
Keesokan harinya.
Pagi ini Naya, kembali susah dibangankan, membuat Rasya bertambah heran, sifat istinya itu benar-benar berubah drastis. Bukan hanya malas bergerak, istrinya itu juga sangat manja.
"Kamu benarasn gak papa?, " tanya Rasya, yang sudah lelah membujuk istrinya untuk bangun.
"Gak papa Mas, aku cuma merasa malas bergetak, lemes, bawaannya ngamtuk terus, " jawab Naya berterus terang.
Memang saat ini itulah yang ia rasakan.
"Kalau gitu kita pulang aja, aku takut kamu kenapa-napa, " ujar Rasya mengecek keadaan tubuh istrinya.
"Aku gak lagi sakit Mas, " seru Naya menjauhkan tangan suamnya.
"Terus kamu kenapa Nay? Aku perhatikan wajahmu terlihat pucatdi ditambah lagi katamu malas bergerak, " balas Rasya, khawatir pada istrinya.
"Iya Mas…, emang gak papa kalau kita pulang hari ini?, " tanyanya takut mengecewakan suaminya.
"Gak papa Sayang, kenyamanan kamu lebih penting, " balas Rasya tersenyum pada Naya.
"Makasih Mas, " ucap Naya, membalas senyuman suaminya.
Bukan cuma itu, Naya juga memeluk suaminya yang duduk di sampingnya.
Sudah sepakat untuk pulang, Rasyapun menyuruh simbok membereskan barang-bsrangnya.
Setelah itu ia mengabari Keny, agar menyieuh seseorang untuk menjemput mereka.
Dikediaman Dirgantara.
"Mah, aku sudah tidak tahan hidup menumpang begini, " cetus Ririn, mendatangi ibunya dikamar.
"Sabar, mama lagi cari cara, biar kita cepat dapat duit, tanpa harus bekerja, " balas mama Jiyyah, tersenyum pada putrinya.
"Emang ada, cara yang seperti itu?, " tanya Ririn.
"Ada…, nanti kalai sudah saatnya, kamu bakalan tau kok, " jawab Jiyyah saja.
"Ih kok gitu, mah, " sahut Ririn, kesal pada ibunya.
__ADS_1
"Sudah lah! kamu gak usah banyak bicara!, " seru ibunya membuat Ririn. Tidak lagi bertanya.
Mereka berdua keluar dari kamar, menemui bunda dan eyang di rungtamu.
"Mbak, aku boleh minta bantuan Mbak, " ucap Jiyyah pada bunda.
"Memangnya, apa yang bisa saya bantu, " jawab bundak.
"Gini Mbak, Ririnkan gak ada kerjaan, himana kalau dia kerja di kantor Rasya saja, " jelas Jiyyah, mengatakan keinginannya.
"Maaf Jiyyah, bukannya aku tidak mau membantumu, tapi aku tidak mau mengambil resiko yang mungkin bisa menghancurkan putraku sendiri, " balas bunda menolak dengan tegas.
"Apa maksud Mbak! resiko yamg sepeeti apa!, " sentak Jiyyah kutang suka dengan jawaban bunda.
"Harus kah aku menjelaskan semuanya! " ujar bunda tak kalah marah.
"Sudah! Kenapa kalian jadi ribut!, " sentak Eyang, menghentikan keduanya.
"Tapi Tan Yasmin menuduh putriku yang bukan-bukan, " seru Jiyyah.
"Kenapa sih, kau duka sekali mencari keributan! Memang apa susahnya memvantu Ririn, dia hanya ingin bekerja di kantor Rasya, " ujar eyang yang selalu mebela Ririn dan Jiyyah.
"Aku sudah putuskan tidak mau membantu mereka, jika kalian mau dan niat beeusahalah sendiri, " balas bunda, setalah itu ia meninggalkan ketiganya.
"Beneran kamu mau bekerja?, " tanya eyang pada Ririn.
Ririn yang di tanyapun melihat ke arah ibunya, karna dia tidak tau apa maksud ini semua.
Jiyyah yang dibtatap Ririn, mengangguk mengotakan.
"Iya Eyang, Ririn msu kerja biar ada penghasilan, " jawabnya tersenyum pada eyang.
"Bailah, biar nanti eyang yang bicara pada Rasya, sekalian kamu bisa banyak menghabis kan waktu dikantor dengannya, " janjut eyang malah memiliki rencana.
"Iya ya Tan, kenapa gak dari kemaren-katen, " sahut Jiyyah.
Tadi ia hanya asal bicara, hamya sekedar mencari topolik, pembicaraan. Mrakapun lanjut mengobrol di rughtamu itu
...********...
__ADS_1
Di kantor.
"Kak Ken, Yara boleh nanya sesiatu nggak, " ucap Yara.
"Hemm, " Keny mendehem saja.
"Gadis yang Kakak suka itu seperti apasih?, " lanjut Yara bertanya.
"Yang dewasa, dan tidak manja, " jawab Keny, membuat Yara terdiam, lalu kenbali bertanya.
"Kenapa kakak suka cewe yang seperti itu?, " tanya yara lagi, ia merasa penasaran
"Karena, aku tidak suka direpotkan sama cewe yang kekanakan dan manja, " jawab Keny lagi.
Jawaban yang membuat hati yara kembali terluka, sungguh ia merasa Keny, mengatakan itu kstna tidak suka padanya.
Berarti selama ini kakak gak suka ya kalau aku nemuin kakak? Karna aku sudah sering ngrepotin kakak, " ujar yara sendu, ia berharap kali ini Keny menjawab tidak.
"Itu bisa kamu fikirkan sendiri, " balas Keny, tanpa memikirkan perasaan yara.
"Iya kak, maaf karna yara sudah sering ngerepotin kakak, " ujarnya.
Setelah itu yara langsung pergi, ia berlari meninggalkan ruangan Keny, semua jawaban Keny benar-benar menyakiti hatinya.
Keni yang mendengar kata maaf dari Yarapun tersadar.
"Eh Yar, bukan gitu maksu_, " ucapan Keny terhenti, karna yara sudah tidak ada lagi di ruangannya.
"Biarkan sajalah, paling besok dia juga datang lagi, " gumamnya tanpa mengejar yara.
Kenypun kembali melanjutkan pekerjaannya, walau dalam hati ada sedikit perasaan yang tak enak terhadap adik dari Bos sekaligus sahabatnya itu.
Siang harinya, Rasya dan Naya sudah sampai di Rumah kediaman Dirgantara, Rasya keluar dari mobil, lalu ia mangitari mobilnya menuju pintu yang ditempati oleh Naya istrinya.
"Masih tidur juga, " gimam Rasya, menggelengkan kepalanya. Lalu Rasya menggendong istrinya, membawanya masuk kedalam.
"Ras, Naya kenapa?kok pulang, bukannya besok?, " tanya bunda ketika melihat anak dan menantunya.
"Gak papa bun, Rasya pamit keatas dulu Naynya lagi tidur Bun, " jawab Rasya, lalu berpamitan.
__ADS_1
"Ya pergilah! kasian juga mana tidurnya myenyak banget lagi udah kayak bayi aja, " balas bunda melihat menantunya tidur di gendongan Rasya.
Rasya melanjutkan langkahnya ke lantai atas.