
Setelah sembuh, Al mengalami banyak perubahan dalam hidupnya. Dia mulai belajar lebih banyak tentang agama, jam kerjanya juga di batasi agar bisa membagi waktu dengan keluarga dan ibadah.
Kembali ke swalayan miliknya, Al mulai merubah sistem kerja karyawannya, membenahi tokonya, merenop beberapa bagian agar terlihat rapi, semua display barang diperbarui agar pelanggan semakin nyaman.
Bahkan Al bertekad untuk mendonasikan sebagian keuntungan usahanya untuk panti asuhan, kaun dhuafa dan juga untuk memakmurkan karyawannya.
Al berfikir kalau menuruti ambisi manusia itu akan terus merasa kurang, tapi rasa syukur Al yang begitu besar membuat dia sadar, kali ini usahanya bukan hanya membuat dirinya hidup berkecukupan dan mapan tapi menjadi ladang ibadah buat dirinya yaitu dengan cara memakmurkan semua pegawainya.
Menggajinya dengan sangat pantas, sehingga karyawannya bisa membangun rumah tangga dengan baik, memiliki tempat tinggal dengan layak, bisa menyekolahkan anak anak mereka sampai perguruan, itu harapan Al, dan juga beberapa bonus untuk pegawai yang teladan.
Dengan begitu semua karyawan semakin rajin dan juga setia. Dan pengunjung swalayan juga semakin ramai, karena semua pegawai bahagia banyak doa yang mengalir dari mereka untuk Al, sehingga doa itu terwujud dengan makin ramainya pengunjung toko.
Bukan itu saja setiap hari Jum'at toko Al memesan nasi box ke kafe Ghina untuk di bagikan kesemua karyawan.
Hikmah dari sakit ku .... adalah harus selalu bersyukur apapun keadaanya, berbagi dalam keadaan apapun, mengingatkan ku akan kematian itu pasti... harta tidak akan aku
bawa, jadi selama aku diberi jalan mencari rejeki, akan ku manfaatkan semua dengan baik, aku malu .... sangat malu .... untuk menghitung yang ku keluarkan, karena yang ku dapatkan jauh jauh jauh lebih banyak __ Al.
Banyak hal yang merubah hidupku, semua ini melalui mu... istriku... Gadis desa, sederhana, berkerudung yang dermawan, guman Al dalam hati.
_____
Semakin hari kehidupan Al semakin lebih baik, semakin sehat.
Kehadiran putri kecilnya Farah membuat Al semakin bahagia, melihat anaknya sehat dan ceria adalah sesuatu yang tidak bisa dia ungkap dengan kata-kata.
Dia semakin bersyukur atas kesembuhannya.
"Sayang.... Farah cantik... anak Ayah... sini ayah sayang dulu ya... muaachhh... " Al mengambil Farah yang lagi berpegangan meja belajar berdiri, sementara pengasuhnya mbak Nana sedang menjaga dari belakang Farah.
Farah langsung tertawa dan tangan kecilnya menepuk nepuk pipi Al sambil lidahnya sedikit menjulur keluar seperti nya dia sangat senang.
" Ibu ada dimana mbak?" Al menanyakan keberadaan Ghina pada Nana pengasuh Farah.
" Ibu lagi mandi pak.." jawan Nana.
"Oke.... Farah aku bawa ke kamar" pamit Al sambil menciumi pipi gadis kecilnya berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
" Mas... sudah pulang?" tanya Ghina saat melihat pintu kamarnya terbuka.
" Iya... mas pulang cepet soalnya nggak kuat menahan rindu dengan kalian" jawab Al tanpa menurunkan Farah.
" Turunkan saja Farah mas, mas mandi dulu gih" suruh Ghina.
Al kemudian menciumi pipi Farah lagi dan perlahan menurunkan anak itu ke lantai, karena sudah aktif Al tidak berani menaruh di atas kasur kecuali ada yang memegang.
Anak itupun langsung beredar memegang semua yang ada di ruang itu untuk pegangan.
Mulut mungilnya terus saja bersuara, dengan suara yang belum jelas , Ghina hanya mengawasi dari tempat duduknya sambil menyisir rambutnya.
" Farah... sini... " panggil Ghina sambil duduk jongkok.
