
Pagi harinya.
"Pagi Ning," sapa Naya saat ia sudah sampai di rumah makan.
"Pagi juga Nay," Nining membalas sapaan Naya.
"Kaki kamu kenapa Nay?" sapa Nining meliha Naya berjalan sedikit pincang.
"Gak papa Ning, semalam ada sedikit kecelakaan, jadi gini deh." jawab nya memberitahu.
"Apa? kamu kecelakaan?" Nining terkejut mendengar jawaban Naya.
"Biasa aja kali Ning, gak usah berlebihan."
"Siapa yang berlebihan sih Nay, kamu kecelakaan lo."
"Kecelakaan!
"Siapa yang kecelakaan?" Bagas tiba-tiba datang dan bertanya.
"Udah deh, gak usah berlebihan, Aku gak papa kok," ucap nya, heran melihat dua teman nya itu, padahal dia biasa aja.
"Oo iya, Nay? siang nanti kamu tetap nganterin makan siang, Pak kulkas itu?" Nining bertanya. Di belakang Rasya Naya memang menjuluki nya dengan nama pak kulkas.
"Ya, malah sekarang, aku harus masak sendiri," beri tahu nya.
"Masak sendiri? kok jadi gitu?" Nining bertanya melihat Naya.
Asik mengobrol, sampai tidak mendengar kalau pensel nya berbunyi, ia meletakan nya di meja mereka biasa duduk.
Derrrt derrrt derrrt
Suara ponsel kembali berbunyi.
"Nay ponsel mu dari tadi bunyi terus ni," Disna memberikan ponsel Naya yang terus berbunyi.
__ADS_1
"Buk Tamari, tumben ya dia menghubungi ku," uccap nya sambil menerima panggilan telpon itu
Buk Tamiri, adalah teman buk Sari biasa bekerja, sekali gus tetangga Mereka.
"Ya, ada Buk?" tanya Naya mengangkat telvon nya.
"Nay, ibumu nak… ibumu pingsan di kamar mandi," jawab buk Tamari mengabarkan dari sebrang sana.
"Apa! ibuk pingsan!" Naya terkejut, Ia menyuruh buk Tamari untuk membawa ibunya ke rumah sakit.
Setelah sambungan telepon nya mati, Naya pun pergi keruangan Pak Deri.
Tok tok tok
"Permisi Pak," Naya masuk meski pun tidak di persilakan.
"Ada apa Nay?" Pak Deri bertanya.
"Saya mau izin pak! Ibu saya sedang sakit," Naya memberi tahu Pak Deri, apa sebap nya dia meminta izin.
Ting
Sebuah notif masuk ke ponsel Naya, ia pun memeriksa nya, ternyata dari Buk Tamari, mengirim alamat rumah sakit tempat ibunya di bawa.
Naya mengendarai motornya, sekitar lima belas menit sampai lah Naya di sebuah rumah sakit. Turun dari motor langsung masuk kedalam rumah sakit.
"Mbak, mau nanyak? pasien atas nama buk Sari di kamar mana ya?" bertanya pada suster yang berjaga.
"Buk Sari, yang baru masuk ya Mbak?"
:Iya Sus," jawab Naya.
"Buk Sari, Masih di ruang UGD mbak," beri tahu suster itu, dia juga mengatakan di mana ruangan UGD nya.
Naya pun langsung menuju ruang UGD yang di beritahu suster itu.
__ADS_1
Buk Tamiri, bagai mana keadaan ibuk saya?" tanya Naya, begitu ia melihat buk Tamari.
"Ibuk juga gak tau, Nak, masih di periksa Dokter," beri tahu Buk Tamari.
Naya pun duduk di samping Buk tamari.
Sebenarnya, apa yang terjadi ? Kok bisa ibuk tau? kalau Ibuk saya lagi pingsan?" tanya Naya beruntun, melihaat kesrah Buk Tamari.
"Ibuk juga nggak tau, Nak, niat nya tadi ibuk pengen nganterin, cucian buk Lastri, jawab buk Tamiri, memang begitulah adanya.
"Makasih ya buk, kalau ibuk gak datang, entah bagai mana nasib Ibuk saya," ucap Naya berterima kasih.
"Ceklek
Pintu pun terbuka, Naya menoleh, melihat doktor keluar, Naya pun mendekat.
"Bagai mana keadaan Ibuk saya dok?" tanya Naya setelah ia berhadapan dengan Dokter itu.
"Begini, sebenarnya, ibuk mu harus segera di Oprasi, karna oenyakit ibumu sudah parah," tarng dokter itu mengatakan pada Naya.
"Penyakit? penyakit apa Dok," Naya teekejut, malah bertanya pada Dokter. karna selama ini dia tidak tahu ibunya sedang sakit.
Setiap kali ia tanya, ibunya selalu menjawab hanya sakit biasa, hanya batuk biasa, itulah yang menjadi jawaban ibunya.
"Memangnya ibuku sakit apa Dok?" ahirnya Naya bertanya.
Sebenar nya ibuk mu sadah lama sakit Gagal ginjal, dan juga mungkin tadi dia terjatuh membuat pembulu darah nya pecah," bari Tahu dokter itu.
Membuat Naya syok mendengar perkataan Dokter tersebut.
"Baik lah dok, lakukan yang terbaik untuk ibu saya, apapun itu," ucap nya, setelah sadar dari keterkejutan nya.
"Baik lah segera urus apnisrasasi nya!" ucap Dokter itu.
Patuh Naya, dia pun pergi.
__ADS_1