
"Duh dapat uang sebanyak itu dari mana?" ucap Naya terus bertanya dalam hati. Dia tidak punya uang sebanyak itu.
Tadi dia sudah bertanya pada suster, apa saja yang di perlukan, agar ibunya bisa di operasi.
Dia juga bertanya berapa biayanya, betapa terkejut nya dia mendengar nominal yang di katakan suster itu.
Suster, itu mengatakan kalau biayanya seber tupuluh juta, karna buk Sari harus dua kali operasi. Lelah berpikir tak membuah kan hasil, akhirnya Naya kembali menemui Buk Tamiri.
"Buk, Naya bisa minta tolong lagi gak?" Naya bertanya pada Buk Tamiri.
"Bisa Nak. Memangnya mau minta tolong apa?" Buk Tamiri menjawab sekaligus bertanya.
"Naya mau menemui bos Naya dulu buk, Mau nyoba minjem uang, siapa tau ada," ucapnya menjawab pertanyaan Buk Tamari.
"Ya Nak, pergi lah! biar ibumu ibuk yang jaga."
"Makasi ya buk, Naya pergi dulu." Buk Tamari mengangguk, Naya pun pergi.
Naya keluar dari rumah sakit, mengendarai sepeda motor nya, ia kembali kerumah mkan, Sampai di rumah makan Naya turun dari motor nya, Naua masuk langsung menuju ruangan Pak Deri.
Tok tok tok
Naya mengetok pintu, setelah ia didepan ruangan Pak Deri.
"Masuk!" perintah Pak Deri. Naya pun masuk.
"Ada apa Nay? bukan nya tadi kau izin karena ibumu sedang sakit?" Pak Deri bertanya melihat kearah Naya.
__ADS_1
"Iya Pak, ibuk sedang di rumah sakit, tujuanku datang kemari… Aku ingin meminjam uang, untuk biayaya ibuk di rumah sakit pak."
"Memang nya kamu butuh berapa Nay,? Pak Deri pun bertanya.
"Tuju puluh juta Pak," jawab Naya lirih, membuat Pak Deri terkejut.
"Nay, Bukan nya Bapak tidak mau membantu, tapi itu terlalu banyak, bapak hanya bisa pinjaman dua puluh juta," ucap Pak Deri, kasihan melihat Kanaya.
"Begitu ya pak." Pak Deri pun mengangguk,"
"Gak papa Pak, itu sudah sangat membantu," ucap nya lagi, biar sisanya nanti ia pikirkan lagi.
Pak Deri deri memberikan amplop berisi uang pada Naya.
"Terima kasih ya Pak," ucap Naya mengambil uangnya. saat ia ingin keluar Pak Deri mengatakan sesuatu.
Naya hanya tersenyum, menanggapi ucapan Pak Deri, lalu keluar dari ruangan itu.
Derrrt derrrt derrrt
Ponsel Naya berbunyi, saat ia ingin menaikii sepeda motornya.
"Ya, Dian ada apa?" ia bertanya setalah mengangkat nya.
"Kak, ibuk di mana? kok gak ada di rumah?" tanya Ardian dari sebrang. Sangkin khawatir nya Naya, sampai lupa mengabar kan adik nya, kalau ibuk nya sedang sakit.
"Dian Ibuk ada di rumah sakit," jawab Naya. di sebrang sana, Ardian sangat terkejut dengan jawaban kakak nya.
__ADS_1
Naya juga mengatakan, mengatakan di mana ibunya di rawat. Setelah sambungan telepon nya mati, dia pun kembali mengedarai motor nya. Saat Naya sampai di rumah sakit, Ardian juga sampai.
"Ibuk, kenapa kak? kok bisa masuk rumah sakit?" tanya Ardian, sanbil mengikuti langkah Naya.
"Kaka juga tidak tahu, Yan, tiba-tiba buk tamari mengabari kakak, kalau ibuk pingsan di kamar mandi. jawab nya.
"Nay, Naya!
Buk tamari berlari kearah Naya.
"Ada apa Buk?"
"Ibumu, Nak, dia makin kritis."
Mendengar itu Naya berlari, menuju kamar di mana ibunya di rawat.
"Dok, bagai mana dengan ibu saya?" tanya Naya pada dokter yang menangani ibunya.
"Ibunya mbak makin kritis, kita harus segera nelakukan operasi nya mbak."
"Lakuan saja dok!" ucap Naya, dengan wajah sangat khawatir.
"Apa mbak sudah mengurus sgala sesuatunya? agar kita segera melakukan oprasi nya."
"Sudah dok," Naya menjawab singkat. Dia sudah sangat takut terjadi sesuatu pada ibu nya.
Doktor itu pun menyuruh suster, agar mpersiap kan semua nya. begitupun dengan Naya.
__ADS_1