
Kembali ke Ninu yang sedang sakit di toko tempatnya bekerja.
flashback
Sekira satu jam sebelum Ninu menjerit tidak kuat menahan sakit yang menderanya, sebuah mobil pribadi berhenti diparkiran toko. Tak lama kemudian turun seorang pria muda mengenakan kaos putih pas badan dan celana jeans serta mengenakan kaca mata hitam, dia berjalan memasuki toko.
“Halo tante Sandra,” sapanya begitu tiba di depan kassa.
“Hai Haris… apa kabar?” Sandra sumringah melihat pria itu.
“Baik tan” jawabnya tersenyum, “Bagaimana kabar Tante?”
“Kabar baik. Ayo sini masuk, Om-mu sudah nunggu di dalam,” jawab Sandra.
“Dini, ibu titip kassa sebentar ya,” Sandra memanggil salah seorang karyawannya. Kebetulan toko sedang sepi hanya ada satu dua pembeli saja.
“Baik bu,” jawab yang dipanggil.
“Ayo Haris, kita ngobrol di kantor” ajak Sandra sambil melangkah menuju ruangan dekat kassa diikuti oleh Haris.
“Pah ini Haris sudah datang” suara Sandra terdengar begitu memasuki ruangan yang disebutnya sebagai kantor.
Seorang pria paruh baya yang sedang duduk segera berdiri sambil tersenyum lebar menyambut Sandra dan Haris.
“Wah… ini pemuda idaman baru muncul lagi,” sapanya menyambut tangan Haris yang menyalaminya.
“Ah om bisa aja kalau ada maunya,” jawab Haris terkekeh.
“Pemuda idaman tapi masih jomblo. Aneh ya” timpal Sandra.
“Ayo duduk Ris. Kemana saja kamu sudah lama tidak datang mengunjungi kami di sini?” ucap Johan, suami Sandra.
“Ada om, banyak sekali yang harus diurus di pool. Maklum kuli hehe…” jawab Haris tertawa masam.
“Makanya cepetan nikah biar papamu segera melimpahkan kepemilikan pool sama kamu” timpal Sandra, “Oh ya, mau minum apa? kopi atau teh?”
“Kopi boleh tan” jawab Haris, “Itulah tan, gak ada perempuan yang mau”
“Bukan gak ada yang mau, kamu terlalu pemilih” seru Johan, “Ris di dunia ini tidak ada yang sempurna, catat itu” lanjutnya yang dibalas kekehan Haris.
“Oh ya om, aku ke sini mau nanyain pesenan sepatu untuk supir-supir yang waktu itu sudah diorder Budi, sudah beres belum?” Haris mengalihkan pembicaraan.
“Kasih waktu dua hari lagi ya, tinggal finishing,” jawab Johan.
Johan dan Sandra membuat sepatu sendiri dan di jual di toko mereka, selain menjual sepatu dan sandal merek lainnya. Produk buatan mereka sangat digemari oleh para pelanggan karena terkenal modelnya simpel tapi menarik dan kuat.
Haris adalah anak Hendrawan, sahabat Johan. Hendrawan sendiri adalah seorang konglomerat pemilik perkebunan sawit dan tambang batubara di Sumatera. Hendrawan mempunyai 3 orang anak, dan salah satunya adalah Haris. Hendrawan membuatkan usaha setiap anaknya. Dan untuk Haris yang menggemari otomotif dia mendirikan perusahaan transportasi yaitu PO. Sinar Kencana, sebuah perusahaan bus yang melayani perjalanan antar kota dan antar provinsi. Tetapi Hendrawan belum menjadikan Haris sebagai pemilik PO tersebut. Saat ini kepemilikkannya masih atas nama Hendrawan dan Haris hanya sebagai pengelola saja dengan sistem gaji. Hal tersebut dimaksudkan agar Haris memiliki pengalaman dan belajar mengelola sebuah perusahaan. Hendrawan berjanji akan memberikan perusahaan itu sepenuhnya pada Haris apabila Haris sudah menikah.
__ADS_1
Sayangnya Haris adalah pria yang tidak suka menggoda perempuan. Dia sangat kaku di depan perempuan, jangankan untuk menggoda atau bermain perempuan, berbicara saja sepertinya sulit sekali. Kalau sudah urusannya tentang perempuan otaknya langsung blank tidak tahu harus bicara apa. jadi sampai saat ini Haris belum pernah punya pacar.
Dulu pernah dia mengagumi seorang temannya semasa SMA, tapi dia tidak berani mengungkapkan perasaannya hingga mereka lulus sekolah dan temannya itu pindah ke kota lain untuk melanjutkan kuliah. Perasaan Haris tidak pernah tersampaikan hingga saat ini dia tidak pernah bertemu lagi dengannya.
Banyak di antara teman-teman Haris menganggap kalau dia adalah penyuka sesama jenis karena tidak tidak pernah punya pacar, tapi itu tidak terbukti. Ada juga yang mengatakan Haris punya kelainan, tapi itu juga tidak ada yang bisa membuktikan. Sikap tegas dan kakunya membuat perempuan enggan dekat-dekat dengan Haris.
