
Siang itu juga, Bik Darmi mengerjakan pekerjaan nya mengurus Buk Sari. Sedangkan Naya, ia pergi kekantin rumah sakut untuk makan siang bersa Rasya, karna Rasya yang memaksa nya.
"Sebaik nya kita makan di kamar ibuk saja tuan," ucap nya pada Rasya.
Naya merasa tidak nyaman, duduk bersama dengan Rasya, ia merasa semua orang memperhatikan nya, padahal hanya perasaan nya saja.
"Kalau disini memangnya kenapa?" Rasya malah bertanya. Menatap Naya.
"Saya tidak enak tuan, meninggal kan Ibuk dikamar sendirian," uacap nya mencari alasan.
Padahal ada Bik Darmi yang memjaga Buk Sari.
"Kalau mau mencari alasan, carilah alasan yang tepat," ucap nya kembali menatap Naya.
Naya merutuki dirinya, ia merasa bodoh karna lupa kalau dikamar ada Bik Darmi.
Tapi tuan, saya merasa tidak nyaman, seperti nya semua orang memperhatikan kita," ucap nya akhirnya.
"itu hanya perasaan mu saja, semua orang disini sedang makan," ucap Rasya pula melihat orang yang ada di sekitar meteka.
Memang semua orang sedang makan, ada juga yang sedang mengobrol.
Tapi Tu_."
Sudah lah! cepat makan makanan mu!" perintah Rasya, memotong ucapan Naya.
Dia tau sejak kemarin Naya tidak makan.
__ADS_1
"Baik tuan," patuh Naya, ia pun makan sambil sesekali mlihat ke arah sekitarnya.
Rasya pun melihat jelas ketidak nyamanan Naya. kalau tidak di paksa, Naya tidak akan makan.
Setelah selesai makan, Naya dan Rasya, meninggalkan kantin, berjalan kembali menuju kamar Buk Sari.
"Kenapa kau berjalan di belakangku," ucap Rasya menggenggam tangan Naya, sedikit menarik nya agar mereka berjalan seiringan.
Naya melihat tangan nya yang di genggam Rasya, mencoba melepaskan nya. Tapi Rasya nengeratkan genggaman nya, tak mau melepaskan tangan Naya.
Akhirnya Naya membiarkan saja, mereka terus berjalan menuju kamar Buk Sari, sambil bergenggaman tangan.
Naya!
Panggil Nining dari belakang saat ia melihat Naya.
Tapi sayangnya Rasya tetap menolak, tetap menggenggam tangan Naya, ia tidak perduli walau pun semua orang melihat nya.
"Nay, gimana keadaan ibuk?" tanya Nining begitu sampai di depan Naya.
"Ibuk, sudah membaik kok," jawab Naya, menyembunyikan tangan nya.
"Maaf ya Nay, baru sempat jengukin ibuk," ujar Nining, dia memang sudah mengenal Buk Sari dengan baik.
"Iya Nay, kita sibuk banget, jadi nggak sempat deh jengukin ibuk," timpal Bagas.
"Gak papa kok Ning Gas," ucap nya tersenyum. Lalu mengajak kedua teman kerja nya, sekaligus sahasbat nya itu kekamar Buk Sari.
__ADS_1
Naya brbalik, bejalan lebih dulu. diikuti Nining dan Bagas berjalan di belakang.
"Ning!
Bagas menyenghol Nining memajukan bibir nya, menunjuk kearah tangan Naya yang berpegangan dengan Rasya.
"Mereka pacaran ya?" tanya Bagas berbisik pada Nining.
"Mana gue tau," jawab Nining balik berbisik.
Naya menyadari dua teman nya itu berbisik. tapi ia tidak bisa apa-apa, karna Rasya samasekali tidak mau melepaskan tangan nya.
"Ibuk, liat ni siapa yang datang," ucap Naya mendekati ibunya.
Buk Sari pun melihat siapa yang datang.
Nining, nak Bagas," ucap Buk Sari. melihat siapa yang datang.
"Gimana? Ibuk udah merasa lebih baik?" tanya Bagas."
Sudah Nak, Ibuk udah baikan kok," jawab Buk Sari tersenyum.
Cukum lama mereka mengobrol bersama. Saat Rasya pergi ke kamar mandi, Nining langsung menatap Naya.
"Nay, kamu punya hutang sama kita," ucap bagas, Nining pun ikut mengangguk.
Hutang Apa sih Ning?" tanya Naya, pura-pura tidak tahu.
__ADS_1