Terjebak Dalam Cinta CEO Dingin

Terjebak Dalam Cinta CEO Dingin
kedatangan Bik Darmi jadi pembantu


__ADS_3

Sudah dari tadi Naya menjaga ibunya, tapi tidak juga bangun, padahal tadi kata suster yang mengecek keadaan Buk Sari, katanya sebelum pagi suda bangun.


"Sus, kok ibuk saya belum juga bangun?" tanya Naya, saat melihat suster kembali mengecek keadaan Buk Sari.


Naya berdiri sedikit bergeser agar Suster bisa melihat keadaan Buk Sari.


"Sabar Mbak, ini kan pasih malam, paling sebentar lagi," jawab Suster itu lembut. Meski pun dalam hati, ia merasa kurang suka, karna Naya bertanya itu-itu saja.


"Kira-kira jam berapa ya Sus?" Naya kembali bertanya.


Paling sebentar lagi, kita tunggu saja ya Mbak, Suster itu kembali bertanya


"Gitu ya Sus."


Suster itu mangangguk, lalu keluar diri ruangan Buk Sari.


Setelah kepergian Suster itu, Naya kembali duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Buk Sari.


Lelah menunggu ibunya yang tak kunjung bangun, Naya pun tertidur, dengan posisi duduk kepala nya ia letakan di dekat tangan ibunya, sedangkan adiknya Dian sudah dari tadi ia suruh pulang, toh hanya satu orang yang boleh menunggu di dalan ruangan itu.


Pagi hari nya.


Buk Sari mengelus rambut putri nya. Sebenar nya sudah dari tadi dia sadar, karna merasa lemas ia kembali tertidur.


"Ibuk!


"Ibuk sudah bangun?" tanya Naya, menggenggam tangan ibu nya yang mengelus rambut nya.

__ADS_1


"Sudah Nak," jawab Buk Sari sari lemah, suara nya hampir tak terdengar.


"Ibuk, mau apa? makan minum atau apa?" tanya Naya beruntun, merasa? senang karna melihat ibunya, yang sudah sadar.


Mendengar pertanyaan Naya, Buk Sari pun menggeleng kan kepala nya. karna dia memang tidak membutuhkan apa pun.


Selamat pagi Buk, Seorang Dokter datang mengecek keadaan Buk Sari.


Tapi bukan Dokter Abdi, setelah operasi selasai Doktor Abdi sudah tidak terlihat lagi, entah kemana pun pergi nya Dokter itu.


Bagai mana Buk? apa Ibuk sudah merasa lebih baik?" sapa Dokter itu ramah, lalu bertanya tentang keadaan Buk Sari.


Buk Sari hanya tersenyum, menanggapi pertanyaan Doktor itu.


"Kita cek dulu ya buk." Dokter itu pun memeriksa keadaan Buk Sari, lalu menjelaskan pada Naya bagai mana keadaan Buk Sari saat ini.


"Bik!


"Ya den,!


"Bibik naik lebih dulu ya! kamar nya ada di lantai dua, kamar no 101," beritahu Rasya pada wanita paruh baya yang ia bawa dari rumah nya.


Patuh wanita itu ia segera naik ke lantai dua, mencari kamar yang di kasi tahu tuannya.


"Permisi, Nona."


Seorang wanita paruh baya masuk kedalam kamar yang di tempati oleh buk Sari.

__ADS_1


"Ya, ada apa ya buk?" Naya bertanya pada wanita itu.


"Saya Bik Darmi Non, pembantu yang disuruh tuan Rasya, untuk membantu Nona mengurus Ibuk nya Non."


Bik Darmi memperkenalkan diri, sekali gus menjelaskan kedatangan nya.


"Apa buk! pembantu?" tanya Naya, memastikan kalau dia itu hanya salah dengar.


"Iya Non, saya ini pembantu," Jawab bik Darmi lagi.


"Buk Darmi salah orang kali, Saya tidak sedang mencari pembantu Buk," ucap Naya, dia pikir Bik Darmi salah orang.


"Saya tidak salah orang Non, wong saya kesini nya sema tuan kok," Bik Darmi kembali menjelaskan.


"Ada apa Bik? kenapa hanya berdiri?" Rasya tiba-tiba masuk dan bertanya.


"Anu Tuan," Bik Darmi bingung, tidak tau menjawab apa.


"Jadi tuan? yang membawa Buk Darmi?" timpal Naya bertanya, agar Rasya tidak bertanya pada Bik Darmi.


"Ya, aku yang membawa nya, agar ada yang membantumu menjaga dan mengurus ibuk," Jawab Rasya, beralih melihat kearah Naya.


"Tapi tuan, itu tidak perlu,! saya bisa kok menjaga dan mengurus ibuk," ucap nya menolak, menurut nya itu terlalu berlebihan.


"Saya tidak perduli kamu butuh atau tidak, yang penting mulai sekarang Dan selamanya Bik Darmi akan mengurus ibuk," ucap nya pula memaksa, Seolah-olah Buk Sari itu adalah ibunya.


Malas berdebat, akhirnya Naya membiar kan saja, mulai sekarang Bik Darmi akan bekerja mengurus Buk Sari.

__ADS_1


__ADS_2