
Sudah satu jam Buk Sari di ruang operasi, tapi belum juga ada tanda-tanda kalau oprasi nya selesai.
Naya dan Dian madih setia menunggu, sedang kan Buk Tamiri sudah pulang lebih dulu.
"Dian, kamu tungguin Ibuk ya! begitu operasi nya selesai, kamu harus segera kabari kakak!" ucapnya memerintahkan adik nya.
"Memangnya kakak mau kemana?" Dian pun bertanya.
"Kakak ada yang perlu di urus, ingat segera hubungi kakak!" memjawab sekaligus mengingatkan agar Dian mengabari nya.
"Ya kak," ahir nya Dian menurut. Naya pun kembali meninggal kan rumah sakit. Pergi kesatu tempat.
Mengendarai sepeda motor nya, ia langsung menuju sebuah gedung perkantoran yang cukup tinggi.
"Apa…,Pak Dingin itu mau memberikan pinjaman pada orang seperti ku?" Naya bergumam dia depan gedung kantor RSA Grup.
"Coba aja deh, mudah-mudahan Pak Dingin itu mau memnantu," gumamnya lagi, masuk kedalaman kantor.
Permisi Mbak! apa Pak Rasya nya ada?" naya bertanya kepada resepsionis itu.
"Ada, Mbak yang kemarin ya?" tanya resepsionis itu, Naya pun mengangguk.
"Langsung naik aja mbak! Pak Rasya sudak menunggu!" ia pun menyampaikan pesan dari Asisten Keny.
Tadi Keny berpesan pada nya, agar menyuruh Naya langsing naik karba sudah di tunggu oleh Rasya.
Naya merasa bingung, tapi dia tidak terlalu memikirkan nya, yang perlu ia pikirkan saat ini bagai mana caranya ia mendapatkan uang.
"Bismillah," ucap nya sebelum mengetok pintu ruangan Rasya. Kebetulan sekretaris dan asisten Rasya sedang pergi, jadi tidak ada yang melihat nya.
Tok tok tok
Akhirnya Naya mengetok pintu nya.
Masuk! perintah Rasya. Naya pun masuk kedalam ruangan itu.
"Permisi Pak," Naya menunduk memberi hormat.
__ADS_1
Ada apa? dimana makan siangku?" tanyanya seperti biasa, dengan wajah datar nya. Padahl dia sudah tau apa tujuan Naya datang kekantornya.
"Maaf Pak, sa_."
Apa aku setua itu, sehingga kau memanggil ku pak," ia memotong ucapan Naya.
"Bukan begitu tuan," ucap Naya mengganti panggilan nya, dari pak menjadi tuan.
"Dimana makanan nya?" ia kembali bertanya.
Padahal ia sudah tahu, kalau Naya tidak akan datang mengantarkan makan siang nya. Karna Pak Deri sudah memberi tahu masalah yang menimpa Naya.
"Maaf tuan, saya datang bukan mengantarkan makan siang tuan," ucap nya menunduk, takut melihat reaksi wajah Rasya.
"Lalu untuk apa kau datang?" kembali bertanya, mendekati Sofa lalu duduk.
"Duduk lah!"
"Terima kasih tuan."
Naya diam saja, tidak tau harus memulai nya dari mana.
Lima detik
Sempuluh detik
Lima belas detik
Naya masih diam, Begitupun dengan Rasya, ia menatap Naya, menunggu gadis itu bicara.
"Sebenarnya… kedatangamku kemari ingin meminjam uang pada tuan," ucap Naya memberanikan diri, mengatakan mangkusud kedatangan nya.
"Aap, yanh bisa kau berikan padaku jika aku memberikanmu pinjaman." Rasya menatap Naya.
"Aku tidak punya apa-apa tuan,! tapi kalau tuan memberikan minjamam uang padaku,! aku berjanji akan mengembali kannya." pasrah nya memberi tahu Rasya, kalau dia tidak punya apa apa.
"Lalu kau mau mengembalikan nya dengan apa?" Rasya kembali bertanya. sebenarnya dia sudah kasihan pada Naya, tapi dia ingin menggunakan kesempatan ini, agar bisa dekat dengan Naya.
__ADS_1
"Aku akan melakukan apa saja tuan,! entah itu dengan menyicil nya, atau pun bekerja dengan tuan," ucap Naya jujur. Memang hanya dengan itulah ia bisa mengembali kannya.
"Baik lah! berapa jumlah uang yang kau butuh kan?" tanya Rasya akhirnya. membuat Naya sedikit tersenyum.
"Lima puluh juta tuan," jawab Naya, memberi tahu jumlah uang yang ia butuh kan.
"Aku akan memberikan nya,! bahkan lebih dari itu,! asal kau mau memenuhi sarat dariku," ucap nya melihat Naya.
"Baik, tuan apa pun sarat nya, saya akan memenuhi nya," ucap nya dengan pasrah.
"Kau tidak akan mesal, inagat setelah ini kau tidak bisa mundur lagi."
Memang nya, apa sarat nya tuan?" barulah ia nertanya.
"Kau harus mau menjadi istriku," ucap nya memberi tahu saratnya.
"Maksud tuan? kita menikah kontrak?" Naya bertanya, ingin memastikan.
"Tidak, aku mau kau jadi istriku selama nya." jawab nya. Tadi niatnya hanya ingin mempekerjakan Naya, agar selalu di dekat nya, entah mengapa dia mengubah nya jadi menikah dengan nya.
"Ap_." ucapan Naya terhenti, karena ponsel nya berbunyi.
Dian gumam nya, langsung mengangkat telpon nya.
Dian: "Kak, Ibuk," Dian tidak sanggup melanjutkan ucapan nya.
Naya: "Ibuk kenapa Dian?" Naya bertanya wajah nya yang nenunjukan kekhawatiran.
Dian: "Ibuk makin keriris kak,! ka_."
Naya: "tunggu kakak ya! sebentar lagi kakak akan segera kesana," Naya mepotong usapam adik nya.
Setelah Dian menjawab, Naya pun mematikan sambungan telepon nya.
"Apa pun sarat nya tuan, saya setuju, yang penting, saat ini tuan temani saya kerumah sakit,! dan mengurus semua nya,! agar ibu saya mendapatkan penanganan yang terbaik," ucap nNaya panjang lebar. Dia yakin karna dia orang susah, maka dari itu, Ibunya tidak di tangani dengan baik.
"Mari, kita segera kerumah sakit," Rasya mengajak Naya segera pergi kerumah sakit.
__ADS_1