
Semuanya sudah berkumpul di meja makan, mereka pun makan dengan tenang. Rasya dari tadi memperhatikan Ririn yang sedang makan.
"Aku sudah selesai, dulan ya semua, " pamit Ririn, berdiri dari tempat duduknya.
"Tunggu dulu!, " tahan Rasya, membuat semua orang pun menoleh padanya, kecuali Eyang Desi.
Setelah semuanya selesai, berkumpul lah di ruang tamu!, " lanjut Rasya.
"Memang nya ada apa?, " tanya Eyang Desi menatap cucunya.
"Ada yang harus menjelaskan padaku, mengapa mereka harus tinggal di rumah ini, " jawab Rasya, tak kalah tajam memandang Eyang nya.
Eyang pun terdiam, bingung harus memberi penjelasan apa, tapi tiba-tiba ia tersenyum. karna sumudah menemukan penjelasan yang menurut nya cocok.
"Sekarang, apa yang akan Eyang katakan pada Rasya?, " tanya Ririn, sambil berjalan menuju ruang tamu.
"Sudah kamu tenang saja, biar Eyang yang atur semua nya, kamu tinggal ikuti sandiwara Eyang, " jawab Eyang tersenyum.
Sampai di ruang tamu, semua orang duduk. dan Rasya menatap Eyangnya, tanpa harus di tanya sang Eyang sudah mengerti arti dari tatapan cucunya.
"Maaf Eyang tidak bilang dulu sama kamu, kalau Jiyyah dan Ririn akan tinggal di sini, " ucap Eyang memulai dramanya.
"Tapiβ¦, Eyang mengajak mereka tinggal di sini, itu karna mereka sudah tidak ada tempat tinggal, " lanjut Eyang menjelaskan.
"Memangnya kemana tempat tinggal kalian selama ini?, " tanya Rasya, lalu menatap Ririn.
"Sudah, Kamu ceritaain saja sayang!, " pinta Eyang. Ia menatap Ririn, lalu mengedip kan mata nya.
__ADS_1
"Usaha butik mama bangkrut Ras, rumah kami disita sama bang. Semua itu karna kami terlalu percaya sama orang yang salah, " jelas Ririn sedih. Ia pun menunjukan wajah sedihnya.
"Iya Nakβ¦, mungkin ini semua karma buat tante. Karna sudah menyakiti Bunda mu, " sambung Jiyyah, melengkapi sandiwara nya.
"Kamu dengar sendiri kan, itu sebab nya Eyang mengajak mereka tinggal disini, " timpal Eyang.
"Tapi kenapa harus tinggal di rumah ini?, " tanya Rasya, sekali lagi yang tidak suka pada Ririn.
"Terus mau di mana lagi Ras!, " jawab Eyang lagi mulai geram
"Kenapa nggak di rumah Eyang saja, " sengah Rasya.
"Kamu tau sendiri, rumah Eyang itu kecil, kedua Om dan tante mu sudah tinggal di situ. Maka dari itu Eyang mengajak mereka tinggal disini, " ucap Eyang jujur.
Rasya diam, ia seperti memikirkan sesuatu.
"Ras, Bunda mau ngomong sama kamu! " ucap bunda. Lalu berdiri dari tempatnya duduk, berjalan masuk ke kamarnya.
"Iya Bun. " Rasya pun mengikuti langkah Bunda masuk ke kamarnya.
Melihat suaminya pergi, Naya pun ikut pergi dari rungtamu.
"Kakak mau kemana? " tanya Nayara mengejar kakak iparnya.
"Kakak mau ke kamar, ada apa Ra? " jawab Naya sekaligus bertanya.
"he he he, Yaraβ¦, boleh cerita-cerita nggak sama kakak? " tanya Nayara lagi, cengengesan.
__ADS_1
"Boleh dong, sekalian kakak juga mau nanyak sesuatu sama Yara, " balas Naya, tersenyum pada adik iparnya.
Nayara pun mengajak kakak iparnya, untuk masuk ke kamarnya.
Sedangkan Rasya, saat ini ia ada si dalam kamar Bundanya.
"Ras, kenapa kamu harus mengijinkan Ririn dan Jiyyah, tinggal disini? " tanya Bunda, begitu melihat putranya masuk.
:Terus, aku harus apa Bun? Bunda kan sudah denger penjelasan Ririn, " tutur Rasya malah balik bertanya pada Bunda.
"Iya, tapi itu semua bisa saja bohong, " lanjut Bunda menjawab.
"Kalau masalah bohong Atau tidak nya,! itu bisa Rasya cari tahu dulu kak, " lelas Rasya, yang rau ke gusaran hati Bundanya.
"Kamu harus janji sama Bunda, apapun yang terjadi, tetap lah percaya pada Naya, " pinta Bunda Yasmin, menatap putra nya.
"Iya bun, " balas Rasya, agar bundanya merasa tenang.
"Sudah!, Bunda gak usah khawatir, aku akn selalu perca pada Naya, apapun yang terjadi, " lanjut nya lagi, agar Bunda merasa tenang.
"Baik lah Nak, " sahut Bund, lega, ia merarasa tenang, setelah mendengar ucapan putranya.
Mohon dukung karya mak ya ππππ
Seperti like komen favorit, dab vote nya πππππ
Love You ππππππππππππ
__ADS_1