Terjebak Dalam Cinta CEO Dingin

Terjebak Dalam Cinta CEO Dingin
Keny menemui Yara


__ADS_3

Sore harinya Rasya pulang dari Kantor, saat memasuki rumah ia melihat ibu mertuanya duduk di ruang tamu bersama ibunya.


"Ibuk!" ucap Rasya mendekati keduanya lalu menyalamnya.


"Bagai mana? apa Jiyyah sudah di temukan?" tanya bunda.


"Sudah Bun, tapi dengan keadaan tidak bernyawa," jawab Rasya.


"Maksunmu Jiyyah sudah_." bunda tidak melanjutkan ucapannya.


"Iya Bun," balas Rasya, lalu menceritakan semuanya, membuat punda tambah terkejut.


Bagai mana tidak terkejut, dia rela mati hanya karna uang yang tak seberapa. andai dia mengembalikannya dan meminta maaf mungkin masih bisa di bicarakan.


Rasya kekamar dulu ya Bun, ibuk," pamit Rasya setelah ia selesai bercerita.


"Iya Nak," balas keduanya. Lalu Rasya naik kelantai atas, dimana kamarnya berada.


"Mas, sudah pulang?" tanya Naya saat melihatnya suaminya masuk kekamar.


"Sudah Sayasng, bagai mana ke adaanmu?" jawab Rasya lalu bertanya pafa istrinya.


"Sudah mendingan Mas," jawabnya singkat.


Naya memang sudah merasa baikan, kalau bukan karna bunda dan ibunya, sudah pasti Naya turun kebawah, tapi karna larangan bunda membuatnya hanya bisa di atas kasur saja.


...**********...


Tak terasa mentari sudah kebali menerangi hari, semua orang kembali menjalankan pekerjaannya masing-masing.


Sama seperti Keny, pagi ini ia mendatangi Rumah Bosnya.


"Pagi Nyonya!" sapa Keny, saat ia melihat bunda.


"Pagi Ken, tumben kenapa pagi sekali datangnya?" balas bunda, lalu bertanya pada asisten putranya itu.


"Ada perlu pagi ini dengan Tuan Nyonya," jawabnya berbohong.

__ADS_1


"Ya sudah temui saja! dia pasti ada di kamarnya!" seru bunda, yang perca dengan ucapan Keny.


Keny berjalan naik ke lantai atas, tapi bukan menuju kamar tuannya, melainkan adik dari tuannya.


Tok tok tok


Keny mengetok pintu kamar Yara, dia diam saat orang yang di daslam bertanya, lalu kembali mengetok pintunya.


Tok tok tok


"Ada apa sih Bik, aku la emm_." Ucapan Yara terheni karna Keny membekap mulutnya dan membawanya masuk kedalam.


"Kak Keny, ngapain kakak di sini? Aku bisa kenak marah kalau kakak tau aku bersama pria di kamar ini," ujarnya, setelah Keny melepaskan tangannya dari mulut Yara.


"Makanya kau jangan berisik, biar Rasya tidak tau," balasnya enteng.


"Lebih tepatnya kakak keluar dari kamar ku!" usir Yara, tapi tidak di hiraukan oleh Keny.


"Kenapa kau menghindariku?" lanjut Keny bertanya pada Yara.


"Jadi kau marah, hanya karna itu?" tanya Keny, ia menarik tangan Yara lalu menatap gadis itu.


"Tidak…, aku tidak marah, cuma tau diri saja," cetusnya, mencoba mengalihkan pandangannya.


"Tidak kau pasti marah, makanya kau menghindar dariku," balas Keny, masih terus menatap Nayara.


Sedangkan gadis itu mencoba melihat ke sembarang arah, asal jangan membalas tatapan Keny.


"Untuk apa aku marah, tidak ada gunanya untuk ku," ujar Yara, mencoba biasa saja.


"Coba lihat aku, baru kau bicara seperti itu!" seru Keny, menegang kedua pipi yara.


"Lepas kak! Aku tidak mau," tolaknya terus membuang pandangannya.


"Nayara..., sekali saja tolong tatap mataku!" bentak Keny membuat gadis itu melihat kearahnya.


"Ya aku marah sama kakak, karna ucapan kakak menyakitiku, puas!" jeritnya, membuat Keny meresa bersalah.

__ADS_1


"Aku minta maaf, tapi aku tidak bermaksud menyakitimu," balas Keny, menurunjan nada bicaranya.


"Kalau kakak datang hanya ingin meminta maaf, sudah ku maafkan. Sekarang pergi lah!" ucap Yara menangis.


Mulutnya menyuruh Keny untuk peegi tapi hatinya menginginkan Keny tetap berada di depanny, karna ia sangat merindukan Pria itu.


"Tidak Yara, aku bukan cuma mau meminta maaf, tapi aku datang kemari ingin mengatakan kalau aku merindunmu," ucap Keny, entah mengapa semenhak Yara menghindarinya dia malah nerindukan gadis itu.


"Kakak Bohong, itu semua tidak benar," balas Yara, lalu menundukkan kepelanya.


"Benaran Yara, kakak tidak bohong, jadi tolong jangan hindari kakak lagi, jadilah wanita yang selalu metepotkan ku," lanjutnya menggenggam tangan Yara.


Yara tersenyum, tapi ia menutupinya, karna ia tidak mau kbali kecewa untuk yang kedua kalinya.


"Maaf kak, tapi aku tidak mau lagi merepotkan mu, tapi kakak tenang saja aku tidak akan menghindari kakak lagi," ucap Yara, mencoba bersikap lebih dewasa.


"Baik lah, tapi kau janji jangan menghindari kakak lagi," ujarnya tersenyum pada Yara.


Sungguh senyuman yang indah menurut yara, karna ini pertanakalinya ia melihat senyum di wajah pria pujaannya itu.


Setelah itu Keny pun keluar dari kamar Yara. Saat keluar dari kamar Yara, bertepatan dengan Rasya yang keluar dari kamarnya.


"Apa yang kau lakukan di seni? Mengapa kau ada di depan kamar Yara?" tanya Rasya, saat melihat Keny.


"Tadi aku ingin menamuimu, tapi aku lupa kamarmu yang mana, jadi aku bertanya pada Yara," jawab Keny berbohong untuk yang ke dua kalinya.


"Jadi kau lebih tau di mana kamar Yara, dari pada Kamar ku," ucap Rasya menatap Keny dengan curiga.


Keny menunduk, tidak membalas ucapan Rasya, ia hanya melewat lalu kembali turun kebawah.


Pagi itu Keny ikut sarapan di rumah itu, ia terus memperhatikan Yara, membuat gadis itu salah tingkah.


Mohon dukung krya mak yaπŸ™πŸ™πŸ™


Dengan like komen favorit dan vote nyaπŸ™πŸ™πŸ™


Love you sekebun buat kalian semua πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’žπŸ’ž

__ADS_1


__ADS_2