Bocah itu tersenyum lebar dan merangkak cepat mendatangi ibunya, Ghina langsung merengkuh dalam pelukannya.
Al yang baru keluar dari kamar mandi langsung menggodanya dengan menciumi tengkuknya membuat anak itu ketawa terbahak bahak karena kegelian.
" Di baju dulu mas... baru kita ke bawah main sama Farah sambil aku buatin minum" ajak Ghina.
Al pun langsung menuju lemari pakaiannya dan memakai baju gantinya , menyisir rambutnya kemudian mereka bertiga menuju ruang tv dibawah.
Nana dengan cepat menggendong Farah dan menaruh nya di baby wolker kemudian dia mengawasi dari jarak dekat. Al sesekali menggoda gadis kecil itu.
"Mas ini minumnya" Ghina menaruh secangkir teh jahe di meja depan Al.
"Iya makasih sayang..." ucap Al sambil menggeser duduknya supaya Ghina duduk disebelah dia.
Mereka bersantai dan mengobrol, karena Al sudah sehat, mereka berencana untuk menjenguk keluarga di Jogja.
*****
Keesokan harinya mereka berangkat ke Jogja untuk beberapa hari.
Selain menjenguk orang tua Al dam bersilah
turahmi dengan sanak saudara, Al dan Ghina juga berencana untuk mencari lahan kosong, mereka bermaksud membuka kafe di daerah pinggiran Jogja di atas bukit dengan pemandangan menghadap langsung ke kota... sehingga dimalam hari akan terasa sangat indah.
__ADS_1
Sore hari mereka sampai di rumah bu Heni.
"Assalamualaikum.... " sapa Al dan Ghina bersamaan begitu membuka pintu utama rumah itu.
" Waalaikum salam.... Alhamdulillah..... cucu oma datang... ayo masuk" Sambut bu Heni dengan suka cita dan langsung mengambil Baby Farah dari gendongan Ghina
Mereka berjalan menuju ruang keluarga di sana ada kak Dilla sekeluarga sedang menonton tv.
Leo dan Lea langsung heboh begitu melihat baby Farah dengan wajah bangun tidurnya tapi langsung tertawa dan terlihat senang.
Seketika rumah itu jadi sangat ramai. Bu Heni tak henti-henti nya menciumi Al anak lelaki kesayangannya yang baru sembuh dari sakit dan jauh dari jangkauannya sehingga jarang sekali bertemu dan merawat ketika sakit, untung saja ada Ghina isteri, rasa syukur bu Heni tiada terkira atas kesembuhan Al, kebaikan Ghina dan atas kelahiran cucunya yang sehat dan lucu.
" Istirahat dulu, mandi terus kita makan bareng .... " ucap bu Heni menyuruh Ghina dan Al untuk ke kamarnya.
******
Keesokkan harinya Ghina bermaksud ke kampung halamannya, sudah hampir dua tahun dia ga menginjak rumah peninggalan orang tuanya itu.
Sesampainya di rumah, Ghina langsung menyalami Oomnya dan 2 ponakannya.
Setelah langsung mengedarkan matanya, memeriksa setiap bagian rumah yang telah lama ditinggalkan itu.
" Mas.... Farah masih tidur?" tanya Ghina pada Al yang masih duduk di kursi teras, sementara Farah tertidur didalam mobil, takut terbangun dan menjadi rewel makanya tidak di bawa turun, di biarkan di mobil dengan cendela mobil dibiarkan terbuka.
"Masih tidur.... biar mas yang jagain disini", jawab Al masih asyik duduk sambil memainkan ponselnya.
" Ternyata rumah ini lumayan terawat kok mas, semuanya terlihat bersih dan terawat", Ghina sambil memastikan ucapannya dengan mencolek colek kaca, meja dan sebagian perabot rumah.
" Lho..... memang ada uang ngurus kan, bukannya kata mu waktu itu mbah Sarjo?" jawab Al.
" Iya tapi kan cuma aku suruh ngurus ternak mas?"
" Ya, baguslah kalau mau sampai ngurus rumah segala," jawab Al santai.
Ghina akhirnya menyiapkan makan di rumah itu, kemudian sorenya mereka pergi ke makam orang tua Ghina.
tbc
__ADS_1
___________________________________________