
Stelah merasa tenang, baru lah Rasya melepaskan pelukan nya, lalu melihat Naya,
Aku Antar kamu pulang ya, " ucap Rasya masih menatap Naya.
Naya pun mengangguk tanda mengiakan.
Besok aku dan Bunda akan datang melamar mu, dan kita akan membicarakan hari pernikahan kita, " sambung nya lagi.
"Iya Mas, " kali ini Naya menjawab sambil tersenyum.
"Ya sudah, ayo!" Rasya mengajak Naya.
Rasya menggenggam tangan Naya, mereka berdua keluar dari kamar itu, lalu turun kebawah menemui Bunda Yasmin.
"Bunda, aku kan menhantar Naya pulang dulu, " ucap nya setelah sampai di bawah dan menemui Bunda Yasmin yang ada di ruang tamu bersama dengan Eyang Desi.
"Bunda, Naya pulang dulu ya, " pamit Naya memgulur kan tangan nya, Bunda Yasmin menyambut nya, lalu Naya mencium tangan Bunda.
Setelah itu Naya beralih kepada Eyang Desi, tapi di Eyang tidak menerima uluran tangan Naya, iya hanya membuang muka.
"Sudah kita pulang Saja, " ucap Rasya memegang tangan Naya yang terulur, lalu mebawa nya keluar dari rumah, menuju mobil nya terparkir.
"Lain kali tidak usah ramah padanya, anggap saja kalau dia itu tidak ada, " ucap Rasya, saat ini mereka sudah ada di dalam mobil dalam perjalanan menuju rumah Naya.
__ADS_1
Naya hanya tersenyum menanggapi ucapan Rasya, tanpa menjawab nya.
Hanya lima belas menit, mereka sudah sampai di rumah yang di tempati Naya.
Makasih ya mas, aku masuk dulu, " Mapit Naya, tapi Rasya menahan tangan nya.
"Ada apa mas? " Naya bertanya tidak jadi keluar dari mobil itu.
Tanpa menjawab, Rasya kembali meneluk Naya dengan erat. Sebenarnya Naya penasaran mengapa Rasya separti nya sangat membenci Eyang nya, tapi dia tidak berani bertanya.
Naya hanya membiarkan saja Rasya memeluk nya. Cukup lama Rasya memeluk Naya, mencari ketenangan nya kembali.
"Kau harus berjanji, tidak akan pernah meninggalkan ku, karna kemanapun kau pergi sku pasti akan menemukan mu, " ucap nya datar menatap Naya dengan tajam.
"Gedis pintar, " ucap nya lagi, kali ini ada sedikit senyuman di bibir nya.
"Ya sudah kalau gitu Naya keluar ya mas, " pamit nya lagi, ingin segera keluar dari mobil itu.
"Tunggu jangan keluar dulu, masih ada yang tertinggal, " lararang Rasya kembali menahan Naya.
"Apa lagi sih, " Naya sudah mulai bosan.
"Ini nya."
__ADS_1
Rasya memengang bibir nya.
"Mas. "
Naya tersipu, ia tau apa maksud Rasya.
"Ayo, tunggu apa lagi! kalau tidak kita akan disini aja, " ucap nya lagi.
"Har emm, " ucapan Naya berhenti, karna Rasya mencium bibir nya.
Naya yang medapat serangan itu terdiam, tidak menolak tidak juga membalas.
"Balas sayang, " ucap Rasya melemas ciuman nya, selah itu kembali mencium Naya.
Kali ini Naya membslas nya, tapi karna sama-sama pemula ciuman mereka itu sangat lah kaku.
Naya memukul dada bidang Rasya, karna dia sudah hampir kehabisan napas nya.
"Maaf sayang, habis bibir mu sanngat manis, " ucap Rasya setelah melepaskan ciuman mereka.
Naya diam karna ia merasa malu, jadilah ia hanya menunduk menyembunyikan wajah nya yang memerah.
Tanpa bicara apapun lagi Naya keluar dari mobil Rasya, Rasya pun tidak melarang nya lagi karna sudah mendapat bonus rada manis dari bibir Naya.
__ADS_1
"Jadi begini rasanya berciuman, ternyata enak ya, rasanya manis, " ucap nya, bicara sendiri sambil tersenyum. setelah itu Rasya kembali melajukan mobil nya tapi bukan kearah pulang, melain kan ke apartemen Keny.