Terjebak Dalam Cinta CEO Dingin

Terjebak Dalam Cinta CEO Dingin
Kabar bahagia


__ADS_3

Bund sudah memunggu cukup lama, tapi Rasya tak juga datang. Karna merasa khwatir pada menantunya, Bunda mutuskan untuk mendatangi kamar putranya.


Tok tok tok


"Ras, Bunda boleh masuk nggak?, " tanya bunda, setelah mengetok pintu kamar putrana.


"Ya Bun, masuk aja gak dikunci kok, " jawab Rasya dari dalam.


Sudah mendapat ijin dari puntanya, bundapun masuk kedalam.


"Ras, sebenarnya Naya ken_, " ucapan Bunda, terhenti ketika ia melihat putra dan menantunya, tidur dengan Naya memeluk Rasya.


"Ada apa Bun? tadi Rasya gak jadi turun nih liat gak di kasih sama Naya. " Rasya bertanya sekaligus memberitahu.


"Memangnya Naya kenapa?, " balas bunda kembali bertanya.


"Gak tau Bun, katanya badannya lemes semua bawaannya ngantuk terus, ditambah lagi ini Rasya gak boleh pergi, " jawab rasya, apa adanya.


Bunda yang mendengar ucapan putranyapun tersenyum bahagia. Ia bahagia melihat kemesraan putra dan mwnantunya.


"Kok Bunda malah senyum sih, gak ada yang lucu Bun, " gerutu Rasya.


Ia bergerak melepaskan pelukan istrinya. Sedangkan Naya, ia sama sekali tidak terganggu dengan obrolan mertua dan suaminya.


"Mas mau kemana?, " tanya Naya saat merasa pergerakan dari Rasya.


"Gak kemana-mana sayang, ada Bunda lo, " ujar Rasya lembut.


Mendengar nama Bunda disebut, Naya langsung duduk dan mencari keberadaan bunda. ia baru sadar kalau saat ini mereka sudah ada dirumah.


"Bunda, maaf Naya ketiduran, Mas kok nggak bilang kalau kita sudah ada di rumah, " ujarnya memina maaf, lalu menyalahkan suaminya.


"Kok Mas yang disalahin sih, " seru Rasya.


"Ya Mas lah siapa lagi, " balas Naya megerutu.


"Sudah! Kok malah berantem sih, " sela bunda menengahi keduanya.


"Apa yang kamu rasakasn saat ini sayang?, " tanya bunda dengan lembut.


"Lemas Bun, pusing maunya tiduran muluk, " jawab Naya apa yang ia rasakan


"Mual gak?, " tanya bunda lagi.


Naya membalas dengan anggukan kepala. Baru juga duduk ia sidah kembali lemas dan membaringkan tubuhnya.


"Ras, sekarang kamu suruh dokter Dirga datang! untuk memeriksa Naya!, " seru bunda menyuruh putranya.


"Baik Bun, " balas Rasya, segera menjalankan perintah ibunya.

__ADS_1


Rasya menelpon dokter Dirga, menyuruhnya untuk datang.Tak Berapa lama dokter Dirgapun datang.


"Selamat sore Nyonya, Tuan, " sapa dokter Dirga setelah ia sampai dikamar Rasya


"Sore Dok, tolong periksa menantu saya Dok!, " bunda membalas sapaan dokter Dirga.


Patuh Dokret itu, segera memeriksa keadaan Naya. Seyelah selesai dokterpun tersenyum, lalu mendekati Rasya.


"Selamat Tuan, istri anda sedang mengandung, " ucap dokter memberi selamat.


"Bederan Dok, Dokter tidak bohongkan, " seru Rasya. Iya sangan bahagia.


"Iya Tuan, agar lebih akurat, Silahkan bawa Istrinya kerumah sakit!, " balas doktet Dirga.


"Baik dok, terima kasih, " sahut Rasya tersenyum.


"Setelah itu, Dokter Dirgapun pamit, ia di hantar bunda kedepan.


"Sayang, sebentar lagi aku akan jadi ayah, " ucap Rasya memeluk istrinya.


"Iya Mas, selamat ya Mas, " balas Naya.


