Terjebak Dalam Cinta CEO Dingin

Terjebak Dalam Cinta CEO Dingin
buk Sari selesai di operasi


__ADS_3

hanya butuh waktu beberapa menit saja, Rasya dan Naya sudah sampai di rumah sakit tempat Buk Sari di rawat.


mereka berdua masuk kedalam rumah sakit.


"Dian, bagai mana keadaan Ibuk?" Naya bertanya pada adiknya.


"Katanya ibuk, semangkin kritis, kak, katanya juga harus dipindah kan kerumah sakit yang lebih bagus lagi," ucap Dian Sedih, menjelasjan pada kakak nya.


"Kemana lagi harus di pindah kan,! bukan nya rumah sakit ini sudah cukup bagus," ucap Rasya.


Ia mengambil ponsel nya dari saku, lalu menelepon seseorang.


"Terus, sekerang ibuk dimana? Dokter nya di mana?" kali ini Naya bertanya pada adik nya. Dengan wajah panik.


"Doktor nya ada di ruangan nya kak, tadi katanya kakak di suruh datang menemuinya," Dian kembali memberitahu kakak nya.


Tadi dia sudah sangat takut, disaat seperti ini dia hanya sendiri di rumah sakit.


"Ya sudah, kamu tunggu di sini ya!" tanpa menunggu jawaban dari adik nya Naya buru-buru memcari dimana ruangan dokter.


"Sus maunanya? ruangan dokter Abdi di mana ya sus?" Naya bertanya pada suster yang berpapasan dengan nya.


Naya memang sudah tau, nama dokter yang menangani ibunya.


Ada di Lantai tiga mbak," jawab suster itu, Naya pin verlalu masuk kedalam lift yang akan membawa nya keruangan Dokter.


Setelah dampai di lantai tiga, Naya keluar dari lift mencari dimana ruangan Dokter Abdi.


"Ini dia ruangan nya," gumam nya, saat sudah sampai di depan ruangan Dokter Abdi.


"Biar aku, yang mengetuk nya!" ucap nya menahan tangan Naya, saat ingin mengetok pintu nya.


Setelah menelpon seseorang, ia kembali mengejar Naya, keriangan Dokter Abdi.


Tok tok tok


tanpa menunggu Rasya langsung masuk.


"Pasienmu sedag kritis! kau masih bisa duduk nanis di sini!" bentak Rasya begitu ia masuk kedalam.


Siapa k_," ucapan Dokter itu terhenti.

__ADS_1


Dokter Abdi langsung berdiri menghadap Rasya, ia terkejut melihat siapa yang berdiri di hadapan nya.


"T_tuan R_Rasya," Dokter itu tetnganga melihat Rasya. Lalu ia menundukkan kepalanya.


"Hem, Sekarang juga kau kerjakan pekerjaan mu! kalau tidak, siapa-siaplah keluar dari, Rumah sakit ini!"


Ba_baik tuan," ucap Dokter itu. Keluar dari ruangan nya.


"Terima kasih tuan," ucap Naya pada Rasya, sambil berjalan mengikuti Dokter itu.


"Tidak, perlu berterima kasih," Rasya merasa bersalah, karna sudah memanpaatkan keadaan.


"Kembali ke ruang operasi!" perintah Dokter, Abdi, pada para suster, dan perawat yang ada di situ.


"Tapi Dok!


"Sudah kerjakan saja!" perintah nya, menotong uucapan perawat itu.


"Baik Dok," patuh mereka."


Dokter Abdi memang terkenal galak, juga pilih-pilih pada pasen.


Satu jam kemudian.


"Alhamdulillah, semua nya berjalan lancar, dan, Buk Sari akan segera di pindah kan keruangan lain," ucap nya, sesekali melirik ke arah Rasya.


Naya merasa lega, setelah memdengar ucapan Dokter Abdi, tanpa ia sadari kalau sudah memeluk Rasya.


Sedangkan Dokter Avdi sudah kembali keruangan nya, ia benar-benar tajut pada Rasya.


"Maaf tuan," ucap nya melepakn kan pelukannya, setelah ia tersadar.


Hmmm!


Rasya mendem, ada sedikit senyuman di bibir nya, hanya sedikit.


"Permisi tuan, saya sudah mengurusus semua nya, tiba-tiba Asisten Keny datang, mendekati Naya dan Rasya.


Hemmm!" kembali berdehem.


Setelah itu Keny pun pergi meninggal kan Rasya dan Naya. begitupun dengan Dian.

__ADS_1


Hening tak ada yang bersuara, Naya yang malu karena telah memeluk Rasya, Sedangkan Rasya, ia memang bicara yang penting saja.


"Mari ,tuan, Nona, ! Dokter sudah mengijin kan Anda untuk menjenguk, ibu, anda tapi hanya satu orang yang bisa menjenguk nya," ucap Keny, kembali menemui Naya, dan menjelaskan.


"Buk, Naya minta maaf, tidak tau kalau selama ini ibuk itu sedang sakit," ucap nya pada ibunya yang belum sadarkan diri.


Ceklek


Suara pintu terbuka. Rasya masuk begitu saja, padahal sudah dilarang oleh suster, tapi ia tidak mendengar kan nya.


mendengar suara pintu terbuka, Naya pun melihat, ia menatap heran papa orang yang sedang masuk.


"Ada apa Tuan?" tanya Naya, melihat Rasya mendekati nya.


"Tidak, aku hanya ingin melihat keadaan ibumu," jawab Rasya, berdiri di samping Naya.


"Terimakasih Tuan, kalau bukan karena tuan, mungkin ibuku tidak akan terselamatkan," ucap nya sendu.


"Jangan terus berterima kasih bada ku!, aku melalukan nya karna ada imbalan nya," timpal nya, ia mwrada bersalah setiap kali Naya berterima kasih padanya.


"Apa pun itu tuan, aku tetap harus berterimakasih."


"Terserah kau saja lah," ucap nya akhirnya. Mereka kembali terdiam.


"Tuan!


"Hemm!


"Mengenai sarat yang tuan berikan…_."


"Tidak usah pikirkan itu! untuk sementara kau pokus saja mengurus ibumu!" ucap nya, tidak mai membahas perjanjian mereka, sebelum kondisi Buk Sari membaik.


Sekali lagi, terima kasih Tuan."


"Hemm!


Selalu saja mengucapkan terima kasih," ucap nya dalam hati.


"Selama mengurus ibumu, kau tidak perlu bekerja!" ucap Rasya dengan wajah datar nya.


"Tapi tuan, saya baru meminjam uang dari, Pak Deri," Naya merasa tidak enak, mans

__ADS_1


Rasya.


"Sudah! tidak usah di pikirkan!"lebih baik kau pokus saja mengurus ibumu! agar cepat, setelah sembuh baru kita bicarakan soal itu."


__ADS_2