“Gak apa-apa om tenang aja, dua hari gak lama” ucap Haris, “Pembayarannya nanti Budi yang urus ya om” lanjutnya. Budi adalah orang kepercayaan Haris yang membantunya mengurus pool dan semua karyawannya. Bisa dibilang kalau Budi adalah sekertarisnya Haris.
“Iya tenang saja urusan uang itu nomor satu haha….” Johan tertawa diikuti oleh Sandra.
“Papa bisa aja ngomongnya. Selalu bener!” suara Sandra menimpali.
Mereka ngobrol cukup lama hingga akhirnya Haris berpamitan.
“Oke deh, om tante, aku pamit ya, kapan-kapan aku ke sini lagi” ucapnya sambil berdiri hendak berpamitan.
“Bener ya.. jangan ke sini tuh kalau ada perlunya saja. Tengokin kita sekali-kali” jawab Sandra.
“Iya siap tan. Aku permisi dulu” Haris melangkah ke pintu diikuti Sandra dan Johan.
“ARRRGGGHHHHH…………..”
Terdengar jeritan dari ruang istirahat karyawan membuat semua yang ada di toko terkejut.
Tono dan Mona segera berlari ke dalam. Mereka tahu itu jeritan Ninu. Sementara Sandra dan Johan segera mengikuti mereka memasuki ruang istirahat.
“Gak tahu bu, tadi Ninu sakit” jawab Tono sambil memperhatikan Ninu yang sedang dipegang oleh Mona.
“Ninu… kamu kenapa? Ya Tuhan badannya menggigil. Ini gimana ya bu?” suara Mona khawatir.
“Coba aku lihat” suara Tono menyela. Tangannya menyentuh tangan Ninu yang gemetaran. Hati Tono mencurigai sesuatu, tapi dia segera menepisnya. Tidak mungkin Ninu melakukannya, dia kan gadis baik-baik, bisiknya dalam hati.
“Apa sebaiknya kita bawa ke dokter saja ma?” suara pak Johan di belakang Sandra.
“Iya bawa ke dokter saja kasian”
“Biar Mona saja yang antar Ninu ke dokter” ucap Sandra, “Minta Haris mengantar mereka ya pa, kan mobil kita lagi dipake sama Marchel ke pabrik”
Marchel adalah anak Sandra dan Johan.
“Iya boleh. Sebentar papa bicara dulu sama Haris” Johan beranjak keluar ruangan.
Sementara di dalam toko Haris masih berdiri di depan pintu kantor.
“Ada apa om? Siapa yang menjerit?” tanyanya penasaran begitu melihat Johan muncul.
“Itu karyawan om ada yang sakit” jawab Johan “Ris, om bisa minta tolong? bisa kamu antar dia ke rumah sakit?. Mobil om lagi dipake Marchel ke pabrik” lanjutnya.
__ADS_1
Sebetulnya Haris enggan tetapi dia tidak enak kalau harus menolak permintaan Johan, maka dia mengangguk mengiyakan.
“Terimakasih ya Ris” Johan menepuk bahu Haris lalu kembali ke ruang istirahat.
“Bawa ke mobil Haris Ton” perintahnya pada Tono
Tono dan Mona memapah Ninu yang masih menggigil, bibirnya terkatup menahan sakit.
Wah… perempuan gak bener nih. Kok om Johan mempekerjakan perempuan kayak gini sih, batin Haris begitu dia melihat Ninu.
“Ayo bawa masuk” serunya pada Mona dan Tono sambil membukakan pintu belakang mobil.
Sepanjang perjalanan Haris hanya diam, sesekali dia memperhatikan Ninu dan Mona yang duduk di jok belakang. Dilihatnya bagaimana Ninu meringkuk sambil menggigil, sementara Mona terus mengusap-ngusap punggung Ninu dan mengenggam tangannya.
⚘
“Tuan Haris, maaf…” Suara Mona ragu-ragu.
“Ya, ada apa?” tanya Haris.
“Saya tidak bawa uang, bu Sandra juga tadi tidak memberi saya uang. Apa boleh saya pinjam tuan? Saya khawatir pihak rumah sakit minta uang muka untuk perawatan Ninu?”
Huh merepotkan sekali, sepertinya karena terburu-buru tante Sandra lupa.
“Ya nanti aku tanya ke bagian administrasi” jawab Haris tanpa melihat Mona.
Sekarang Ninu sedang ditangani dokter di ruang IGD.
“Keluarganya nona Ninu ya?” tanya seorang perawat.
“Iya sus” jawab Mona.
“Dokter ingin bicara, silakan masuk”
“Tuan Haris mau ikut masuk ke ruang dokter?” tanya Mona.
Kenapa aku jadi terlibat begini sih.
“Gak usah. Aku mau ke bagian administrasi dan langsung pulang” jawab Haris sambil berdiri.
“Baiklah, terima kasih sebelumnya tuan atas bantuannya” Mona menganggukkan kepala memberi hormat.
Haris segera berlalu.
⚘⚘⚘⚘
Sang pangeran muncul nih 😍😍😍😍😍😍
__ADS_1