"Kok selamatnya buat Mas, buat kita berdua dong, Mas akan jadi Ayah, kamu akan jadi Bunda, " ujar Rasya, ia benar-benar bahagia.


"Dan Bunda akan jadi Eyang, " timpal bunda kembali datang kekamar putranya.


"Iya Bun, aku akan jagain Istriku dengan baik, " balas Rasya kembali memeluk Naya.


Sore itu, mereka benar-benar bahagia, mendaoar kabar kehamilan Naya. Tapi tidak dengan Eyang, dia merasa rencananya memisahkan Naya dan Rasya akan bertambah sulit.


...********...


Malam harinya, di sebuah Restoran. Sepasang kekasih sedang makan malam bersama.


"Yang, aku ingin mengenalkanmu pada mama? bagaimana kamu bersedia?, " tanya Bagas, sambil menggenggam tangan Nining.


"Tapi bagaimana jika tante Erna tidak menyukaiku, " jawab Nining mulai takut.


"Hey, apa yang kau katajan, sejak kapan mama tidak suka padamu, " balas Bagas, selama ini Erna mamanya sangan dekat dengan Nining.


"Aku takut, tante tidak suka kalau aku jadi pacarmu, " lanjut Nining lagi.


Erna memang baik padanya, tapi saat mereka bertenam, entahlah kalu sudah pacaran Nining tak pernah lagi menemui Erna mamanya Bagas.


"Kamu kaya nggak kenal mama saja, " suru Bagas, bingung apa yang sebenarnya Nining takutkan.


"Ya aku tau tante selama ini, tapi aku takut tante berubah saat tau kalau kita sekarang pacaran, " sahut Nining, mengatakan ketakutannya.


"Kamu gak usah takut, percaya sama aku, " balas Bagas, meyakinkan Nining. Nining mengangguk,mencoba mempercayakan semuanya pada Babasnya.

__ADS_1


Mereka berdua melanjutkan makan malamnya, di lanjut dengan menonton Filim romansa.


...************...


Pagi hari nya.


Sayang Mas, kerja dulu ya, " papit Rasya, mengecup kening istrinya.


"Iya Mas, hati-hati ya, " sahut Naya, yang masih berbaring di kasur.


"Iya Sayang, oh ya…, katanya nanti ibuk mau datang, " serunya mberitahu Naya.


"Benaran Mas? sama Dian jiga?, " tanya Naya memastikan.


"Gak, ibuk cuma sendiri, kalau kamu pengan ketemu Dian nanti Mas suruh dia datang nemuin kamu, " balas Rasya, membuat Naya tersenyum padanya.


"Makasih Mas. "


"Iya Sayang, Mas betangkat ya, " pamiynya lagi.


Cup


Cup


Cup


Rasya mengecup pipi kening dan bibir istrinya, setelah itu ia benar-benar pergi.


Rasya turun kebawah, tak sengaja ia bertemu dengan Ririn yang juga manuruni anak tabggak


"Ras, kamu mau kekantor ya?, " tanyanya lalu tersenyum pada Rasya.


Hemm


Jawab Rasya dengan deheman.


"Aku boleh melamar kerjaan di kantormu? apa ada lowongan yang cocok untukku?, " tanya Ririn lagi, yang mendapat tatapan dari Rasya.


"Tidak ada lowongan untuk wanita sepertimu, " jawab Rasya menatap Ririn dengan tajam.


Setelah itu ia melanjutkan langkahnya, kemeja makan, karna bunda sudah menunggunya sarapan.


"Naya gak ikut sarapan Bun, katanya belum selera, nanti bilangin bibik nganterin makanan kekamar ya Bun, " ucapnya mberitahu ibunya.


"Ya sudah! kamu sarapan ya! biarnanti Naya bunda yang masakin spesial buat ibu hamil, " balas bunda, penuh dengan semangat.


"Baru jugak, hamil, udah manjanya mintak pun, semua orang juga pernah, tapi nggak kayak gitu manjanya berlebihan, " cetus Eyang sinis.


Rasya dan ibunya tidak mendengarkan Eyang, mereka melanjutkan makan dengan tenang. Selesai sarapan, Rasya berpamitan pafa Bunda dan Eyangnya, lalu berangkat kekantor.

__ADS_1


__ADS_2