada pencipta-Nya" Renung Tasya dalam lamunannya.
Tasya akhirnya mengirim pesan singkat pada Al
📱:" Hallo Al, maafkan aku atas kejadian kemarin, jujur aku menyesal, mulai saat ini jangan kwatir aku tidak akan pernah mengganggumu lagi, terima kasih atas pertemuan kita beberapa kali kemain, sekali lagi aku minta maaf🙏
Pesan itu langsung di kirim ke Al.Ada kelegaan di hati Tasya.
***
Begitu ada suara notif pesan masuk Al langsung membukanya, ada senyum kelegaan dibibir Al,
" Akhirnya.... makanya mantan ya tetep mantan tidak akan jadi madu ... huh..." ucap Al setelah membaca pesan dari Tasya tanpa bermaksud untuk membalasnya.
" Satu urusan sampah beres... Alhamdulillah" lega hati Al.
Al kembali semangat lagi untuk segera membereskan masalahnya, dia ingin segera pulang dan bersama istrinya.
Selepas sholat Ashar Al kembali menuju kafe untuk menjemput istrinya pulang, rasanya ingin menemani istrinya ber malas malas sebelum akhirnya malam menjemput mimpi mereka.
" Sayang.... kok dada mas sering tidak nyaman, kira kira kenapa ya... " tanya Al sambil terlihat sedikit meringis, setelah mereka di rumah menuju kamar.
" Sejak kapan mas... kok baru bilang, coba tadi pulang kerja kita langsung ke rumah sakit buat periksa mas... " ucap Ghina kawatir.
" Entahlah .... beberapa kali tapi... biasanya tak sesakit ini, biasanya hanya sebentar kok ini sudah dari kita masuk rumah tadi kok masih terasa terus" ucap Al menahan rasa nyerinya.
" Pinjam ponselnya mas... aku telpon Anton suruh kesini buat antar mas ke rumah sakit" ucap Ghina tambah kawatir.
Sebentar kemudian Anton langsung datang karena pas tadi di telpon dia sedang dijalan dekat rumah Al sepulang kerja.
tbc
__ADS_1
___________________________________________