
"Bagai mana keadaan istri saya Dok?" tanya Rasya mendekat pada doktet yang memeriksa istrinya.
"Untung saja cepat di bawa kemari Tuan, kalau tidak benturan yang di alami istri tuan, bisa saja membahayakan bayi yang ada di kandungan istrinya," jawab Dokter itu menjelaskan.
"Apa istri saya perlu di rawat Dokter?" tanya Rasya lagi, ia sedikit lega pendengar penjelasan dokter itu.
"Saya rasa tidak perlu tuan, cukup istrirahar di rumah saja," jawab doktet lagi.
Sekitar 2 jam mereka di rumah sakit, sekarang sudah waktunya untuk pulang. menempuh perjalanan sepuluh menit, barulah mereka sampai di rumah.
Rasya keluar dari mobil, lalu menggendong istrinya membawanya masuk kedalam, saat ia meletakan istrinya ia mendengar suara teriakan ibunya.
"Aaaaaa!" teriak bunda begitu ia masuk kekamarnya
"Ada apa ya Mas? Jenapa bunda teriak?" tanya Naya, saat ia mendengar teriakan ibu mertuanya.
"Mas juga tidak tau Sayang, biar Mas cek dulu kamu disini jangan ke mana-mana!" serinya, di angguki oleh Naya.
Setelah itu ia mendatangi kamar ibunya.
"Bunda…, Bunda kenapa?" tanya Rasya, begitu sampai di kamar ibunya.
"Bibik Ras…, Bik Tina…,dan lihat lah semua ini," jawab Bunda menunjukak keadaan lemari dan keadan kamarnya.
Betapa terkejutnya Rasya, saat melihat salah satu pemnantunya tergeletak tidak berdaya di dalam kamar ibunya, di tambah dengan keadaan kamar bunda yang sangat berantakan.
"Siapa yang sudah melakukan ini! Berani dia bermain-main denganku!" murkanya.
Entah mengapa hanya ada Eyang dan 2 orang kesayangannya itu yang ada di pikiran Rasya
Belum lagi selesai masalah istrinya dikejar, berujung masuk rumah sakit, sekarang sudah ada masalah lagi yang terjadi di rumahnya sendiri.
"Nayara," ucapnya saat teringat adiknya.
Rasya langsung berlari memeriksa Kamar adiknya, ia sangat bersukur kebetulan adiknya sedang pergi. Lalu ia juga melihat keadaan pembantu lainnya.
"Siapa yang sudah melakukan ini?" tanya nya dambil mbuka ikatan tali yang mengikat para pembantunya.
__ADS_1
"Non Ririn dan Nyonya Jiyyah tuan, mereka jiaga telah membawa 2 mobil Tuan, yang lebih parah lagi mereka membunuh Bik Tita, karna dia ketahuan ingin memberitahuTuan," jawab bik Tum, sekaligus menjelaskan semuanya pada tuannya.
"Berani sekali mereka, apa mereka sudah bosan hidup!" geramnya.
Rasya menelpon Keny, ia memerintahkan Asistennya itu untuk mencari keberadaan, Ririn dan ibunya. dia juga menghubungi adiknya, bertanya keberadaannya agar anak buahnya segera menjemputnya.
Mereka semua mengurus mayat Bik Tita, mengabari pada keluarganya. Rasya menyesal telah lengah mengawasi Ririn dan ibunya, dia terkecoh dengan kebaikan dua orang itu.
Sedangkan di tempat lain, seorang pria sedang di marahi oleh ibunya, karna sudah gagal menjalankan perintahnya.
"Dasar anak bodoh! Melakukan itu aja kau tidak bisa!" marah eyang desi pada putranya.
"Aku sudah berusaha Mah, aku juga sudah menyuruh orang yang sudah berpengalaman dalam membunuh," jawab pria itu menjelaskan pada ibunya.
"Sekarang Rasya pasti akan mencari tau semuanya, dan habislah kita," ujar wanita tua itu.
"Sekarang juga kemasi barang-barangmu! untuk sementara kau harus bersembunyi sampai suasana aman!" serunya memeritahkan punranya.
"Baik Mah," patuh pria itu.
Sampai di kediaman Dirgantara, eyang keluar dari mobilnya, ia merasa heran mengapa semua orang sibuk. dan penjaga juga semakin banyak.
