
Hari hari berlalu. Tidak terasa usia kandungan Naya sudah memasuki bulam ke empat. Yang mana ia sudah kembali bisa beraktifitas seperti biasanya.
Hari ini Naya dan Bunda pergi berbelanja, setelah itu meteka jiga pergi kesalon. Naya bisa menikmati harinya diluar jika saat bersama Bunda atau pun Yara adik parnya.
Lain halnya jika ia bersama suaminya, selalu tidak boleh ini tidak boleh itu, maka dari itu ia selalu pergi jika bersama mertua atau adik iparnya.
"Naya! "
Panggil Nining, tidak sengaja ia melihat sahabatnya itu.
"Nining! "
Sahut Naya, merekapun berpelikan.
"Hai beby. " sapa Nining mengusap perut Naya yang mulai membesar.
"Hai juga tante, " balas Naya menirukan suaranya persis seperti anak kecil.
"Eh, dengar-dengar kalian akan segera menikahnya? " tanya Naya, sambil menyenggol lengan Nining.
"hehehehe Iya Nay, doain ya biar semua berjalan dengan lancar, " balas Nining, cengengesan.
"Pasti dong, aku akan mendoakan yang terbaik untuk kalian, " balas Naya, kaliini ia memeluk Nining dari saping.
Setelah selesai dari salon, ahirnya mereka memutuskan pergi makan siang. Selesai makan siang mereka berpapitan lalu berpisah menuju rumah masing-masing.
Saat di perjalanan pulang, entah mengapa bunda merasa ada mobil yang mengikiti mereka.
"Pak, dari tadi mobil yang di belakang itu ngikutin kita ya, " beritahu bunda sambil melihat ke belakang.
"Iya Nay, Nyonya coba hubungi Tuan, kasitau hal ini, aku merasa ada yang tidak beres Nya, " jawab supir itu sekaligus merintahkan nyonyanya.
Patuh bunda, ia penghubungi Rasya, tapi sayang tidak diangkat.
"Bagai mana ini pak, Rasya tidak mengangkat telpon dari saya, " ujar bunda sudah mulai khawatir.
Terlebih lagi jalanan yang mereka lalui saat ini jalanan sepi. sang supir melaju dengan kencang, begitu juga mobil yang mengikuti mereka.
"Terus hubungi tuna Nyonya! bila perlu asisten keny! " ucap supir itu kembali mengingatkan.
"Ini lagi dihubungin Pak. " Kali ini Naya yang menyahut.
Entah sudah berapa panggilan dari naya dan bunda, tapi tidak dingakat oleh keduanya.
__ADS_1
"Halo Mas. "
Braakk
Aaahhh
Naya! "jerit Rasya, ia benar-benar khawtir pada istrinya.
Rasya langsung memerintahkan Keny untuk pencari keberadaan istrinya lewat GPS yang selalu tersambung dengannya.
"Ayo Ken, cepat cari tahu aku takut terjadi sesuatu pada mereka, " ujar Rasya terus mendasak Keny.
Kenypun terus berusaha sampai mereka menemukan dimana titik keberadaan Naya. Setelah itu meteka langsungenuju kelokasi.
"Nyonya, kalian tidak apa-apa? " tanya supir itu melihan dua majikanmya di belakang.
"Saya tidak papa Pak, bagai mana denganmu Nak? " bunda menjawab sekaligus bertanya pada menantunya.
"Perut Naya sakit Bun, " jawab Naya sambil memegang perutnya.
Yah suara Tabrakan tadi, karna mobil yang mengejar tadi berhasil memotong jalan mereka dan mendadak berhenti tepat di depan mereka.
"Turun kalian! " bentak bria yang berbadan besar.
Bunda menuruti perintah supirnya, ia juga menenangkan menantunya di dalam mobil, sedangkam sang supir mencoba melawan tiga pereman yang mengikuti mereka.
Buukk
Baakk
Buukk.
Baku hantampum terjadi, sekuat kuanya supir itu untuk melawan, tapi iya tetap kalah. Karena orang yang dilawannya ada tiga.
Setelah supir itu tergeletak tak berdaya, salah satu dari meteka kembali mendekati mobil bunda, ia menghantam kaca mobilnya dengan batu.
Praakk
Aaaaaa
Suara pecahan kaca dan jeritan bunda bersamaan.
"Keluar kalian! " bentak pria itu lagi.
__ADS_1
Bunda menggeleng, ia terus memeluk menantunya.
Saat preman itu berusaha mengeluarkan bunda, ia mendengar suara tembakan.
Doorr
Doorr
Dua kali tembakan cukup mbuat dua temannya tidak lagi bernyaawa.
Berani kau menyentuh ibu dan istriku, kau juga akan menyusul temanmu, " ucap Rasya menodongkan pistolnya tepat di kepala pereman itu.
"A_a_amun tuan, " ucap pereman itu terbata.
Beberapa anak buahnya membawa pereman para itu, lalu keny memerintahkan salah satu dari mereka membawa sang supir kerumah sakit.
Setelah itu Keny segera menbawa naya dan bunda kerumah sakit.
"Apa perurmu masih sakit? " tanya bunda, ia melihat Naya yang dudu di belakang bersama putanya.
"Masih Bun, tapi sudah "tidak terlau sakit, " jawab Naya.
Jangan ditanya bagai mana Rasya saat ini, ia hanya mememeluk dan mengelus perut istrinya.
"Cepatlah! apa hanya segini kecepatan mobil ini! " serunya, padahal Keny sudah melaju dengan keceatan yang lumayan tinggi.
"Sabar Ras, nanti kalau terlalu cepat bisa membahakan kita dan juga orang lain, " balas bunda memberi tahu putranya.
Menepuh perjalanan sepuluh menit, barulah mereka sampai di rumah sakit. Buru-buru Rasya turun dari mobil. lalu menggendong istrinya, membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
"Braak!
Rasya mendobrak pintu yang tertutup dengan kekainya.
"Segera tangani istriku! atau aku akan menghancurkan rumah sakit ini, dan satu lagi, aku tidak punya kesabaran untuk menunggu! " perintahnya mengancam para suster dan dokter yang ada disitu.
Tanpa menunggu perintah dokter ia langsung meletakan Naya di tempat tidur. Dan para dokterpun memeriksa Naya. Mereka takut dan tau siapa Rasya Dirgantara.
"Rasya, jangan seperti itu Nak, " nasehat bunda, ketika ia melihat rasya sudah ada di ruangan UGD.
"Lalu aku harus seperti apa Bun? menungu mereka, atau menunggu istri dan anakku kenapa-napa? " balas Rasya bertanya pada bunda.
"Mereka akan tetap mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik, jadi tidak usah di bentak taupun di ancam, " lanjut bunda lagi.
__ADS_1
Meskipun tidak melihat, tapi dia tau kalau putranya itu sudah mengancam para suster dan dokter, terlabih lagi sast ia melihat menantunya langsung ditangani.