TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
BALAS BUDI


__ADS_3

“Gis, kira-kira apa ya yang akan diminta oleh tuan Haris untuk membayar kebaikannya? Aku kok jadi takut” suara Ninu penuh kekhawatiran.


Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang dari rumah Haris dengan berboncengan sepeda motor.


“Entahlah Nin, aku merasa dia bukan orang yang ramah. Coba kamu dengar cara dia bicara tadi. Dan untuk apa dia bilang oh waktu kamu sakau ya, kan gak sopan Nin” Agis memonyongkan bibirnya.


Ninu terdiam, “Tapi aku memang sedang sakau Gis” Ninu tertunduk, hatinya sedih. Mengapa hidupnya harus ternoda oleh narkoba.


“Tapi kan tidak pantas dia berkata begitu. Seenaknya saja. Itu menyinggung perasaan kan” seru Agis kesal


“Sudahlah Gis gak apa-apa, orang kaya mah bebas”


“Dan kamu lihat tadi Nin bagaimana cara dia memandang kita, terutama memandangmu, tatapannya sangat tajam. Sepertinya dia tidak suka sama kita” lanjut Agis.


“Kita memang tidak selevel sama dia Gis. Mungkin tadi sebaiknya kita tidak datang menemuinya”


“Nin, masalah harta tidak menjadi patokan seseorang agar dapat merendahkan orang lain. Kita sama-sama manusia, ya saling menghargailah”


“Tapi herannya, bu Sandra bilang kalau tuan Haris itu orangnya baik hati, beuh...baik hati apanya” Agis mencibir. Sepertinya dia sangat kesal dengan penerimaan Haris tadi.


“Sudahlah Gis, setidaknya kita sudah menuntaskan kewajiban kita untuk berterima kasih kepada orang yang telah memberi pertolongan, masalah dia seperti apa menanggapinya biarkan saja, tidak perlu dipikirkan”


Tanpa terasa perbincangan mereka tentang Haris telah membawa mereka sampai di depan rumah.



Sore harinya


Ddrrrttt… ddrrrttt…


Telepon Ninu bergetar, dari nomor tak dikenal.


“Halo…” Ninu menerima panggilan.


“Halo, dengan nona Ninu?” suara seorang laki-laki di seberang telepon.


“Betul, ini siapa ya?” tanya Ninu.


“Saya Budi, asistennya tuan Haris”


Ninu terkejut, hatinya menciut.


“Ada hal yang ingin saya bicarakan nona. Bisakah kita bertemu sebentar di café Mawar di dekat rumah anda?”


“Ba…baik. Kapan?” tanya Ninu gelagapan.


“Sekarang nona, saya tunggu dalam 10 menit” klik telepon ditutup.


Ninu gelagapan. Dia segera menuju kamar dan berganti pakaian, lalu berpamitan pada ibu Agis. Hari ini Agis kerja shift siang jadi dia harus menemui asisten Haris sendirian.



Ninu memasuki café yang dimaksud oleh Budi. Dia celingukan mencari orang yang dimaksud. Di ujung dalam café seorang pria melambaikan tangan memanggilnya. Ninu segera menghampiri.


“Selamat sore. Ini…” tanya Ninu ragu.


Budi yang sudah berdiri memandangi Ninu sejenak. Matanya menyusuri tubuh Ninu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


“Betul. Saya Budi, silakan duduk” tangannya menunjuk pada kursi di depannya, “Mau minum apa nona?” lanjutnya.


“Ah tidak terima kasih, saya tidak sedang haus” jawab Ninu.

__ADS_1


“Tapi kalau di café atau rumah makan kita harus membeli makanan dan minuman agar diijinkan duduk didalamnya” suara Budi memaksa.


“hmm..baiklah, kalau begitu saya minta jus strawberi saja”


“Oke” Budi melambaikan tangannya pada pelayan kemudian memesan jus strawberi untuk Ninu dan soft drink untuknya.


“Maaf…apa saya tidak apa-apa memanggil anda dengan sebutan mas?” tanya Ninu.


“Bebas nona, anda mau panggil saya akang juga boleh” Budi tersenyum tipis.


Ninu balas tersenyum.


Senyumnya manis juga, batin Budi.


“Maaf mas Budi, darimana anda tau nomor saya?”


“Itu bukan hal sulit. Kita to the point saja ya nona karena saya tidak punya banyak waktu” suara Budi tertahan ketika pelayan datang mengantarkan minuman pesanannya.


“Tuan Haris mengutus saya untuk meminta balasan atas bantuan yang pernah dia berikan pada nona”


Jantung Ninu berdebar-debar. Balas budi seperti apa yang Haris minta.


“Saat ini tuan Haris sedang dalam masalah. Bukan masalah besar tapi tetap harus diselesaikan”


Ninu menyimak perkataan Budi.


Kata Budi, seperti yang Ninu tawarkan kepada Haris karena Haris pernah membantu menyelamatkan nyawanya, sekarang dia yang harus membantu Haris. Haris ingin agar Ninu berpura-pura menjadi kekasihnya. Hanya sementara saja sampai dia menemukan wanita yang cocok untuk dijadikan istri.


Saat ini orangtua Haris sedang datang berkunjung. Haris ingin memperkenalkan Ninu pada mereka sebagai kekasihnya.


“Saya tahu nona akan pulang ke kampung halaman besok pagi. Oleh karenanya nona harus menemui orangtua tuan Haris malam ini. Nanti akan ada supir yang datang menjemput nona” kata Budi.


Ninu sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bicara. Dia hanya mendengarkan dengan perasaan yang campur aduk.


