
Hari-hari berlalu, tak terasa sudah dua bulan ini Naya menjadi istri Rasya.
Hari-hari yang Naya jalani juga tidak seindah yang iya bayangkan. Karna sifat suami nya.
ia memang hidup mewah, apa pun yang ia ingin kan sumanya ia dapat, tapi sayang suami nya terlalu mengekang nya, selalu melarang ini dan itu, membuat nya jadi merasa bosan, tapibtidak bisa berbuat apa-apa.
"Mas aku ingin menemui Nining, sudah boleh ya, " ucap nya meminta izin.
Saat ini mereka sedang sarapan.
"Gak bisa Nay!, Mas sibuk hari ini! jadi gak bisa nemenin kamu, " balas nya melarang.
"Aku bisa pergi sendiri Mas, " bujuk Naya lagi.
"Udah!, menemui Nining nya kapan-kapan aja ya!!, mas berangkat dulu, " ucap nya mengecup kening Naya lalu pergi.
Tanpa menghiraukan Naya Rasya langsunh pergi dari meja makan, kara Keny sudah menunggu nya di depan.
Begitu lah setiap kali ia meminta izin, selu bilang kalau dia sedang sibuk. Jika pergi sendiri pun Rasya selalu melarang nya, kalau dia tetap memaksa untuk pergi, maka ia akan kenak marah.
Pernah sekali ai pergi menemani Nayara berbelanja, membuat Rasya marash besar, padahal menemani Adik nya sendiri. Dari situ Naya tidak pernah lagi pergi jika tidak bersama Rasya.
"Sabar ya sayang, " ucap Bunda Yasmin pada menantu nya.
"Iya Bun, " balas Naya, ia pun tersenyum.
__ADS_1
"Nanti Bunda coba ngomong sama Rasya, agar tidak terlalu membatasi mu kalau untuk pergi-pergi, " ucap Bunda lagi.
"sebenar nya Bunda Yasmin kasihan melihat memantu nya. Tapi mau bagaiana lagi, putra nya itu memang sifat nya tidak bisa di bantah dan harus selallu di patuhi.
"iya Bun…, Makasih ya Bun, semoga Mas Rasya mau mendengar kan Bunda. "
Naya sangat bersukur punya mertua seperti Bunda Yasmin, Karna sangat mengerti dia, dan srlalu memela nya.
Siang hari nya.
Aduh enak nya oramg kaya baru, kerja nya hanya belanja-belanja saja ya, " sindir Eyang Desi sast melihat Naya menerima banyak kiriman belanjaan.
"Bukan Naya yang belanja Eyang, " balas Naya, ia tau kalau sang Eyang menyindir nya.
"Tidak usah mengelak deh, sudah jelas jugak ini semua atas nama kamu, " tuding Eyang lagi.
"Atas permintaan mu kan, " tuduh Eyang Desi pula.
"Tidak E_." sudah lah, mana ada maling yang ngaku, " ujar nya memotong ucapan Naya.
"Ada apa sih mah?, " tanya Bunda Yasmin saat mendengar suara mama mertua nya.
"Tuh, liat menantu miskin mu, " serik Eyang Desi menatap sinis pada Naya.
"Mamah!, jangan selalu menyebut Naya seperti itu, " Bunda Yasmin membela menantu nya.
__ADS_1
Apa ada yang salah dengan perkataan ku, tidak kan, " ucap Eyang masuk begitu saja kedalam rumah.
Sedangkan Bunda Yasmin mendekati menantu nya. "Tidak usah di fikir kan ya, " ucap Bunda.
"Iya Bun. "
Mereka berdua berjalan masuk kedalam, Bunda menemui mertua nya duduk di sofa, sedangkan Naya berjalan melewat, ingin naik ke lantai atas.
"Eh mau ke mana kau?!, " tanya Eyang Desi.
"Sudah lah mah!, biarkan saja Naya kekamar nya, " ucap Bumda sudah tau apa niat mertuanya.
"Tidak!, aku ngin dia membuat kan teh untuk ku, " kekeh Eyang Desi.
"Tapi kan Mah!, disini banyak pembantu!, kenapa harus Naya?, " ucap Bunda heran melihat mertua nya.
Mertua nya selalu kasar pada Naya, dan setiap kali datang selalu meminta Naya membuat kan teh untuk nya, bahkan terkadang meminta Naya untuk memasak maskanan untuk nya, Padahal banyak pembantu di runah itu.
Sudah mah, gak papa kok, lagian kan Naya juga lagi gak ada kerjaan, " ucap Naya mengurungkan niat nya untuk naik ke atas.
Naya pun berjalan kearah dapur, membuat kan teh untuk Eyang Desi dan juga Bunda.
Tak berapa lama Naya datang membawa dua canggkir teh hangat dan cemilan yang ia buat sendiri.
Silah kan Eyang, bunda, " ucap Naya lembut, meletakkan teh yang iya buat untuk Eyang dan Bunda.
__ADS_1
"Makasih sayang, " ucap Bunda tersenyum, sedengkan Eyang Desi iya hanya mengambil teh itu saja.