Terjebak Dalam Cinta CEO Dingin

Terjebak Dalam Cinta CEO Dingin
Buk sari meminta pulang


__ADS_3

Hari-hari berlalu, sudah lima hari ini Buk Sari di rumah sakit, membuat wanita paruh baya itu mrasa ke bosan.


Bagainana tidak bosan terbiasa bekerja, walau hanya memjadi tukang cuci. Sekarang Buk Sari, hanya bisa berbaring di atas kasur rumah sakit.


"Bik, Naya nya mana? tanya Buk Sari. saat ini Bik Darmi sedang menemani nya makan.


"Ada Buk, Non Naya sedang ke kamar mandi," jawab Bik Darmi.


"Memangnya? ada apa Buk?" tanya Bik Darmi.


"Aku sudah ngak betah Bik, tinggal di rumah sakit ini, lagian aku jugs sudah merasa baikan," Jawab Buk Sari.


Buk Sari sudah sering meminta pulang, karna merasa keadaan nya sudh membaik, tapi Naya selalu mengatakan agar ibunya tetap di rawat, takut ibunya kembali sakit.


Tak berapa lama Naya keluar dari kamar mandi, ia pun mendekati ibunya.


"Nay, ibuk pulang aja ya," ucap Buk Sari kembali meminta pulang, untuk yang kesekian kali nya.


"Nggak bisa Buk, Ibuk kan belum sembuh,


kepala ibuk saja masih sering Sakit," balas naya menolak permintaan ibunya.


Buk Sari memang sering mengeluh, kalau kepalanya sakit.


"Memangnya, kamu dapat uang dari mana Nak?" tanya Buk Sari penatap Naya yang duduk di samping nya.


Sudah sejak kemarin ia ingin menanyakan itu, tapi belum ada kesempatan.


Naya minjem buk, sama Pak Deri," jawab Naya setengah berbohong.


"Kamu jangan bohong Nay, biaya operasi itu tidak murah lo, di tambah lagi merawat ibuk, pake pbantu lagi," tuding Buk Sari, pada putri nya.


"Sebenarnya ini semua _."


"Saya yang bayar buk," Rasya tiba-tiba datang memotong ucapan Naya.


"Nak Rasya," ucsp Buk Sari.


Buk Sari memang sudah mengenal Rasya. tapi dia belum tahu kalau Rasya yang mem biyayai semua perobatan nya.

__ADS_1


"Masti mahal ya nak, ibuk jadi ngak enak," ucap Ardian Buk Sari.


"Nggak papa kok buk," balas Rasya, tersenyum pada Buk Sari.


Naya memperhatikan Rasya yang tersenyum, ia ikut tersenyum, terpesona melihat senyuman yang sangat jarang ia lihat.


Ternyata, tuan Rasya sangat tampan, jika sedang tersenyum," ucam nya dalam hati.


Rasya pun melihat Naya yang tersenyum pada nya. "Apa yang kau pikir kan? mengapa kau tersenyum melihat ku?" tanya Rasya tiba-tiba. membuat Naya tersadar.


"Ti_tidak ada," jawab Naya terputus-putus. Lalu menundukkan kepalanya, karna merasa malu.


Sangkin asyik nya melihat Rasya yang tersenyum, sampai tidak dadar kalau orangnya sudah melihat ke arah nya.


"Nak Rasya!


Tiba-tiba Buk Sari memanggil Rasya.


"Ya, ada apa buk," jawab Rasya.


"Ibuk pulang aja ya Nak," pinta nya.


"ibuk!


Naya menggeleng melihat kearah ibunya.


"Memang nya, ibuk,? sudah merasa sehat?" tanya Rasya pada Buk Sari.


sudah Nak, Ibuk sudah sehat kok," jawab Buk Sari.


Baik lah kalau gitu, biar aku urus dulu biar ibuk bisa pulang." ucap nya. menuruti keinginan Buk Sari.


Buk Sari mengangguk, tersenyum persis seperti dugaan nya, kalsu Rasya tidak akan menolak.


Bik, tolong bereskan bara-barang nya Buk Sari!" perintah Rasya.


"Baik Tuan," patuh Bik Darmi.


Setelah itu Rasya keluar dari kamar itu, sedang kan Bik Darmi mengerjakan pekerjaan nya.

__ADS_1


"Ibuk, kok pulang sih," protes Naya, setelah Rasya pergi. Tadi ia tak berani protes, saat Rasya ada.


Ibuk udah sembuh kok Nay, ngapain lama-lama disini, kasian Nak, Rasya membayar nya mahal," ucap Buk Sari.


mendengar perkataan ibunya Naya pun terdiam, karna itu semua memang benar. Jadi Naya menurti ibunya.


"Biar Naya bamtu Bik."


Tidak perlu Non," tolak Bik Darmi.


Tapi Naya tidak mendengar kan nya, ia tetap membantu, memberes kan barang-barang nya.


Ceklek


Suara pintu terbuka.


"Loh kak, kok udah beres-beres?" tanya Dian begitu ia msuk.


"Iya, katanya ibuk udah gak betah, jadi ibuk, pulang aja," jawab Naya.


"Kamu kemana aja sih? kok baru jengukin ibuk sekarang?" tanya Naya menatap adik nya.


"Maaf kak, Dian sokolah, pulang sekolah Dian kerja, jadi gak sempat jengukin ibuk," jawab Dian memjelaskan.


"maafin kakak ya Dian," ucap nya merasa bersalah.


"Kaka kok mintak maaf," balas Dian.


"Karna kaka belum bisa bahagiain kamu," ucap nya lagi.


Ceklek


Pintu kembali terbuka, Rasya dan seorang perawat pria masuk.


Apa semua nya sudah siap?" tanya Rasya seperti bisa, tsnpa ekspresi.


"Sudah Tuan," jawab Bik Darmi.


"Kalau begitu kita pulang sekarang," ucap nya datar.

__ADS_1


__ADS_2