"Yara, ada apa ini, apa yang terjadi disini?" tanya eyang.
"Bik Tita menimggal Eyang, dia di bunuh sama dua wanita kesayangan Eyang," jawab Yara menatap eyangnya.
"Jangan menatap Eyang seperti itu! Eyang tidak tau tentang ini semua!" seru eyang pada Yara.
"Tidak tahu atau pura-pura tidak tahu," sergah Rasya dari belakang.
"Jadi kau menuduh Eyang!" seru eyang Desi pada Rasya.
"Yang membawa mereka kemarikan Eyang! jadi ini semua pasti ada sangkutannya dengan Eyang!" lanjut Rasya, tetap menuduh eyangnya.
"Eyang tidak tau apa-apa Rasya, Eyang baru saja pulang dari rumah tantemu," ucap eyang sambil menangis.
"Kalau aku tau Eyang ikut adil didalamnya, tidak ada lagi kespatan untuk Eyang. jadi bersia-siaplah menanggung semua perbuatan Eyang," balas Rasya, mengancam eyangnya.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Rasyapun meninggalkan eyangnya yang terpaku.
"Kali ini aku tidak bisa membela eyang, karna ini semua sudah melewati batas," timpal Yara, ia juga meninggalkan eyangnya.
Eyang desi tersenyum, karna menemukan rencana lain.
"Ini kesempatanku untuk melimpahkan kesalahasn Rusdi mada Jiyyah dan putrinya. Salahmereka mengapa bertindak tanpa sepengetahannku, " ucap eyang dalam hati.
"Keesokan harinya, Keny memerkntahkan orang-orangnya untuk mencari keberadaan Ririn dan Jiyyah.
📱)"Bagaimana? apa kalian sudah menemukannya?" tanya Keny menghubungi anak buahnya.
📱)"Maaf Tuan, kami masih berusaha, saat ini kami menuju lokasi target tuan," jawab anak buah itu menjelaskan.
📱)"laksanakan dengan cepat!" perintah Keny. Setelah mendengar jawaban anak buahnya, Keny mematikan sambungan telponnya.
"Mah, bagaimana ini, kita nggak akan bisa lari dari kejarannya Rasya, lalu untuk apa semua ini, kita juga tidak bisa menikmatinya," ujar Ririn, ia menyesal mengikuti rencana ibunya.
Sudah kamu siap-siap, Mama sudah menyiapkan tiket untuk kita pergi, tapi kita harus berpencar, Mama ke kota A, sedangkan kau kekota B, agar kira bisa mengecoh mereka," ujar Jiyyah menjelaskan pada putrinya.
"Tapi Mah_."
"Sudah dengarkan Mama, ini semua mama lakukan demi kamu, ini uangnya…,mas yang kita jual kemaren juga mama masukan kedalam sini, satu lagi kalau bukan Mama yang menelponmu jangan pernah telpon Mama," ucap Jiyyah memotong ucapan Ririn.
Jiyyah mengatakan semua rencananya pada putrinya, tapi Ririn merasa ada yang aneh di dalam rencana itu, ibunya hanya menyebut dia, tidak dengam dirinya.
"Sudah sana! Cepat pergi sebelum anak buah Rasya menemukanmu!" seru Jiyyah, yang lagi-lagi mbuat Ririn merasa janggal.
Karna paksaan ibunya, ahirnya Ririn pergi meningalkan kota itu, ia pergi seorang diri. Sedangkan Jiyyah, ia tidak pergi ketempat yang di rencanakan, ia malah membuat seolah-olah ditemukan oleh anak buah Rasya.
"Itu dia, ayo kejar!" seru orang-orang itu. Ketika melihat Jiyyah masuk kedalam mobil.
Mereka mengejar mobil yang di bawa Jiyyah, Jiyyah juga bersama seorang gadis yang mereka yakini adalah Ririn.
Jiyyah melaju dengan kencang, tapi saat ia melewati jurang, ia langsung membanting setiurnya kearah jurang itu, lalu mobilnya pun meledak.
"Sial, dia lebih memilih mati," ucapnya, lalu menghubungi Keny, ia mengatakan apa yang terjadi.
__ADS_1