Kata Budi, setelah perkenalan nanti orangtua Haris akan kembali ke tempat tinggal mereka dan Ninu bisa menjalani hidup seperti biasanya. Bukan sesuatu yang sulit.


“Apa yang harus saya lakukan nanti?” tanya Ninu.


“Tidak ada. Tuan Haris sudah mengatur segalanya, nona hanya perlu bersikap sewajarnya seperti seorang kekasih”


“Tapi saya belum pernah punya kekasih”


“Kalau begitu ikuti saja apa yang tuan Haris katakan”


Ninu terdiam.


“Nona hari sudah sore, sebaiknya nona segera kembali ke rumah dan bersiap-siap. Jam 7 malam nanti supir akan datang menjemput” Budi berdiri diikuti Ninu.



POV Haris


Aku lihat gadis itu bersungguh-sungguh ketika menawariku untuk membalas bantuanku padanya. Seperti kata tante Sandra ketika aku telepon tadi siang, gadis itu gadis yang baik hati dan pekerja keras. Sayang sekali nasibnya kurang baik dijebak seseorang ke kubangan narkoba.


Aku tidak berniat memanfaatkannya untuk berpura-pura menjadi kekasihku. Aku hanya ingin agar aku bisa lepas dari pertanyaan berulang dari mama dan papa juga dari orang-orang yang selalu bertanya kapan aku akan menikah.


Kurasa gadis itu tidak mungkin akan memanfaatkanku. Dia gadis yang lugu dan jujur. Dia hanya akan berperan sebagai kekasihku malam ini saja atau mungkin beberapa waktu ke depan sampai aku benar-benar menemukan wanita yang aku cintai.


“Ma, pa, malam ini aku akan bawa seseorang yang ingin aku kenalkan pada kalian” suara Haris membuat mama dan papanya melirik.


“Siapa Ris?” tanya Diandra.

__ADS_1


“Seseorang yang selalu mama ingin kenal”


Diandra masih menatap Haris menyelidik


“Maksudmu?”


“Sebenarnya Haris sudah punya kekasih ma, tapi Haris baru mengenalnya beberapa waktu yang lalu” terang Haris membuat Diandra dan Hendrawan menjadi fokus padanya.


“Sebetulnya Haris belum mau memperkenalkan dia pada mama dan papa karena ya.. itu kita masih baru jadian tapi karena mama dan papa gak sabaran…”


“Kalau memang sudah punya calon walaupun baru sebentar gak apa-apa Ris, kenalkan sama mama biar mama bisa ikut menilai apakah dia cocok untukmu atau tidak. Usiamu kan sudah cukup untuk menikah jadi gak usah berlama-lama” suara Diandra memotong penuh antusias.


“Syukurlah…akhirnya kamu punya calon juga Ris. Semoga saja kami cocok juga dengannya” sambung Hendrawan.


“Siapa namanya?”


“Nanti mama tanya sendiri saja” jawab Haris dingin.


“Eh… awas ya kamu jangan bersikap dingin seperti itu sama dia. Bisa-bisa kamu ditinggalkannya” ancam Diandra.


“Biasa aja ma” jawab Haris tidak peduli. Dia segera membuka gadgetnya untuk mengecek laporan dari setiap pool bayangan tentang kedatangan dan keberangkatan busnya.


“Kita akan makan malam di sini?” tanya Diandra.


“Kita makan malam di rumah ma. Haris sudah nyuruh pak Otang untuk menyiapkan jamuannya, sekaligus menjamu kedatangan mama dan papa kan, itu yang penting” jawab Haris.


Pak Otang adalah kepala pelayannya di rumah besar.


“Baiklah kalau begitu, jadi mama gak perlu repot-repot lagi kan?”


“Pa antar mama belanja sebentar yuk” ajak Diandra berdiri.


“Mau beli apa ma?” tanya Haris penasaran.


“Masa calon mantu mau datang mama gak kasih hadiah apa-apa” suara Diandra membuat Haris tercekat.


Ma ini cuma pura-pura, gak usah serius kayak gitu juga, batinnya. Tapi Haris tidak bisa mencegah. Dia diam saja.


Sementara pak Hendrawan bangkit dari duduknya dan mengambil gawainya di atas meja.


“Kita mau kasih dia apa ma?” tanyanya serius pula.


“Bagaimana kalau kalung pa?” tanya Diandra.


“Boleh juga. Cari yang simpel aja ma tapi bagus” Hendrawan setuju.


Haris yang mendengarkan tersenyum kecut.



Ninu berdiri di depan cermin. Dia sedang memandangi seorang gadis yang berdiri di depannya. Itu adalah dirinya. Dirinya yang mengenakan pakaian mahal dengan make up tipis yang jarang dia gunakan. Jarang sekali dia berdiri berlama-lama di depan cermin untuk memandangi wajahnya. Mana ada waktu untuk melakukan itu. Biasanya setelah mandi dan berpakaian dia akan berdandan cepat. Tapi sekarang dia punya waktu untuk memandangi dirinya sendiri. Hanya untuk memastikan diri dia pantas disebut seorang kekasih oleh tuan Haris yang gagah.


Ternyata aku manis juga, bisik hatinya tersenyum,


Aku akan membantu tuan Haris semampu yang aku bisa. Dia telah baik hati menolong menyelamatkan nyawaku, maka akupun akan membantunya. Semoga ini bisa membayar hutang budiku padanya.


⚘⚘⚘⚘


Happy reading semuanya 😍😍😍😍😍😍


Terima kasih atas like, komen, dan vote nya 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2